laporan tutorial skenario 7-1

Download Laporan Tutorial Skenario 7-1

Post on 11-Oct-2015

200 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

STEP 1 IDENTIFIKASI KATA SULIT1. Exoxtosis Tonjolan tulang yang tajam pada processus alveolaris yang mengakibatkan rasa sakit pada pemakaian protesa. Berasal dari pencabutan gigi. Ketika diraba sakit, tidak dapat digerakkan. Pertmbuhan tulang benigna, dilapisi kartilago.2. Indefferent Penderita acuh, labil, tidak peduli penampilan Keinginan untuk periksa ke dokter gigi bukan keinginan sendiri tapi dorongan dari orng lain3. Ridge anterior tappering Tulang antara labial dan lingual runcing4. Torus palatinus Penonjolan tulang pada palatum durum karena faktor genetik ataupun karena faktor lingkungan5. Retromylohyoid Perlekatan otot distal M2/M3 Penting untuk retensi protesa Dalam apabila kaca mulut tenggelam lebih dari 6. Vestibulum dangkal Kaca mulut tenggelam kurang dari Celah antara mukosa bergerak dan tidak bergerakSTEP 2 MENENTUKAN MASALAH1. Bagaimana cara pemeriksaan yang akan dilakukan pada kasus di skenario?2. Apa saja pertimbangan pertimbangan yang diambil sebelum dilakukan rencana perawatan?3. Apa diagnosa dari skenario?4. Apa prognosa perawatan dari kasus di skenario?5. Bagaimana rencana perawatan pada kasus di skenario?STEP 3 MENJAWAB PERTANYAAN1. Pemeriksaan yang dilakukan dibagi menjadi 2 bagian besara. Pemeriksaan subyektifPemeriksaan subyektif merupakan pemeriksaan yang pertama kali dilakukan meliputi identifikasi data penderita yang mencakup hal hal sebagai berikut : Nama Alamat Jenis Kelamin Wanita biasanya lebih mengutamakan estetik sedangkan pria lebih mengutamakan kenyamanan mengunyah Keadaan sosial: berkaitan dengan harga perawatan yang ditawarkan Motivasi pasien : mempengaruhi prognosis Pernah memakai gigi tiruan atau tidakPasien yang pernah memakai gigi tiruan biasanya akan lebih mudah beradaptasi daripada yang belum pernah. Riwayat pembuatan gigi tiruan yang mencakup cara dan waktu Mental psikologi pasien Status umum pasienb. Pemeriksaan obyektif Pemeriksaan ekstraoral SkeletalPemeriksaan ini meliputi pemeriksaan bentuk wajah, profil wajah, bentuk zygoma, angulasi mandibula, bentuk maksila serta pemeriksaan TMJ. Pemeriksaan bentuk wajah meliputi bentuk ovoid, tirus, atau square. Hal ini akan mempengaruhi rencana perawatan yang dilakukan. Perawatan prostodonsi akan dilakukan berdasarkan bentuk skeletal yang dimiliki tiap individu. Kulit di sekitar wajah dan leherPemeriksaan ini menggunakan metode visual apakah terdapat pembengkakan, lacerasi atau luka yang terbuka, memar, bekas luka, atau pigmentasi. Keadaan tersebut mungkin dapat merujuk pada kesehatan sistemik pasien. Pemeriksaan ini dapat dilihat secara langsung pada pasien ketika melakukan tatp muka. Pemeriksaan otot Pemeriksaan ini meliputi ada atau tidak kelumpuhan otot, hypertropi otot, serta kedutan. Pemeriksaan dengan cara palpasi pada otot-otot pengunyahan meliputi otot temporalis, masseter, pterygoid lateral dan medial. Adanya hal tersebut mungkin merupakan dampak kelainan saraf yang bermanifestasi di otot-otot pengunyahan.

Pemeriksaan intraoral Keadaan umum yang meliputia. KalkulusJika gigi terdapat kalkulus maka harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilakukan rencana perawatan, kecuali jika giginya ingin diekstraksi. b. Mukosa mulutDiperiksa apakah ada gusi yang bengkak atau tidak, identifikasi apakah bengkak tersebut oleh karena penyakit misal periodontitis ataukah karena jaringan periodontal.c. Frekuensi karies Status gigi VestibulumVestibulum yang dangkal merupakan faktor yang mendukung rentensi gigi tiruan. FrenulumFrenulum yang dangkal merupakan faktor pendukung bagi retensi gigi tiruan. Keadaan processus alveolar ridgeBentuk tappering merupakan bentuk yang paling tidak menguntungkan sedangkan bentuk square adalah bentuk yang paling menguntungkan. Torus palatinusMerupakan tonjolan tulang yang terdapat pada garis tengah palatum. Fungsinya untuk stabilisasi gigi tiruan. Torus palatina ini ada yang besar, sedang dan kecil. Bentuk palatumBentuk palatum dilihat melalui model studi ExostosisCara pemeriksaannya dengan melakukan palpasi, bila terdapat eksostosis dan mengganggu fungsi gigi tiruan maka dilakukan tindakan pembedahan (alveolektomi) atau di relief. RetromylohyoidRuang retromylohyoid diperiksa menggunakan kaca mulut. Dikatakan dangkal apabila kaca mulut tenggelam kurang dari . Sedang apabila tenggelam dan dalam apabila lebih dari . Pemeriksaan radiografi2. Pertimbangan pertimbangan yang diambila. Umum Status pekerjaan pasien adalah pedangang di pasar sehingga fungsi bicara dan estetik pasien penting untuk diperhatikan. Usia pasien sudah lansia sehingga proses aging yang terjadi juga cukup tinggi. Proses aging mengakibatkan menurunnya fungsi fungsi oragan tubuh seperti misalnya kelenjar saliva yang turut mengalami degenerasi sehingga menyebabkan kelembaban intraoral pasien juga menjadi menurun mengakibatkan mukosa kering sehingga dampaknya signifikan pada retensi gigi tiruan dan oral hygiene. Pasien mengeluh sering pusing yang dapat diindikasikan sering mengalami kelelaha bisa saja akibat asupan nutrisi yang berkurang, anemia, maupun terapi obat.b. Intraoral ExostosisAdanya exostosis dapat menurunkan retensi gigi tirun sehingga apabila ditemukan exostosis maka harus dipertimbangkan treatment bedah/non bedah untuk mengatasi masalah tersebut. Gigi posterior hilang banyakHilangnya banyak gigi posterior biasanya akan mengakibatkan makroglossi. Keadaan ini akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien. Keadaan gusiKeadaan gusi harus sehat sebelum dipasang gigi tiruan. Apabila terdapat inflamasi maka harus dihilangkan dahulu Keadaan vestibulum, frenulum, retromylohyoid dan ridge tappering3. Diagnosa Partial edontulus ridge gigi 11, 12, 13, 13, 16, 17, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28 Periodontitis kronis gigi 14, 15, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47 Exostosis 12, 134. Prognosis Prognosis rencana perawatan pasien di skenario adalah buruk. Hal ini terutama disebabkan karena motivasi pasien untuk datang ke dokter gigi bukan berasal dari dalam dirinya sendiri tapi karena dorongan pihak lain. Bentuk anatomi rongga mulut pasien seperti adanya exostosis dan torus mandibula yang besar turut meningkatkan resiko prognosis buruk. Selain itu adanya alergi, tidak adanya pengalaman memakai gigi tiruan sebelumnya serta usia yang sudah tua merupakan faktor penghambat keberhasilan rencana perawatan. Namun demikian prognosis ini bukanlah bersifat final karena ada kemungkinan untuk berubah menjadi baik ataupun lebih buruk tergantung pada komunikasi antara pasien dan dokter gigi.5. Rencana Perawatan Periodontitis kronis 31, 32, 33, 34, 36, 37, 38, 41, 42, 43, 47Tx : ekstraksi Eksostosis 12, 13Tx : bedah Partial edontulus ridge 11, 12, 13, 16, 17, 21, 22, 23, 24, 26, 27, 28, 31, 32, 33, 34, 36, 37, 38, 41, 42, 43, 47

STEP 4 MAPPING

STEP 5 LEARNING OBJECTIVE1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pemeriksaan di bidang prostodonsia2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan cara menegakkan diagnosa di bidang prostodonsia3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan cara menentukan prognosis bidang prostodonsia4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan rencana perawatan bidang prostodonsia

STEP 7 PEMBAHASANA. Prosedur pemeriksaan di bidang prostodonsiaPemeriksaan di bidang prostodonsia dapat dibagi menjadi 3, yaitu :1. Covert ExaminationPemeriksaan ini dilakukan dengan memperhatikan bagaimana karakter pasien untuk menentukan tipe seperti apa pasien tersebut. Sejak pasien masuk ke dalam ruangan, dari ekspresinya, suaranya, penampilannya, dan cara berjabat tangan, seorang operator harus memperhatikan pasien dengan seksama. Karena dari ekspresi dan suara, kita dapat mengetahui tingkat kepercayaan diri pasien, apakah pasien merasa yakin untuk melakukan perawatan gigi tiruan atau pasien terlihat malas dan tidak bersemangat. Penampilan pasien yang rapi dan berantakan juga dapat mengindikasikan bagaimana keadaan rongga mulutnya atau tingkat kebersihan rongga mulutnya. Hal ini tentu mempengarungi keberhasilan perawatan yang sangat memerlukan kondisi rongga mulut yang bersih dan baik. Selain itu adanya bau rokok yang tercium dari pasien juga mengindikasikan kebiasaan buruk yang berakibat buruk terhadap pemakaian gigi tiruan. Satu hal lagi yang harus diperhatikan adalah keadaan pasien ketika sedang berkonsultasi. Pasien yang gelisah, menggigit kuku, dan terlihat stres bisa saja memiliki ambang batas terhadap rasa tidak nyaman yang rendah. Hal ini tentu berpengaruh terhadap adapatasi pasien terhadap pemakaian gigi tiruan yang merupakan benda asing. Dari covert examination ini diharapkan seorang operator mampu mengetahui tipe pasien, dan faktor-faktor psikologi yang mungkin dapat dijadikan pertimbangan dalam membuat rencana perawatan.

2. History Examinationa. Personal HistoryAnamnesis adalah riwayat suatu pwnyakit atau kelainan berdasarkan ingatan penderita waktu dilakukan wawancara dan pemeriksaan medik dan dental. Auto Anamnesia yaitu suatu keadaan penyakit yang disampaikan sendiri oleh pasien. Allo anamnesis keterangan tidak langsung disampaikan oleh pasien melainkan melalui bantuan orang lain. dari segi inisiatif penyampaian pasien dapat dikategorikan anamnesis pasif dimana pasien mengatakan sendiri keadaannya kepada si pemeriksa. anamnesis aktif penderita perku dibantu dengan pertanyaandalam menyampaikan ceritanya. Pertanyaan-pertanyaan pada saat anamnesis: 1. Nama penderita untuk membedakan penderita satu dengan yang lainnya dan mengetahui susku bangsanya. Suku bangsa yang berbeda mempunyai penampilan profil yang berbeda.2. Alamat Data alamat digunakan untk menghubungi penderita dengan segera bila terjadi sesuatu seperti kekliruan pemberian obat. Alamat juga bisa mengetahui latar belakang penderita sehingga bisa juga mengetahui keadaan sosialnya. 3. Pekerjaan Modifikasi jenis perawatan mungkin perlu dilakukan karena faktor jenia pekerjaan. Seperti seseorang yang bekerja berhubungan dengan publik biasanya lebih mementingjan estetika. Dari pekerjaan kita dapat mengetahui d