kelapa sawit

Download kelapa sawit

Post on 12-Jul-2015

188 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Riwayat Singkat Perkembangan Kelapa Sawit Kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia. Tanaman dimasukkan pertama kali di afrika sebagaimna sentral plasma nutfah pada tahun 1848, ditanam di Belitung (Kebun Raya Bogor ). Percobaan-percobaan banyak dilakukan diberbagai tempat di Jawa dan di Sumatera. Di Sumatera selatan misalnya ditanam di Muara Enim (1869), di Musi Hulu (1890) dan lain-lain. Semuanya dilaporkan tumbuh dengan baik namun belum ada yang membuka perkebunan secara komersil.

Kebun pertama dibuka pada tahun 1911 di tanah itam Ulu (Sumatera Selatan) oleh Maskapai Olie Palm Cultur dan di Pulau Raja oleh Maskapai Huilleris di Sumatera- RCMA kemudian oleh Seumadem Cultur Mij, deli Muda oleh Meulleries Deli dan lain-lain (Anonyim, 2010).

Pada masa Jepang banyak perkebunan kelapa sawit diganti dengan tanaman pangan dan pabrik-pabrik dihentikan. Setelah perang pada tahun 1947 kebun-kebun milik Belanda dan milik bangsa Asing tersebut dikembalikan kepemiliknya semula. Setelah Inventarisir hanya 47 saja yang dapat dibangun kembali. Beberapa kebun mengalami kehancuran total seperti Taba pingin dan Oud wessenar di sumatera Selatan, opsir di Sumatera barat,karang Inau di Aceh dan beberapa di Riau. Karena beberapa gangguan keamanan dan politik maka upaya merehabilitas oleh pemiliknya tidak banyak membawa keuntungan terbukti dari luas area yang bertambah. Pada

Universitas Sumatera Utara

tahun 1957 luas hanya 103.000 Ha saja dan produksi CPO hanya 16.000 ton. Produksi per Ha sangat rendah hanya 1,9 ton sedangkan sebelum perang telah mencapai 3 ton (Anonym, 2010).

2.2. Klasifikasi Kelapa Sawit Kelapa sawit (Elaeis Guinesis) adalah salah satu jenis tanaman palm yang menghasilkan salah satu kebutuhan pokok yang paling utama. Klasifikasi kelapa sawit adalah sebagai berikut : Ordo Family Sub-Family Genus Spesies : Palmales : Palmacea : Palminae : Alaeis : Alaeis guinensis Jack Tanaman kelapa sawit tumbuh tegak lurus dan dapat mencapai ketinggian 20 meter. Tanaman ini berkeping satu atau Monoecious , yang artinya bunga jantan bunga betina terdapat pada tandan bunga betina. Masing-masing tandan terletak terpisah dan keluar dari pangkal pelepah. Tanaman kelapa sawit dapat menyerbuk sendiri atau menyerbuk silang. Secara luas dikenal dua jenis tanaman sebagai basis pemograman untuk pemuliaan, yaitu :

1. Dura : Persentase mesocraps terhadap buah bervariasi 35 50 % dan dijumpai ada yang mencapai 60%. Tebal cangkang 2 8 mm, tidak mempunyai lingkar serabut sekelilingnya, biji relative besar, rendemen relatif rendah 17 18 %. Dura sangat baik digunakan sebagai induk betina.

Universitas Sumatera Utara

2. Pisifera : Dengan karakteristik tidak mempunyai cangkang. Sisa cangkang digantikan oleh lingkar serabut disekeliling inti. Karena tidak ada cangkang, persentase mesocrap terhadap buah sangat besar dan rendemen juga sangat besar. Pisifera juga disebut sebagian besar terabsorbsi pada awal perkembangannya.

Dari persilangan Dura dan Pisifera dihasilkan tipe ketiga yaitu Tenera. Tipe ini sangat banyak ditanam secara komersial di Perkebunan. Mempunyai karakteristik gabungan dari kedua induknya, tebal cangkangnya 0,5 4 mm, disekelilingnya ada lingkaran serabut. Rasio Mesocrap terhadap buah sangat tinggi 60 96 %, menghasilkan tandan yang relatif lebih banyak dibandingkan Dura, dengan rendemen 22 24 %. Berdasarkan Pengujian atau sortasi mutu TBS (tandan buah segar ), didasarkan pada standart fraksi tandan.

Tabel 2.1 Spesifikasi Fraksi TBS Fraksi Kematangan Buah Kelewat Matang/Afkir (FOO) Mentah (FO) Matang

Jumlah Bekas Brondolan Pertandan 0 1-9 10

Sumber: Dokument Intern PT.Perkebunan Nusantara IV (PERSERO), 2010

Kriteria memanen tandan kelapa sawit tergantung pada produksi akhir. Criteria yang lazim dipakai dalam kematangan tandan kelapa sawit untuk panen adalah jumlah brondolan yang lepas dari tandannya. Panen kelapa sawit didasarkan pada saat keadaan minyak mesocrap mencapai maksimum dan kandungan asam lemak bebas minimum yaitu pada saat buah mencapai tingkat kematangan (Anonyim, 2010).

Universitas Sumatera Utara

2.3. Sifat Fisik Dan Kimia Kelapa Sawit Sifat fisika dan kimia kelapa sawit meliputi warna, bau, bobot jenis, dan indeks bias. a. Minyak Sawit (CPO) Minyak sawit diperoleh dari lapisan serabut kulit buah kelapa sawit melalui proses pengolahan sawit. Pada suhu kamar kelapa sawit adalag minyak setengah padat (semi solid). Warna minyak sawit adalah merah jingga oleh adanya pengaruh warna karoten dalam jumlah minyak yang banyak. Minyak sawit memiliki bau yang khas dan sangat tahan terhadap proses oksidasi. Sifat ini disebabkab adanya Zat tecoferol. b. Minyak Inti Sawit (PKO) Minyak inti sawit (PKO) dihasilkan dari inti kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki rasa dan bau sangat kuat dan khas sekali. Nilai sifat fisika kimia minyak sawit (CPO) dan minyak inti (PKO) dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.2 Perbandingan Sifat Minyak Kelapa Sawit (CPO) Dan Minyak Inti (PKO) Sifat Minyak Sawit Minyak Inti sawit Bobot jenis pada suhu kamar 9,900 0 900-0,913 Indeks Bias 1,4565-1,44585 1,395-1,415 Bilangan Iodium 48-56 14-20Sumber: Ketaren S,Pengantar Teknologi Minyak dan lemak

Kriteria memanen tandan kelapa sawit tergantung pada produksi akhir. Kriteria yang lazim dipakai dalam kematangan tandan kelapa sawit untuk panen adalah jumlah brondolan yang lepas dari tandannya. Panen kelapa sawit didasarkan pada

Universitas Sumatera Utara

saat keadaan minyak mesocrap mencapai maksimum dan kandungan asam lemak bebas minimum yaitu pada saat buah mencapai tingkat kematangan (Ketaren, 1986)

2.4. Komposisi Minyak Kelapa Sawit Kelapa sawit mengandung sekitar 80% pericarp (lapisan serat daging) dan minyak 20% buah yang dilapisi kulit tipis, kadar minyak dan pericarp sekitar 34 40%. Minyak kelapa sawit adalah lemak semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap. Kandungan karoten dapat mencapai 1000 ppm atau lebih, tetapi dalam minyak dari jenis tenera kurang lebih 500-700 ppm. Kandungan tokoferol bervariasi dan dipengaruhi oleh penanganan selama produksi. Rata- rata komposisi asam lemak kelapa sawit dapat dilihat pada table dibawah ini. Bahan yang tidak dapat disabunkan jumlahnya sekitar 0,3%.

Tabel 2.3 Komposisi Asam Lemak Bebas Minyak Kelapa Sawit Dan Minyak Inti Kelapa Sawit No. Rumus molekul Asam Lemak Minyak Sawit Minyak Inti (%) Berat (%) Berat 1 C6H12O2 Kaproat 37 2 C8H16O2 Kaprilat 34 3 C12H24O2 Laurat 46 52 4 C14H28O2 Miristat 1,1 2,5 14 17 5 C16H32O2 Palmitat 40 46 6,5 9 6 C18H36O2 Stearat 3,6 4,7 1 2,5 7 C18H34O2 Oleat 39 45 13 15Sumber : Ketaren, S, Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak

Secara klasik, lipida digolongkan ke dalam :Yang dapat disabunkan akan menghasilkan sabun dan bahan-bahan lainnya. Lipida yang tidak dapat disabunkan termasuk lemak netral, lilin dan posfolipida yang terdapat pada tanaman dan hewan

Universitas Sumatera Utara

dan lipida yang tak dapat disabunkan termasuk terpen, steroid dan vitamin-vitamin yang larut dalam lemak Hanya sedikit asam lemak bebas terdapat secara alami. Asam lemak dijumpai pada lipida-lipida yang telah disebutkan terdahulu baik ikatan-ikatan ester maupun ikatan amida yang terbentuk didalam metabolisme lemak.

Asam lemak kebanyakan diperoleh melalui hidrolisis lemak yang : a. Merupakan asam monokarboksilat yang

mengandung grup karboksil yang dapat berionisasi dan non polar, berantai atom C lurus yang siklik. b. c. Umumnya terbentuk dari atom C yang genap Dapat jenuh atau tidak jenuh atau mengandung ikatan rangkap (Naibaho, 1998)

2.5 Penentuan Mutu Minyak Peningkatan mutu minyak adalah suatu daya pasar untuk lancarnya suatu produk. Untuk itu pemerinyah selalu menganjurkan agar perusahaan-perusahaan melakukan gugus kendali mutu.

Standarisasi mutu minyak ditentukan antara lain: 1. Bilangan Asam Bilangan asam adalah jumlah milligram alkali yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas (FFA) dari satu gram minyak atau lemak. 2. Kadar asam Lemak bebas

Universitas Sumatera Utara

Kadar asam lemak bebas (FFA) adalah banyaknya asam lemak bebas yang terdapat pada minyak. Asam lemak bebas terbentuk karena terjadinya proses hidrolisa minyak menjadi asam-asamnya. Asam lemak bebas merupakan salah satu indicator mutu minyak. 3. Bilangan Penyabunan Bilangan penyabunan adalah jumlah milligram alkali yang diperlukan untuk penyabunan satu milligram minyak atau lemak. Bilangan penyabunan menentukan kereaktifan logam logam alkali (Na, K, Ca, Mg) pada minyak atau lemak. 4. Bilangan Iodium Bilangan Iodium adalah jumlah gram iodium yang dapat diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. Dapat juga disebut sebagai derajat ketidakjenuhan minyak atau lemak. Minyak atau lemak yang mengandung asam lemak tidak jenuh yang terikat pada gliserida dan mampu menyerap sejumlah iodium yang diserap menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau ikatan jenuh. Ikatan rangkap yang terdapat pada gliserida dengan tingkat kejenuhan yang tinggi akan mengikat iodium dalam yang besar. 5. Bilangan Peroksida Bilangan peroksida adalah jumlah indeks bias lemak yang telah teroksidasi dinyatakan dalam milli equivalen. Bilangan peroksida menunjukkan derajat oksidasi sejauh minyak atau lemak tersebut mengalami oksidasi. 6. Penentuan kadar air Kadar air adalah banyak jumlah air yang terdapat pada minyak atau lemak . Air didalam minyak atau lemak hanya dalam jumlah kecil. Hal ini terjadi karena prose salami sewaktu pembuahan dan akibat perlakuan di pabrik serta sewaktu penimbunan.

Universitas Sumatera Utara

7. Penentuan kadar kotoran Kadar kotoran adalah banyaknya kotoran yang terlarut dalam minyak atau lemak. Kotoran yang terdapat dalam minyak adalah kotoran yang tidak dapat larut dalam n-heksan dan petroleum eter. 8. Cloud point Cloud point adalah tem

Recommended

View more >