laporan sintesis kompleks.docx

Download Laporan Sintesis KOMPLEKS.docx

Post on 21-Dec-2015

18 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

n

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIKPERCOBAAN VSINTESIS SENYAWA KOMPLEKSTEMBAGA(II) HIDROKSIKUINOLINCu[(C9H5ON)2]NAMA : ZULKARNAIM (H311 11 261)

SEPTARIA YOLAN KL (H311 12 253)MARYA ULFA

(H311 13 010)

KELOMPOK/REGU

: III (TIGA)/3 (TIGA)

HARI/TANGGAL PERCOBAAN: RABU/3 DESEMBER 2014ASISTEN : MUH. NISWAR YUNUS

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2014BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangSuatu ion kompleks didefinisikan sebagai ion yang tersusun dari atom pusat yang mengikat secara koordinasi sejumlah ion atau molekul netral. Ion atau molekul netral sebagai spesies terikat pada atom pusat dalam suatu ion kompleks biasanya dinamakan ligan. Spesies ini memiliki satu pasang atau lebih elektron bebas dan berperan sebagai donor pasangan elektron pada pembentukan ikatan koordinasi. Bilangan koordinasi menyatakan jumlah ruangan yang tersedia sekitar atom atau ion pusat yang disebut bulatan koordinasi, yang masing-masing dapat dihuni satu ligan (monodentat). Susunan logam-logam sekitar ion pusat adalah simetris. Jadi, suatu kompleks dengan satu atom pusat dengan bilangan koordinasi 6, terdiri dari ion pusat, dipusat suatu oktahedron.Senyawa koordinasi atau senyawa kompleks adalah senyawa yang terbentuk melalui ikatan koordinasi, yakni ikatan kovalen koordinasi antara ion atau atom pusat dengan ligan. Teori medan ligan yang menyatakan pembentukan senyawa kompleks atas dasar medan elektrostatik yang diciptakan oleh ligan-ligan koordinasi sekeliling bulatan sebelah dalam dari atom pusat.Menurut teori medan Kristal, interaksi antara logam transisi dan ligan diakibatkan oleh tarikan antara kation logam yang bermuatan positif dan elektron bukan-ikatan ligan yang bermuatan negatif. Teori ini dikembangkan menurut perubahan energi dari lima degenerat orbital dketika dikelilingi oleh ligan-ligan. Hal inilah yang melatarbelakangi percobaan sintesis senyawa kompleks dilakukan.1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui cara sintesis seyawa kompleks Cu[(C9H5ON)2].

1.2.2 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah :1. Mensintesis senyawa kompleks Cu[(C9H5ON)2]2. Menentukan berat rendamen dari senyawa kompleks yang dihasilkan1.3 Prinsip PercobaanPrinsip percobaan ini adalah pembuatan senyawa kompleks Cu[(C9H5ON)2] disintesis dengan mereaksikan larutan A (CuSO4.5H2O) yang direaksikan dengan metanol dan larutan B (8-hidroksikuinolin) yang direaksikan dengan metanol. BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ligan adalah zat beratom banyak, ligan yang beratom satu bermuatan negatif, sedangkan ligan yang beratom banyak bisa pula tak bermuatan tetapi zarrah yang berkutub, misalnya halida (F-, Cl-, Br-, dan I-) merupakn ligan yang beratom satu dan bermuatan negatif, yang membentuk senyawa kompleks dengan beberapa ion logam. Contoh ligan yang beratom banyak yang bermuatan adalah CN-, SCN-, dan OH-, sedangkan ligan yang tak bermuatan selalu berupa ligan yang beratom banyak sehingga merupakan molekul, yaitu NH3, H2O, dan amina alifatik. Sifat umum semua ligan ditentukan oleh adanya pasangan elektron bebas, karen ligan-ligan yang disebutkan di atas hanya dapat memberikan satu elektron maka ligan-ligan itudisebut ligan bergigi satu, yang membentuk satu ikatan koordinasi dengan ion logam pusat (Rivai,1995).

Beberapa ligam beratom banyak memiliki lebih dari satu pasangan elektron yang dapat diberikannya, etilendiamina misalnya merupakan ligam bergigi dua karena senyawa ini dapat memberikan dua pasangan elektron sekaligus, sehingga dapat membentuk dua ikatan koordinasi dengan ion logam pusat (Rivai,1995).

Unsur transisi dalam sistem periodik terletak antara golongan II A dan golongan III A, yaitu dimulai dari golongan III B dan berakhir pada golongan II B, konfigurasi elektron unsur transisi, elektron-elektron terakhir menempati pada orbital 3d sehingga unsur-unsur ini termasuk blok d, dalam blok d inilah terdapat unsur-unsur transisi yang semula dikira mempunyai sifat-sifat peralihan dari logam ke bukan logam, ternyata sekarang tidak demikian, sehingga nama transisi hanya menunjukkan tempaynya saja dalam sistem periodik.

Ada beberapa pendapat tentang pengertian unsur transisi

a. Unsur transisi adalah unsur blok d sistem periodik yang terletak antara golongan alkali tanah dan golongan boron-aluminium.

b. Unsur transisi ialah uinsur yang sekurang-kurangnya salah satu ionnnya mempunyai orbital d yang belum penuh (Soemantri dkk,1991).Menurut teori medan kristal ikatan antara atom pusat dengan dengan ligan dalam kompleks berupa ikatan ion, hingga gaya-gaya yang ada hanya berupa gaya elektrostatik. Ion kompleks tersusun dari ion pusat yang dikelilingi ion-ion lawan atau molekul-molekul yang mempunyai momen dipole permanen (Sukardjo, 1985).

Medan listrik dari ion pusat akan mempengaruhi ligand-ligand sekelilingnya, sedang medan gabungan dari ligand-ligand akan mempengaruhi electron-elektron dari ion pusat. Peranan ligand ini terutama mengenai electron d dari ion pusat dan seperti kita ketahui electron d ini memegang peranan penting pada pembentukan ion kompleks dari logam-logam transisi. Pengaruh ligand tergantung dari jenisnya, terutama pada kekuatan medan listrik dan kedudukan geometri ligand-ligand dalam kompleks (Svehla, 1985).

Di dalam ion bebas kelima orbital d bersifat degerate artinya mempunyai energy yang sam dan electron dari orbital iniselalu memenuhi hokum multipliciply yang maksimun. Teori medan kristal terutama membicarakan pengaruh dari ligand yang tersusun secara berbeda-beda di sekitar ion pusat terhadap energy dari orbital d. Pembagian orbital d menjadi dua golongan yaitu orbital eg atau dj dan orbital t2g atau de mempunyai arti penting dalam hal pengaruh ligand terhadap orbital-orbital tersebut. Dengan adanya ligand disekitar ion pusat orbital d tidak laigi degenerate, orbital d ini terbagi menjadi beberapa orbital dengan energy berbeda. Dikatakan juga orbital d ini mengalami splitting (Sukardjo, 1985).

Pada medan ligand yang lemah atau weak ligand field, electron-elektron akan mengisi kelima orbital d tanpa berpasangan lebih dahulu. Hal ini disebabkan karena perbedaan energy orbital t2g dan eg sangat kecil. Memang electron keempat dapat mengisi orbital eg yang energinya lebih tinggi atau dapat berpasangan dengan electron di orbital t2g (Svehla, 1985)

Akibat adanya splitting pada orbital d oleh adanya medan ligand, memungkinkan terjadinya transisi elektronik di dalam kompleks. Dengan penyerapan tenaga radiasi, electron pada orbital dengan energy rendah akan pindah ke orbital yang tenaganya lebih tinggi. Sinar yang diserap untuk ini terda[pat pada daerah Nampak atau visible, hingga banyak senyawa-senyawa kompleks yang berwarna (Sukardjo, 1985).

Dengan mempelajari spectra absorbs senyawa-senyawa kompleks, dapat ditentukan . Pita atau pita-pita pada spectra adsorbs mempunyai hubungan dengan eksitasi atau electron-elektron dari orbital d yang energinya rendah ke orbital d yang energinya lebih tinggi, yang terjadi akibat splitting (Svehla, 1985) Sifat unsur transisi adalah dapat membentuk senyawa kompleks, suatu ion kompleks terdiri dari atas ion logam transisi dan molekul atau ion yang menyumbangkan pasangan elektron. Ion logam transisi disebut ion pusat atau ion sentral. Molekul atau ion yang menyumbangkan pasangan elektron disebut ligan, banyaknya ligan yang diikat ion pusat dinyatakan oleh bilangan koordinasi (Liliasari,1995).

Pereaksi-pereaksi untuk gravimetri adalah pereaksi-pereaksi organik yang membentuk endapan dengan ion-ion logam. Senyawa kompleks yang terbentuk biasanya berupa senyawa kompleks kelat dengan muatan pada ion logam dinetralkan oleh muatan pada ligan yang melepaskan proton. Selain itu, bilamngan koordinasinya terisi penuh secara bersamaan sehingga terbentuk garam kompleks dalam (Rivai, 1995).

Salah satu contoh pereaksi itu adalah dimetil glioksima yang membentuk garam kompleks dalam dengan ion nikel(II). Kedua muatan positif pada ion nikel(II) diimbangi oleh dua proton yang dilepaskan oleh ligan. Sedangkan atom-atom oksigen yang bermuatan negatif membentuk ikatan hidrogen antar molekul dengan gugus OH yang berdekatan. Pada satu pihak, senyawa komplek ini netral secara kelistrikan pada pihak lain tidak kemungkinan terbentuknya ikatan hidrogen lebih lanjut. Lagipula, adakan ikatan d-d yang lemah antar ion-ion logam pada molekul-molekul yang berdekatan. Itulah sebabnya endapan nikel(II) dimetilglioksima yang berwarna merah sukar larut dalam air. Endapan ini mudah disaring dan dicuci, kemudian dikeringkan pada suhu 120oC-150oC. Sedangkan faktor grafimetrinya cukup besar (0,2032) karena bobot molekul senyawa ini tinggi (Rivai, 1995).

Dimetil glioksima adalah zat pengendap organik yang sangat khas dengan rumus bangun sebagai berikut:

Senyawa koordinasinya dengan paladium merupakan satu-satunya senyawa yang sukar larut dalam larutan asam sedangkan senyawa koordinasinya dengan nikel merupakan satu-satunya senyawa yang mengendap dalam larutan yang bersifat basa lemah dengan demikian zat pengendap ini khusus dipakai untuk penentuan paladium dan nikel. Endapan nikel(II) dimetilglioksimat tersebut begitu gembur sehingga hanya sejumlah kecil nikel dapat ditangani dengan memuaskan. Selain itu, endapan ini juga cenderung bergerak pada penyaringan dan pencucian namun demikian, endapan ini mudah dikeringkan pada suhu 110oC dan mempunyai susunan kimia yang sangat sesuai dengan rumusnya (Rivai, 1995).BAB III

METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan percobaan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah tembaga(II) sulfat pentahidrat (CuSO4.5H2O), 8-hidroksikuinolin (C9H7ON), metanol, akuades, kertas saring Whatman no. 40, alumini

Recommended

View more >