khulu dan fasakh

Click here to load reader

Post on 22-Jul-2015

189 views

Category:

Internet

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PowerPoint Presentation

MAKALAH FIQIHTENTANGKHULU DAN FASAKH DALAM NIKAHKELOMPOK IV

di susun oleh :

yulida ariffahyuridha hayatituti prihatintri nur hidayatiisma rahmidam.wildan maulanam.aldi prayuda

yayasan madrasah aliyah muslimat n.u palangkarayatahun ajaran 2015/2016

BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang fasakh

Akhir-akhir ini sering terlihat di televisi, seorang isteri mengajukan gugat cerai terhadap suaminya. Berita tersebut semakin hangat, karena si penggugat yang sering diekspos di media televisi adalah figure atau artis-artis terkenal. Gugat cerai tersebut ada yang berhasil, yaitu jatuhnya talak, atau karena keahlian hakim dan pengacara, gugat cerai urung dilanjutkan, sehingga rumah tangga merekaterselamatkan.Padahal mereka mengikatkan diri dalam lembaga perkawinan adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah s.w.t

sebagaimana banyak dikutip dalam setiap undangan walimahan (resepsyaitu termaktub dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi: Dan di antara tanda-tandaNya bahwa Dia menciptakan jodoh untuknya dari dirimu (bangsamu) supaya kamu bersenang-senang kepadanya, dan Dia mengadakan sesama kamu kasih saying dan rahmati pernikahan), Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir. Berdasarkan ayat ini pula, maka tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa-rahmah.

Bisa jadi, karena mereka sudah tidak dapat mempertahankan keluarga yang sakinah, mawaddah wa-rahmah, maka salah satu pihak menggunakan haknya, baik suami atau isteri untuk mengajukan gugatan cerai, padahal dalam Islam, cerai memang dihalalkan Allah, namun sangat dibenci olehNya (Sesungguhnya perbuatan yang boleh, tetapi sangat dibenci Allah adalah talak, hadits riwayat Abu Daud dan Ibn Majah).

B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini agar pembahasan lebih terfokus ada beberapa rumusan masalah di antaranya:1. Apa pengertian khulu dan fasakh?2 Apa hukum khulu dan fasakh ?

5

BAB IIPEMBAHASAN

1. KHULUA. Pengertian KhuluAl-Khulu, dalam bahasa Indonesia disebut Gugatan cerai atas kuasa istri dengan pembayaran iwadl kepada suami. Kata Al-Khulu secara bahasa arab diartikan dengan melepas dan iwadl berarti pengganti, imbakan, penebus. [1]Lalu digunakan untuk istilah wanita yang meminta kepada suaminya untuk melepas dirinya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian. Allah Subhanahu wa Taala berfirman. Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka[Al-Baqarah : 187].[2]Sedangkan menurut pengertian syariat, para ulama mengatakan dalam banyak defenisi, yang semuanya kembali kepada pengertian, bahwasanya Al-Khulu ialah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami-isteri dengan keridhaan dari keduanya dan dengan pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya .[3] Adapaun Syaikh Al-Bassam berpendapat, Al-Khulu ialah perceraian suami-isteri dengan pembayaran yang diambil suami dari isterinya. (makalah)

B. Hukum AL-KhuluAl-Khulu disyariatkan dalam syariat Islam berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Taala. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim [Al-Baqarah : 229].Kasus khuluk ini terjadi pertama kali oleh istri Tsabit bin Qois bin Syam al-Anshori sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma. Istri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam seraya berkata ; Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?. Ia menjawab, Ya, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya [HR Al-Bukhari].[4].

C. Ketentuan Hukum Al-KhuluMenurut tinjauan fikih, dalam memandang masalah Al-Khulu terdapat hukum-hukum taklifi sebagai berikut.[4][1]. Mubah (Diperbolehkan).Ketentuannya, sang wanita sudah benci tinggal bersama suaminya karena kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak dapat menegakkan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Taala dalam ketaatan kepadanya, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Taala. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya [Al-Baqarah : 229].Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ketentuan dalam masalah Al-Khulu ini dengan pernyataannya, bahwasanya Al-Khulu, ialah seorang suami menceraikan isterinya dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Ini dilarang, kecuali jika keduanya atau salah satunya merasa khawatir tidak dapat melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. Hal ini bisa muncul karena adanya ketidaksukaan dalam pergaulan rumah tangga, bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk fisiknya.

Syaikh Al-Bassam mengatakan, diperbolehkan Al-Khulu (gugat cerai) bagi wanita, apabila sang isteri membenci akhlak suaminya atau khawatir berbuat dosa karena tidak dapat menunaikan haknya. Apabila sang suami mencintainya, maka disunnahkan bagi sang isteri untuk bersabar dan tidak memilih perceraian.

[2]. Diharamkan Khulu, Hal Ini Karena Dua Keadaan:a). Dari Sisi Suami.Apabila suami (menyengaja) menyusahkan isteri dan memutus hubungan komunikasi dengannya, atau dengan sengaja tidak memberikan hak-haknya dan sejenisnya agar sang isteri membayar tebusan kepadanya dengan jalan gugatan cerai, maka Al-Khulu itu batil, dan tebusannya dikembalikan kepada wanita. Sedangkan status wanita itu tetap seperti asalnya jika Al-Khulu tidak dilakukan dengan lafazh thalak, karena Allah Subhanahu wa Taala berfirman. Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian kecil dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata [An-Nisa : 19]

Apabila suami menceraikannya, maka ia tidak memiliki hak mengambil tebusan tersebut. Namun, bila isteri berzina lalu suami membuatnya susah agar isteri tersebut membayar terbusan dengan Al-Khulu, maka diperbolehkan berdasarkan ayat di atas.

b). Dari Sisi IsteriApabila seorang isteri meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan maupun pertengkaran di antara pasangan suami isteri tersebut. Serta tidak ada alasan syari yang membenarkan adanya Al-Khulu, maka ini dilarang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Semua wanita yang minta cerai (gugat cerai) kepada suaminya tanpa alasan, maka haram baginya aroma surga [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam kitab Irwaul Ghalil, no. 2035]

[3]. Mustahabbah (Sunnah) Wanita Minta Cerai (Al-Khulu).Apabila suami berlaku mufarrith (meremehkan) hak-hak Allah, maka sang isteri disunnahkan Al-Khulu. Demikian menurut madzhab Ahmad bin Hanbal.

Imam syafiI juga meriwayatkan bahwa khuluk merupakan kata-kata sindiran (kinayah). Jadi dengan kata kinayah tadi suami menghendaki talak, maka talak pun terjadi, begitu pula sebaliknya jika tanpa adanya niatan maka khulukpun menjadikan fasakh. Akan tetapi dalam qoul jadidnya dikatakan khuluk itu adalah talak[6].Menurut Mahmud yunus ada perbedaan di kalangan ulama fiqih antara pengertian khuluk dan talak dengan iwadl. Diantaranya terdapat tiga pendapat dari para madzhab yaitu Syafii, Hanafi dan Maliki menganggap bahwa khuluk dan talak dengan iwadl itu sebagai satu jenis talak, yaitu talak bain. [7]Dipertegas lagi oleh pendapat para jumhur ulama yang menyatakan bahwa khuluk adalah talak, yangtelah menjadikannya talak bain. Karena apabila suami dapat merujuk istrinya pada masa iddah, maka penebusannya tidak akan berfungsi lagi.E. Hikmah Khulu

Mengenai hikmah khulu al Jurjawi menuturkan:Khulu sendiri sebenarnya di benci oleh syariat seperti halnya talak. Semua akal sehat dan perasaan sehat menolak khulu hanya saja Allah Yang Maha Bijaksana memperbolehkannya untuk menolak bahaya ketika tidak mampu menegakan hokum-hukum Allah...

4]. WajibTerkadang Al-Khulu hukumnya menjadi wajib pada sebagiaan keadaan. Misalnya terhadap orang yang tidak pernah melakukan shalat (ingkar), padahal telah diingatkan. Demikian juga seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang dapat menyebabkan keyakinan sang isteri keluar dari Islam dan menjadikannya murtad. Maka dalam keadaan seperti itu, seorang wanita wajib untuk meminta dari suaminya tersebut Al-Khulu walaupun harus menyerahkan harta. Karena seorang muslimah tidak patut menjadi isteri seorang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur .

D. Cara Menjatuhkan Khulu

Secara umum khulu dapat dilakukan dengan tiga cara: pertama menggunakan kata khulu, kedua menggunakan kata cerai (thalak), dan ketiga dengan kiasan yang di sertai dengan niat.Menurut jumhur fuqoha, khuluk iut termasuk talak. Seperti halnya pendapat imam maliki dan abu hanifah mempersamakan khuluk dengan fasakh. . Sedangkan imam syafiI berpendapat bahwa khuluk termasuk fasakh. Begitu juga pendapat dari imam ahmad dan daud, serta ibnu abbas dari kalangan sahabat.

Hikmah yang terkandung di dalamnya adalah menolak bahaya yaitu apabila perpecahan antara suami istri telah memuncak dan dikhawatirkan keduanya tidak dapat menjaga syariat-syariat dalam kehidupan suami istri, maka khulu dengan cara yang telah di tetapkan oleh Allah meru

View more