laporan praktikum epidemiologi penyakit menular tbc dan diare

Click here to load reader

Post on 17-Feb-2015

1.115 views

Category:

Documents

16 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULARINSPEKSI PENYAKIT JALAN TARMIDI

DISUSUN OLEH :AYU DESEDTIA 1111015028

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS MULAWARMAN TAHUN AKADEMIK 2012/2013

KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Epidemiologi Penyakit Menular Inpeksi Penyakit. Penulisan laporan ini adalah salah satu tugas dan persyaratan untuk mata kuliah Epidemilogi Penyakit Menular di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman . Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu, khususnya kepada Bapak Siswanto yang telah memberikan pengarahan dan dorongan dalam makalah ini serta masyarakat sekitar daerah Jalan Tarmidi yang telah bersedia menjadi responden.. Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

Samarinda, April 2013

Tim Penulis

DAFTAR ISIKATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TBC (Tuberculosis) 2.2 Diare BAB III METODE KERJA 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Cara Pengambilan Data BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil \ BAB V 4.2 Pembahasan PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 35 35 iii iv 18 26 17 17 3 9 1 2 i ii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kata Epidemiologi berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari 3 kata dasar yaitu epi yang berarti pada atau tentang, demos yang berarti penduduk dan kata terakhir adalah logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk. Sedangkan dalam pengertian modern pada saat

ini Epidemiology adalah suatu ilmu yang awalnya mempelajari timbulnya, perjalanan, dan pencegahan pada penyakit infeksi menular, tapi dalam perkembangannya hingga saat ini masalah yang dihadapi penduduk tidak hanya penyakit menular saja, melainkan juga penyakit tidak menular, penyakit degenaratif, kanker, penyakit jiwa, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Oleh karena itu, epidemiologi telah menjangkau hal tersebut. Perhatian terhadap penyakit menular makin hari semakin meningkat, karena semakin meningkat nya frekuensi kejadiannya pada masyarakat. Dari tiga penyebab utama kematian (WHO, 1990). Penyakit jantung, diare, dan TBC, dua di antaranya adalah penyakit menular. Selama ini epidemiologi kebanyakan berkecimpung dalam menangani masalah penyakit menular, bahkan kebanyakan terasa bahwa epidemiologi hanya menangani masalah penyakit menular. Karena itu, epidemiologi hampir selalu dikaitkan dan dianggap epidemiologi penyakit menular.hal ini tidak dapat disangkal dari sejarah perkembangan nya epidemiologi berlatar belakang penyakit menular. Sejarah epidemiologi memang bermula dengan penanganan masalah penyakit menular yang merajalela dan banyak menelan korban pada waktu itu. Pentingnya pengetahuan tentang penyakit menular dilatarbelakangi dengan kecenderungan semakin meningkat nya prevalensi penyakit menular dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang sementara membangun dirinya dari suatu negara agraris yang sedang berkembang menuju masyarakat industri membawa kecenderungan baru

dalam pola penyakit dalam masyarakat. Perubahan pola struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak memberi andil terhadap perubahan pola fertilitas, gaya hidup, sosial ekonomi yang pada giliran nya dapat memacu semakin meningkatnya EPM.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan Umum Mengetahui berbagai macam permasalahan kesehatan pada masyarakat di Samarinda 1.2.2 Tujuan Khusus - Mengetahui kondisi lingkungan dan rumah warga daerah sekitar piggiran Sungai Karang Mumus Jl. Tarmidi Samarinda - Mengetahui penyakit yang umumnya diderita oleh masyarakat sekitar - Mengetahui penyebab munculnya penyakit pada masyarakat sekitar - Mengetahui upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mencegah permasalahan kesehatan di daerah sekitar

BAB II TINAJUAN PUSTAKA 2.1 TBC (Tuberculosis) 2.1.1 Identifikasi Penyakit TBC adalah penyakit yang menular yang menyerang paruparu, penyakit ini disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis. Walaupun tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai bakteri ini tahan terhadap peluntur warna (dekolarisasi) asam atau alcohol, oleh karena ini dinamakan bakteri tahan asam atau basil tahan asam ( BTA ). Penyakit TBC atau yang sering di kenal dengan penyakit infeksi kronis/menehun dan menular yang di sebabkan oleh bakter

microbacterium tuberklosa yang dapat menyerang pada siapa saja,tanpa memandang usia,dan jenis kelamin dengan Gejala yang sangat bervariasi.Namun,sesuai fakta yang ada bahwa penderita penyakit TBC lebih banyak menyerang pada usia roduktif yang berkisar 15 tahun sampai dengan 35 tahun. Identifikasi tuberkulosis paru adalah melalui gejala, tanda dan hasil pemeriksaan penunjang. Gejalanya pada umumnya adalah batuk-batuk lama >3 minggu, keringat malam, penurunan berat badan, batuk darah, demam tidak tinggi dan lemah . Tandanya salah satunya terdapat bunyi napas tambahan pada pemeriksaan dengan stetoskop. Bila didapatkan kecurigaan ke arah TBC maka dapat dilakukan pemerikaaan dahak sebanyak 3 kali dan pemeriksaan Rontgen paru. Pemeriksaan Mantoux biasanya dilakukan pada anak.

2.1.2 Penyebab Penyakit Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal

24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

2.1.3 Distribusi Penyakit Lingkungan hidup yang sangat padat dan permukiman di wilayah perkotaan kemungkinan besar telah mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas peningkatan jumlah kasus TB. Proses terjadinya infeksi oleh Mycobacterium Tuberculosis biasanya secara inhalasi,

sehingga TB paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering disbanding organ lainnya. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei. Khususnya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA). Pada TB kulit atau jaringan lunak penularan bisa melalui inokulasi langsung. Infeksi yang disebabkan oleh M. bovis dapat disebabkan oleh susu yang kurang disterilkan dengan baik atau terkontaminasi. Sudah dibuktikan bahwa lingkungan sosial ekonomi yang baik. Penyakit TB paru tersebar di seluruh dunia. Pada awalnya di negara industri, penyakit tuberkulosis menunjukan kecenderungan yang menurun baik mortalitas maupun morbiditas. Namun di akhir tahun 1980an jumlah kasusnya meningkat di daerah yang prevalensi HIV-nya tinggi dan di daerah yang dihuni oleh pendatang yang berasal dari daerah yang prevalensi TB tinggi. Mortalitas dan morbiditas meningkat sesuai dengan umur, pada orang dewasa lebih tinggi pada laki laki.

2.1.4 Reservoir Pada umumnya manusia adalah sebagai reservoir dari bakteri penyebab penyakit TB paru. Jarang sekali ditemukan Mycobacterium tuberculosis di binatang.

2.1.5 Cara Penularan Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru. Saat Mikobakterium tuberkulosa berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat). Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru. Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant(istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah yang

sebenarnya terlihat sebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen. Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembangbiakan sehingga tuberkel bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-paru. Ruang inilah yang nantinya menjadi sumber produksi sputum (dahak). Seseorang yang telah memproduksi sputum dapat diperkirakan sedang mengalami pertumbuhan tuberkel berlebih dan positif terinfeksi TBC. Meningkatnya penularan infeksi yang telah dilaporkan saat ini, banyak dihubungkan dengan beberapa keadaan, antara lain memburuknya kondisi sosial ekonomi, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan

masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal dan adanya epidemi dari infeksi HIV. Disamping itu daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam terjadinya infeksi TBC.

2.1.6 Masa Inkubas