laporan hampir fix

Download Laporan Hampir Fix

Post on 30-Oct-2015

82 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 1PENDAHULUANSTEP 11. Oedema :Pembesaran jaringan akibat meningkatnya volume cairan di luar sel (ekstraseluler) dan di luar pembuluh darah (ekstravaskular) disertai dengan penimbunan di jaringan serosa. 2. Linea alba : Garis putih ke abu abuan yang menonjol dan memanjang dari komisura bibir sampai molar dan tergolong lesi yang sangat jinak. 3. Mesio versi : malposisi gigi dimana gigi bergerak terlalu mesial dari keadaan normalnya4. Abrasi : Hilangnya struktur keras gigi akibat keausan mekanik seperti menggosok gigi yang menyebabkan ke abnormalan gigi5. Bruxism : Kebiasaan menggerinding gigi Rahang atas dan Rahang bawah tanpa disadari yang menyebabkan ke abnormalan dari anatomi gigi.STEP 21. Apa saja klasifikasi trauma jaringan lunak rongga mulut?2. Apa saja etiologi serta faktor predisposisi dari traumatik jaringan lunak rongga mulut ?3. Apa gejala klinis dari kelainan jaringan lunak rongga mulut akibat traumatik?4. Bagaimana patogenesis serta respon tubuh terhadap jejas traumatik?

STEP 4MAPPING

STEP 5LO :1. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan klasifikasi trauma jaringan lunak rongga mulut2. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan etiologi serta faktor predisposisi dari traumatik jaringan lunak rongga mulut 3. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan gejala klinis dari kelainan jaringan lunak rongga mulut akibat traumatik4. Mampu mengetahui,memahami dan menjelaskan patogenesis serta respon tubuh terhadap jejas traumatik

BAB 2TINJAUAN PUSTAKA

Dalam rongga mulut dapat timbul lesi yang salah satunya disebabkan karena adanya trauma. Biasanya trauma tersebut diakibatkan oleh kerusakan mekanik seperti kontak dengan makanan yang tajam, tergigit ketika makan, bicara, bahkan tidur. Lesi ini juga bisa terjadi akibat luka bakar benda panas, listrik atau kimia. Lokasi lesi traumatik bisa terjadi pada mukosa pipi, mukosa bibir, palatum dan tepi perifer dari lidah (Bricker dkk., 1994).Ulkus traumatik dapat disebabkan oleh berbagai macam trauma, yaitu trauma fisik, trauma termal, trauma elektrik, trauma kimiawi, dan trauma radiasi (Bricker dkk., 1994).A. TRAUMA FISIKLuka akibat trauma fisik pada kulit atau mukosa secara umum dapat diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:1. Abrasion (luka lecet)Merupakan luka di permukaan yang disebabkan karena kulit atau mukosa berkontak dengan benda tajam maupun permukaan kasar seperti jalan raya/beton (saat terjatuh) yang akan meninggalkan luka dangkal yang kasar dan berdarah. Luka ini dapat menyebabkan terlepasnya jaringan epitelium dan benda asing menempel sehingga sering terjadi infeksi. Luka seperti ini sering mengakibatkan rasa sakit, hal tersebut dikarenakan ujung saraf yang terbuka akibat luka.2. Contusion (luka memar)Merupakan luka yang terjadi akibat pukulan atau tertimpa benda tumpul. Luka ini tidak merusak mukosa, namun hanya akan membuat darah berekstravasasi ke jaringan subkutan yang menyebabkan area membiru (ecchymosis) dan memar. Bentuk luka ini adalah perdarahan dari jaringan subkutan tanpa adanya kerusakan jaringan lunak di sekitarnya.3. Laceration (luka gores)Merupakan luka dangkal maupun dalam pada jaringan lunak yang disebabkan tergores baik oleh benda tajam dan tumpul, tepi luka biasanya disertai memar. Luka ini mungkin akan mengganggu pembuluh darah, saraf, otot, dan kelenjar saliva. Area yang sering terlibat adalah bibir, mukosa oral, gingiva, dan lidah. Luka ini sering terjadi karena terobeknya mukosa atau kulit pada kecelakaan kendaraan bermotor. Perawatan yang dilakukan adalah pembersihan luka, pemberian antibiotik, dan terkadang perlu dilakukan penjahitan (suturing). Bentuk luka Lacerations dapat diklasifikasikan menjadi: Crescent shaped (bulan sabit): disebabkan oleh benda tumpul yang mempunyai tepi permukaan yang tajam (misalnya palu). Linear with Y shaped ends (garis dengan ujung huruf Y): disebabkan oleh benda sempit memanjang (batang besi, batang logam, pipa). Stellate (bintang): disebabkan oleh benda yang mempunyai permukaan tajam dengan ujung tumpul membulat. Triangular (segitiga): disebabkan oleh pointed bayonet, seperti paku.4. Soft tissue avulsionLuka avulsi (hilangnya jaringan) merupakan luka yang terjadi karena gigitan hewan yang menimbulkan luka lecet yang sangat dalam dan lebar.5. Puncture wounds (luka tusuk)Merupakan luka tusukan yang disebabkan oleh penetrasi benda tajam langsung ke dalam kulit, seperti pisau dan tembakan senjata. Perawatan yang dilakukan adalah pembersihan luka dengan desinfektan, pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi, dan mungkin juga dilakukan penjahitan pada luka yang lebar.(Miloro, 2004 ; Balaji, 2007 ; Karmakar, 2007 ; Andreasen, 2011)B. TRAUMA TERMAL DAN ELEKTRIK1. Trauma TermalTrauma termal dapat disebabkan karena seseorang memakan pizza yang terlalu panas atau makanan dengan keju yang meleleh di atasnya sehingga menyebabkan luka bakar pada palatum atau ventral lidah (Bricker dkk., 1994). Lesi akibat trauma termal biasanya terjadi pada palatum dan mukosa bukal posterior. Penampakan klinis lesi dengan area eritematous dan ulserasi dengan sisa jaringan epitel di sekelilingnya. Tidak ada perawatan khusus yang dilakukan untuk lesi ini karena akan sembuh dengan sendirinya (Neville dkk., 2009).2. Trauma ElektrikTrauma elektrik biasanya disebabkan oleh peralatan elektrik yang digigit dengan mulut. Lokasi yang biasa terjadi lesi akibat trauma elektrik adalah mukosa bibir dan sudut mulut. Mulanya tidak terasa adanya rasa sakit, area berwarna kekuningan dengan sedikit atau tidak ada perdarahan, terjadi edema setelah beberapa jam dan berlangsung hingga 12 hari. Pada hari ke-empat, lesi akan menjadi nekrosis dan mulai terjadi perdarahan. Area lipatan mukobukal, lidah, gigi di sekitarnya mungkin akan terlibat dan gigi menjadi non vital dengan atau tanpa nekrosis di sekitar tulang alveolar. Perawatan yang diberikan untuk pasien dengan lesi seperti ini adalah antibiotik profilaksis untuk mencegah adanya infeksi sekunder (Neville dkk., 2009).C. TRAUMA KIMIAWITrauma kimiawi di dalam rongga mulut biasanya akibat bahan-bahan kedokteran gigi yang digunakan dalam praktek, misalnya aspirin, hidrogen peroksida, silver nitrat, fenol, larutan anestesi, dan bahan perawatan saluran akar. Trauma kimiawi dapat disebabkan karena pemakaian obat-obatan yang bersifat kaustik, seperti obat kumur yang tinggi kandungan alcohol, hydrogen peroksida, atau fenol, dan penggunaan obat aspirin baik tablet maupun topikal pada mukosa sebagai obat sakit gigi. Lesi biasanya terletak pada forniks atau lipatan mukobukal dan gingiva. Area yang terluka berbentuk ireguler, berwarna putih, dilapisi pseudomembran, dan sangat sakit. Area yang terlibat sangat mungkin meluas. Jika kontak dengan agen kimia terjadi cukup singkat, maka lesi yang terbentuk berupa kerut-kerut berwarna putih tanpa nekrosis jaringan. Kontak dalam waktu lama (biasanya dengan aspirin, sodium hipoklorid, dan fenol) dapat menyebabkan kerusakan yang lebih berat dan pengelupasan jaringan yang nekrosis. Mukosa non-keratinisasi yang tidak cekat lebih sering mengalami luka bakar dibandingkan mukosa cekat (Greenberg dan Glick, 2003).1. AspirinAcetylsalicylic acid (aspirin) merupakan agen yang biasa menyebabkan trauma kimiawi dalam rongga mulut. Jaringan rongga mulut rusak ketika aspirin diisap pada area lipatan mukobukal dalam jangka waktu yang cukup lama untuk melegakan nyeri gigi.2. Silver NitratSilver nitrat biasa digunakan oleh dokter gigi sebagai agen kauterisasi untuk merawat kasus stomatitis aptosa. Bahan ini mampu meredakan gejala secara instan dengan membakar akhiran saraf pada ulkus. Namun, silver nitrat sering merusak jaringan di sekitarnya dan menghambat penyembuhan atau bahkan dapat menyebabkan nekrosis di lokasi aplikasinya (jarang terjadi). Oleh sebab itu, penggunaan silver nitrat sebaiknya dikurangi.3. Sodium HipokloridSodium hipoklorid atau bahan pemutihan gigi, sering digunakan untuk irigasi saluran akar dan dapat menyebabkan ulkus yang cukup parah akibat kontak dengan jaringan lunak di dalam rongga mulut.4. Hidrogen PeroksidaHidrogen peroksida sering digunakan sebagai bahan irigasi intraoral untuk pencegahan penyakit periodontal. Pada konsentrasi 3%, hidrogen peroksida dapat menyebabkan jaringan nekrosis.5. Pasta Gigi dan Obat KumurBeberapa kasus ulserasi dan luka jaringan di dalam mulut telah dilaporkan disebabkan karena salah penggunaan obat kumur dan pasta gigi komersial. Reaksi hipersensitivitas, ulserasi, dan pengelupasan epitel yang tidak biasa terjadi pernah dilaporkan terjadi pada penggunaan pasta gigi yang mengandung kayu manis (cinnamons). Bahan yang menyebabkan reaksi hipersensitivitas diduga adalah kandungan aldehid. Reaksi ini tampak mirip dengan reaksi yang disebabkan oleh bahan kimia lain seperti aspirin dan hidrogen peroksida. Selain itu, ditemukan pula kasus luka bakar di bibir, mulut, dan lidah pada pasien yang menggunakan obat kumur yang mengandung alkohol dan klorheksidin (Greenberg dan Glick, 2003).6. Smokers MelanosisIndividu yang merokok mungkin akan timbul area hiperpigmentasi melanin pada mukosanya tergantung pada jumlah batang rokok sehari-hari. Smokers melanosis paling sering ditemukan di area gingiva anterior pada maksila maupun mandibula. Pigmentasi bervariasi dari warna coklat terang hingga gelap dan tampak difus. Perawatan yang dilakukan adalah biopsi, terutama pada area palatum. Smokers melanosis akan menghilang sedikit demi sedikit selama 3 tahun setelah berhenti merokok (Neville dkk., 2009).7. Anesthetic NecrosisKasus yang jarang terjadi, nekrosis fokal jaringan dapat timbul pada lokasi injeksi anestesi lokal. Predileksi terjadinya lesi pada palatum durum, yang jaringan mukosanya berikatan cekat dengan tulang di bawahnya. Biasanya lesi ini timbul sebagai lesi ulser yang bertepi reguler yang timbul beberapa hari setelah injeksi. Ulser terjadi akibat nekrosis iskemia yang kemungkinan disebabkan karena trauma langsung dari larutan anestesi, vasokonstriksi epinefrin, atau keduanya. Penyembuhan ulser memer