laporan praktikum pk 1,2

Click here to load reader

Post on 27-Dec-2015

107 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan praktikum urin

TRANSCRIPT

A. Tujuan Praktikum1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan urin rutin dan secara kimiawi2. Mahasiswa mampu menganalisa warna, derajat keasaman (pH), berat jenis urin dan bau urin dalam pemeriksaan makroskopis3. Mahasiswa mampu menganalisa unsur sedimen urin dalam pemeriksaan mikroskopis4. Mahasiswa mampu melakukan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan protein dan glukosa urin.B. Dasar TeoriPemeriksaan urin merupakan pemeriksaan yang sering diamati dalam membantu menegakkan diagnosa berbagai macam penyakit, ada kemungkinan bahwa urinalisa adalah pemeriksaan laboratorium yang paling tua.11. Definisi urineUrinalisa adalah analisis kimia, makroskopis dan mikroskopis terhadap urin. Uji urin rutin dilakukan pertama kali pada tahun 1821. Urine merupakan hasil metabolisme tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urin per menit.22. Mekanisme pembentukan urineUrine berasal dari darah yang dibawa arteri renalis masuk ke dalam ginjal dengan melalui glomerulus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai Bowman, berfungsi untuk menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomerulus, sisa cairan akan diteruskan ke piala ginjal terus berlanjut ke ureter. Ada 3 Tahap Pembentukan Urine:3a. Proses FiltrasiProses ini terjadi di glomerulus, proses filtrasi terjadi karena permukaan aferen lebih besar dari permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan darah. Sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai Bowman yang terdiri dari glukosa, air, natrium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, yang diteruskan ke tubulus ginjal.3b. Proses ReabsorbsiFungsi utama tubulus proksimal adalah reabsorpsi yaitu proses dikembalikannya air bersama dengan glukosa, asam amino, asam urat dan protein yang berhasil menembus filter glomerulus ke aliran darah. Tubulus proksimal juga mengembalikan elektrolit, natrium, chlorida dan bikarbonat. Simpai Henle mereabsopsi air dan natrium. Tubulus distal secara halus mengatur konsentrasi ion-ion natrium, kalium, bikarbonat, fosfat dan hydrogen.1c. Proses SekresiProses ini adalah proses penyerapan urine sisa dari filtrasi dan reabsorpsi. Proses penyerapan urine ini terjadi pada tubulus dan diteruskan ke piala ginjal selanjutnya diteruskan ke ureter masuk ke vesika urinaria.33. Komposisi urineKomposisi zat-zat dalam urine bervariasi tergantung jenis makanan serta air yang diminumnya. Urine normal berwarna jernih transparan, sedang warna urine kuning muda urine berasal dari zat warna empedu (bilirubin dan biliverdin). Urin normal pada manusia terdiri dari air, urea, asam urat, amoniak, kreatinin, asam laktat, asam fosfat, asam sulfat, klorida, garam-garam terutama garam dapur, dan zat-zat yang berlebihan di dalam darah misalnya vitamin C dan obat-obatan. Semua cairan dan materi pembentuk urin tersebut berasal dari darah atau cairan interstisial. Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa.44. Macam Sampel Urine5a. Urine SewaktuAdalah urine yang dikeluarkan pada satu waktu yang tidak ditentukan dengan khusus. Urine sewaktu ini cukup baik untuk pemeriksaan rutin yang menyertai pemeriksaan badan tanpa pendapat khusus.b. Urine PagiAdalah urine yang pertama-tama dikeluarkan pada pagi hari setelah bangun tidur. Urine ini lebih pekat dari urine yang dikeluarkan siang hari, jadi baik untuk pemeriksaan sediment, berat jenis, protein, tes kehamilan dan lain-lain.c. Urine PostprandialAdalah urine yang pertama kali dilepaskan 11/2 - 3 jam sehabis makan. Urine ini berguna untuk pemeriksaaan terhadap glukosuria. d. Urine 24 JamAdalah urine yang dikumpulkan selama 24 jam. Urine yang pertama keluar dari jam 7 pagi dibuang, berikutnya ditampung termasuk juga urine jam 7 pagi esok harinya.e. Urine 3 gelas dan urine 2 gelas pada laki-laki. Urine ini dipakai pada pemeriksaan urologik yang dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang letaknya radang atau lesi yang mengakibatkan adanya nanah atau darah dalam urine laki-laki. Urine 3 gelas adalah urine yang waktu keluar langsung ditampung ke dalam 3 gelas sediment (gelas yang dasarnya menyempit) tanpa menghentikan aliran urinnya. Ke dalam gelas pertama ditampung 20 30 ml 10 urin yang mula-mula keluar, ke dalam gelas kedua dimasukkan urin berikutnya, beberapa ml terakhir ditampung dalam gelas ketiga. Untuk mendapat urine 2 gelas, caranya sama seperti urine 3 gelas, dengan perbedaan: gelas ketiga ditiadakan dan ke dalam gelas pertama ditampung 50 70 ml urine. 5. Pemeriksaan urine rutina. Pemeriksaan makroskopis51) Warna urinPada umumnya warna urin ditentukan oleh besarnya duiresis; makin besar diuresis, makin muda warna urin itu. Warna normal berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Warna itu disebabkan oleh beberapa macam zat warna, terutama urochrom dan urobilin. Beberapa sebab warna urina) Kuning Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin, urochrom. Zat warna abnormal: bilirubin. Obat-obat dan diagnostik: santonin, PSP, riboflavin (dengan fluoresensi hijau).b) Hijau Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan. Obat-obat dan diagnostik: methyleneblue, Evans blue. Kuman-kuman: Ps. aeruginosa (B. pyocyaneus)c) Merah Zat warna normal dalam jumlah besar: uroerythrin. Zat warna abnormal: hemoglobin, porfirin, porfobilin. Obat-obat dan diagnostik: santonin, PSP, amidopyrin, Congored, BSP. Kuman-kuman: B. prodigiosus.d) Coklat Zat warna normal dalam jumlah besar: urobilin. Zat warna abnormal: bilirubin, hematin, porfobilin.e) Coklat tua atau hitam Zat warna normal dalam jumlah besar: indikan. Zat warna abnormal: darah tua, alkapton, melamin. Obat-obat: derivat-derivat fenol, argyrol.f) Serupa susu Zat warna normal dalam jumlah besar: fosfat, urat. Zat warna abnormal: pus, getah prostat, chylus, zat-zat lemak, bakteri-bakteri, protein yang membeku. Obat-obat dan diagnostik: santonin, PSP, riboflavin (dengan fluoresensi hijau).g) KejernihanTidak semua macam kekeruhan bersifat abnormal. Urin normalpun akan menjadi agak keruh jika dibiarkan atau didinginkan: kekeruhan ringan itu disebut nubecula dan terjadi dari lendir, sel-sel epitel dan leukosit yang lambat laun mengendap.Sebab-sebab urin keruh dari mula-mula:a) Fosfat amorf dan karbonat dalam jumlah besar. Kekeruhan menghilang jika urin diberikan asam asetat encer. Sediment mengandung banyak kristal fosfat atau karbonat.b) Bakteri-bakteri. Kekeruhan yang terjadi bukan saja disebabkan oleh berkembangbiaknya kuman, tetapi juga oleh bertambahnya unsur sediment seperti sel epitel, leukosit, dsb.c) Unsur-unsur sediment dalam jumlah besar, seperti eritrosit, leukosit dan sel-sel epithel.d) Chylus dan lemak. Urin keruh menyerupai susu encere) Benda-benda koloid.

2) Derajat Keasamana) Penetapan reaksi dengan kertas lakmusUrin asam mengubah warna kertas lakmus biru menjadi merah. Urin lindi mengubah kertas lakmus merah menjadi biru; jika kemudian urin itu disebabkan oleh amoniak, warna biru hilang lagi jika kertas itu dipanasi sedikit-sedikit sampai kering. b) Penetapan pH dengan kertas nitrazinKertas nitrazin dapat dipakai untuk menentukan pH antara 4,5-7,5. Skala warna memberi kemungkinan membaca antara dua warna. Pada pH 4,5 warna nitrazin kuning, warna itu berubah lambat laun menjadi biru pada pH yang lebih tinggi.c) Penetapan Ph dengan campuran indikatorBatas-batas normal pH ialah 6,4-8,5. Urin 24 jam mempunyai pH rata-rata 6,2 oleh pengeluaran zat-zat metabolik yang asam. Keasaman titrasi urin 24 jam rata-rata 300 ml asam 1/10 n, dengan batas-batas dari 100-600 ml.3) Berat JenisBerat jenis urin sangat erat hubungannya dengan duiresis; makin besar diuresis, makin rendah berat jenis dan sebaliknya. Berat jenis urin 24 jam dari orang normal biasanya berkisar antara, 1,016-1,022. Oleh pengaruh faktor-faktor yang menentukan besarnya diuresis, batas normal boleh berbeda-beda 1,003-1,030. Urinometer yang dipakai hendaklah yang ditera pada satu suhu antara 27-35C. Jika suhu tera berbeda dari suhu kamar harus diadakan koreksi terhadap pembacaan urinometer.

4) Bau UrinBau urin yang normal disebabkan untuk sebagian oleh asam-asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dari yang normal:a) Oleh makanan yang mengandung zat-zat atsiri, seperti jengkol, petai, durian, dsb. b) Oleh obat-obatan, seperti terpentin, menthol, dsb.c) Bau amoniak oleh perombakan bakteriil dari ureum. Biasanya terjadi dengan urin yang dibiarkan tanpa pengawet: reaksi urin menjadi lindi.d) Bau pada ketonuria: bau itu ada dari semula dan menyerupai bau buah-buahan atau bunga setengah layu.e) Bau busuk. Kalau ada dari mula-mula mungkin berasal dari perombakan zat-zat protein, umpamanya dari carcinoma dalam saluran kencing.b. Pemeriksaan kimiawi1) ProteinPemberian asam asetat dilakukaan untuk mencapai atau mendekati titik iso-elektrik protein; pemanasan selanjutnya mengadakan denaturasi dan terjadilah presipitasi. Proses presipitasi dibantu oleh adanya garam-garam yang telah ada dalam urin atau yang sengaja ditambahkan kepada urin. Sumber reaksi negatif palsu pada percobaan pemanasan dengan asam acetat ialah pemberian asam acetat yang berlebihan. Kekeruhan yang halus mungkin hilang oleh karena itu. Sumber reaksi positif palsu (kekeruhan yang tidak disebabkan oleh albumin atau globulin) mungkin:2a) Nucleoprotein. Kekeruhan terjadi pada pemberian asam acetat sebelum pemanasan.b) Mucin. Kekeruhan yang disebabkan oleh mucin juga terjadi pada saat pemberian asam acetat sebelum pemanasan.c) Proteose (albumose). Presipitat oleh zat ini terjadi setelah campuran reaksi mendingin, kalau dipanasi menghilang lagi.d) Asam-asam resin. Kekeruhan oleh zat-zat ini larut dalam alkohol.2) Glukosa (reduksi gula) urineDalam urin dapat dilakukan dengan memakai reagens pita. Selain itu penetapan glukosa dapat dilakukan dengan cara reduksi ion cupri menjadi cupro. Dengan cara reduksi mungkin didapati hasil positip palsu pada urin yang mengandung bahan reduktor selain glukosa seperti : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, vitamin C.Cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250 mg/dl. Juga cara ini lebih spesifik untuk glukosa, karena gula lain seperti galaktosa, laktosa, fruktosa dan pentosa tidak bereaksi. Dengan cara enzimatik mungkin didapatkan hasil negatip palsu pada urin yang mengandung kadar vitamin C melebihi 75 mg/dl atau benda keton melebihi 40 mg/dl.Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi.5

c. Pemeriksaan mikroskopis1) Pemeriksaan Sediment5Unsur-unsur sediment:Lazimnya unsur-unsur sediment dibagi atas 2 golongan: organik, yaitu berasal dari sesuatu organ atau jaringan dan yang tak-organik yang tidak berasal dari sesuatu jaringan.a) Unsur-unsur organik(1). Sel epithel. Sel ini berinti satu; ukurannya lebih besar dari leukosit; bentuknya berbeda menurut tempat asalnya.(2). Fosfat-fosta Leukosit. Nampak seperti benda bulat yang biasanya berbutir halus. Intinya lebih jelas nampak jika kepada sediment diberikan setetes larutan asam asetat 10%. (3). Eritrosit. Bentuk berbeda menurut lingkungannya; dalam urin pekat mengerut, dalam urin encer bengkak dan hampir tidak berwarna; dalam urin lindi mengecil sekali.(4). Silinder. (a) Silinder hialin. Silinder yang sisi-sisinya paralel dan ujung-ujung membulat; homogen (tanpa struktur) dan tidak berwarna. Silinder hialin sukar nampak.(b) Silinder berbutir. Dengan butir halus dan dengan butir kasar. Yang berbutir halus mempunyai bentuk seperti silinder hialin; yang berbentuk kasar sering lebih pendek dan lebih tebal.(c) Silinder lilin. Tak berwarna atau sedikit abu-abu; lebih lebar dari silinder hialin.(d) Silinder fibrin.(e) Silinder eritrosit. Eritrosit-eritrosit terlihat pada permukaan.(f) Silinder leukosit. Silinder yang tersusun dari leukosit atau yang permukaannya dilapisi oleh leukosit.(g) Silinder lemak. Silinder ini mengandung butir-butir lemak.(5). Oval fat bodies. Sel epitel yang mengalami degenerasi lemak, bentuknya membulat.(6). Benang lendir. Bentuknya panjang, sempit dan berombak-ombak.(7). Silindroid. Hampir serupa silinder hialin, tetapi salah satu ujung lambat-lambat menyempit menjadi halus serupa benang.(8). Spermatozoa.(9). Potongan-potongan jaringan.(10). Parasit-parasit.(11). Bakteri-bakteri.b) Unsur-unsur anorganik(1). Bahan amorf. Urat-urat dalam urin asam dan fosfat-fosfat dalam urin lindi.(2). Kristal-kristal dalam urin normal.(a) Dalam urin asam; asam urat, natrium urat dan jarang sekali kalsium urat. Kristal asam urat biasanya berwarna kuning.(b) Dalam urin asam atau yang netral atau yang sedikit lindi: kalsium oksalat dan terkadang asam hipurat.(c) Dalam urin lindi atau terkadang netral: amonium-magnesium fosfat (triplefosfat) dan jarang di kalsium fosfat.(d) Dalam urin lindi: kalsium karbonat, amonium biurat dan kalsium fosfat.(3). Kristal-kristal yang menunjukkan kepada keadaan abnormal; cystin, leucine, tyrosine, kolesterol, bilirubin, hematoidin.(4). Kristal-kristal yang berasal dari sesuatu macam obat seperti bermacam-macam sulfonamida.(5). Bahan lemak. C. Alat dan Bahan1. Alat:a. Tabung reaksib. Object glassc. Deck glassd. Pipet tetese. Kertas pH universalf. Gelas ukur 25 mlg. Gelas ukur 10 mlh. Urinometeri. Kertas saringj. Penjepit tabungk. Pemanas spritusl. Gelas ukur 10 mlm. Mikroskopn. Sentrifuse2. Bahan:a. Urineb. Larutan asam asetat 6%c. Larutan benedictd. Larutan sternheimer-malbin

D. Cara Kerja1. Pemeriksaan makroskopisa. WarnaMasukan urin dalam tabung reasi (3/4 tabung)

Lihat warna pada cahaya terang pada posisi miring

Amati hasilb. Derajat keasaman (pH)Sepotong kecil kertas pH universal diletakan di atas object glass

Tambahkan 1 tetes urin, tunggu 1 menit

Bandingkan warna kertas itu dengan skala warna yang tersediac. Berat jenis urineMasukan urin dalam gelas ukur 25 ml

Saring dengan kertas saring apabila terdapat busa

Masukan urinometer dalam gelas ukur tersebut

Putarlah urinometer dengan ibu jari dan jari telunjuk

Baca permukaan urin pada skala urinometer ketika urinometer terapung di tengah gelas

d. Bau urineMasukan Urin dalam tabung reaksi (2/3 tabung)

Bau dengan cara dikibaskan di dekat hidung2. Pemeriksaan kimiawia. Protein urineMasukan urin jernig ke dalam tabung reaksi (2/3 penuh)

Pegang bagian ujung bawah tabung reaksi

Panaskan bagian atas tabung dengan api sampai mendidih

Perhatikan terjadinya keruhan di lapisan atas urin

Bandingkan dengan bagian bawah yang tidak dipanasi

Jika terjadi keruhab terdapat protein/kalsium fosfat/kalsium karbonatTetesi urin 3-5 teteas dengan larutan asam asetat 6%

Jika keruhan hilang = terdapat kalsium fosfatJika keruhan hilang tapi ada gas = terdapat kalsium karbonatJika masih ada keruhan/ makin keruh = terdapat protein

Panasi lagi lapisan atas sampai mendidih

Beri penilaian secara semi kuantitatif

b. Glukosa (reduksi gula) urineMasukan 5 ml Benedict ke dalam tabung reaksi

Ditambahkan 8 tetes urin

Kocok dan panaskan bagian bawah tabung dengan pemanas spirtus

Baca hasil reduksinya3. Pemeriksaan mikroskopisMasukan 10 ml ke tabung reaksi yang berskala

Buang cairan atas (dengan menuang secara cepat sampai tersisa 0,5 ml)

Kocok tabung untuk eresuspensikan sedimen

Tambah 1 tetes larutan steinheimer-malbin

Campur dengan pipet

Teteskan 1 tetes sedimen di atas object glass

Tutup dengan deck glass

Periksalah dengan mikroskop dengan perbesaran 100x untuk silinder,kristal dan perbesaran 400x untuk melihat eritrosit dan leukosit

E. Hasil Pengamatan dan Analisis Data1. Pemeriksaan makroskopisa. WarnaWarna urineKuning muda

*normal : kuning muda kuning tuab. Derajat keasaman (pH)pH6

*normal : 4,6 8,5c. Berat jenis urineCara perhitungan:= BJ urine terbaca + x 0,001= 1,008 + x 0,001= 1,01*normal : 1,003 1, 030d. Bau urineBau urineamonia

*normal: amonia2. Pemeriksaan kimiawia. Protein urinenegatifPositif 1Positif 2Positif 3Positif 4

(tidak ada kekeruhan)

Interpretasi hasil1) Negatif : tidak ada kekeruhan2) Positif 1 : ada kekeruhan ringan tanpa butir-butir (kadar protein kira-kira 0,01-0,05%)3) Positif 2 : kekeruhan mudah dilihat dan terdapat butir-butir (kadar protein 0,05-0,2%)4) Positif 3 : urin jelas keruh dan terdapat keping-keping (kadar protein 0,2-0,5%)5) Positif 4 : urin sangat keruh atau bergumpal-gumpal atau memadat (kadar protein > 0,5%)6) Nilai normal : negatifb. Glukosa urinenegatifPositif 1Positif 2Positif 3Positif 4

(biru jernih)

Interpretasi hasil :1) Negatif : warna tetap biru jernih atau sedikit kehijauan dan agak keruh 2) Positif 1: hijau kekuning-kuningan dan keruh (sesuai dengan 0,5-1%glukosa)3) Positif 2 : kuning keruh (1-1,5%glukosa)4) Positif 3 : jingga atau warna lumpur keruh (2-3,5% glukosa)5) Positif 4 : merah keruh (>3,5% glukosa)3. Pemeriksaan mikroskopisa. Urin Pasien :Dilaporkan

Eritrosit/LPK 25

Leukosit/LPK 21

Silinder/Kristal/LPL 5

b. Urin sejawat :DilaporkanNormal

Eritrosit/LPK0

Leukosit/LPK0

Silinder/Kristal/LPL0

Kristal kristal yang ditemukan yaitu : Kalsium oxalate (gambar) Ammonium biurat Kristal urat Nilai Normal : Normal++++++++++

Eritrosit/LPK0-34-88-30> 30penuh

Leukosit/LPK0-45-2020-50> 50penuh

Silinder/Kristal/LPL0-11-55-1010-30lebih dari 30

Keterangan :Khusus untuk kristal Ca-oxallate : + masih dinyatakan normal; ++ dan +++ sudah dinyatakan abnormal.F. PembahasanUrinalisa adalah analisis kimia, makroskopis dan mikroskopis terhadap urin. Pada praktikum kali ini praktikan melakukan pemeriksaan urin rutin dengan sampel urin pagi yang dimasukan kedalam botol aqua kering 300 ml dengan volume urin kurang lebih 150 ml. Sebelum melakukan pengamatan praktikan menggunakan handscoen untuk menghindari kontak langsung dengan urin yang dapat menyebabkan infeksi.Percobaan pertama adalah melakukan pemeriksaan warna urin. Warna urin dipengaruhi oleh kepekatan urin, obat yang dimakan maupun makanan. Pada umumnya warna ditentukan oleh kepekatan urin, makin banyak diuresa makin muda warna urin itu. Warna normal urin berkisar antara kuning muda dan kuning tua. Dari hasil pengamatan terlihat urin berwana kuning muda (normal). Hal ini disebabkan karena adanya zat urobilin, urochrom dan obat-obatan yang mengandung santonin, PSP dan riboflavin.Percobaan kedua adalah melakukan pemeriksaan derajat keasaman (pH). Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urin normal berkisar antar 4,6 - 8,5. Selain itu penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Dari hasil pengamatan didapatkan pH urin sebesar 6. Hasil ini menunjukan bahwa urin yang diamati masih dalam batas normal.Percobaan yang ketiga adalah pemeriksaan berat jenis urin. Berat jenis urin sangat erat hubungannya dengan duiresis; makin besar diuresis, makin rendah berat jenis dan sebaliknya. Berat jenis urin 24 jam dari orang normal biasanya berkisar antara, 1,016-1,022. Oleh pengaruh faktor-faktor yang menentukan besarnya diuresis, batas normal boleh berbeda-beda yaitu 1,003-1,030. Urinometer yang dipakai hendaklah yang ditera pada satu suhu antara 27-35C. Jika suhu tera berbeda dari suhu kamar harus diadakan koreksi terhadap pembacaan urinometer. Dalam melakukan pengujian praktikan menggunakan suhu ruangan 25C dan suhu ter urinometer 20C. Setelah mendapatkan berat jenis urin yang terbaca maka praktikan mulai menghitung berat jenis urin dengan rumus:= BJ urine terbaca + x 0,001SR = suhu ruanganST = suhu tera urinometer= 1,008 + x 0,001= 1,01Dari hasil perhitungan didapatkan berat jenis urin adalah 1,01, artinya masih dalam batas normal. Faktor yang dapat mempengaruhi BJ urin seseorang adalah komposisi urin, fungsi pemekatan ginjal, dan produksi urin itu sendiri. Keadaaan yang menimbulkan BJ urin rendah adalah kondisi tubuh pada udara dingin, diabetes insipidus, dan terlalu banyak mengkonsumsi air. Keadaan yang menimbulkan BJ urin tinggi adalah dehidrasi, protein uria, diabetes melitus.Percobaan keempat adalah pemeriksaan bau urin. Bau urin normal disebabkan oleh asam organik yang mudah menguap. Bau yang berlainan dapat disebabkan oleh makanan seperti jengkol, petai, obat-obatan seperti mentol, bau buah-buahan seperti pada ketonuria. Dari hasil pengamatan didapatkan bau yang aromatik memusingkan (amoniak) yang artinya bau urin tersebut masih dalam batas normal. Bau amoniak disebabkan perombakan ureum oleh bakteri dan biasanya terjadi pada urin yang dibiarkan tanpa pengawet. Adanya urin yang berbau busuk dari semula dapat berasal dari perombakan protein dalam saluran kemih umpamanya pada karsinoma saluran kemih.Percobaan kelima adalah pemeriksaan kimiawi yaitu protein urin. Fungsi ginjal merupakan membuang sisa metabolisme yang tidak diperlukan oleh tubuh dan mengatur keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh. Setiap saat, secara teratur, darah yang beredar di tubuh kita akan melewati ginjal untuk menjalani proses filtrasi di ginjal. Proses filtrasi tersebut akan menghasilkan urin yang membawa serta sisa metabolisme tubuh yang tidak diperlukan lagi. Sedangkan zat-zat yang berguna bagi tubuh, seperti protein, tidak terfiltrasi dan tidak keluar di urin.Penetapan kadar protein dalam urin biasanya dinyatakan berdasarkan timbulnya kekeruhan pada urin. Salah satu uji protein urin yang cukup peka adalah dengan melalui pemanasan urin dengan asam asetat. Pemberian asam asetat dilakukan untuk mencapai atau mendekati titik iso-elektrik protein, sedangkan pemanasan bertujuan untuk denaturasi sehingga terjadilah presipitasi. Dari hasil pengamatan didapatkan bahwa protein urin negatif yang artinya tidaka ada kekeruhan (normal). Pada urin normal sebenarnya tetap mengandung protein tetapi jumlahnya sedikit, yaitu dibawah 150 mg/24 jam (biasanya ditandai dengan tanda -). Jika terdapat kadar protein urine diatas 150 mg/24 jam, hal ini dapat disebabkan adanya gangguan pada ginjal.Percobaan keenam adalah pemeriksaan kadar gukosa(reduksi gula) urin. Di dalam darah kadang terdapat jumlah glukosa yang berlebihan karena kerja hormon insulin yang tidak sempurna yang disebut dengan diabetes melitus. Keadaan demikian maka ginjal tidak bisa mempertahankan kadar glukosa tersebut. Ginjal meloloskan masuk kedalam tubulus ginjal sehingga urine yang dihasilkan akan mengandung gula. Hal tersebutlah yang menyebabkan glukosuria. Glukosuria atau glikosuria adalah ekskresi glukosa ke dalam urin. Seharusnya air seni tidak mengandung glukosa, karena ginjal akan menyerap glukosa hasil filtrasi kembali ke dalam sirkulasi darah. Glikosuria akan menyebabkan dehidrasi karena air akan terekskresi dalam jumlah banyak ke dalam air seni melalui proses yang disebut diuresis osmosis. Metode pemeriksaan glukosa urin yang berdasarkan reaksi reduksi banyak macamnya, tetapi praktikan memilih menggunakan metode benedict. Reaksi benedict sensitive karena larutan sakar dalam jumlah sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis lebih mudah mengenalnya. Hanya terlihat sedikit endapan pada dasar tabung. Uji benedict lebih peka karena benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa secara kasar, karena dengan berbagai kadar glukosa memberikan warna yang berlainan. Dari hasil pengamatan didapatkan hasil bahwa glukosa urine negatif dengan warna biru jernih, artinya masih dalam batas normal. Keadaan yang dapat menyebabkan adanya glukosa dalam urin adalah gangguan hormon, gangguan hati atau gangguan metabolsime. Percobaan ke tujuh adalah pemeriksaan mikroskopis (sedimen urin). Urin yang digunakan pada pemeriksaan sedimen urin adalah urin segar dari urin pasien dan urin sejawat. Tujuan pemeriksaan sedimen ini untuk membandingkan antara urin sejawat dan urin pasien tentang unsur-unsur yang ada dalam urin. Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X) yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau LPK. Selain itu dipakai lensa objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB. Unsur-unsur sedimen adalah sebagai berikut:

1. EritrositEritrosit dalam air seni dapat berasal dari bagian manapun dari saluran kemih. Secara teoritis, harusnya tidak dapat ditemukan adanya eritrosit, namun dalam urine normal dapat ditemukan 0 3 sel/LPK. Hematuria adalah adanya peningkatan jumlah eritrosit dalam urin karena: kerusakan glomerular, tumor yang mengikis saluran kemih, trauma ginjal, batu saluran kemih, infeksi, inflamasi, infark ginjal, nekrosis tubular akut, infeksi saluran kemih atas dan bawah, nefrotoksin, dll. Eritrosit dapat terlihat berbentuk normal, membengkak, krenasi, mengecil, shadow atau ghost cells dengan mikroskop cahaya. Spesimen segar dengan berat jenis 1,010-1,020, eritrosit berbentuk cakram normal. Eritrosit tampak bengkak dan hampir tidak berwarna pada urin yang encer, tampak mengkerut (crenated) pada urine yang pekat, dan tampak mengecil sekali dalam urine yang alkali. Selain itu, kadang-kadang eritrosit tampak seperti ragi.2. LeukositLekosit berbentuk bulat, berinti, granuler, berukuran kira-kira 1,5 2 kali eritrosit. Lekosit dalam urine umumnya adalah neutrofil (polymorphonuclear, PMN). Lekosit dapat berasal dari bagian manapun dari saluran kemih. Lekosit hingga 4 atau 5 per LPK umumnya masih dianggap normal. Peningkatan jumlah lekosit dalam urine (leukosituria atau piuria) umumnya menunjukkan adanya infeksi saluran kemih baik bagian atas atau bawah, sistitis, pielonefritis, atau glomerulonefritis akut, karena kecepatan ekskresi leukosit meningkat yang mungkin disebabkan karena adanya perubahan permeabilitas membran glomerulus atau perubahan motilitas leukosit. Pada kondisi berat jenis urin rendah, leukosit dapat ditemukan dalam bentuk sel Glitter merupakan lekosit PMN yang menunjukkan gerakan Brown butiran dalam sitoplasma. Pada suasana pH alkali leukosit cenderung berkelompok.3. SilinderSilinder (cast) adalah massa protein berbentuk silindris yang terbentuk di tubulus ginjal dan dibilas masuk ke dalam urine. Silinder terbentuk hanya dalam tubulus distal yang rumit atau saluran pengumpul (nefron distal). Tubulus proksimal dan lengkung Henle bukan lokasi untuk pembentukan silinder. Silinder dibagi-bagi berdasarkan gambaran morfologik dan komposisinya. Faktor-faktor yang mendukung pembentukan silinder adalah laju aliran yang rendah, konsentrasi garam tinggi, volume urine yang rendah, dan pH rendah (asam) yang menyebabkan denaturasi dan precipitasi protein, terutama mukoprotein Tamm-Horsfall. Mukoprotein Tamm-Horsfall adalah matriks protein yang lengket yang terdiri dari glikoprotein yang dihasilkan oleh sel epitel ginjal. Semua benda berupa partikel atau sel yang terdapat dalam tubulus yang abnormal mudah melekat pada matriks protein yang lengket.Konstituen selular yang umumnya melekat pada silinder adalah eritrosit, leukosit, dan sel epitel tubulus, baik dalam keadaan utuh atau dalam berbagai tahapan disintegrasi. Apabila silinder mengandung sel atau bahan lain yang cukup banyak, silinder tersebut dilaporkan berdasarkan konstituennya. Apabila konstituen selular mengalami disintegrasi menjadi partikel granuler atau debris, biasanya silinder hanya disebut sebagai silinder granular.

G. Kesimpulan