laporan diare fix

Click here to load reader

Post on 12-Jul-2016

226 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

:)

TRANSCRIPT

LAPORAN PSDIARE

OLEH:CANDRA RESTU MENTARI125070201111021YULIA KURNIAWATI125070201111023DWI RETNO SELVITRIANA125070201111027MIKE ISTIANAWATI125070201111033KANIA LIESPAHLEVI SABRI125070218113043LUTFI CHARISMA ADZANI 125070218113045ADZANEA AL HAFIZ125070218113054TIARA DEA ANANDA125070200131005AA FLORA YUNDA A125070200131007FATIMAH AZ ZAHRA125070200131008FEBRINA ARDIANTI125070200131009SUNARDIMAN 125070207111015LATIFIA DEWI F125070207111007

KELOMPOK 4 REGULER 1 + K3LNJURUSAN KEPERAWATANUNIVERSITAS BRAWIJAYAMALANG20151. DEFINISIDiare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya 3x/hari atau lebih) dalam satu hari (DEPKES RI, 2008).

2. KLASIFIKASIMenurut Depkes RI (2000) dalam Wulandari (2009), berdasarkan jenisnya diare dibagi empat yaitu:1) Diare Akut Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare. 2) Disentri Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa. 3) Diare persisten Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme. 4) Diare dengan masalah lain Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.

Menurut referensi lain disebutkan bahwa klasifikasi diare yaitu:1) Diare osmotikDiare tipe ini disebabkan oleh peningkatan tekanan osmotik intralumen usus halus yang disebabkan oleh obat-obatan atau zat kimia yang hiperosmotik (MgSO4, Mg(OH)2, malabsorbsi umum, dan defek dalam absorbsi mukosa usus misal pada defisiensi disararidase, malabsorbsi glukosa/galaktosa (Weizman Z,dkk.2008; Kligler B. 2008).

2) Diare sekretorikDiare tipe ini disebabkan oleh meningkatnya sekresi air maupun elektrolit dari usus, menurunnya absorbsi. Yang khas pada diare ini yaitu secara klinis ditemukan diare dengan volume tinja yang banyak sekali. Diare tipe ini akan tetap berlangsung walaupun dilakukan puasa makan/minum. Penyebab dari diare tipe ini antara lain karena efek enterotoksin pada infeksi Vibrio cholerae, atau Escherichia coli, penyakit yang menghasilkan hormon (VIPoma), reseksi ileum (gangguan absorbsi garam empedu), dan efek obat laksatif (dioctyl sodium sulfosuksinat, dll) (Weizman Z,dkk.2008; Kligler B. 2008).3) Diare infeksiInfeksi oleh bakteri merupakan penyebab tersering dari diare. Dari sudut kelainan usus, diare oleh bakteri dibagi atas noninvasif (tidak merusak mukosa) dan invasif (merusak mukosa). Bakteri noninvasif menyebabkan diare karena toksin yang disekresi oleh bakteri tersebut, yang disebut diare toksigenik. Misalnya enterotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Vibrio cholerae/eltor, yang mana enterotoksin yang dihasilkan merupakan protein yang dapat menempel pada epitel usus, yang kemudian membentuk adenosin monofosfat siklik (AMF siklik) di dinding usus dan menyebabkan sekresi aktif anion klorida yang diikuti air, ion bikarbonat, dan kation natrium serta kalium. Mekanisme absorbsi ion natrium melalui mekanisme pompa natrium tidak terganggu karena itu keluarnya ion klorida (diikuti ion bikarbonat, air, natrium, ion kalium) dapat dikompensasi oleh meningginya absorbsi ion natrium (diiringi oleh air, ion kalium dan ion bikarbonat, klorida). Kompensai ini dapat dicapai dengan pemberian larutan glukosa yang diabsorbsi secara aktif oleh dinding sel usus (Weizman Z,dkk.2008; Kligler B. 2008).

Klasifikasi diare persisten:Diare persisten memiliki tanda-tanda antara lain diare sudah lebih dari 14 hari dengan dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu diare persisten berat apabila ditemukan adanya tanda dehidrasi dan diare persisten apabila tidak ditemukan adanya tanda dehidrasi (Hidayat A.A.A. 2008).

3. EPIDEMIOLOGIPenyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Survei morbiditas yang dilakukan oleh Subdit Diare, Departemen Kesehatan dari tahun 2000 s/d 2010 terlihat kecenderungan insidens naik. Pada tahun 2000 insiden penyakit Diare 301/ 1000 penduduk, tahun 2003 naik menjadi 374 /1000 penduduk, tahun 2006 naik menjadi 423 /1000 penduduk dan tahun 2010 menjadi 411/1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa (KLB) diare juga masih sering terjadi. Pada tahun 2008 terjadi KLB di 69 Kecamatan dengan jumlah kasus 8133 orang, kematian 239 orang. Tahun 2009 terjadi KLB di 24 Kecamatan dengan jumlah kasus 5.756 orang, dengan kematian 100 orang, sedangkan tahun 2010 terjadi KLB diare di 33 kecamatan dengan jumlah penderita 4204 orang dengan kematian 73 orang (Kemenkes RI, 2011).Prevalensi diare klinis dalam Riskesdas 2007 adalah 9,0% (rentang: 4,2% - 18,9%), tertinggi di Provinsi NAD (18,9%) dan terendah di DI Yogyakarta (4,2%). Beberapa provinsi mempunyai prevalensi diare klinis >9% (NAD, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Papua Barat dan Papua) yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar prevalensi diare menurut provinsi (Riskesdas, 2007)Bila dilihat per kelompok umur diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama, yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Prevalensi diare menurut kelompok umur dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar prevalensi diare menurut kelompok umur (Riskesdas, 2007)

Prevalensi diare lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan, yaitu sebesar 10% di perdesaan dan 7,4 % di perkotaan. Diare cenderung lebih tinggi pada kelompok pendidikan rendah dan bekerja sebagai petani/nelayan dan buruh yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar prevalensi diare menurut pendidikan (Riskesdas, 2007)

Gambar prevalensi diare menurut pekerjaan (Riskesdas, 2007)

Berdasarkan pola penyebab kematian semua umur, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-13 dengan proporsi 3,5%. Sedangkan berdasarkan penyakit menular, diare merupakan penyebab kematian peringkat ke-3 setelah TB dan Pneumonia. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Gambar pola penyebab kematian semua umur (Riskesdas, 2007)Juga didapatkan bahwa penyebab kematian bayi (usia 29 hari-11 bulan) yang terbanyak adalah diare (31,4%) dan pneumonia (23,8%). Demikian pula penyebab kematian anak balita (usia 12-59 bulan), terbanyak adalah diare (25,2%) dan pnemonia (15,5%) (Riskesdas, 2007).

4. ETIOLOGIMenurut World Gastroenterology Organization global guidelines 2005, etiologi diare akut dibagi atas:Karena Infeksi dari Mikroorganisme1) Bakteri Shigella Salmonella E. Coli Gol. Vibrio Bacillus cereus Clostridium perfringens Stafilokokus aureus Campylobacter aeromonas 2) Virus Rotavirus Adenovirus Norwalk virus Coronavirus Astrovirus 3) Parasit Protozoa Entamoeba histolytica Giardia lamblia Balantidium coli Trichuris trichiura Cryptosporidium parvum Strongyloides stercoralis

Non Infeksi 1) Malabsorpsia. Malabsorbsi KarbohidratDisakarida (intolerans laktosa, maltosa, sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Kebanyakan pada bayi dan anak yang terserang ialah intoleransi laktosa.b. Malabsorbsi lemakc. Malabsorbsi protein,2) Keracunan makanan3) Alergi4) Gangguan motilitas5) Imunodefisiensi6) Kesulitan makan, dll. (Simadibrata, 2006).

5. PATOFISIOLOGITerlampir6. FAKTOR RISIKOBanyak faktor risiko yang diduga menyebabkan terjadinya penyakit diare pada bayi dan balita di Indonesia. Salah satu faktor risiko yang sering diteliti adalah faktor lingkungan yang meliputi : sarana air bersih (SAB) sanitasi jamban saluran pembuangan air limbah (SPAL) kualitas bakterologis air dan kondisi rumah. Data terakhir menunjukkan bahwa kualitas air minum yang buruk menyebabkan 300 kasus diare per 1000 penduduk. Sanitasi yang buruk dituding sebagai penyebab banyaknya kontaminasi bakteri E.coli dalam air bersih yang dikonsumsi masyarakat. Bakteri E.coli mengindikasikan adanya pencemaran tinja manusia. Kontaminasi bakteri E.coli terjadi pada air tanah yang banyak disedot penduduk di perkotaan, dan sungai yang menjadi sumber air baku di PDAM pun tercemar bakteri ini (Adisasmito W, 2007).Adapun hasil penelitian dari Sinthamurniwaty dalam tesis yang berjudul FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN DIARE AKUT PADA BALITA (Studi Kasus di Kabupaten Semarang) mengatakan bahwa faktor resiko yang terbukti berpengaruh pada kejadian diare adalah:1) Umur BalitaHasil penelitian menunjukkan bahwa umur balita < 24 bulan signifikan secara statistik memiliki risiko lebih besar untuk terkena diare dibandingkan dengan umur 24 bulan.2) Status GiziPada balita penderita kurang gizi serangan diare terjadi lebih sering. Semakin buruk keadaan / status gizi balita, semakin sering dan berat diare yang diderita. Di duga bahwa mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap infeksi karena daya tahan tubuh yang kurang.3) Tingkat Pendidikan Pengasuh BalitaPendidikan pengasuh balita akan sangat mempengaruhi tingkat pengetahuan dan perilaku pengasuh balita dalam memelihara kesehatan diri dan balita yang diasuhnya karena pengasuh balita yang berpendidikan lebih tinggi cenderung memperhatikan kesehatan diri dan anak asuhnya.4) Pemanfaatan Sarana Air BersihSebagian besar kuman kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misal