kata turunan kata ulang dan gabungan kata

Download Kata turunan kata ulang dan gabungan kata

Post on 21-Jun-2015

16.064 views

Category:

Education

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

@STMI Industrial Management College of Indonesia

TRANSCRIPT

  • 1. By :

2. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasar. Contoh: Bergeletar Dikelola Membeli Melompat Berlari Dan masih banyak lagi 3. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: Bertepuk tangan Garis bawahi Menganak sungai Lipat gandakan Sangkut pautkan 4. Jika kata dasar berbentuk gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan ditulis serangkai. Tanda hubung boleh digunakan untuk memperjelas. Contoh: Menggarisbawahi dilipatgandakan. Menganakemaskan Memberitahukan Menyamaratakan 5. Jika salah satu unsur gabungan hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai. Contoh: Antarkota mancanegara. Mahasiswa Ekstrakurikuler Pancasila Biokimia 6. Jika kata dasar huruf awalnya adalah huruf kapital,diselipkan tanda hubung. Contoh: non-Indonesia 7. a) Reduplikasi atas suku kata awal, atau di sebut juga dwipurwa. Dalam bentuk perulangan ini vokal dari suku kata awal mengalami pelemahan dan bergeser ke posisi tengah menjadi e. Contoh: tatangga > tetanggaluluhur > leluhurluluasa > leluasa 8. b) Reduplikasi atas seluruh bentuk dasar.Ulangan ini di sebut ulangan utuh. Ulanganutuh ada dua macam, yaitu ulangan atasbentuk dasar yang berupa kata dasar ataudisebut juga dwilingga, dan ulangan atasbentuk dasar berupa kata jadian berimbuhan.Contoh: rumah > rumah-rumah kejadian > kejadian-kejadian anak > anak-anak pencuri > pencuri-pencuri 9. c) Reduplikasi yang juga terjadi atas seluruhsuku kata, namun pada salah satu lingganyaterjadi perubahan suara pada suatu fonematau lebih. Perulangan macam inidisebut dwilingga salin suara. Contoh: gerak-gerak > gerak-geriksayur-sayur > sayur-mayur 10. d) Reduplikasi dengan mendapat imbuhan, baikpada lingga pertama maupun pada linggakedua. Ulangan macam ini disebut ulanganberimbuhan. Contoh: bermain-mainberkejar-kejaranmelihat-lihattarik-menarik. 11. Kata ulang berfungsi sebagai alat untuk membentuk jenis kata, dan dapat dikatakan bahwa perulangan sebuah kata akan menurunkan jenis kata yang sama seperti bila kata itu tidak diulang. 12. a. Mengandung arti banyak yang tak tentu. Contoh:Ayah membelikan saya sepuluh buah buku(banyak tentu)Buku-buku itu telah kusimpan dalam lemari(banyak tak tentu) 13. b. Mengandung arti bermacam-macam.Contoh: pohon-pohonan buah-buahan 14. c. Menyerupai atau tiruan dari sesuatu.Contoh:kuda-kudaan anak-anakan langit-langit 15. d. Melemahkan arti, dalam hal ini dapatdiartikan dengan agak.Contoh:Sifatnya kekanak-kanakan. Ia berlaku kebarat-baratan. Orang itu sakit-sakitan. 16. e. Menyatakan intensitas, baik kualitas, kuantitas, maupun frekuensi. i) Intensitas kualitatif: Pukullah kuat-kuat. Belajarlah segiat-giatnya. ii) Intensitas kuantitatif: kuda-kuda rumah-rumah. iii) Intensitas frekuentatif: Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mondar-mandir sejak tadi. 17. f. Menyatakan arti saling, atau pekerjaan yang berbalasan. Contoh: Keduanya bersalam-salaman. Dalam perkelahian itu terjadi tikam- menikam antara kedua orang tersebut. 18. g. Perulangan pada kata bilangan mengandungarti kolektif. Contoh: dua-dua tiga-tiga lima-lima 19. Ada beberapa kata yang selintas tampaknyaseolah-olah merupakan kata ulang seperti ubur-ubur dan kupu-kupu. Kata-kata kupu-kupu danubur-ubur keseluruhannya merupakan katadasar, bukan kata ulang. Dalam pemakaiansehari-hari dalam bahasa Indonesia tidakterdapat bentuk seperti ubur dan kupu. contoh lainnya : Laba-laba Undur-undur 20. Perhatikan kalau gabungan kata itu mendapatkanimbuhan! Apabila gabungan kata itu mendapatkanawalan atau akhiran saja, awalan atauakhiran itu harus dirangkai dengan kata yangdekat dengannya. kata lainnya tetap ditulisterpisah dan tidak diberi tanda hubung.Contoh:berterima kasih bertanda tangan tanda tangani 21. Apabila gabungan kata itu mendapatkanawalan dan akhiran, penulisan gabungankata harus serangkai dan tidak diberi tandahubung.Contoh:menandatanganipertanggungjawabanmengkambinghitamkan 22. Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata.Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yangsudah dianggap padu benar. Arti gabungan kata itutidak dapat dikembalikan kepada arti kata-kata itu.Contoh: sukarela kepada segitiga padahal matahari barangkali 23. Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdirisendiri sebagai satu kata yang mengandung arti penuh, unsuritu hanya muncul dalam kombinasinya.Contoh: tunanetratunawismanarasumberdwiwarnaperilakupascasarjanaKata tuna berarti tidak punya, tetapi jika ada yang bertanya, Kamupunya uang? kita tidak akan menjawabnya dengan tuna. Begitujuga dengan kata dwi, yang berarti dua, kita tidak akan berkata,saya punya dwi adik laki-laki. Karena itulah gabungan kata iniharus ditulis dirangkai. 24. Perhatikan gabungan kata berikut! 1. Jika unsur terikat itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur itu diberi tanda hubung. Contoh: non-Indonesia SIM-ku KTP-mu2. Unsur maha dan peri ditulis serangkai dengan unsur yang berikutnya, yangberupa kata dasar. Namun dipisah penulisannya jika dirangkai dengan kataberimbuhan. Contoh: MahabijaksanaMahatahuMahabesarMaha PengasihMaha Pemurahperi keadilanperi kemanusiaan Tetapi, khusus kata ESA, walaupun berupa kata dasar, gabungan kata mahadan esa ditulis terpisah => Maha Esa.