laporan hampir fix

Upload: gladiola-nadisha

Post on 30-Oct-2015

112 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

BAB 1PENDAHULUANSTEP 11. Oedema :Pembesaran jaringan akibat meningkatnya volume cairan di luar sel (ekstraseluler) dan di luar pembuluh darah (ekstravaskular) disertai dengan penimbunan di jaringan serosa. 2. Linea alba : Garis putih ke abu abuan yang menonjol dan memanjang dari komisura bibir sampai molar dan tergolong lesi yang sangat jinak. 3. Mesio versi : malposisi gigi dimana gigi bergerak terlalu mesial dari keadaan normalnya4. Abrasi : Hilangnya struktur keras gigi akibat keausan mekanik seperti menggosok gigi yang menyebabkan ke abnormalan gigi5. Bruxism : Kebiasaan menggerinding gigi Rahang atas dan Rahang bawah tanpa disadari yang menyebabkan ke abnormalan dari anatomi gigi.STEP 21. Apa saja klasifikasi trauma jaringan lunak rongga mulut?2. Apa saja etiologi serta faktor predisposisi dari traumatik jaringan lunak rongga mulut ?3. Apa gejala klinis dari kelainan jaringan lunak rongga mulut akibat traumatik?4. Bagaimana patogenesis serta respon tubuh terhadap jejas traumatik?

STEP 4MAPPING

STEP 5LO :1. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan klasifikasi trauma jaringan lunak rongga mulut2. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan etiologi serta faktor predisposisi dari traumatik jaringan lunak rongga mulut 3. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan gejala klinis dari kelainan jaringan lunak rongga mulut akibat traumatik4. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan patogenesis serta respon tubuh terhadap jejas traumatik

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

Dalam rongga mulut dapat timbul lesi yang salah satunya disebabkan karena adanya trauma. Biasanya trauma tersebut diakibatkan oleh kerusakan mekanik seperti kontak dengan makanan yang tajam, tergigit ketika makan, bicara, bahkan tidur. Lesi ini juga bisa terjadi akibat luka bakar benda panas, listrik atau kimia. Lokasi lesi traumatik bisa terjadi pada mukosa pipi, mukosa bibir, palatum dan tepi perifer dari lidah (Bricker dkk., 1994).Ulkus traumatik dapat disebabkan oleh berbagai macam trauma, yaitu trauma fisik, trauma termal, trauma elektrik, trauma kimiawi, dan trauma radiasi (Bricker dkk., 1994).A. TRAUMA FISIKLuka akibat trauma fisik pada kulit atau mukosa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:1. Abrasion (luka lecet)Merupakan luka di permukaan yang disebabkan karena kulit atau mukosa berkontak dengan benda tajam maupun permukaan kasar seperti jalan raya/beton (saat terjatuh) yang akan meninggalkan luka dangkal yang kasar dan berdarah. Luka ini dapat menyebabkan terlepasnya jaringan epitelium dan benda asing menempel sehingga sering terjadi infeksi. Luka seperti ini sering mengakibatkan rasa sakit, hal tersebut dikarenakan ujung saraf yang terbuka akibat luka.2. Contusion (luka memar)Merupakan luka yang terjadi akibat pukulan atau tertimpa benda tumpul. Luka ini tidak merusak mukosa, namun hanya akan membuat darah berekstravasasi ke jaringan subkutan yang menyebabkan area membiru (ecchymosis) dan memar. Bentuk luka ini adalah perdarahan dari jaringan subkutan tanpa adanya kerusakan jaringan lunak di sekitarnya.3. Laceration (luka gores)Merupakan luka dangkal maupun dalam pada jaringan lunak yang disebabkan tergores baik oleh benda tajam dan tumpul, tepi luka biasanya disertai memar. Luka ini mungkin akan mengganggu pembuluh darah, saraf, otot, dan kelenjar saliva. Area yang sering terlibat adalah bibir, mukosa oral, gingiva, dan lidah. Luka ini sering terjadi karena terobeknya mukosa atau kulit pada kecelakaan kendaraan bermotor. Perawatan yang dilakukan adalah pembersihan luka, pemberian antibiotik, dan terkadang perlu dilakukan penjahitan (suturing). Bentuk luka Lacerations dapat diklasifikasikan menjadi: Crescent shaped (bulan sabit): disebabkan oleh benda tumpul yang mempunyai tepi permukaan yang tajam (misalnya palu). Linear with Y shaped ends (garis dengan ujung huruf Y): disebabkan oleh benda sempit memanjang (batang besi, batang logam, pipa). Stellate (bintang): disebabkan oleh benda yang mempunyai permukaan tajam dengan ujung tumpul membulat. Triangular (segitiga): disebabkan oleh pointed bayonet, seperti paku.4. Soft tissue avulsionLuka avulsi (hilangnya jaringan) merupakan luka yang terjadi karena gigitan hewan yang menimbulkan luka lecet yang sangat dalam dan lebar.5. Puncture wounds (luka tusuk)Merupakan luka tusukan yang disebabkan oleh penetrasi benda tajam langsung ke dalam kulit, seperti pisau dan tembakan senjata. Perawatan yang dilakukan adalah pembersihan luka dengan desinfektan, pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi, dan mungkin juga dilakukan penjahitan pada luka yang lebar.(Miloro, 2004 ; Balaji, 2007 ; Karmakar, 2007 ; Andreasen, 2011)B. TRAUMA TERMAL DAN ELEKTRIK1. Trauma TermalTrauma termal dapat disebabkan karena seseorang memakan pizza yang terlalu panas atau makanan dengan keju yang meleleh di atasnya sehingga menyebabkan luka bakar pada palatum atau ventral lidah (Bricker dkk., 1994). Lesi akibat trauma termal biasanya terjadi pada palatum dan mukosa bukal posterior. Penampakan klinis lesi dengan area eritematous dan ulserasi dengan sisa jaringan epitel di sekelilingnya. Tidak ada perawatan khusus yang dilakukan untuk lesi ini karena akan sembuh dengan sendirinya (Neville dkk., 2009).2. Trauma ElektrikTrauma elektrik biasanya disebabkan oleh peralatan elektrik yang digigit dengan mulut. Lokasi yang biasa terjadi lesi akibat trauma elektrik adalah mukosa bibir dan sudut mulut. Mulanya tidak terasa adanya rasa sakit, area berwarna kekuningan dengan sedikit atau tidak ada perdarahan, terjadi edema setelah beberapa jam dan berlangsung hingga 12 hari. Pada hari ke-empat, lesi akan menjadi nekrosis dan mulai terjadi perdarahan. Area lipatan mukobukal, lidah, gigi di sekitarnya mungkin akan terlibat dan gigi menjadi non vital dengan atau tanpa nekrosis di sekitar tulang alveolar. Perawatan yang diberikan untuk pasien dengan lesi seperti ini adalah antibiotik profilaksis untuk mencegah adanya infeksi sekunder (Neville dkk., 2009).C. TRAUMA KIMIAWITrauma kimiawi di dalam rongga mulut biasanya akibat bahan-bahan kedokteran gigi yang digunakan dalam praktek, misalnya aspirin, hidrogen peroksida, silver nitrat, fenol, larutan anestesi, dan bahan perawatan saluran akar. Trauma kimiawi dapat disebabkan karena pemakaian obat-obatan yang bersifat kaustik, seperti obat kumur yang tinggi kandungan alcohol, hydrogen peroksida, atau fenol, dan penggunaan obat aspirin baik tablet maupun topikal pada mukosa sebagai obat sakit gigi. Lesi biasanya terletak pada forniks atau lipatan mukobukal dan gingiva. Area yang terluka berbentuk ireguler, berwarna putih, dilapisi pseudomembran, dan sangat sakit. Area yang terlibat sangat mungkin meluas. Jika kontak dengan agen kimia terjadi cukup singkat, maka lesi yang terbentuk berupa kerut-kerut berwarna putih tanpa nekrosis jaringan. Kontak dalam waktu lama (biasanya dengan aspirin, sodium hipoklorid, dan fenol) dapat menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan pengelupasan jaringan yang nekrosis. Mukosa non-keratinisasi yang tidak cekat lebih sering mengalami luka bakar dibandingkan mukosa cekat (Greenberg dan Glick, 2003).1. AspirinAcetylsalicylic acid (aspirin) merupakan agen yang biasa menyebabkan trauma kimiawi dalam rongga mulut. Jaringan rongga mulut rusak ketika aspirin diisap pada area lipatan mukobukal dalam jangka waktu yang cukup lama untuk melegakan nyeri gigi.2. Silver NitratSilver nitrat biasa digunakan oleh dokter gigi sebagai agen kauterisasi untuk merawat kasus stomatitis aptosa. Bahan ini mampu meredakan gejala secara instan dengan membakar akhiran saraf pada ulkus. Namun, silver nitrat sering merusak jaringan di sekitarnya dan menghambat penyembuhan atau bahkan dapat menyebabkan nekrosis di lokasi aplikasinya (jarang terjadi). Oleh sebab itu, penggunaan silver nitrat sebaiknya dikurangi.3. Sodium HipokloridSodium hipoklorid atau bahan pemutihan gigi, sering digunakan untuk irigasi saluran akar dan dapat menyebabkan ulkus yang cukup parah akibat kontak dengan jaringan lunak di dalam rongga mulut.4. Hidrogen PeroksidaHidrogen peroksida sering digunakan sebagai bahan irigasi intraoral untuk pencegahan penyakit periodontal. Pada konsentrasi 3%, hidrogen peroksida dapat menyebabkan jaringan nekrosis.5. Pasta Gigi dan Obat KumurBeberapa kasus ulserasi dan luka jaringan di dalam mulut telah dilaporkan disebabkan karena salah penggunaan obat kumur dan pasta gigi komersial. Reaksi hipersensitivitas, ulserasi, dan pengelupasan epitel yang tidak biasa terjadi pernah dilaporkan terjadi pada penggunaan pasta gigi yang mengandung kayu manis (cinnamons). Bahan yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas diduga adalah kandungan aldehid. Reaksi ini tampak mirip dengan reaksi yang disebabkan oleh bahan kimia lain seperti aspirin dan hidrogen peroksida. Selain itu, ditemukan pula kasus luka bakar di bibir, mulut, dan lidah pada pasien yang menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol dan klorheksidin (Greenberg dan Glick, 2003).6. Smokers MelanosisIndividu yang merokok mungkin akan timbul area hiperpigmentasi melanin pada mukosanya tergantung pada jumlah batang rokok sehari-hari. Smokers melanosis paling sering ditemukan di area gingiva anterior pada maksila maupun mandibula. Pigmentasi bervariasi dari warna coklat terang hingga gelap dan tampak difus. Perawatan yang dilakukan adalah biopsi, terutama pada area palatum. Smokers melanosis akan menghilang sedikit demi sedikit selama 3 tahun setelah berhenti merokok (Neville dkk., 2009).7. Anesthetic NecrosisKasus yang jarang terjadi, nekrosis fokal jaringan dapat timbul pada lokasi injeksi anestesi lokal. Predileksi terjadinya lesi pada palatum durum, yang jaringan mukosanya berikatan cekat dengan tulang di bawahnya. Biasanya lesi ini timbul sebagai lesi ulser yang bertepi reguler yang timbul beberapa hari setelah injeksi. Ulser terjadi akibat nekrosis iskemia yang kemungkinan disebabkan karena trauma langsung dari larutan anestesi, vasokonstriksi epinefrin, atau keduanya. Penyembuhan ulser memerlukan waktu beberapa minggu dan terkadang dapat menjadi kronis. Stimulus lokal, misalnya usapan sitologi, cukup untuk merangsang penyembuhan ulser (Neville dkk., 2009).8. Soft Tissue EmphysemaKasus ini merupakan fenomena yang jarang terjadi dimana udara atau gas masuk ke dalam jaringan lunak. Pada regio orofasial, soft-tissue emphysema sering terkait dengan penggunaan syringe udara atau handpiece dimana udara ditiupkan pada lokasi pembedahan, laserasi, atau duktus kelenjar saliva. Kemungkinan penyebab lainnya adalah trauma, batuk keras, dan memainkan instrumen musik tiup. Udara dapat memasuki jaringan dan menyebabkan pembengkakan mendadak. Tanda klinis yaitu ditemukan krepitasi pada palpasi. Emfisema pada leher dapat menyebar ke bawah dan menyebabkan pneumomediastinum. Pasien dengan soft-tissue emphysema sebaiknya dirawat dengan antibiotik untuk pencegahan infeksi sekunder. Kebanyakan kasus sembuh dalam 12 minggu (Neville dkk., 2009).D. TRAUMA RADIASIPerawatan kanker dengan kemoterapi dan radiasi pada daerah kepala dan leher dapat menyebabkan timbulnya ulserasi. Hal tersebut dikarenakan perawatan kanker bertujuan untuk membunuh pertumbuhan sel-sel dengan cepat seperti sel kanker. Beberapa sel yang sehat pada tubuh membelah dan tumbuh dengan cepat, termasuk sel yang melapisi bagian mukosa. Sayangnya, sel-sel sehat juga dirusak oleh kemoterapi dan radiasi ini. Kerusakan pada sel-sel di dalam mulut membuat kemampuannya untuk sembuh dan melawan bakteri menjadi sulit sehingga dapat menyebabkan luka dan infeksi (Anonim, 2009). Salah satu masalah yang sering terjadi akibat kemoterapi atau radioterapi adalah mukositis (Scully, 2004). Oral mucositis merupakan manifestasi oral akibat paparan radiasi yang timbul pada minggu kedua setelah terapi pada area yang terkena sinar X secara langsung, misalnya mukosa bukal, ventral lidah, palatum molle, dan dasar mulut. Gambaran klinis lesi awal berwarna keputihan dengan deskuamasi pada keratin, selanjutnya atrofi pada mukosa dengan gambaran edematous dan eritematous. Oral mucositis akan sembuh 2-3 minggu setelah terapi dihentikan (Neville dkk., 2009).

BAB 3PEMBAHASAN

3.1 Klasifikasi Trauma Jaringan Lunak Rongga MulutKelainan jaringan rongga mulut akibat trauma dapat dibedakan menjadi dua yaitu symptom (menimbulkan gejala) dan asymptosis (tidak menimbulkan gejala)A. SYMPTOM : MENIMBULKAN GEJALA

Leukoplakia Terjadi karena penggunaan rokok, dapat didukung oleh faktor predisposisi misalnya infeksi jamur, virus, bakteri.Gejala klinis diawali dengan hyperkeratosis, warna putih karena penurunan mikrovaskular dari venul dan arteri.Histopaloginya terjadi penebalan epitel pada lapisan keratin.Terapinya dengan mengurangi alkohol dan rokok.

Traumatic ulserDisebabkan karena trauma mekanik (alat protesa) , kimia, termis, tergigit, karena makanan tajam.Gejala klinis terbentuk rasa nyeri, terdapat jaringan putih kekuningan, eritema. Bentuknya tergantung dari sumber trauma, tempat mukosa bukal dan labial rahang atas dan rahang bawah.Proses penyembuhan 2 minggu dengan sendirinya. Pemberian triamicolone atau antiinflamasi kortikosteroid topikal. Jika semakin paarah akan menjadi traumatic, ulseratif granuloma.

NeuromaterapicTrauma ini terjadi karena serabut saraf terpotong.Gejala klinisnya berupa nodul berukuran kurang dari 0,5 cm, jika dilakukan palpasi akan terasa sakit.Untuk mengatasinya dilakukan pemberian kortikosteroid.

Frictional keratinosisTerjadi pada wanita remaja yang mempunyai kebiasaan menggigit bibir dan mukosa pipi.Gejala klinisnya berupa bentukan kasar berwarna putih keabuan pada bagian bibir bawah sepanjang oklusi.Terapinya dengan menghentikan kebiasaan tersebut.

Idiopatic keratosisPenyebab kelainan ini belum dapat dipastikan ecara klinis. Namun berdasarkan survey, penyebabnya adalah devisiensi vitamin A.Gejala klinisnya timbul lesi tunggal kecil yang tersebar di dasar rongga mulut.

Keratosis yang berhubungan dengan perokokDisebabkan karena penggunaan pipa sehingga menimbulkan lesi pada palate, gejala klinisnya stomatitis nikotin. Penggunaan sigaret juga dapat menyebabkan lesi pada mukosa bukal.

Ulkus kemoterapeutikPenyebabnya adalah trauma obat imunopressan. Dalam jangka waktu 2 minggu menimbulkan ulkus yang menandakan adanya keracunan obat yang mengenai mukosa palatum lidah dan bibir.Gejala klinisnya terasa sebagai sensai terbakar, sakit dalam jangka waktu yang tidak teratur.Untuk menanggulangi kelainan ini dilakukan dengan mengurangi dosis obat yang digunakan.

B. ASYMPTOSIS : TIDAK MENIMBULKAN GEJALA

Sublingual keratosisGejala klinisnya berupa lesi putih dan tunggal seperti kupu-kupu progresif.

Hairy tongueAdanya bulu di bagian dorsal lidah yang diakibatkan oleh pertumbuhan papila filiformis yang berlebihan. Terjadi hiperplasia yang tebal sehingga cocok digunakan untuk menangkap bakteri, jamus dan debris.Faktor predisposisi debris, faktor candida albicans, penggunaan obat antibiotik. Faktor predisposisi ini dapat menyebabkan rasa gatal dan muntah.Terapinya dengan menyikat lidah dengan larutan sodium bikaronat, menjaga oral hygiene dan dapat sembuh jika oral hygiene membaik.

KistaKista disebabkan oleh trauma yang berulang. Gejala klinisnya tampak warna yang kurang bervariasi, sehingga tamppak seperti sekitarnya. Kista ini menyebabkan saluran kelenjar saliva minor tersumbat sehingga terjadi penumpukan cairan pada kelenjar saliva minor.Kista, contoh Kista Mucocele, adanya kista retensi yang menyebabkan sumbatan.

LeukodemaKelainan ini belum ditemukan secara jelas faktor penyebabnya, namun dugaan sementara karena fungsi sistem mastikasi. Penyebabnya karena trauma dan oral hygiene yang buruk. Leukodema ditemukan pada daerah sekitar mukosa bukal dan palatum mole.Gambaran klinisnya berwarna putih seperti susu, panjang, tersebar, tipis dan terjadi pembengkakan hiperkeratosis.Kelainan ini umumnya diderita oleh pasien yang berumur tua.

Linea albae bucalsDisebabkan oleh karena kebiasaan menggigit dan menghisap.Gejala klinisnya timbul lesi putih pada mukosa bukal.Terapi dan pencegahan dengan mengurangi kebiasaan buruk.3.2 Etiologi serta Faktor Predisposisi dari Traumatik Jaringan Lunak Rongga Mulut Etiologi Trauma Jaringan Lunak Rongga Mulut Trauma ElektrikTrauma elektrik dapat disebabkan oleh peralatan elektrik yang mengenai bagian mulut. Lokasi biasanya di mukosa bibir dan sudut mulut. Awalnya tidak terasa adanya sakit, area yang terkena berwarna kekuningan dengan sedikit atau tidak ada perdarahan. Terjadi edema selama 12 hari.

Trauma RadiasiTrauma radiasi biasanya disebabkan karena radioterapi. Radioterapi dapat menyebabkan oral mukositis. Oral mukositis merupakan manifestasi oral akibat paparan radiasi pada minggu kedua setelah terapi pada area yang terpapar sinar x secara langsung.

MikroorganismeKebanyakan penyakit pada mukosa oral melibatkan peran mikroorganisme. Mikroorganisme tersebut diantaranya: Human Immunodeviciency Virus (HIV)Imunosupresi yang ditimbulkan oleh HIV merupakan predisposisi untuk terjadinya sejumlah penyakit oral. Penyakit tersebut diantaranya adalah hairy leukoplakia. Hairy leukoplakia merupakan gamabran penyakit oral yang menjadi tanda adanya HIV atau dapat juga menyertai adanya infeksi HIV.

Candida albicansCandida albicans merupakan flora normal rongga mulut. Namun apabila jumlahnya meningkat tetapi tidak diimbangi dengan sistem imun yang meningkat pula maka Candida albicans dapat bersifat patogen. Candida albicans tersebut menyebabkan candidiasis.

HormonalPada saat pra menstruasi hormon konsentrasi estrogen di dalam tubuh menurun. Penurunan esterogen mengakibatkan aliran darah juga menurun. Turunnya aliran darah menyebabkan suplai darah menurun pula. Turunnya suplai darah akan mengganggu keseimbangan sel rongga mulut sehingga dapat mengganggu keratinisasi epitel. Apabila keratinisasi terganggu maka rongga mulut lebih rentan terhadap iritasi.

3.3 Gejala Klinis dari Kelainan Jaringan Lunak Rongga Mulut Akibat TraumatikKelainan jaringan rongga mulut akibat trauma.a. Sympton : menimbulkan gejala Leukoplakia Terjadi karena penggunaan rokok, dapat didukung oleh faktor predisposisi misalnya infeksi jamur, virus, bakteri.Gejala klinis diawali dengan hyperkeratosis, warna putih karena penurunan mikrovaskular dari venul dan arteri.Histopaloginya terjadi penebalan epitel pada lapisan keratin.Terapinya dengan mengurangi alkohol dan rokok.

Traumatic ulserDisebabkan karena trauma mekanik (alat protesa) , kimia, termis, tergigit, karena makanan tajam.Gejala klinis terbentuk rasa nyeri, terdapat jaringan putih kekuningan, eritema. Bentuknya tergantung dari sumber trauma, tempat mukosa bukal dan labial rahang atas dan rahang bawah.Proses penyembuhan 2 minggu dengan sendirinya. Pemberian triamicolone atau antiinflamasi kortikosteroid topikal. Jika semakin paarah akan menjadi traumatic, ulseratif granuloma.

ULCER MINORULCER MAYOR NeuromaterapicTrauma ini terjadi karena serabut saraf terpotong.Gejala klinisnya berupa nodul berukuran kurang dari 0,5 cm, jika dilakukan palpasi akan terasa sakit.Untuk mengatasinya dilakukan pemberian kortikosteroid.

Frictional keratinosisTerjadi pada wanita remaja yang mempunyai kebiasaan menggigit bibir dan mukosa pipi.Gejala klinisnya berupa bentukan kasar berwarna putih keabuan pada bagian bibir bawah sepanjang oklusi.Terapinya dengan menghentikan kebiasaan tersebut.

Idiopatic keratosisPenyebab kelainan ini belum dapat dipastikan ecara klinis. Namun berdasarkan survey, penyebabnya adalah devisiensi vitamin A.Gejala klinisnya timbul lesi tunggal kecil yang tersebar di dasar rongga mulut.

Keratosis yang berhubungan dengan perokokDisebabkan karena penggunaan pipa sehingga menimbulkan lesi pada palate, gejala klinisnya stomatitis nikotin. Penggunaan sigaret juga dapat menyebabkan lesi pada mukosa bukal.

Ulkus kemoterapeutikPenyebabnya adalah trauma obat imunopressan. Dalam jangka waktu 2 minggu menimbulkan ulkus yang menandakan adanya keracunan obat yang mengenai mukosa palatum lidah dan bibir.Gejala klinisnya terasa sebagai sensai terbakar, sakit dalam jangka waktu yang tidak teratur.Untuk menanggulangi kelainan ini dilakukan dengan mengurangi dosis obat yang digunakan.

b. Asymptosis : tidak menimbulkan gejala Sublingual keratosisGejala klinisnya berupa lesi putih dan tunggal seperti kupu-kupu progresif.

Hairy tongueAdanya bulu di bagian dorsal lidah yang diakibatkan oleh pertumbuhan papila filiformis yang berlebihan. Terjadi hiperplasia yang tebal sehingga cocok digunakan untuk menangkap bakteri, jamus dan debris.Faktor predisposisi debris, faktor candida albicans, penggunaan obat antibiotik. Faktor predisposisi ini dapat menyebabkan rasa gatal dan muntah.Terapinya dengan menyikat lidah dengan larutan sodium bikaronat, menjaga oral hygiene dan dapat sembuh jika oral hygiene membaik.

KistaKista disebabkan oleh trauma yang berulang. Gejala klinisnya tampak warna yang kurang bervariasi, sehingga tamppak seperti sekitarnya. Kista ini menyebabkan saluran kelenjar saliva minor tersumbat sehingga terjadi penumpukan cairan pada kelenjar saliva minor.Kista, contoh Kista Mucocele, adanya kista retensi yang menyebabkan sumbatan.

LeukodemaKelainan ini belum ditemukan secara jelas faktor penyebabnya, namun dugaan sementara karena fungsi sistem mastikasi. Penyebabnya karena trauma dan oral hygiene yang buruk. Leukodema ditemukan pada daerah sekitar mukosa bukal dan palatum mole.Gambaran klinisnya berwarna putih seperti susu, panjang, tersebar, tipis dan terjadi pembengkakan hiperkeratosis.Kelainan ini umumnya diderita oleh pasien yang berumur tua.

Linea albae bucalisDisebabkan oleh karena kebiasaan menggigit dan menghisap.Gejala klinisnya timbul lesi putih pada mukosa bukal.Terapi dan pencegahan dengan mengurangi kebiasaan buruk.

3.4 Patogenesis Serta Respon Tubuh Terhadap Jejas TraumatikMekanisme patogenesis akibat trauma secara umum dapat dilihat dalam 4 tahap, yakni:1. Tahap premonitoriPada tahap ini terjadi 24 jam pertama setelah terjadinya trauma. Pada tahap ini ditandai dengan munculnya gejala prodromal. Bentuk gejala prodromal dapat berupa malaise atau rasa terbakar tergantung dari jenis trauma tersebut. Apabila dilakukan hapusan pasa area tersebut, maka pada gambaran histopatologi anatomi daripadanya ditemukan infiltrasi dari sel inflamasi disertai adanya edema.2. Tahap pre-ulserasiTahap ini adalah tahap berkelanjutan setelah tahap premonitori. Tahap ini terjadi 18-72 jam setelah terjadinya trauma. Karakteristik dari tahap ini adalah ditemukannya makula yang kemudia berkembang menjadi papula, disertai adanya eritema diarea sekitar injury dan mulai timbulnya rasa sakit.3. Tahap ulseratif Tahap ini terjadi 2 minggu setelah terjadinya injury. Pada tahap ini ulser yang terbentuk mulai dilapisi suatu membran yang terbentuk dari proliferasi fibrosa. Pada tahap ini rasa sakit sudah berkurang.4. Tahap penyembuhanUntuk tahap keempat ini pada dasarnya tidak dapat ditentukan. Tahap penyembuhan dari sebuah injury bergantung terhadap keadaan host dan keadaan petogen dari peng-injury. Namun diperkirakan secara umum trauma tersebut akan sembuh setelah 4-35 minggu. Tahap penyembuhan ini ditandai dengan adanya repair dari jaringan yang rusak akibat terjadinya trauma. Untuk mekanisme dari repair jaringan tersebut baik regenarasi maupun replacment akan dijelaskan lebih selanjutnya.Selain memahami dari tahap-tahap umum patogenesis yang disebabkan oleh trauma. Perlu diketahui bahwasannya seiring dengan adanya trauma tubuh memiliki pertahanan imun dalam melawan injury tersebut yang utama adalah respon imun alami dari tubuh. Yang perlu di garis bawahi adalah terjadinya patogenesis dari trauma juga mengikuterlibatkan dari infeksi bakteri. Hal ini dikarenakan , trauma yang terjadi terutama di rongga mulut yang notabenenya mengandung beribu-ribu mikroorganise akan langsung menginflitrasi daerah trauma tersebut dan menyebabkan terjadinya infeksi pada area tersebut. Hal inilah yang kemudian dijadikan alasan mengapa pada trauma juga ditemukannya aktivitas dari respon inflamasi. Meskipun demikian sel yang mati juga dianggap sebagai antigen bagi tubuh yang butuh untuk didegradasi dan merangsang respon imun dalam aktivitasnya. untuk mekanisme lebih lanjutnyadalah sebagai berikut:1. InjuryInjury pada skenario terkait adalah tentang trauma. Dimana klasifikasi trauma dari respon injurinya dibagai menjadi makrotrauma dan mikrotrauma. Dari namanya saja sudah dapat diketahui bahwa pada makrotrauma respon inury yang dihasilkan adalah besar/lebar. Sedangkan mikrotrauma kecil. Untuk mikrotrauma masih dibagi lagi menjadi dua, yakni primary injury yang terjadi dengan merusak sel secara langsung sebagai contoh trauma fisik/ mekanik, atau secondary injury yang merusak sel dengan mengubah atau mengganggu metabolisme sel sebagai contoh adalah chemical injury seperti aspirin2. Ultrastructure changePada tahap ini terjadi perubahan bentuk dari sel tubuh yang mengalami injury. Ketika terjadi injury maka akan terjadi perubahan membran dan organel sel membentuk space ekstraseluler yang kemudian mati menjadi debris. Debris inilah yang dianggap injury bagi tubuh.3. VasokntriksiBegitu trauma mengenai jaringan yang kaya akan saraf maka respon pertama yang terjadi adalah adanya vasokontriksi dari pembuluh kapiler setempat sebelum melangsung respon keradangannya.4. VasodilatasiPada tahap ini sudah terjadi respon keradangan. Respon vasodilatasi dari pembuluh darah ini akibat mediator kimia yang dilepaskan oleh sel yang terkena trauma. Dimana dalam dermis kulit ditemukan diferensiansi dari makrofag yang disebut sel mastosit, sel mastosit inilah yang memproduksi mediator kimia berupa histamin, platelet activating factor(PAF). Disamping sel mastosit yang dapat mengeluarkan mediator kimia ketika terjadi trauma pada jaringan. Sel tersebut juga mengeluarkan eikosanoid yang menghasilkan jumlah besar dari prostaglandin, dan sitokin yang memproduksi interleukin (IL) sebagai mediator kimia adanya agen infeksius, serta bradykinin. Mediator-mediator tersebutlah yang yang menginduksi vasodilatasi dari pembuluh darah. Biasanya pada tahap ini juga sudah timbul gejala nyeri dikarenakan mediator kimia tersebut, sebagai contoh prostaglandin, sudah memasuki jalur siklooksigenasi (COX) menuju saraf pusat untuk merespon rangsang nyeri. 5. Peningkatan permeabilitas.Tahap ini adalah respon sejalan dari vasodilatasi pembuluh darah. Secara otomatis space endotel akan melebar ketika terjadi vasodilatasi dari pembuluh darah, akibatnya akan terjadi peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Itulah mengapa mediator yang menginduksi peningkatan permeabilitas pembuluh darah adalah sama dengan vasodilatasi. Hanya disertai lagi oleh serotonin dan leukotrin(diproduksi dari eikosanoid). Dengan adanya peningkatan permeabilitas ini daerah sekitar infeksi juga akan mengalami edema.6. Vaskular stasisTahap ini adalah serupa dengan respon inflamasi yang terjadi umunya yakni adanya:a. Marginasi leukositb. Adhesi leukositc. Transmigrasi leukositPada tahap ini yang menginduksi adalah adanya vasodilatasi pembuluh darah dan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, serta tumor necrosis factor, IL 1, serta komplemen yang berfungsi memberi sinyal diapedesis leukosit. Pada tahap ini juga berperan protein integrin dalam melakukan ikatan terhadap dinding endotel.7. ChemotoksisProses ini adalah peran dari leukotrin dan chemokin dalam memberi arah pergerakan leukosit menuju sel yang tepat untuk dilakukan tahap selanjutnya8. OpsonisasiTahap perlekatan antara antigen (debris jaringan) terhadap sel radang penghancur.9. FagositosisYakni tahap pengahcuran di dalam sel radang yakni dengan pembungkusan antigen membentuk fagosom yang akan dilekatin lisosom sebagai organel penghancur membentuk fagolisosom. Dan penghancuran dilakukan dengan mekanisme proteolitik, hidrolitik, dan aktivasi dari molekul radikal bebas.

10. Termination proses.Tahap ini adalah tahap penghilangan debris dan bakteri/jamur yang masuk bersamaan dengan proses terjadinya trauma. Tahap ini sangat penting sebelum terjadinya proses repair. Hal ini dikarenakan repair jaringan tidak akan terbentuk bila agen penyebab dan debris yang dibuatnya tidak hilang sepenuhnya.

Gambar 1: mekanisme respon imun terhadap trauma disertai invasi bakteri

TISSUE REPAIR

Tahap akhir dari adanya suatu lesi ataupun luka adalah penyembuhan jaringan atau tissue repair. Proses perbaikan jaringan ini dimulai dengan adanya suatu proses pembersihan daerah injury atau clean incision. Setelah daerah injuri bersih dari sel-sel epitel mati atau mikroorganisme, maka daerah injury akan terisi oleh darah yang beku (blood clot) disertai dengan adanya invasi dari neutrofil. Selain itu, sel-sel epitel yang ada di stratum basalis pun mulai melakukan aktivitas mitotik pada 24 jam awal setelah adanya injuri.Selanjutnya pada hari ke 1-2, sel-sel epitel baru mulai tumbuh disepanjang permukaan potongan kulit atau mukosa yang terkena injuri. Hari ketiga, sel-sel radang neutrofil yang awalnya dominan kini mulai digantikan oleh makrofag. Jaringan granulasi pun mulai terbentuk yaitu ditandai dengan adanya sel-sel endotel yang mulai bermigrasi ke daerah injuri guna membentuk pembuluh-pembuluh darah yang baru, serta migrasi dan proliferasi sel-sel fibroblas yang akan membentuk ekstraseluler matriks. Serat-serat kolagen dari fibroblas inilah yang nantinya akan menjembatani penutupan luka.Jaringan granulasi yang terbentuk semakin lama akan semakin banyak dan memenuhi daerah yang terkena injuri. Sel-sel fibroblas dan serat-serat kolagen baru semakin terakumulasi dan tampakan luka pun menjadi memucat dikarenakan edema dan inflamasi berkurang. Pada akhir bulan pertama reaksi inflamasi pun semakin menghilang dan terbentuklah lapisan epidermis baru utuh yang menjadi akhir dari proses penyembuhan jaringan dari injuri. Perlu diketahui kisaran waktu yang terjadi dari proses penyembuhan luka ini adalah waktu yang secara umum dibutuhkan. Karena proses tissue repair ini terjadi dalam jangka waktu yang berbeda-beda pada setiap orang.

BAB VKESIMPULAN

1. Dalam rongga mulut dapat timbul lesi yang salah satunya disebabkan karena adanya trauma. Trauma jaringan lunak rongga mulut merupakan trauma yang mengenai bagian jaringan lunak yang berada dirongga mulut sehingga terjadi kerusakan atau gangguan fungsi dri jaringan lunak itu sendiri.2. Ulkus traumatik dapat disebabkan oleh berbagai macam trauma, yaitu trauma fisik, trauma termal, trauma elektrik, trauma kimiawi, dan trauma radiasi.3. Trauma dapat bersifat simptomatik (menimbulkan gejala) ataupun asimtomatik (tidak menimbulkan gejala).4. Mekanisme patogenesis akibat trauma secara umum dapat dilihat dalam 4 tahap, yakni:-Tahap premonitori-Tahap pre-ulserasi-Tahap ulseratif -Tahap penyembuhan5. Proses trauma yang terjadi pada rongga mulut melibatkan juga infeksi mikroorganisme yang ada di rongga mulut sehingga terjadi respon tubuh terhadap adanya jejas tersebut salahsatunya adalah respon inflamasi.

DAFTAR PUSTAKA

Asdie, H. Ahmad. 1999. Harrison: Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGCDecker Inc, 2008:139Delong L, Burkhart N.2012. General and Oral Phatology for the Dental Hygienist[Kindle Edition]. Lippincott Williams and Wilkins:ChinaGreenberg MS and Glick M. Burkets Oral Medicine. 11th ed. Spain : BC Kusumawardhani, Banun. 2013. Presentasi : Tissue Repair. Jember: Departemen Biomedik FKG Universitas JemberScully. 2004. Adverse Drug Reactions in the Orofacial RegionWerner, Sabine. 2005. Molecular and Cellular Mechanism of Tissue Repair. Zurich: Institute of Molecular Health Sciences

19