kebenaran hakiki - mohamad nasir bin majid

Click here to load reader

Post on 17-Jul-2016

193 views

Category:

Documents

31 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • KATA PENGANTAR

    Segala pujian terkhusus bagi Allah s.w.t, Pencipta sekalian alam. Selawat dan salam ke atas junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w serta seluruh pejuang kebenaran sehingga akhir zaman.

    Manusia merupakan makhluk istimewa dicipta oleh Allah s.w.t namun, keistimewaan tersebut bergantung kepada realiti dirinya, kesadaran serta ketaatan terhadap apa yang diperintahkan oleh Penciptanya. Kemuliaan manusia sehingga dilantik menjadi khalifah dan diangkat menjadi rasul-rasul dan nabi-nabi adalah membuktikan tentang hakikat kejadian tersebut serta tanggungjawab yang bakal dipikul olehnya.

    Jabaran duniawi yang besar serta liputan kebenaran yang senantiasa tertutup oleh pandangan kebendaan, hawa nafsu dan dorongan jiwa yang rendah menyebabkan manusia senantiasa mencari jalan-jalan yang pelbagai. Ada yang mencoba mengarti hakikat kejadian alam dan keindahan; lalu ia tersungkur dengan keindahan alam yang tidak berpenghujung kepada Penciptanya. Ada yang mencari kedamaian dengan melalui pelbagai jalan yang difikir oleh akal, tanpa panduan Ilahi; lalu ia melalui jalan-jalan kesesatan dan berakhir dengan kefanaan dalam kesesatan. Benarlah wahyu Allah s.w.t dalam hadis Qudsi yang bermaksud: Betapa banyak angin yang bartiup mematikan lampu-lampu, Betapa banyak abid, musnah disebabkan rasa bangga dan ujub, Betapa banyaknya orang kaya, musnah karena kekayaannya, Betapa banyak orang fakir, musnah karena kefakirannya, Betapa banyak orang yang sehat, musnah karena kesehatannya, Betapa banyak orang alim, musnah karena ilmunya, Betapa banyak orang jahil, musnah karena kejahilannya

    Pencarian jalan yang benar mestilah lahir dari kesadaran yang benar kemudian melalui hanya lorong-lorong makrifah yang telah dirintis oleh Rasulullah s.a.w dan para sahabat. Pencarian ini bilamana telah melalui jalannya yang benar, bukan sekadar mampu mengutip mutiara keindahan makrifah, tetapi jauh di sebalik itu, ialah kemampuan untuk membawa dan membesarkan laluan tersebut, agar dengannya tidak akan membawa manusia ke jalan yang sesat, dan memandu manusia lain untuk melalui jalan tersebut.

    Sebagian manusia takut untuk melalui jalan-jalan yang masih kabur, agar ia selamat dari kesesatan; walaupun di saat yang sama ia berada dalam kegelapan. Terdapat pula kumpulan yang berhati-hati untuk menempuhi jalan-jalan ini. Tindakan ini ada kebaikannya, karena bilamana datang pertunjuk dan panduan maka ia akan menerangi jalan-jalan yang gelap tersebut, dan ia seharusnya menjalani jalan-jalan tersebut setakat yang ia yakin dengan kebenarannya. Hakikat ini dijelaskan oleh Allah s.w.t dengan firman-Nya yang bermaksud: Kilat itu pula hampir-hampir menyambar penglihatan mereka; setiap kali kilat itu menerangi mereka (dengan pancarannya) mereka berjalan dengan cahayanya, dan apabila gelap menyelubungi mereka, berhentilah mereka menunggu dengan kebingungan. Dan sekiranya Allah menghendaki, nescaya dihilangkan pendengaran dan penglihatan mereka; sesungguhnya Allah Maha berkuasa di atas segala sesuatu.

    Namun apa yang lebih membimbangkan ialah ketakutannya untuk mencari dan meneliti jalan-jalan kebenaran menyebabkan ia terus berhenti di atas kesesatan yang berpanjangan. Firman Allah s.w.t yang bermaksud:

  • Mereka (seolah-olah) orang yang pekak, bisu dan buta. Dengan keadaan itu mereka tidak akan dapat kembali kepada kebenaran.

    Hakikat kebenaran bukanlah jalan yang sukar, karena laluannya dipenuhi dengan lampu pertunjuk yang senantiasa menerangi manusia. Hanya keinginan untuk menempuhi jalan-jalan tersebut serta kejahilannya menyebabkan ia menyangka jalan-jalan kenabian dan kerasulan, dengan berpegang kepada Islam, akan menyebabkan mereka tidak lagi dapat menikmati keindahan duniawi, lalu kehidupannya akan malap dan tidak bersinar (ceria). Bisikan kebatilan ini terus menghantui jiwa manusia, lantaran itulah jalan-jalan kebenaran walaupun telah diterangi dengan panduan cahaya pertunjuk Ilahi, masih tidak mendapat tempat yang sewajarnya.

    Kita tidak seharusnya menafikan juga kebimbangan ini disebabkan oleh sejarah lampau yang menakutkan manusia untuk melalui jalan-jalan tarekat dan tasauf, yang terlalu banyak didorongi oleh nilai-nilai mistik yang mengelirukan, bercampur dengan penyelewengan dan kekeliruan yang dibina di atas nama tarekat dan tasauf; tambahan pula perkembangan ideologi rasionalisma yang menguasai dunia kini yang disertakan dengan budaya lojik yang terpahat dalam minda manusia kini, menyebabkan jalan-jalan ini tidak mendapat kedudukan yang sepatutnya. Lantaran itu, keindahan syariat Islam hanyalah serpihan yang berkecai dalam setiap sudut. Ia umpama permata yang tiada sinar atau bunga yang telah hilang madunya, maka jadilah manusia kini sebagai manusia yang telah hilang kemanusiaannya.

    Buku Kebenaran Hakiki tulisan saudara Mohamad Nasir diharapkan menjadi pembuka minat kepada umat Islam untuk mengetahui kebenaran dan mendekatkan diri kepada Allah s.w.t. Dengan menggunakan pendekatan yang mudah serta persembahan yang menarik, maka diharapkan pembaca akan lebih dekat memahami beberapa persoalan yang berlaku dalam sejarah umat Islam; di samping panduan dalam kehidupannya. Pendekatan yang beliau gunakan dalam penulisan ini bukanlah sesuatu yang asing atau baru; hanya masing-masing penulis mengolah dengan gayanya tersendiri dan beliau adalah sebagian dari umat Islam yang memikirkan sesuatu sumbangan yang bisa diberikan kepada perjuangan dan kemurniaan aqidah Islam.

    Meneliti nukilan saudara Nasir, maka saya mempunyai anggapan besar ia akan menjadi suatu hasil penulisan yang mencoba menjelaskan hakikat jalan-jalan yang indah, yang mencoba dikongsikan bersama pembaca yang lain. Walaupun hakikat keindahan sesuatu tidak akan sama antara yang melalui dan merasainya dengan segolongan yang hanya mengetahui melalui pembacaan atau mendengar dari seseorang yang menempuhi jalan-jalan tersebut, Keenakan sebiji buah hanya dapat dihayati oleh yang memakannya, namun diharapkan ianya menjadi pendorong yang kuat kepada semua pembaca untuk meneruskan penelitian dan pengamatan terhadap jalan-jalan kebenaran yang murni ini, agar seluruh keindahan Islam dapat dihayati dalam artikata sebenar, zahir dan batin.

    Saya mengakui pengamatan yang singkat yang saya lakukan mungkin mempunyai banyak kelemahan, namun dengan rendah diri saya memohon tunjukajar dan pandangan baik semua pembaca. Penulisan ini diharapkan menjadi dorongan kepada penulis untuk terus berkecimpung memberikan sumbangan untuk kemajuan dan meningkatkan lagi khazanah ilmuan Islam.

    Semoga diberkati Allah s.w.t.

    Akhukum fil Islam

    Dato Haji Tuan Ibrahim bin Tuan Man Pensyarah Kanan ITM Cawangan Pahang 20 April 1999.

  • MUKADIMAH

    Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Penyayang. Segala puji-pujian bagi Allah, Pemelihara sekalian alam. Selawat disertai salam ke atas yang paling mulia di antara Rasul-rasul, Muhammad Rasul yang Amin, dan atas sekalian keluarga dan sahabat-sahabat baginda s.a.w.

    Segala puja dan puji sekaliannya hanya untuk Allah s.w.t, Tuhan Yang Maha Agung, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Perkasa, Maha Mulia dan Maha Sempurna. Kami panjatkan syukur atas segala rahmat, nikmat, taufik, hidayat dan segala kurniaan-Mu yang tidak pernah putus sejak zaman azali hinggalah kepada zaman abadi. Walau bagaimanapun suci puji-pujian kami terhadap diri-Mu namun, Engkau meninggi dan melampaui apa yang kami ucapkan, rasakan dan apa yang terlintas dalam fikiran dan penghayatan kami. Sesungguhnya Engkau adalah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, Maha Berdiri Dengan Sendiri, Pencipta sekalian makhluk. Walau bagaimana luas sekalipun kesyukuran kami namun, ia hanyalah sezarah di dalam ruang kurniaan-Mu. Kami sandarkan puji dan puja kami terhadap-Mu kepada puji dan puja-Mu terhadap diri-Mu sendiri agar apabila Engkau Memuji diri-Mu Engkau mengingati pujian kami terhadap diri-Mu. Kami sandarkan kesyukuran kami kepada rahmaniat-Mu agar apabila Engkau meratai segala kurniaan-Mu dengan rahmaniat-Mu, Engkau mengingati kami yang bersyukur terhadap segala kurniaan-Mu. Sebesar-besar kurniaan-Mu kepada kami adalah Engkau utuskan kepada kami kekasih-Mu, Nabi Muhammad s.a.w. Selawat dan salam buat Rasul junjungan, juga buat keluarga dan sahabat-sahabat baginda s.a.w yang telah menjualkan jiwa dan harta mereka kepada Allah s.w.t demi ketaatan dan kecintaan mereka kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya serta berjihad pada jalan-Nya.

    Wahai Tuhan kami! Dengan taufik dan hidayat-Mu yang maha luas, dapatlah kami menyudahkan penulisan kitab Kebenaran Hakiki ini selepas lebih daripada tujuh tahun memulaikannya. Tempuh tujuh tahun lebih itu kami rasakan separti baru kelmarin karena setiap saat yang kami gunakan dalam urusan-Mu Engkau payungi kami dengan rahmat-Mu. Tidak ada pekerjaan yang sukar dan berat apabila ia dilakukan demi mematuhi perintah dan kehendak-Mu.

    Ya Tuhan! Kami sujud ke Hadrat-Mu dan kami mengaku bahwa sesungguhnya Engkau adalah Tuhan dan kami adalah hamba-Mu. Apa juga yang kami perolehi daripada nikmat ilmu, nikmat zahiriah dan nikmat batiniah semuanya adalah kurniaan-Mu. Segala kebaikan yang Engkau kurniakan kepada kami, kami kembalikan kepada-Mu. Segala keburukan dan kecacatan yang keluar daripada kami adalah karena kegelapan hati kami. Kami memohon keampunan dan kemaafan-Mu. Ampunkanlah juga dosa ibu-bapa kami dan kasihanilah mereka sebagaimana mereka menjaga kami dengan penuh kasih sayang, wahai Tuhan Yang Ghafur.

    Kami memulaikan perjalanan kami sebagai orang yang tidak mengetahui apa-apa tentang tarekat, hakikat, makrifat, Sir dan lain-lain yang biasa diperkatakan oleh orang-orang tasauf. Penggerak kami adalah pembukaan daripada Allah s.w.t Yang Maha Mengasihani. Ketika kami sedang hanyut di dalam kelalaian arus angan-angan, Dia dengan Kasihan Belas-Nya membawa kami menghadap kepada-Nya. Apa yang telah dibukakan kepada kami walaupun d