konsep pendidikan karakter dalam pendidikan islam

of 90/90
i KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN ISLAM SKRIPSI DiajukanUntukMemperolehGelar SarjanaPendidikan Islam (S.Pd.I) Oleh: IDA KURNIAWATI 11109 073 JURUSAN TARBIYAH PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA 2013

Post on 09-Dec-2016

225 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • i

    KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM

    PENDIDIKAN ISLAM

    SKRIPSI

    DiajukanUntukMemperolehGelar

    SarjanaPendidikan Islam (S.Pd.I)

    Oleh:

    IDA KURNIAWATI

    11109 073

    JURUSAN TARBIYAH

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

    2013

  • ii

  • iii

    KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM

    PENDIDIKAN ISLAM

    SKRIPSI

    DiajukanUntukMemperolehGelar

    SarjanaPendidikan Islam (S.Pd.I)

    Oleh:

    IDA KURNIAWATI

    11109 073

    JURUSAN TARBIYAH

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

    2013

  • iv

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

    Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Lamp : 4 Eksemplar

    Hal : PengajuanSkripsi

    Kepada

    Yth.Ketua STAIN Salatiga

    Di Salatiga

    Assalamualaikum. Wr. Wb

    Setelah kami menelitidanmengadakaperbaikanseperlunya,

    makabersamaini kami kirimkannaskahskripsimahasiswi:

    Nama : Ida Kurniawati

    NIM : 11109073

    Jrusan/Progdi : Tarbiyah/ PAI

    Judul :KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER

    DALAM PENDIDIKAN ISLAM

    Telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.

    Wassalamualaikum.Wr. Wb.

    Salatiga, 12 Agustus 2013

    Pembimbing

    Mufiq, S.Ag.M.Phil

    NIP. 19690617 199603 1 004

    http://www.stainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • v

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

    Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

    SKRIPSI

    KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN ISLAM

    DISUSUN OLEH

    IDA KURNIAWATI

    NIM : 111 09 073

    Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Tarbiyah,

    Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, pada tanggal 19

    September 2013 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar

    sarjana S1 Kependidikan Islam

    Susunanpanitiapenguji

    Ketuapenguji : Suwardi, M.Pd.

    SekretarisPenguji : MiftachurRifah, M.Ag.

    Penguji I : Dr. H. Muh. Saerozi, M.Ag.

    Penguji II : Dra. SitiAsdiqoh, M.Si.

    Penguji III : Mufiq, S.Ag., M.Phil.

    Salatiga , 19 September 2013

    Ketua STAIN Salatiga

    Dr. ImanSutomo, M.Ag

    NIP.19580827198303 1 002

    http://www.stainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • vi

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

    Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

    Saya yang betandatangandibawahini:

    Nama : Ida Kurniawati

    NIM :11109 073

    Jurusan :Tarbiyah

    Progamstudi :Pendidikan Agama Islam

    Menyatakanbahwaskripsi yang sayatulisinibenar-

    benarmerupakanhasilkaryasayasendiri, bukanjiplakanataukaryatulis orang lain.

    Pendapatatautemuan orang lain yang

    terdapatdalamskripsiinidikutipataudirujukberdasarkankodeetikilmiah.

    Salatiga, 12 Agustus 2013

    Penulis

    Ida Kurniawati

    NIM. 11109073

    http://www.stainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • vii

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

    Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

    Motto

    Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran

    danmengajarkannya.(H.R.Bukhari).

    http://www.stainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • viii

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

    Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

    PERSEMBAHAN

    Atasrahmatdanridho Allah SWT, karyaskripsiinipenulispersembahkanuntuk:

    1. Ayahku Muh.Busroni &Ibuku Titik Rahmawatitersayang yang

    selalumendoakandanmemberikandukungan materil serta moral

    hinggaakusepertisekarang.

    2. Kedua adikku Muhammad Adi Kurnia Rahman dan Muhammad Said

    Mustofa yang selalu mendukung dan memberikan senyum manis yang

    membuat hidup kembali semangat.

    3. Bapak dan Ibu Dosen STAIN Salatiga yang telahmemberikan

    berbagaiilmukepadaku.

    4. Bapak Mufiq, S.Ag.M.Phil selakudosenpembimbing yang selalu

    memberikan motivasi dan bimbingan dalam menyelesaikan skripsi ini.

    5. Semuateman-temankukampungPAI Cangkatan 2009 yang

    telahmelukisbegitubanyakkenangan.

    http://www.stainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • ix

    KEMENTERIAN AGAMA RI

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721

    Website : www.stainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]

    KATA PENGANTAR

    Pujisyukurpenulispanjatkankehadirat Allah SWT, atasrahmatdanhidayah-

    Nyasehinggapenulisdapatmenyelesaikanskripsiini dengan judul Nilai-Nilai

    Pendidikan Karakter dalam Al-Quran.Sholawat serta salam semoga selalu

    tercurahkan kepada junjungan nabi Agung Muhammad SAW, kepada keluarga,

    sahabat-sahabatnya, serta para pengikutnya yang setia. Dengan diutusnya sebagai

    Rosul utusan Allah untuk membimbing umat manusia dari zaman jahiliyah

    sampai pada zaman yang modern ini.

    SkripsiinimerupakansalahsatusyaratuntukmendapatgelarSarjanaPendidikan Islam

    (S.PdI) di FakultasTarbiyahSekolahTinggi Agama Islam Negeri (STAIN)

    Salatiga.

    Dalampenyusunanskripsiini,

    penulismemperolehbimbingandanpengarahandariberbagaipihak.Olehkarenaitu,

    padakesempataninidengansegalakerendahanhatipenulismegucapkanterimakasihke

    pada:

    1. BapakDr.ImamSutomo,M.Ag, selakuketua STAIN Salatiga

    2. BapakMufiq, S.Ag.M.Phil.Selakudosenpembimbingskripsi sekaligus

    pembimbing akademik yang

    http://www.stainsalatiga.ac.id/mailto:[email protected]

  • x

    dengansabartelahmemberikanpengarahandanbimbingankepadapenulisdala

    mpenulisanskripsiini.

    3. Ibu Dra. SitiAsdiqoh, M.SiselakuKetuaProgdi PAI STAIN Salatiga.

    4. Bapak Suwardi, M.Pd selaku Ketua Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga

    5. Bapakdanibudosen STAIN Salatiga yang

    telahmemberikanilmunyakepadapenulis.

    6. Bapakdanibu karyawan Perpustakaan STAIN Salatiga yang memberikan

    layanan serta bantuan dalam menyelesaikan skripsi.

    7. Ayah danIbutercinta yang telahmengasuh, mendidik,

    membimbingsertamemotivasikepadapenulis, baik moral maupun spiritual.

    8. Sahabat-sahabatseperjuangan yang

    telahmemberikansemangatdanmotivasikepadapenulisdalammenyelesaikan

    penulisanskripsiini.

    9. Semuapihak yang terkaitdengan

    ikhlastelahmemberikanbantuanbaikmateriilmaupun spiritual

    dalampenulisanskripsiini.

    Demikianucapanterimakasihpenulissampaikan.Penulishanyabisaberdoase

    mogabantuandanbimbingandarisemuapihakdapatditerimaoleh Allah SWT

    sebagaiamalibadah yang bisa menolong di hari kiamat kelak.

    Akhirnyapenulisberharapsemogaskripsiinidapatbermanfaatbagipenuliskhu

    susnyadanbagipembacapadaumumnya.Denganketerbatasanpengetahuandankema

    mpuan, skripsiinimasihjauhdarisempurna.Olehkarenaitukritikdan saran yang

    membangunsangatpenulisharapkanuntuk kesempurnaanskripsiini.

  • xi

    Salatiga, 12 Agustus 2013

    Penulis

    Ida Kurniawati

    NIM 11109073

    ABSTRAK

    Kurniawati, Ida. 2013. 11109073.PendidikanKarakter dalamPendidikan

    Islam.Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan

    Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga.

    Pembimbing: Mufiq, S.Ag.M.Phil

    Kata Kunci: PendidikanKarakter, Pendidikan Islam.

    Pendidikankaraktermerupakansebuahnilai yang harusdipelajari,

    dirasakandanditerapkandalamkesehariansetiapanak.Penelitian ini bertujuan untuk

    mengetahui: konsep pendidikan karakter di Indonesia, konsep pendidikan Islam,

    relevansi pendidikan karakter di Indonesia dengan pendidikan Islam.Skripsi ini

    menggunakan metode Library Research, yaitu penelitian yang dilakukan di

    perpustakaan yang objek penelitiannya dicari lewat beragam informasi

    kepustakaan (buku, ensiklopedi, jurnal ilmiah, koran, majalah, dokumen) dan lain

    sebagainya. Penulis fokuskan penelitian inipada pendidikan karakter di Indonesia

    danpendidikan Islam.

    Teknikpengumpulan data yang

    penulislakukandalampenelitianiniadalahdenganmencaridanmengumpulkanbuku

    yang menjadi data mengenaihal-hal yang berupacatatan, buku, suratkabar,

    majalahdansebagainya. Karenaobjekdalampenelitianadalahbuku-buku,

    makapenulismenelaahdanmengkajibuku-buku yang

    dipilihsebagaibahanpenelitian.Setelah data

    terkumpulmakadilakukanpenelaahansistematisdalamhubungannyadenganmasalah

    yang diteliti, sehinggadiperoleh data atauinformasiuntukbahanpenelitian. Data

    yang terkumpuldianalisisdenganmenggunakanmetodededuktif,

    induktifdananalitiko-sintesayang menunjukkanbahwa:

    Konseppendidikankarakter di Indonesia adalahpendidikannilai,

    yaknipendidikannilai-nilailuhur yang bersumberdaribudayabangsa Indonesia

    dalamrangkapembinaankepribadiangenerasimuda yang mencakup 3

    aspekyaitupengetahuan moral (moral knonwing),sikap moral (moral

    feelling),danperilaku moral (moral acting). Konseppendidikan Islam

    adalahbimbingan yang diberikanolehseseorangkepadaseseorang agar

    iaberkembangsecaramaksimalsesuaidenganajaran Islam yang

    menyangkutpembinaanaspekjasmani, akal, danhatianakdidik.

    Pendidikankarakterdalamkontekspendidikan di Indonesia adalahpendidikannilai,

    yaknipendidikannilai-nilailuhur yang bersumberdaribudayabangsa Indonesia

  • xii

    dalamrangkapembinaankepribadiangenerasimuda.Nilai-nilaipendidikankarakter

    yang bersumberdari agama, Pancasila, budayadantujuanpendidikannasional

    Indonesia yaitu : religius, jujur, toleransi, disiplin, kerjakeras, kreatif, mandiri,

    demokratis, rasa ingintahu, semangatkebangsaan, cintatanah air,

    menghargaiprestasi, bersahabat/komunikatif, cintadamai, gemarmembaca,

    pedulilingkungan, pedulisosial, tanggungjawab yang

    seluruhnyaharusmengacupadatigakomponenyaitu moral knowing (pengetahuan

    moral), moral feeling (merasakan moral) dan moral acting (tindakan moral).

    Ketigaaspektersebutsesuaidengantujuanpendidikan Islam yaitu:aspekjasmani,

    rohanidanakal.

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ................................................................................................. iii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................................................. iv

    PENGESAHAN ........................................................................................................ v

    DEKLARASI ............................................................................................................ vi

    MOTTO .................................................................................................................... vii

    PERSEMBAHAN ..................................................................................................... viii

    KATA PENGANTAR .............................................................................................. ix

    ABSTRAK .............................................................................. .................................. xi

    DAFTAR ISI ............................................................................................................. x

    BAB I PENDAHULUAN

    A. LatarBelakangMasalah ...................................................................... 1

    B. FokusPenelitian ................................................................................. 6

    C. Tujuan

    Penelitian........................................................................... ................ 6

    D. KegunaanPenelitian........................................................................... 6

    E. MetodologiPenelitian. ...................................................................... 8

    F. Definisi Operasional.......................................................................... 10

    G. SistematikaPenulisan ........................................................................ 14

  • xiii

    BAB II LANDASAN TEORI

    A. TEORI PENDIDIKAN KARAKTER............................................... 11

    1. PengertianPendidikanKarakter .................................................... 11

    2. Pendidikan Karakterdi Indonesia ................................................ 15

    3. Dimensi dan Nilai-Nilai Pendidikan Karakter ............................ 16

    4. Tujuan Pendidikan Karakter di Indonesia ................................... 27

    B. TEORI PENDIDIKAN ISLAM ........................................................ 30

    1. Definisi Pendidikan Islam................................................ ........... 30

    2. Tujuan Pendidikan Islam............................................................. 32

    BAB III DESKRIPSI KONSEP

    A. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA ............... 39

    1. Hakikat Pendidikan Karakter di Indonesia ................................. 39

    2. Kurikulum Pendidikan Karakter di Indonesia............................. 41

    3. Implementasi Pendidikan Karakter.................................... ......... 43

    B. KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER DALAM ISLAM .............. 44

    1. Karakter Manusia dalam Islam ............................. ..................... 44

    2. Pendidikan Karakter dalam Islam ............................................... 49

    3. Proses Penanaman Nilai dalam Pendidikan Islam ..................... 52

    BAB IV PEMBAHASAN

    A. ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER

    (TEORI LICKONA) DALAM PENDIDIKAN ISLAM................... 62

    B. RELEVANSI PENDIDIKAN KARAKTER DI

    INDONESIA DENGAN PENDIDIKAN

    ISLAM........................................ ...................................................... 68

  • xiv

    BAB V PENUTUP

    A. Kesimpulan ....................................................................................... 71

    B. Saran saran ..................................................................................... 72

    C. Penutup .............................................................................................. 72

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Manusia merupakan mahkluk yang tidak bisa berlepas diri dari

    pendidikan, yaitu sebagai pelaku pendidikan itu sendiri (menjadi pendidik atau

    peserta didik). Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang senantiasa

    terlibat dalam proses pendidikan, baik yang dilakukan terhadap orang lain

    maupun terhadap dirinya sendiri (Sukardjo dan Ukim, 2009:1). Inilah yang

    menjadi titik beda antara pemberian akal dari Allah kepada manusia dan

    pemberian akal kepada binatang atau yang lainnya.

    Manusia sebagai individu merupakan objek bagi campur tangan

    sebuah tindakan pendidikan. Dengan campur tangan itu manusia mengalami

    pertumbuhan dan perkembangan. Struktur antropologisnya yang terbuka pada

    lingkungan memungkinkan terjadinya intervensi entah sadar atau tidak yang

    berasal dari luar dirinya yang menjadikan manusia itu menjadi berpendidikan

    dan berpengetahuan (Doni Koesoema, 2011:109).

    Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bazzar, Rasulullah SAW

    bersabda:

    Rasulullah SAW bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu, atau

    pencari ilmu, atau orang yang mendengarkan, atau orang yang

    mencintai ilmu, dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima nanti

    kamu bisa celaka. (H.R. Al-Bazzar) (Abu Bakar, 2009:3626).

  • 2

    Dari hadis di atas menjelaskan bahwa manusia itu harus jadi orang

    yang berpendidikan, orang yang belajar, orang yang mendengarkan

    pembelajaran, ataupun orang yang cinta akan pendidikan dan tidak boleh jadi

    orang yang selain itu karena akan menimbulkan mudharat bagi diri sendiri dan

    yang lainnya.

    Nurani Soyomukti mengatakan dalam buku teori-teori pendidikan

    bahwa aspek-aspek yang biasanya paling dipertimbangkan dalam pendidikan

    antara lain: penyadaran, pencerahan, pemberdayaan, perubahan perilaku

    (Soyomukti, 2010:27). Pendidikan dalam arti yang luas meliputi semua

    perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya,

    pengalamnnya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda

    sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik

    jasmaniah maupun rohaniah (Poerbakawatja, 1982:257).

    Tindakan preventif pemerintah Indonesia demi terlaksananya

    pendidikan karakter, yaitu dengan membubuhkan dalam tiap mata pelajaran

    berupa pendidikan karakter. Tindakan tersebut membutuhkan proses yang

    panjang, tetapi hal itu tidaklah bisa terlaksana tanpa adanya komitmen

    bersama dari masyarakat dan pemerintah. Pemerintah menggalakkan program

    penanaman pendidikan karakter sejak usia dini. Hal yang paling penting

    adalah menumbuhkan kesadaran tiap-tiap individu untuk menerapkan dan

    mengaplikasikan pendidikan karakter minimal dalam diri dan keluarga.

  • 3

    Dalam pendidikan Islam semua aspek kebaikan bersumber dari Allah

    Swt. yaitu Al-Quran dan As-Sunnah (hadis Nabi). Al-Quran merupakan

    sumber utama referensi agama Islam dalam menentukan berbagai hukum.

    Dalam surat Al-Baqoroh ayat (1-2):

    Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya;

    petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.(Departemen Agama, 1990:8)

    Islam menyebutkan orang yang baik dan berperilaku positif itu mereka

    orang-orang yang bertakwa yang tidak meragukan Al-Quran. Allah juga

    menyebutkan bahwa Al-Quran merupakan petunjuk bagi orang yang

    bertakwa yang pada dasarnya adalah mereka yang mempunyai karakter dan

    bertujuan untuk menjadikan manusia yang seutuhnya (insan kamil).

    Dalam Islam penggagas pendidikan karakter yang sudah ada sejak

    jaman dahulu adalah Nabi Muhammad SAW, yang merupakan teladan bagi

    umat manusia seluruh alam. Di dunia ini tidak ada satu makhluk pun yang

    lebih berkarakter daripada Nabi Muhammad. Sebagai umat beliau kita wajib

    mencontoh keteladanan beliau dalam menanamkan karakter kepada umatnya.

    Tulisan-tulisan yang membahas tentang adanya pendidikan karakter sudah

    banyak, yang meliputi beberapa aspek dari pendidikan karakter yang sudah

    disebutkan di atas.

    Ketertarikan penulis dalam mengkaji dan memahami ajaran Islam

    secara mendalam menginspirasi penulis untuk menuangkan ide dan

    memberikan sedikit sumbangsih ilmu pengetahuan bagi dunia pendidikan

    yang sedang mengalami kemrosotan, karena tidak adanya tindakan nyata dari

  • 4

    Pemerintah. Pendidikan karakterlah yang sangat diperlukan ketika seseorang

    sudah tidak ada lagi kepedulian akan tindakan nyata. Melihat latar belakang

    di atas, maka penulis mengambil judul penelitian skripsi KONSEP

    PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PENDIDIKAN ISLAM.

    B. Fokus Masalah

    1. Bagaimana konsep pendidikan karakter di Indonesia?

    2. Bagaimana konsep pendidikan Islam?

    3. Bagaimana relevansi pendidikan karakter di Indonesia dengan pendidikan

    Islam?

    C. Tujuan Penelitian

    Adapun tujuan penelitian ini adalah :

    1. Untuk mengetahui konsep pendidikan karakter di Indonesia.

    2. Untuk mengetahui konsep pendidikan Islam.

    3. Untuk mengetahui relevansi pendidikan karakter di Indonesia dengan

    pendidikan Islam.

    D. Kegunaan Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis

    maupun secara praktis.

    1. Manfaat teoritis

    Menambah pengetahuan tentang konsep pendidikan karakter di

    Indonesia dan pendidikan Islam.

  • 5

    2. Manfaat Praktis

    Mendorong kepada pembaca, terutama tenaga pendidik dan

    pemerintah untuk lebih mandalami konsep pendidikan karakter dalam

    pendidikan Islam.

    E. Metode penelitian

    1. Pendekatan Penelitian

    Skripsi ini menggunakan metode Library Research, yaitu

    penelitian yang dilakukan di perpustakaan yang objek penelitiannya

    dicari lewat beragam informasi kepustakaan (buku, ensiklopedi,

    jurnal ilmiah, koran, majalah, dokumen) dan lain sebagainya. Penulis

    fokuskan penelitian ini dalam konsep pendidikan karakter di

    Indonesia dan relevansinya dengan pendidikan Islam.

    2. Sumber Data

    Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah

    studi kepustakaan yakni pengumpulan data-data dengan cara

    mempelajari, mendalami dan mengutip teori-teori dan konsep-konsep

    dari sejumlah literature baik buku, jurnal, majalah, Koran ataupun

    karya tulis lainnya yang relevan dengan topik penelitian. Dengan

    sumber data primer Al-Quran, hadis dan hasil ijtihad. Sedangkan

    data sekundernya berupa buku-buku yang relevan dengan bahan

    penelitian yaitu Educational Theory a Quranic Outlook, Teori

    Pendidikan Menurut Al-Quran karya Abdul Rahman Shaleh

    Abdullah, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis

    Multidimensional danKepribadian dalam Psikologi Islam.

  • 6

    3. Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data yang penulis lakukan dalam

    penelitian ini adalah dengan mencari dan mengumpulkan buku yang

    menjadi data mengenai hal-hal yang berupa catatan, buku, surat

    kabar, majalah dan sebagainya (Suharismi, 1998:236).

    Karena objek dalam penelitian adalah Islam, maka penulis

    mengumpulkan data dari sumber hukum Islam yaitu Al-Quran, hadis

    dan kesepakatan ulama. Setelah data terkumpul maka dilakukan

    penelaahan sistematis dalam hubungannya dengan masalah yang

    diteliti, sehingga diperoleh data atau informasi untuk bahan

    penelitian.

    4. Teknik Analisis Data

    Dalam menganalisis data yang telah terkumpul digunakan

    beberapa metode, antara lain:

    a. Metode Deduktif

    Digunakan untuk menganalisis pada bab II tentang landasan

    teori, yaitu analisis suatu permasalahan yang berasal dari generalisasi

    yang bersifat umum kemudian ditarik pada fakta yang bersifat

    khusus atau yang kongkrit terjadi (Anton, 1984:56).

    Pada bab II penulis membahas tentang pendidikan karakter

    yang secara umum di Indonesia kemudian penulis khususkan lagi

    penerapannya pada Pendidikan Islam.

  • 7

    b. Metode Induktif

    Digunakan untuk menganalisis pada bab III tentang

    permasalahan yang akan diteliti yaitu analisis masalah yang bersifat

    khusus, kemudian diarahkan pada penarikan kesimpulan yang

    bersifat umum (Arifin, 1986:41).

    Pada bab III penulis membahas tentang pendidikan karakter

    khususnya Islam di Indonesia, kemudian penulis menyimpulkannya

    dengan relevansi pendidikan karakter di Indonesia tersebut dalam

    Pendidikan Islam pada umumnya.

    c. Metode Komparatif

    Yaitu metode yang digunakan untuk membandingkan

    beberapa pendapat para ahli, mengulas, kemudian menarik

    kesimpulan dari pendapat-pendapat yang dikutip tersebut. Dalam hal

    ini pendapat para pakar pendidikan karakter yaitu Lickona dan pakar

    teori pendidikan Islam Abdurrahman Shaleh Abdullah.

    F. Definisi Operasional

    1. Konsep

    Konsep merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan

    secara abstrak suatu objek. Melalui konsep, diharapkan akan dapat

    menyederhanakan pemikiran dengan menggunakan satu istilah

    (Nasution, 2008:161). Dipertegas oleh Sudarminta bahwa konsep secara

    umum dapat dirumuskan pengertiannya sebagai suatu representasi abstrak

    dan umum tentu saja konsep merupakan suatu hal yang bersifat mental

    (Sudarminta, 2002:87).

  • 8

    Daripengertian konsep yang telah diuraikan di atas dapat

    disimpulkan bahwa konsep adalah ide abstrak untuk mengklasifikasi

    objek-objek yang biasanya dinyatakan dalam suatu istilah kemudian

    dituangkan ke dalam contoh dan bukan contoh, sehingga seseorang dapat

    mengerti suatu konsep dengan jelas. Dengan menguasai konsep

    seseorang dapat menggolongkan dunia sekitarnya menurut konsep itu.

    Konsep yang dimaksud di sini adalah konsep pendidikan karakter dalam

    Pendidikan Islam.

    2. Pendidikan Karakter

    Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai

    karakter kepada manusia yang meliputi komponen pengetahuan,

    kesadaran, atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai

    tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama,

    lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi insan kamil (Sri

    Narwanti, 2011:14). Jadi banyak aspek yang terkait dengan nilai-nilai

    pendidikan karakter menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

    3. Pendidikan Islam

    Pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang

    kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan

    ajaran Islam. Definisi yang digunakan ini hanyalah menyangkut

    pendidikan oleh seseorang terhadap orang lain, yang diselenggarakan

    dalam keluarga, masyarakat dan sekolah, menyangkut pembinaan aspek

    jasmani, akal, dan hati anak didik (Tafsir, 2005:32).

    javascript:void(0);javascript:void(0);

  • 9

    G. Sistematika Penulisan Skripsi

    Untuk mengetahuisecara keseluruhan isi atau materimateri skripsi ini

    secara global, maka penulis perlu merumuskan skripsi ini, yang meliputi tiga

    (3) bagian:

    1. BagianMuka

    Padabagianmukainimemuattentanghalamanjudul, skripsi, halaman

    nota persetujuanpembimbing, halamanpengesahan, halaman motto,

    halamanpersembahan, halaman kata pengantar, halamandaftarisi.

    2. Bagian Isi

    BAB I: PendahuluanberisiLatarBelakangMasalah, FokusMasalah,

    TujuanPenelitian, Manfaat Penelitian, MetodePenelitian, Definisi

    Operasional, dan SistematikaPenulisanSkripsi.

    BAB II: Landasan teoriberisitentangteori pendidikan karakter di

    Indonesia dan pendidikan Islam.

    BAB III:Deskripsi Pemikiran berisi tentang konsep pendidikan

    karakter di Indonesia dan konsep karakter dalam Islam.

    BAB IV:Pembahasan berisi tentang analisis pendidikan karakter

    dalam pendidikan Islam dan relevansi pendidikan di Indonesia dengan

    pendidikan Islam.

    BAB V:Penutup yang berisitentangkesimpulandan saran-saran.

  • 10

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Teori Pendidikan Karakter

    1. Pengertian Pendidikan Karakter

    Sebagai makhluk yang diberikan akal dengan sempurna manusia

    senantiasa menjadi objek sekaligus subjek pendidikan. Pelaku dalam segala

    proses pendidikan untuk memberdayakan sumber daya manusia serta potensi

    yang dimiliki dengan maksimal. Banyak hal yang dibahas ketika

    mendefinisikan pengertian pendidikan. Dalam UU Tentang Sistem Pendidikan

    Nasional pasal 1 menyebutkan bahwa:

    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

    suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara

    aktif mampu mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki

    kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,

    kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,

    masyarakat, bangsa dan negara (UU 20/2003:1).

    Filsafat pendidikan mengkaji tentang pendidikan dengan membedakan

    dua istilah yang berbeda tetapi hampir sama bentuknya, Paedagogie dan

    Paedagogiek. Paedagogie berarti pendidikandan Paedagogiek artinya ilmu

    pendidikan. Perkataan Paedagogos yang pada mulanya berarti pelayan

    kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena pengertian paedagoog

    (dari paedagogos) berarti seorang yang tugasnya, membimbing anak di dalam

    pertumbuhannya ke arah berdiri sendiri dan bertanggung jawab

    (Djumberansyah, 1994:16).

    Dalam bukunya teori-teori pendidikan Nurani Soyomukti mengatakan

    bahwa aspek-aspek yang biasanya paling dipertimbangkan dalam pendidikan

    antara lain: penyadaran, pencerahan, pemberdayaan, perubahan perilaku

  • 11

    (Soyomukti, 2010:27). Pendidikan dalam arti yang luas meliputi semua

    perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya,

    pengalamnnya, kecakapannya serta keterampilannya kepada generasi muda

    sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik

    jasmaniah maupun rohaniah (Poerbakawatja, 1982:257).

    Dalam Psikologi Kepribadian Islam al-khuluq (karakter) adalah bentuk

    jamak dari akhlak. Kondisi batiniah (dalam) bukan kondisi luar yang

    mencakup al-thabu (tabiat) dan al-sajiyah (bakat). Dalam terminologi

    psikologi, karakter (character) adalah watak, perangai, sifat dasar yang khas;

    satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat

    dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi. Elemen karakter terdiri

    atas dorongan-dorongan, insting, refleks-refleks, kebiasaan-kebiasaan,

    kecenderungan-kecenderungan, perasaan, emosi, sentimen, minat, kebajikan

    dan dosa serta kemauan (Mujib, 2006:45).

    Sedangkan yang dimaksud bakatadalah citra batin individu yang

    menetap. Citra ini terdapat pada konstitusi individu yang diciptakan Allah

    sejak lahir.Tabiat merupakan kebiasaan individu yang berasal dari hasil

    integrasi antara karakter individu dengan aktifitas-aktifitas yang diusahakan.

    (Mujib, 2006:47).

    Karakter berasal dari bahasa Yunani kharakter yang berakar dari diksi

    kharassein yang berarti memahat atau mengukir, sedangkan dalam bahasa

    latin karakter bermakna membedakan tanda. Dalam bahasa Indonesia, karakter

    dapat diartikan sebagai sifat kejiwaan/tabiat/watak (Sri Narwanti, 2011:1).

  • 12

    Menurut pendapat G.W. Allport yang dikutip oleh Sri Narwanti,

    karakter merupakan suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik

    individu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas

    dan mengarahkan pada tingkah laku manusia. Karakter bukan sekedar sebuah

    kepribadian (personality) karena sesungguhnya karakter adalah kepribadian

    yang ternilai (Narwanti, 2011:2). Kepribadian dianggap sebagai ciri,

    karakteristik, gaya, sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari

    bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada

    masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir (Doni Koesoema, 2010:80).

    Menurut Simon Philips dalam buku Refleksi Karakter bangsa yang

    dikutip oleh Masnur Muslich, karakter adalah kumpulan tata nilai yang

    menuju pada suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang

    ditampilkan. Sementara itu, Koesoema menyatakan bahwa karakter sama

    dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau karakteristik,

    gaya, sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan

    yang dari lingkungan sekitar dan juga bawaan sejak lahir. Prof. Suyanto

    dalam bukunya Masnur Muslich menyatakan bahwa karakter adalah cara

    berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan

    bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

    Imam Ghozali mengatakan bahwa karakter itu lebih dekat dengan akhlak,

    yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu

    dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi

    (Masnur Muslich, 2011:70).

  • 13

    Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakter itu

    berkaitan dengan kekuatan moral yang positif, dan bukan konotasi negatif.

    Dan orang berkarakter adalah orang yang mempunyai kualitas moral yang

    positif. Dengan demikian pendidikan adalah membangun karakter, yang

    secara implisit mengandung arti membangun sifat atau pola perilaku yang

    didasari atau berkaitan dengan dimensi moral yang positif saja (Masnur

    Muslich, 2011:70).

    Karakter adalah suatu hal yang unik hanya ada pada individual atau

    pun pada suatu kelompok, bangsa. Karakter merupakan landasan dari

    kesadaran budaya, kecerdasan budaya dan merupakan pula perekat budaya.

    Sedangkan nilai dari sebuah karakter digali dan dikembangkan melalui budaya

    masyarakat itu sendiri. Terdapat empat modal strategis yaitu sumber daya

    manusia, modal cultural, modal kelembagaan, serta sumber daya pengetahuan.

    Keempat modal tersebut penting bagi penciptaan pola pikir yang memiliki

    keunggulan kompetitif sebagai suatu bangsa (Narwanti, 2011:27).

    Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa antara pendidikan

    dan pendidikan karakter tidak dapat dipisahkan serta saling berkaitan.

    Pelaksanaan pendidikan karakter dan penerapannya dalam dunia pendidikan

    Islam sangatlah diperlukan. Pendidikan karakter disebut pendidikan akhlak,

    sebagai pendidikan nilai moralitas manusia yang disadari dan dilakukan dalam

    tindakan nyata, proses pembentukan nilai dan sikap yang didasari pada

    pengetahuan serta nilai moralitas yang bertujuan menjadikan manusia yang

    utuh atau insan kamil.

  • 14

    Untuk dapat memahami pendidikan karakter harus dipahami terlebih

    dahulu struktur antropologis yang ada dalam diri manusia yang terdiri dari

    jasad, ruh, dan akal. Lickona yang pendapatnya dikutip oleh Masnur Muslich

    juga menekankan tiga aspek komponen karakter yang baik, yaitu moral

    knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral),

    dan moral action (perbuatan moral), yang diperlukan agar anak mampu

    memahami, merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebajikan. Istilah lainnya

    adalah kognitif, afektif dan psikomotorik (Masnur Muslich, 2010:76).

    Menurut pendapat Ramli yang dikutip oleh Narwanti, pendidikan

    karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan

    pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya

    menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.

    Adapun kriteria manusia yang baik adalah patuhnya seseorang terhadap nilai-

    nilai sosial tertentu, yang dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya.

    2. Pendidikan Karakter di Indonesia

    Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan

    karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter

    berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi,

    kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan

    sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak

    hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang

    mampu mewujudkan kesuksesan.

    Upaya melakukan pendidikan karakter dalam pembangunan

    masyarakat masa depan yang memiliki daya saing mandiri, perlu

  • 15

    mensinergikan banyak hal. Sinergisitas tersebut pertama adalah nilai agama,

    kebudayaan, dan potensi individual serta faktor lain. Kedua pembelajaran

    yang mendidik pengetahuan. Ketiga perlu dilakukan upaya mengembangkan,

    mengubah, memperbaiki, tetapi dengan menggunakan nilai etos kerja keras,

    pengembangan mutu, jujur, efisien dan demokratis (Narwanti, 2011:27).

    Ada beberapa nilai pembentuk (integritas) karakter yang utuh yaitu

    menghargai, berkreasi, memiliki keimanan, memiliki dasar keilmuan,

    melakukan sintesa dan melakukan sesuai etika. Pendidikan karakter pertama

    melekat kepada pola asuh dalam keluarga, kedua tidak pada prosesnya harus

    mengalami pembelajaran di sekolah, ketiga setelah melalui proses pertama

    dan kedua baru bisa terbentuk pendidikan karakter pada masyarakat bahkan

    pemerintahan (Narwanti, 2011:27).

    Sebagai akademisi perlu memahami bahwa proses pendidikan dapat

    dilakukan secara formal, informal, dan non formal. Melalui interaksi

    lingkungan pendidikan inilah yang membentuk nilai-nilai inti karakter. Nilai

    inti karakter tersebut adalah kerja keras, kesadaran cultural sebagai warga

    negara, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, berperilaku baik, jujur,

    etis dan belajar bertanggung jawab (Narwanti, 2011:28).

    3. Dimensi dan Nilai-nilai Pendidikan Karakter

    Dalam pendidikan karakter dimensi yang perlu dipahami adalah

    individu, sosial, dan moral. Individu dalam pendidikan karakter menyiratkan

    dihargainya nilai-nilai kebebasan dan tanggung jawab. Nilai-nilai kebebasan

    inilah yang menjadi prasyarat utama sebuah perilaku moral. Yang menjadi

    subjek bertindak dan subjek moral adalah individu itu sendiri.

  • 16

    Dari keputusannya bebas bertindak, seseorang menegaskan kebaradaan

    dirinya sebagai mahluk bermoral. Dari keputusannya tercermin nilai-nilai

    yang menjadi bagian dari keyakinan hidupnya (Koesoema, 2011:146).Dimensi

    sosial mengacu pada corak relasional antara individu dengan individu lain,

    atau dengan lembaga lain yang menjadi cerminan kebebasan individu dalam

    mengorganisir dirinya sendiri. Kehidupan sosial dalam masyarakat bisa

    berjalan dengan baik dan stabil karena ada relasi kekuasaan yang menjamin

    kebebasan individu yang menjadi anggotanya serta mengekspresikan jalinan

    relasional antar-individu (Koesoema, 2011:146).

    Dimensi moral menjadi jiwa yang menghidupi gerak dan dinamika

    masyarakat sehingga masyarakat tersebut menjadi semakin berbudaya dan

    bermartabat. Tanpa adanya norma moral, individu akan saling menindas dan

    liar. Yang kuat akan makin berkuasa, yang lemah akan semakin tersingkirkan

    (Koesoema, 2011:147). Lebih lanjut lagi Lickona (1992) dalam bukunya

    Masnur Muslich menyebutkan penekanan tiga komponen karakter yang baik

    (components of good character) yaitu moral knowing atau pengetahuan

    tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action

    atau perbuatan moral. Hal ini diperlukan agar anak mampu memahami,

    merasakan, dan mengerjakan sekaligus nilai-nilai kebajikan (Muslich,

    2011:133).

    Moral knowing merupakan hal penting untuk diajarkan yang terdiri

    dari enam hal, yaitu: 1). Moral Awareness (kesadaran moral), 2). Knowing

    moral values (mengetahui nilai-nilai moral), 3). Perspective taking

    (pengambilan pandangan), 4). Moral reasoning (alasan moral), 5). Decision

  • 17

    making (pembuatan keputusan), 6). Self knowledge (kesadaran diri sendiri)

    (Muslich, 2011:133).

    Moral feeling adalah aspek yang lain yang harus ditanamkan kepada

    anak yang merupakan sumber energi dari diri manusia untuk bertindak sesuai

    dengan prinsip-prinsip moral. Terdapat enam hal yang merupakan aspek

    emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia

    berkarakter, yakni conscience (nurani), self esteem (percaya diri), empathy

    (merasakan penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran),

    self control (mampu mengontrol diri), humility (kerendahan hati) (Muslich,

    2011:133).

    Moral action adalah bagaimana membuat pengetahuan moral dapat

    diwujudkan menjadi tindakan nyata. Perbuatan tindakan moral ini merupakan

    hasil dari dua komponen lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong

    seseorang dalam perbuatan yang baik, maka harus dilihat tiga aspek lain dari

    karakter yaitu competence (kompetensi), keinginan (will), dan habit

    (kebiasaan) (Muslich, 2011:134).

    Ketiga aspek moral tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat

    dan ketiganya saling bersinergi. Seorang anak harus diberikan pengetahuan

    tentang moral karena tanpa adanya arahan dari orang tua anak tidak akan

    memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang moral yang dengannya anak

    mengetahui hal-hal baik dan buruk. Penanaman perasaan moral dan

    pelaksanaan atau tindakan moral harus ditanamkan sejak dini, karena seorang

    anak yang sudah terlanjur dan terbiasa melakukan hal-hal buruk atau negatif

    akan sulit sekali untuk penanaman moral kembali, maka sebelum hal ituterjadi

  • 18

    alangkah baiknya dilakukan pencegahan sebelum kejadian hal yang tidak

    diinginkan.

    Nilai-nilai pendidikan karakter yang bersumber dari agama, Pancasila,

    budaya dan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu (Narwanti, 2011:28):

    a. Religius

    Yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran

    agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksana ibadah agama lain, dan

    hidup rukun dengan pemeluk agama lain (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran:

    1) Beraqidah lurus 2) Beribadah yang benar 3) Berdoa sebelum mulai dan sesudah selesai pembelajaran 4) Mengaitkan materi pembelajaran dengan kekuasaan Tuhan Yang Maha

    Esa

    5) Melaksanakan shalat dhuha 6) Melaksanakan shalat dhuhur berjamaah 7) Melaksanakan shalat asar berjamaah 8) Hafal al-Quran minimal 1 juz 9) Program tahfid: setoran hapalan 1 juz ayat al-Quran 10) Program penunjang: tilawah dan hapalan sesudah sholat dhuhur

    berjamaan selama 5 menit

    11) Musabaqah hifdhil Quran 12) Reward gratis SPP bagi yang hafal di atas 3 juz (Narwanti, 2011:64).

    b. Jujur

    Yaitu perilaku yang dilaksanakan dalam upaya menjadikan dirinya

    sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan

    pekerjaan (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator pencapaian:

    1) Membuat laporan hasil percobaan sesuai dengan data yang diperoleh 2) Tidak pernah menyontek dalam ulangan 3) Tidak pernah berbohong dalam berbicara 4) Mengakui kesalahan 5) Terbuka dalam memberi penilaian kepada peserta didik (Narwanti,

    2011:65).

  • 19

    c. Toleransi

    Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,

    sikap, tindakan orang lain yang berbeda (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pembelajaran:

    1) Pelayanan yang sama terhadap peserta didik tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial dan status ekonomi.

    2) Memberikan pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus 3) Bekerja dalam kelompok dengan teman-teman yang berbeda jenis

    kelamin, agama, suku dan tingkat kemampuan.

    4) Tidak memaksakan kehendak atau pendapat orang lain. 5) Hormat menghormati 6) Basa basi 7) Sopan santun 8) Hati-hati tidak boleh tinggi bicara atau tinggi hati (Narwanti, 2011:65).

    d. Disiplin

    Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh kepada

    berbagai ketentuan dan aturan (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator

    pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Hadir tepat waktu 2) Mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran 3) Mengikuti prosedur kegiatan pembelajaran 4) Menyelesaikan tugas tepat waktu (Narwanti, 2011:66).

    e. Kerja keras

    Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi

    berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan

    tepat waktu dan sebaik-baiknya (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator

    pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Berupaya dengan gigih untuk menciptakan semangat kompetisi yang sehat.

    2) Substansi pembelajaran menantang peserta didik untuk berpikir keras. 3) Menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh guru. 4) Berupaya mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi

    (Narwanti, 2011:66).

  • 20

    f. Kreatif

    Berfikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil

    baru dari sesuatu yang telah dimiliki (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Menciptakan situasi belajar yang mendorong munculnya kreativitas peserta didik.

    2) Memberi tugas yang menantang munculnya kreativitas peserta didik (tugas projek, karya ilmiah, dll)

    3) Menghasilkan suatu karya baru, baik otentik maupun karya baru (Narwanti, 2011:66).

    g. Mandiri

    Yaitu sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang

    lain dan menyelesaikan tugas-tugas (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Dalam ulangan tidak mengharapkan bantuan kepada orang lain. 2) Penyelesaian tugas-tugas yang harus dikerjakan secara mandiri. 3) Mempresentasikan hasil pelaksanaan tugas-tugas yang diberikan. 4) Memotivasi peserta didik untuk mmenumbuhkan rasa percaya diri

    (Narwanti, 2011:67).

    h. Demokratis

    Yaitu cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak

    dan kewajiban dirinya dan orang lain (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Pembelajaran yang dialogis dan interaktif 2) Keterlibatan semua peserta didik secara aktif selama pembelajaran 3) Menghargai pendapat setiap peserta didik (Narwanti, 2011:67).

    i. Rasa ingin tahu

    Yaitu sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui

    lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan

  • 21

    didengar (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator pencapaian pembelajaran

    sebagai berikut:

    1) Penerapan eksplorasi dan elaborasi dalam pembelajaran. 2) Memanfaatkan media pembelajaran (cetak dan elektronik) yang

    menumbuhkan keingintahuan.

    3) Menumbuhkan keinginan untuk melakukan penelitian. 4) Berwawasan yang luas (Narwanti, 2011:67).

    j. Semangat kebangsaan

    Cara berfikir, bertindak dan berwawasan yang menempatkan

    kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya

    (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator pencapaian pembelajaran sebagai

    berikut:

    1) Bekerjasama dengan teman yang berbeda suku/etnis. 2) Mengaitkan materi pembelajaran dengan peristiwa yang

    menumbuhkan rasa nasionalisme dan patriotisme (Narwanti, 2011:67).

    k. Cinta tanah air

    Yaitu cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan

    kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa,

    lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa (Narwanti,

    2011:29). Dengan indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Menyanyikan lagu-lagu perjuangan 2) Diskusi tentang kekayaan alam, budaya bangsa, peristiwa alam, dan

    perilaku menyimpang.

    3) Menumbuhkan rasa mencintai produk dalam negeri dalam pembelajaran.

    4) Menggunakan media dan alat-alat pembelajaran produk negeri (Narwanti, 2011:67).

    l. Menghargai prestasi

    Yaitu sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

    menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta

  • 22

    menghormati keberhasilan orang lain (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menampilkan ide, bakat dan kreasi.

    2) Pujian kepada peserta didik yang telah menyelesaikan tugas dengan baik, mengajukan ide cemerlang, atau menghasilkan suatu karya.

    3) Terampil (Narwanti, 2011:68).

    m. Bersahabat/komunikatif

    Tindakan yang memperhatikan rasa senang berbicara, bargaul, dan

    bekerja sama dengan orang lain (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator

    pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Pengaturan kelas memudahkan peserta didik berinteraksi. 2) Diskusi kelompok untuk memecahkan suatu masalah. 3) Melakukan bimbingan kepada peserta didik yang memerlukan. 4) Mengajukan dan menjawab pertanyaan dengan santun. 5) Manyajikan hasil tugas secara lisan atau tertulis (Narwanti, 2011:68).

    n. Cinta damai

    Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa

    senang dan aman atas kehadiran dirinya (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Tidak saling mengejek dan menjelek-jelekkan orang lain. 2) Saling menjalin kerjasama dan tolong menolong. 3) Menciptakan suasana damai di lingkungan sekolah (Narwanti,

    2011:68).

    o. Gemar membaca

    Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang

    memberikan kebajukan bagi dirinya (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Penugasan membaca buku pelajaran dan mencari referrensi. 2) Peserta didik lebih mengutamakan membeli buku dibanding dengan

    yang lainnya (Narwanti, 2011:69).

  • 23

    p. Peduli lingkungan

    Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada

    lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk

    memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi (Narwanti, 2011:29).

    Dengan indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Peduli lingkungan. 2) Kebersihan ruang kelas terjaga. 3) Menyediakan tong sampah organik dan unorganik. 4) Hemat dalam penggunaan bahan praktik. 5) Penanganan limbah bahan kimia dari dari kegiatan praktik (Narwanti,

    2011:69).

    q. Peduli sosial

    Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang

    lain dan masyarakat yang membutuhkan (Narwanti, 2011:29). Dengan

    indikator pencapaian pembelajaran sebagai berikut:

    1) Tanggap terhadap teman yang mengalami kesulitan. 2) Tanggap terhadap keadaan lingkungan. 3) Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing (Narwanti, 2011:69).

    r. Tanggung jawab

    Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan

    kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri,

    masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan

    Yang Maha Esa (Narwanti, 2011:29). Dengan indikator pencapaian

    pembelajaran sebagai berikut:

    1) Selalu melaksanakan tugas sesuai dengan aturan/kesepakatan. 2) Bertanggung jawab terhadap semua tindakan yang dilakukan

    (Narwanti, 2011:69).

  • 24

    Dalam buku yang lain disebutkan ada 8 nilai-nilai pendidikan karakter

    yang masih bisa diperinci dan ditambahkan nilai-nilai yang lainnya yaitu

    (Koesoema, 2011:208):

    a) Nilai keutamaan

    Manusia memiliki keutamaan kalau ia menghayati dan

    melaksanakan tindakan-tindakan yang utama, yang membawa kebaikan

    bagi diri sendiri dan orang lain (Koesoema, 2011:208).

    b) Nilai keindahan

    Nilai keindahan dalam tataran yang lebih tinggi menyentuh dimensi

    interioritas manusia itu sendiri yang menjadi penentu kualitas dirinya

    sebagai manusia (Koesoema, 2011:209).

    c) Nilai kerja

    Jika ingin berbuat adil, manusia harus bekerja. Penghargaan atas

    nilai kerja inilah yang menentukan kualitas diri seorang individu

    (Koesoema, 2011:209).

    d) Nilai cinta tanah air (patriotisme)

    Meskipun masyarakat kita menjadi senakin global, rasa cinta tanah

    air ini tetap diperlukan, sebab tanah air adalah tempat berpijak bagi

    individu secara kultural dan historis. Pendidikan karakter yang

    menanamkan nilai-nilai secara mendalam, tetaplah relevan, mengingat

    ikatan batin seseorang senantiasa terpaku pada tanah tumpah kelahirannya,

    dan ibu pertiwi yang membesarkannya (Koesoema, 2011:209).

  • 25

    e) Nilai demokrasi

    Nilai demokrasi termasuk di dalamnya, kesediaan untuk berdialog,

    berunding, bersepakat, dan mengatasi permasalahan dan konflik dengan

    cara-cara damai, bukan dengan kekerasan melainkan melalui sebuah

    dialog bagi pembentukan tata masyarakat yang lebih baik. Oleh karena itu,

    nilai-nilai demokrasi semestinya menjadi agenda dasar pendidikan nilai

    dalam kerangka pendidikan karakter (Koesoema, 2011:210).

    f) Nilai kesatuan

    Dalam konteks berbangsa dan bernegara di Indonesia, nilai

    kesatuan ini menjadi dasar pendirian negara ini. Apa yang tertulis dalam

    sila ke-3 pancasila yaitu Persatuan Indonesia, tidak akan dapat

    dipertahankan jika setiap individu yang menjadi warga negara Indonesia

    tidak dapat menghormati perbedaan dan pluralitas yang ada dalam

    masyarakat kita (Koesoema, 2011:211).

    g) Menghidupi nilai moral

    Nilai-nilai moral yang berguna dalam masyarakat kita tentunya

    akan semakin efektif jika nilai ideologi bangsa, yaitu nilai moral dalam

    pancasila menjadi jiwa bagi setiap pendidikan karakter (Koesoema,

    2011:211).

    h) Nilai-nilai kemanusiaan

    Menghayati nilai-nilai kemanusiaan mengandaikan sikap

    keterbukaan terhadap kebudayaan lain, termasuk kultur agama dan

  • 26

    keyakinan yang berbeda. Yang menjadi nilai bukanlah kepentingan

    kelompokku sendiri, melainkan kepentingan yang menjadi kepentingan

    setiap orang, seperti keadilan, persamaan di depan hukum, kebebasan, dan

    lain sebagainya. Nilai-nilai kemanusiaan ini menjadi sangat relevan

    diterapkan dalam pendidikan karakter karena masyarakat kita telah

    menjadi masyarakat global (Koesoema, 2011:211).

    Banyak para pakar dan ahli dalam bidang pendidikan yang

    membagi nilai-nilai pendidikan karakter dengan beberapa bagian. Dan

    menurut hemat penulis tidak ada permasalahan dalam hal pembagian

    tersebut, karena indikatornya sudah mencakup dalam aspek yang lengkap.

    4. Tujuan Pendidikan Karakter di Indonesia

    Tidak bisa dipungkiri bahwa kemerosotan karakter bangsa Indonesia

    ini terjadi terus menerus terbukti dengan meningkatnya tindakan kriminal

    yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat yang tidak ada henti-hentinya

    stasion televisi menyiarkan berita tentang tawuran oleh mahasiswa, korupsi

    oleh para koruptor uang negara, penjualan bayi, pembunuhan dan mutilasi dan

    lain sebagainya. Hal ini menunjukkan keprihatinan bangsa Indonesia akan

    merosotnya pendidikan dan minimnya kesadaran berkarakter oleh masyarakat

    itu sendiri. Maka dari itu, sosialisasi dan gebrakan adanya pendidikan karakter

    harus segera direalisasikan.

    Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang

    kompetitif, tangguh, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong,

    berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan, dan

    teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada Tuhan Yang

  • 27

    Maha Esa berdasarkan pancasila (Narwanti, 2011:16). Tujuan pendidikan

    karakter adalah :

    1. Memfasilitasi penguatan dan pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah

    proses sekolah (setelah lulus dari sekolah).

    2. Mengoreksi perilaku anak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pendidikan karakter yang diajarkan.

    3. Membangun koneksi yang harmoni dengan keluarga dan masyarakat dalam memerankan tanggung jawab pendidikan karakter secara bersama

    (Narwanti, 2011:17).

    Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggara

    dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter

    dan akhlak mulia anak secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan

    norma dan nilai yang ada. Melalui pendidikan karakter diharapkan anak

    mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,

    mengkaji dan menginternalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga

    terwujud dalam perilaku sehari-hari (Narwanti, 2011:17).

    Adanya pendidikan karakter ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata,

    di sini ada unsur proses pembentukan nilai dan sikap yang didasari pada

    pengetahuan yang bertujuan untuk menjadikan manusia menjadi lebih utuh.

    Lebih utuh yang dimaksud adalah semakin makhluk yang mampu berelasi

    secara sehat dengan lingkungan di luar dirinya tanpa kehilangan otonomi dan

    kebebasannya sehingga ia menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab

    (Koesoema, 2011:134).

    Nilai itu adalah nilai yang membantu orang lebih baik hidup bersama

    dengan orang lain dan dunianya (learning to live together) untuk menuju

    kesempurnaan. Nilai itu menyangkut berbagai bidang kehidupan seperti

  • 28

    hubungan sesama, diri sendiri, hidup bernegara, alam dunia dan Tuhan yang

    melibatkan unsur kognitif, afektif dan psikomotorik (Muslich, 2010: 67).

    Pendidikan karakter lebih mengutamakan moral individu yang ada,

    untuk itu dua paradigma pendidikan karakter merupakan satu keutuhan yang

    tidak dapat dipisahkan. Penanaman nilai dalam diri anak dan pembaharuan

    dalam tata nilai kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan

    individu merupakan dua wajah pendidikan karakter yang harus dilaksanakan

    secara bersamaan dan saling keterkaitan.

    Pada dasarnya, pendidikan sebagai proses alih nilai mempunya tiga

    sasaran yaitu:

    a. Pendidikan bertujuan untuk membentuk manusia yang mempunyai

    keseimbangan antara kemampuan kognitif dan psikomotorik di satu pihak

    serta kemampuan afektif di pihak lain. Dalam hal ini pendidikan dapat

    diartikan bahwa pendidikan akan menghasilkan manusia yang

    berkepribadian, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang luhur,

    serta mempunyai wawasan dan sikap kebangsaan dan serta memupuk jati

    dirinya (Muslich, 2011:137).

    b. Menjadikan manusia tunduk dan memancarkan nilai-nilai keimanan dan

    ketakwaan untuk melaksanakan ibadah menurut keyakinan dan

    kepercayaan masing-masing, berakhlak mulia, serta senantiasa menjaga

    harmoni hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitarnya

    yaitu proses pembinaan imtak (Muslich, 2011:137).

    c. Dapat mentransformasikan tata nilai yang mendukung proses

    industrialisasi dan penerapan teknologi, seperti penghargaan atas waktu,

  • 29

    etos kerja tinggi, disiplin, kemandirian, kewirausahaan dan sebagainya

    yaitu proses pembinaan iptek (Muslich, 2011:137).

    Pendidikan budi pekerti tidak bisa lepas dari sistem nilai yang dimiliki

    oleh masyarakat serta proses internalisasi nilai untuk melestarikan sistem nilai

    tersebut.

    B. Teori Pendidikan Islam

    1. Definisi Pendidikan Islam

    Kata Islam dalam pendidikan Islam manunjukkan warna pendidikan

    tertentu, yaitu pendidikan yang berwarna Islam, pendidikan yang Islami,

    yaitu pendidikan yang berdasarkan Islam (Tafsir, 2005:24). Ahmad Tafsir

    (2005) menjelaskan bahwa:

    Pendidikan adalah berbagai usaha yang dilakukan oleh seseorang

    (pendidik) terhadap seseorang (anak didik) agar tercapai

    perkembangan maksimal yang positif. Usaha yang dilakukan salah

    satunya dengan cara mengajarnya, yaitu mengembangkan

    pengetahuan dan keterampilannya, memberi teladan (contoh),

    memberi pujian dan hadiah, mendidik dengan cara membiasakan dan

    lain sebagainya. Kesimpulannya, pengajaran adalah sebagian dari

    usaha pendidikan. Pendidikan adalah usaha mengembangkan

    seseorang agar terbentuk perkembangan yang maksimal dan positif

    (Tafsir, 2005:28).

    Konferensi yang diselenggarakan di Jeddah pada tahun 1977

    menghasilkan definisi pendidikan menurut Islam dengan memberikan

    kesimpulan seluruh pengertian yang terkandung dalam istilah talim,

    tarbiyah, dan tadib (Tafsir, 2005:28). Menurut pendapat Naquib Al-Attas

    yang dikutip oleh Ahmad Tafsir istilah tadib adalah istilah yang paling tepat

    digunakan untuk menggambarkan pengertian pendidikan, sementara istilah

    tarbiyah terlalu luas karena pendidikan dalam istilah ini mencakup juga

    pendidikan untuk hewan. Istilah tadib merupakan masdar kata kerja addaba

  • 30

    yang berarti pendidikan, kemudian diturunkan kata addabun yang

    berartimendidik dan menjadikan orang mempunyai adab. Dari kata adab al-

    Attas mendefinisikan pendidikan menurut Islam sebagai pengenalan dan

    pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia,

    tentang tempat-tempat yang tepat bagi segala sesuatu di dalam tatanan wujud

    sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat

    Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud tersebut. Pendidikan menurut

    Islam adalah usaha agar orang mengenali dan mengakui tempat Tuhan dalam

    kehidupan ini (Tafsir, 2005:29).

    Abdurrahman al-Nahlawi merumuskan definisi pendidikan justru dari

    kata al-tarbiyah. Dari segi bahasa berasal dari tiga kata, yaitu : rabiya-yarba

    yang berarti menjadi besar, rabba-yarbu yang berarti memperbaiki,

    menguasai urusan, menuntun, menjaga, memelihara kemudian raba-yarbu,

    yang berarti bartambah, bertumbuh seperti dalam al-Quran surat Al-Rum

    ayat 39 yaitu:

    dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah

    pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah.

    dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk

    mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah

    orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

    Manurut Imam al-Baidlawi di dalam tafsirnya arti asal al-rabb adalah

    al-tarbiyah, yaitu menyampaikan sesuatu sedikit demi sedikit sehingga

    sempurna (Tafsir, 2005:29). Berdasarkan ketiga kata itu, Abdurrahman al-

  • 31

    Bani menyimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri atas empat unsur,

    yaitu:

    a. Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang dewasa (baligh);

    b. Mengembangkan seluruh potensi;

    c. Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi menuju kesempurnaan;

    d. Dilaksanakan secara bertahap.

    Dari sini dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah pengembangan

    seluruh potensi anak didik secara bertahap menuurut ajaran Islam (Tafsir,

    2005:29). Akhir kesimpulannya Tafsir memberikan definisi pendidikan

    Islam adalah bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada seseorang

    agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Definisi

    yang digunakan ini hanyalah menyangkut pendidikan oleh seseorang

    terhadap orang lain, yang diselenggarakan dalam keluarga, masyarakat dan

    sekolah, menyangkut pembinaan aspek jasmani, akal, dan hati anak didik

    (Tafsir, 2005:32).

    2. Tujuan Pendidikan Islam

    Komponen-komponen sifat dasar manusia yang diakui adalah

    tubuh, ruh, dan akal. Tujuan umum pendidikan Islam dapat dibagi tiga

    kelompok utama tersebut. Ketiga komponen di atas merupakan satu

    kesatuan utuh yang tidak bisa terpisahkan, karena salah satu aspek darinya

    hancur atau rusak maka ketiganya ikut rusak. Ini berarti dalam pendidikan

    Islam mempunyai tiga tujuan pokok, yaitu: tujuan jasmaniah, tujuan

    ruhani, dan tujuan mental (Abdullah, 2005:138).

  • 32

    a. Tujuan Pendidikan Jasmani

    Kekuatan fisik merupakan bagian pokok dari tujuan pendidikan,

    maka pendidikan harus mempunyai tujuan ke arah keterampilan-

    keterampilan fisik yang dianggap perlu bagi teguhnya tubuh yang sehat.

    Kebiasaaan-kebiasaan yang bisa menumbuh-kembangkan kesehatan

    pribadi dianjurkan. Kebersihan jasmani dan penampilan yang baik

    merupakan teladan kebiasaan-kebiasaan yang diharapkan. Kebersihan

    jasmani sangat dianjurkan dalam Islam, sebagai contoh Islam menyuruh

    seseorang untuk bersuci sebelum melakukan ibadah, memakai pakaian

    bagus ketika hendak beribadah dan lain sebagainya. Terpenuhinya

    kebutuhan-kebutuhan biologis adalah perlu bagi eksistensi manusia

    sebagai suatu pribadi, seperti kebutuhan makan, minum ataupun seksual

    (Abdullah, 2005:139).

    Demikian pula perhatian al-Quran terhadap penghargaan atas

    karunia jisim atau jasad manusia. Sebuah potongan ayat dalam surat al-

    baqoroh ayat 247 disebutkan sebagai berikut:

    Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu

    dan menganugerahinya ilmu yang Luas dan tubuh yang perkasa."

    Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

    dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha mengetahui.

    Sebagian ahli tafsir menafsirkan kalimat basthat fi al-jism dengan

    kekuatan fisik atau ukuran yang besar, atau dengan pengertian keduanya

    (Abdullah, 2005:138).

  • 33

    Kesimpulannya adalah, pendidikan Islam yang memberikan

    perhatian terhadap tubuh manusia, bertujuan menyajikan fakta-fakta

    relevan kepada siswa mengenai tubuhnya. Bertujuan membantu siswa

    mencapai kemampuan yang menjadikannya lebih kuat dan membantunya

    menanamkan sikap positif terhadap tubuhnya (Abdullah, 1991:157).

    b. Tujuan Pendidikan Rohani

    Seseorang yang mau mengikrarkan dua kalimat syahadat, maka

    wajib menerima seluruh gagasan dan wawasan yang ada dalam al-Quran.

    Menerapkan moralitas Qurani sebagaimana tercermin dalam teladan

    Rasulullah. Sasaran dalam katagori ini adalah biasanya disebut sasaran

    yang bersifat spiritual (ruhiyyah). Pentingnya wawasan dan gagasan

    tersebut terbukti dalam ayat 4 surat al-Qalam yang memuji nabi

    (Abdullah, 1991:158):

    dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

    Para ahli pendidikan menyamakan tujuan religius (ahdaf diniyyah)

    dengan tujuan pendidikan rohani ini (Abdullah, 1991:158). Dalam surat

    Ali Imran ayat 19 disebutkan bahwa:

    .......

    Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.......

    Ayat tersebut menegaskan bahwa term Islam adalah sinonim

    dengan term ad-din. Islam menyantuni seluruh aspek kehidupan manusia

    (Abdullah, 1991:158). Dimensi spiritual yang dimaksudkan adalah sisi

    jiwa yang memiliki sifat-sifat il hiyah (ketuhanan) dan memiliki daya

  • 34

    untuk menarik dan mendorong dimensi-dimensi lainnya untuk

    mewujudkan sifat-sifat tuhan dalam dirinya. Pemilikan sifat-sifat Tuhan

    bermakna memiliki potensi-potensi luhur batin. Potensi-potensi itu

    melekat pada dimensi-dimensi psikis manusia dan memerlukan

    aktualisasi. Dimensi manusia yang bersumber secara langsung dari Tuhan

    ini adalah dimensi al-ruh (Baharuddin, 2007:136).

    Adopsi terhadap wawasan Qurani adalah sebuah keharusan.

    Dalam ayat 10 surat Al-Baqoroh dinyatakan, orang-orang munafik yang

    tidak percaya tarhadap wawasan dan gagasan Qurani adalah orang-orang

    yang di dalam hatinya ada penyakit. Ini artinya, penyusunan wawasan dan

    gagasan tersebut sebagai tujuan pendidikan mengharuskan adanya

    pembersihan terhadap sikap-sikap antagonis terhadap wawasan dan

    gagasan tersebut. Pemurnian individu dari sikap-sikap negatif semacam

    ini merupakan prioritas (Abdullah, 1991:160).

    c. Tujuan Pendidikan Akal

    Secara bahasa kata aqlmempunyai aneka makna. Diantaranya

    bermakna al-hijr atau al-nuha yang berarti kecerdasan. Sedangkan kata

    kerja (fiil) aqala bermakna habasa yang berarti mengikat atau menawan.

    Karena itulah orang yang menggunakan akalnya disebut aqil yaitu orang

    yang dapat mengikat dan menawan hawa nafsunya (Baharuddin,

    2007:115).

    Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa orang yang

    menggunakan akalnya pada dasarnya adalah orang yang mampu mengikat

    hawa nafsunya, sehingga hawa nafsunya tidak dapat menguasai dirinya. Ia

  • 35

    mampu mengendalikan dirinya terhadap dorongan nafsu dan juga

    memahami kebenaran agama (Baharuddin, 2007:115).

    Dalam hal tujuan pendidikan akal, para pendidik diikat dengan

    tanggung jawab pengembangan inteligensia yang bakal mengantarkan

    siswa kepada pencapaian kebenaran ultimate. Pengkajian terhadap ayat-

    ayat Allah dan penemuan tentang susunan ayat-ayat tersebut bakal

    mengantarkan siswa (manusia) kepada pengenalan terhadap Dzat Maha

    Pencipta. Pendidikan dapat membantu dengan menyajikan fakta-fakta

    yang relevan dan memadai tentang apa yang dipelajari, pencapaian tujuan

    aqliyyah (Abdullah, 1991:161).

    Di samping membantu siswa mengetahui fakta-fakta dan

    meningkatkan kemampuan mental (aqliyyah), pendidikan Islam juga

    bertujuan mendorong dan mengantarkan mereka kepada cara berfikir

    logis. Pemahaman mendalam dan tidak sekedar hafalan, harus ditekankan

    untuk dicapai. Hafal terhadap bagian-bagian al-Quran merupakan salah

    satu tujuan yang hendak dicapai, karena setiap muslim harus melafalkan

    ayat-ayat al-Quran dalam praktek shalat juga ditekankan untuk

    memahami apa yang dibacanya. Al-Quran tidak hanya untuk dihafalkan

    sebagai pengetahuan hafalan, namun ia diturunkan agar dipahami benar

    leh manusia (Abdullah, 1991:164).

    ......

    Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran?.....(Q.S. 4 an-

    nisa:82)

  • 36

    Para ahli tafsir mengatakan, tadabbur merupakan pengetahuan

    mengenai bukti al-Quran dan harmoni yang terjadi pada ayat-ayatnya.

    Dengan ini jelas kita tidak dapat menerima klaim yang menganggap

    memorisasi mendominasi atau harus mendominasi kurikulum pendidikan

    Islam. Pemahaman ini bukan sekedar pengetahuan hafalan, harus

    dijadikan fokus perhatian pendidikan (Abdullah, 1991:164).

    Dari ketiga tujuan dimensi pendidikan tersebut, fisik, ruh dan akal

    ini menegaskan bahwa kebutuhan dasar yang berakar pada fitrah manusia

    mesti mendapatkan perhatian penuh. Oleh karena itu dalam teori

    pendidikan benar bahwasannya tidak boleh mengabaikan salah satu dari

    ketiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik yang memang

    menghasilkan pendidikan ketiga dimensi di atas.

    d. Tujuan Pendidikan Sosial

    Manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri,

    tanpa bantuan orang lain. Seorang tidak akan mampu hidup dalam

    suasana isolasi. Kenyataan ini nampak dari ayat yang ditujukan untuk

    manusia selalu menggunakan bentuk jamak. Panggilan dengan Ya

    Ayyuhannas yang berada pada 20 tempat, Ya Bani Adam berada pada

    5 tempatdan kalimat ya ayyuhal insan hanya berada pada 2 tempat saja.

    Dalam ayat 65 surat al-Anfal disebutkan bahwa daya tahan dan kesabaran

    individual dalam peperangan disebut sebagai bagian dari usaha kolektif

    (Abdullah, 1991:165).

  • 37

    jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka

    akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus

    orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat

    mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang

    kafir itu kaum yang tidak mengerti.

    Dari ayat di atas terlihat bahwa Allah menyebutkan 20 orang dapat

    mengalahkan 200 orang, di sini bukan berarti satu orang dapat

    mengalahkan 10 orang. Maksudnya Allah memberikan tujuan bahwa

    semua akan terasa ringan ketika dilakukan dengan berjamaah atau

    bersama-sama. Dalam kelompok individu dipaksa ikut memikirkan

    anggota atau orang lain dalam kelompok tersebut. Dari sini jelaslah

    bahwa pendidikan harus memperhatikan atau memberi perhatian lebih

    pada aspek sosial. Jika tujuan pendidikan tidak dapat menciptakan

    berlangsungnya kebutuhan sosial, maka akan terjadi ketidakseimbangan

    (Abdullah, 1991:166).

    Kelompok penting yang paling berpengaruh bagi individu, adalah

    keluarga. Pendidikan harus bertujuan mengembangkan sikap yang pantas

    dilakukan anngota keluarga, seperti cinta anak, hormat kepada orang tua,

    mengakui peran istri ataupun suami dan sebagainya. Kurikulum

    pendidikan Islam juga bertujuan membiasakan kemampuan sosial tertentu

    yang berhubungan dengan masalah keluarga (Abdullah, 1991:166).

    Memasyarakatnya kemampuan sosial yang baik seperti komunikasi

    dengan sesama, merupakan bagian dari tujuan pendidikan Islam.

  • 38

    Hal yang paling penting adalah menerapkan kehidupan sosial yang

    berbasis Qurani. Jika ada individu yang melenceng jauh dari ajaran

    Qurani kita wajib untuk menjauhinya dan haram uuntuk memeliharanya.

    Harmoni antara individu dan sosial tidak memberikan celah bagi

    kontradiksi antara tujuan sosial dan tujuan individu dalam pendidikan.

    Pendidikan bertujuan mengembangkan wawasan dan gagasan agar sesuai

    dengan standar masyarakat yang berlaku sekarang.

  • 39

    BAB III

    DESKRIPSI KONSEP

    A. Konsep Pendidikan Karakter di Indonesia

    1. Hakikat Pendidikan Karakter di Indonesia

    Hakikat pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia

    adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber

    dari budaya bangsa Indonesia dalam rangka pembinaan kepribadian generasi

    muda (Narwanti, 2011:16).Pendidikan karakter seharusnya dimulai dari sini,

    karena pemudalah penerus bangsa yang akan melanjutkan perjuangan

    memajukan negara Indonesia.

    Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam

    rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk

    kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat

    secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai usaha kita

    secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk

    membantu pembentukan karakter secara optimal.

    Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral

    knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral acting).

    Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang

    baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat

    baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Berdasarkan tujuan pendidikan

    nasional, pendikan karakter adalah suatu program pendidikan (sekolah dan

    luar sekolah) yang mengorganisasikan dan menyederhanakan sumber-sumber

  • 40

    moral dan disajikan dengan memerhatikan pertimbangan psikologis untuk

    pertimbangan pendidikan (Zuchdi, 2009:39).

    Tujuan pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional

    tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang

    baik dan bertanggung jawab (Zuchdi, 2009:39). Nilai-nilai ini juga

    digambarkan sebagai perilaku moral. Pendidikan karakter selama ini baru

    dilaksanakan pada jenjang pendidikan pra sekolah/madrasah (taman kanak-

    kanak atau raudhatul athfl). Sementara pada jenjang sekolah dasar dan

    seterusnya kurikulum di Indonesia masih belum optimal dalam menyentuh

    aspek karakter ini, meskipun sudah ada materi pelajaran Pancasila dan

    Kewarganegaraan.

    Strategi pembelajaran yang berkenaan dengan moral knowing akan

    lebih banyak belajar melalui sumber belajar dan nara sumber. Pembelajaran

    moral loving akan terjadi pola saling membelajarkan secara seimbang di

    antara siswa. Sedangkan pembelajaran moral acting akan lebih banyak

    menggunakan pendekatan individual melalui pendampingan pemanfaatan

    potensi dan peluang yang sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. Ketiga

    strategi pembelajaran tersebut sebaiknya dirancang secara sistematis agar

    para siswa dan guru dapat memanfaatkan segenap nilai-nilai dan moral yang

    sesuai dengan potensi dan peluang yang tersedia di lingkungannya.

    Dengan demikian, hasil pembelajarannya ialah terbentuknya

    kebiasaan berpikir dalam arti peserta didik memiliki pengetahuan, kemauan

    dan keterampilan dalam berbuat kebaikan. Melalui pemahaman yang

    komprehensif ini diharapkan dapat menyiapkan pola-pola manajemen

  • 41

    pembelajaran yang dapat menghasilkan anak didik yang memiliki karakter

    yang kuat dalam arti memiliki ketangguhan dalam keilmuan, keimanan, dan

    perilaku shaleh, baik secara pribadi maupun sosial.

    2. Kurikulum Pendidikan Karakter di Indonesia

    Kurikulum merupakan rencana tertulis yang berisi tentang ide-ide dan

    gagasan-gagasan yang dirumuskan oleh pengembang kurikulum. Kurikulum

    dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tujuan yang

    harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan peserta

    didik, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang

    untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta

    implementasi dari dokumen yang dirancang dalam kehidupan nyata.

    Komponen-komponen kurikulum saling berkaitan dan saling mempengaruhi,

    terdiri dari tujuan yang menjadi arah pendidikan, komponen pengalaman

    belajar, komponen strategi pencapaian tujuan, dan komponen evaluasi

    (Sanjaya, 2010:16).Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan

    arah dan tujuan pendidikan.

    Di era kurikulum 2004-2008 yang menggunakan kurikulum KBK dan

    KTSP, pembelajaran lebih mendapatkan penegasan pada kewenangan guru

    untuk menentukan indikator, pengalaman belajar, dan rangkaian belajar yang

    bisa mengantarkan tercapainya Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi

    yang sudah dibuat oleh pemerintah pusat. Bahkan untuk pendidikan agama

    (PAI) dan pendidikan kewarganegaraan sudah mendapatkan pembobotan

    yang jelas, yakni PAI dengan akhlak mulia atau budi pekerti dan PPKN

    terkonsentrasi pada kepribadian. Kalau saja mata pelajaran ini bisa diturunkan

  • 42

    dalam pembelajaran nyata di sekolah/madrasah, dengan fokus dan pendekatan

    yang jelas pada akhlak mulia, budi pekerti, dan kepribadian, seharusnya

    sudah bisa memberi harapan yang jauh lebih baik untuk memperbaiki akhlak

    siswa dibanding dengan harapan pada kurikulum sebelumnya. Namun untuk

    melakukan penguatan bagi perubahan perilaku peserta didik yang semakin

    berakhlak yang mengarah pada perolehan nilai-nilai hidup, bukan semata-

    mata nilai angka yang hanya menggambarkan prestasi akademik, bukan

    belajar untuk berprestasi dalam kehidupan.

    Desain kurikulum pendidikan karakter bukan sebagai teks bahan ajar

    yang diajarkan secara akademik, tetapi lebih merupakan proses pembiasaan

    perilaku bermoral. Nilai moral dapat diajarkan secara tersendiri maupun

    diintegrasikan dengan seluruh mata pelajaran dengan mengangkat moral

    pendidikan atau moral kehidupan, sehingga seluruh proses pendidikan

    merupakan proses moralisasi perilaku peserta didik. Bukan proses pemberian

    pengetahuan moral, tetapi suatu proses pengintegrasian moral pengetahuan.

    Pendidikan karakter dipahami sebagai upaya menanamkan kecerdasan

    dalam berpikir, penghayatan dalam bentuk sikap, dan pengalaman dalam

    bentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang menjadi jati

    dirinya (Zubaidi, 2011:17).Penamaan pendidikan karakter tidak bisa hanya

    sekedar transfer ilmu pengetahuan atau melatih suatu keterampilan tertentu.

    Pendidikan karakter perlu proses, contoh teladan, pembiasaan atau

    pembudayaan dalam lingkungan peserta didik dalam lingkungan

    sekolah/madrasah, keluarga, lingkungan masyarakat, mapun lingkungan

    media massa.

  • 43

    3. ImplementasiPendidikan Karakter

    Proses pembelajaran pendidikan karakter secara terpadu bisa

    dibenarkan karena sejauh ini muncul keyakinan bahwa anak akan tumbuh

    dengan baik jika dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar. Istilah

    terpadu dalam pembelajaran berarti pembelajaran menekankan pengalaman

    belajar dalam konteks yang bermakna.

    Ciri-ciri pendidikan terpadu adalah: (1) berpusat pada peserta didik;

    (2) memberikan pengalam langsung kepada peserta didik; (3) pemisahan

    bidang studi tidak begitu jelas; (4) menyajikan konsep dari berbagai bidang

    studi dalam suatu proses pembelajaran; (5) bersifat luwes, dan (6) hasil

    pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta

    didik (Zubaidi, 2011:268).

    Integrasi pembelajaran dapat dilakukan dalam substansi materi,

    pendekatan, metode, dan model evaluasi yang dikembangkan. Tidak semua

    substansi materi pelajaran cocok untuk semua karakter yang akan

    dikembangkan, perlu dilakukan seleksi materi dan sinkronisasi dengan

    karakter yang akan dikembangkan. Pada prinsipnya semua mata pelajaran

    dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan semua karakter peserta

    didik, namun agar tidak terjadi tumpang-tindih dan terabaikannya salah satu

    karakter yang akan dikembangkan, perlu dilakukan pemetaan berdasarkan

    kedekatan materi dengan karakter yang akan dikembangkan.

    Dari segi pendekatan dan metode meliputi inkulkasi (inculcation),

    keteladanan (modeling,qudwah), fasilitasi (facilitation), dan pengembangan

    keterampilan (skill building) (Zuchdi, 2010:46-50).Dalam pendidikan

  • 44

    karakter, pemodelan atau pemberian teladan merupakan strategi yang biasa

    digunakan. Untuk dapat menggunakan strategi ini ada dua syarat harus

    dipenuhi. Pertama, guru harus berperan sebagai model yang baik bagi peserta

    didik dan anaknya. Kedua, peserta didik harus meneladani orang terkenal

    yang berakhlak mulia, misalnya Nabi Muhammad saw. Cara guru

    menyelsaikan masalah dengan adil, menghargai pendapat anak dan

    mengeritik orang lain dengan santun, merupakan perilaku yang secara alami

    dijadikan model bagi anak (Zuchdi, 2010:46-50).

    Pembelajaran moral bagi peserta didik akan lebih efektif apabila

    disajikan dalam bentuk gambar, seperti film, sehingga peserta didik bukan

    saja menangkap maknanya dari pesan verbal mono-pesan, melainkan bisa

    menangkap pesan yang multi-pesan dari gambar, keterkaitan antargambar dan

    peristiwa dalam alur cerita yang disajikan. Contoh: penyampaian pesan

    bahwa narkoba itu harus dihindari, maka tayangan tentang derita orang-orang

    yang dipenjara karena korban narkoba jauh lebih bermakna daripada

    disampaikan secara lisan, melalui metode ceramah. Namun demikian, bila

    ingin lebih mendalam tingkat penerimaan mereka, bisa dilanjutkan dengan

    metode renungan (al-muhasabah) setelah terkondisikan dengan baik melalui

    cerita dalam film yang baru saja ditayangkan.

  • 45

    B. Konsep Pendidikan Karakter dalam Islam

    1. Karakter Manusia dalam Islam

    Manusia diberi oleh Allah karakter atau kecenderungan untuk berbuat

    baik dan juga berbuat buruk, hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat

    As-Syams yang berbunyi:

    Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan

    ketakwaannya.

    Dari ayat di atas Allah menjelaskan pemberian ilham yaitu berupa

    pengetahuan dalam diri manusia yang tidak diketahui dari mana sumbernya.

    Lebih jelas lagi Al-Maraghi dalam tafsirnya mengatakan:

    Kemudian Allah memberikan inspirasi (ilham) kepada setiap jiwa

    manusia tentang kefasikan dan ketakwaan serta memperkenalkan

    keduanya, sehingga ia mampu membedakan mana yang benar dan

    mana yang salah, mana petunjuk dan mana kesesatan. Semua itu bisa

    dipahami oleh orang-orang yang mempunyai mata hati. (Al-Maraghi,

    1993:298)

    Tegasnya, Allah memberi akal kepada manusia yang dapat

    dipergunakan untuk membedakan antara kebajikan dan kejahatan serta diberi

    kesanggupan untuk melakukan keduanya (Ash-Siddieqy, 2003:4606). Dalam

    hal ini manusia tetapi mempunyai kecenderungan untuk berbuat kebajikan.

    Kecenderungan manusia kepada kebaikan terbukti dari persamaan konsep-

    konsep pokok moral pada setiap peradaban dan zaman. Perbedaan terletak

    pada bentuk, penerapan, atau pengertian yang tidak sempurna terhadap

    konsep-konsep moral, yang disebut ma'ruf dalam bahasa Al-Quran. Tidak

    ada peradaban yang menganggap baik kebohongan, penipuan, atau

    keangkuhan. Pun tidak ada manusia yang menilai bahwa penghormatan

  • 46

    kepada kedua orang-tua adalah buruk. Boleh jadi cara penghormatan kepada

    keduanya berbeda-beda antara satu masyarakat pada generasi tertentu

    dengan masyarakat pada generasi yang lain. Perbedaan-perbedaan itu selama

    dinilai baik oleh masyarakat dan masih dalam kerangka prinsip umum, maka

    ia tetap dinilai baik (Shihab, 1996:254).

    Secara umum karakter dalam perspektif Islam dibagi menjadi dua,

    yaitu karaktermulia (al-akhlaq al-mahmudah) dan karakter tercela (al-akhlaq

    al-madzmumah)

    a. Karakter positif manusia (Sukanto, 1985:208)

    1) Menunaikan hak dan kewajiban

    ..... .....

    dan sempurnakanlah takaran dan timbangan (hak dan kewajiban)

    dengan adil. (Q.S.Al-Anam 6:152)

    2) Etos kerja keras

    Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu,

    Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan

    mengetahui,(Q.S.Az-Zumar 39:39)

    3) Sikap adil

    ....

    Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil,

    Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.(Q.S.Al-

    Maidah 5:42)

    4) Lapang dada

    ...

  • 47

    Maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.(Q.S.Al-Hijr

    15:85)

    5) Musyawarah

    ... ...

    dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian

    apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah

    kepada Allah. (Q.S.Ali Imran 3:159)

    6) Sikap etis

    Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah

    dan Katakanlah Perkataan yang benar,(Q.S.Al-Ahzab 33:70)

    7) Beribadah kepada Allah dan berbakti kepada orang tua

    ...

    sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya

    dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-

    bapak (Q.S.An-Nisa 4:36)

    8) Memenuhi janji

    ...

    dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta

    pertanggungan jawabnya.(Q.S.Al-Isra 17:34)

    9) Menunaikan amanat

    ...

    Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat

    kepada yang berhak menerimanya, (Q.S.An-Nisa 4:58)

  • 48

    10) Keteguhan mental (sabar)

    ... ...

    dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. (Q.S.Luqman

    31:17)

    11) Rajin dan Tertib

    ...

    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak

    secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu

    menuliskannya. (Q.S.Al-Baqarah 2:282)

    b. Karakter negatif manusia (Sukanto, 1985:210)

    1) Mengurangi hak orang lain dan merusak tata tertib

    ...

    ...

    Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah

    kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan

    timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka

    bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. (Q.S.Al-Araf 7:85)

    2) Makan harta anak yatim