ikatan peneliti lingkungan binaan indonesia · pdf fileperkembangan kawasan cakranegara-lombok...

Click here to load reader

Post on 11-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol.2 No.2 Juli 2013 | 18

Perkembangan Kawasan Cakranegara-Lombok

Adhiya Harisanti F. (1), Antariksa (2), Turniningtyas Ayu R. (3)

(1)Mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Minat Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. (2)Dosen Program Magister Arsitektur Lingkungan Binaan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya. (3)Dosen Program Magister Teknik Sipil, Minat Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya.

Abstrak Kawasan Cakranegara merupakan salah satu kawasan bersejarah di Kota Mataram. Kawasan Cakranegara dibangun pada pertengahan abad ke-17 dan diperuntukkan sebagai pusat penyebaran agama Hindu, serta permukiman bagi masyarakat Hindu-Bali yang datang selama pemerintahan Kerajaan Karangasem. Seiring dengan perkembangan zaman, Kawasan Cakranegara dikembangkan sebagai pusat perdagangan dan jasa terbesar di Kota Mataram. Fungsi perumahan mulai berkurang dan menjadi fungsi komersial. Tujuan dari studi adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kawasan Cakranegara dan bentuk perkembangannya dari masa ke masa. Metode yang digunakan adalah analisis faktor dan analisis sinkronik-diakronik. Hasil studi, diketahui bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi perkembangan Kawasan Cakranegara. Perkembangan terbesar mulai terjadi sejak tahun 1970 sampai sekarang. Terjadi perubahan besar terhadap bangunan dan lingkungan yang dipengaruhi oleh faktor kearifan lokal, faktor sosial budaya masyarakat, dan faktor perkembangan zaman. Kata-kunci: Cakranegara, kawasan bersejarah, perkembangan kawasan. Pendahuluan

Kawasan Cakranegara dibangun pada per-tengahan abad ke-18, merupakan kota yang dirancang berdasarkan mitologi Hindu-Bali dan jarang dijumpai di Indonesia, bahkan di Pulau Bali sekalipun. Kawasan Cakranegara merupa-kan kota koloni dari Kerajaan Karangasem Bali. Pura Meru terletak di tengah kota, Pura Dalem (pura bagi orang yang meninggal) terletak di pojok sebelah Barat, dan Pura Puseh di pojok sebelah Timur. Susunan tersebut juga berlaku di Kawasam Gianyar, Karang Asem, dan Klungkung di Bali (Funo dalam Handinoto, 2010:313). Formasi Pura Meru terletak di pusat, serta pasar yang ada di luar tembok keliling istananya sama dengan pola kota-kota Jawa pada zaman Mataram I (Handinoto, 2010:313).

Kawasan Cakranegara sebagai sebuah ling-

kungan kota tua dan bersejarah memiliki bentuk tata ruang yang sangat spesifik, serta sosial budaya unik. Menurut Fuji Funo dalam Mulyadi (2009), Cakranegara adalah sebuah kota berpola grid teratur yang terbentuk oleh blok-blok pemukiman. Sementara menurut Suardana dalam Mulyadi (2009) menyatakan bahwa Cakranegara merupakan kota dengan seribu perempatan jalan.

Berdasarkan Perda Kota Mataram No. 12 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Mataram, Kawasan Cakranegara diarahkan menjadi kawasan perdagangan dan jasa berskala nasional dan internasional. Dari segi sejarah dan perkembangan pariwisata, Kawasan Cakranegara menjadi salah satu bagian dari sejarah terbentuknya Kota Mataram dan menjadi tujuan wisata budaya. Beberapa bangunan kuno khas Bali yang masih bertahan, yaitu Pura Meru dan Taman

Perkembangan Permukiman Tradisional Bali Cakranegara-Lombok

19 | Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol.2 No.2 Juli 2013

Mayura, mulai dilestarikan dan dijadikan sebagai benda cagar budaya oleh pemerintah daerah. Selain itu Kawasan Cakranegara (Pura Meru Taman Mayura Pura Dalem) sampai saat ini masih dimanfaatkan sebagai tempat pelaksanaan kegiatan keagamaan oleh seluruh masyarakat Hindu, terutama di Kota Mataram.

Berdasarkan permasalahan yang telah disebut-kan, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kawasan Cakranegara dan bentuk perkembangannya dari masa ke masa.

Metode

Metode yang digunakan adalah kuantitatif-kualitatif (mixed-method). Metode kuantitatif digunakan untuk memperoleh faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan Kawasan Cakranegara. Metode kualitatif digunakan untuk mengetahui bentuk perkembangan Kawasan Cakranegara berdasarkan sejarah pada awal terbentuknya permukiman dan perkembangannya sampai sekarang.

Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah sebagai berikut.

1. Survei primer

Wawancara: digunakan untuk memper-oleh sejarah terbentuknya Kawasan Cakranegara serta perkembangannya sampai sekarang. Narasumber adalah tokoh masyarakat di Kawasan Cakra-negara.

Kuisioner: digunakan untuk memperoleh pendapat masyarakat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perkem-bangan Kawasan Cakranegara. Bentuk kuisioner yang digunakan adalah kui-sioner faktor dengan 17 variabel dan lima pilihan dalam skala likert (sangat tidak setuju, tidak setuju, ragu-ragu, setuju, sangat setuju). Hasil kuisioner faktor

akan digunakan pada tahapan analisis faktor.

Penentuan jumlah responden adalah masyarakat yang bertempat tinggal di Kawasan Cakranegara dalam bentuk kepala keluarga (KK). Wilayah penelitian meliputi enam kelurahan di Kecamatan Cakranegara, yaitu Kelurahan Cakra-negara Barat, Kelurahan Cakranegara Timur, Kelurahan Cakranegara Selatan, Kelurahan Mayura, Kelurahan Cilinaya, dan Kelurahan Sapta Marga. Jumlah populasi tahun 2012 adalah 2.348 kepala keluarga. Pengambilan sampel responden menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh 100 responden.

2. Survei sekunder

Berupa studi literatur untuk memperoleh terbentuknya Kawasan Cakranegara serta perkembangannya sampai sekarang.

Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut.

1. Analisis faktor

Analisis faktor dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkem-bangan pada Kawasan Cakranegara. Data untuk analisis faktor diperoleh dengan menyebarkan kuisioner faktor kepada 100 kepala keluarga. Data yang diperoleh akan diuji validitas dan reliabilitas data; KMO MSA; ekstraksi faktor; dan sampai dihasilkan kelompok-kelompok variabel faktor.

2. Analisis sinkronik-diakronik

Menurut Suprijanto dalam Hardiyanti (2005), sinkronik dan diakronik umumnya digunakan dalam morfologi (dalam arsitektur dan kota) sebagai metode ana-lisis. Pada morfologi atau perkembangan, aspek diakronik digunakan untuk mengkaji

Adhiya Harisanti F. 1

Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol.2 No.2 Juli 2013 | 20

satu aspek yang menjadi bagian dari satu objek, fenomena atau ide dari waktu ke waktu, sedangkan aspek sinkronik digunakan untuk mengkaji keterkaitan antar aspek dalam kurun waktu tertentu. Dari hasil analisis faktor akan teridentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkem-bangan kawasan Kawasan Cakranegara dan selanjutnya menjadi aspek-aspek yang digunakan dalam analisis sinkronik-dia-kronik untuk melihat perkembangan Kawa-san Cakranegara secara fisik.

Analisis dan Interpretasi

1. Sejarah perkembangan Kawasan Cakra-negara

Terbentuknya Kawasan Cakranegara memiliki sejarah yang panjang dan bersumber dari beberapa versi. Menurut Mulyadi (2009), dalam sejarah perkembangan Pulau Lombok khususnya Kota Mataram, pengaruh Hindu-Bali baru muncul pada tahun 1700-an. Pengaruh Hindu-Bali di Pulau Lombok paling banyak berada di kawasan Kota Mataram, dimana sampai sekarang terdapat beberapa permu-kiman Hindu-Bali. Semasa pemerintahan Kerajaan Karangasem di Pulau Lombok, mun-cul beberapa kerajaan-kerajaan kecil Hindu-Bali, seperti Kerajaan Pagesangan, Kerajaan Pagutan, Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Mataram. Kerajaan Mataram merupakan kera-jaan yang paling besar pengaruhnya dan juga perkembangannya paling pesat dibandingkan kerajaan kecil lainnya di Pulau Lombok.

Berdasarkan sejarah menyebutkan bahwa sebelum Kerajaan Mataram menjadi kerajaan paling besar dan kuat di Pulau Lombok, Cakra-negara telah dibangun sebagai sebuah permukiman dan pusat perkembangan Hindu-Bali yang bernama Karangasem Singasari. Permukiman terbentuk bersamaan dengan kedatangan Raja Karangasem dengan para pengikutnya, dan membangun permukiman yang berbentuk kotak-kotak atau pola grid yang disebut karang (Gambar 1). Penamaan karang-karang disesuaikan dengan nama daerah asli mereka di Pulau Bali, seperti

Karang Blumbang, Karang Bengkel, Karang Jasi, Karang Sampalan, dan lain sebagainya. Penamaan karang tersebut dimaksudkan karena rajanya yang berasal dari daerah Karang Asem Bali, sehingga tidak melupakan asal usul masyarakat asli yang tinggal di Kawasan Cakranegara. Puri atau istana raja (Puri Ukir Kawi) di Kawasan Cakranegara dibangun tidak lama setelah pembangunan Pura Meru. Selain itu juga dibangun sebuah pasar istana serta sebuah makam atau Pura Dalem di bagian barat Kawasan Cakranegara (sekarang Pura Dalem Karang Jangkong). Pembangunan Puri Ukir Kawi dan pasar istana, serta Pura Dalem dilakukan sekitar tahun 1740-an. Pada tahun 1744 dibangun sebuah taman yang memiliki kolam yang indah (sekarang bernama Taman Mayura).

Gambar 1. Pola permukiman Cakranegara tahun 1995. Sumber: Funo dalam Handinoto (2010).

Menurut Zakaria (1998), pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram, Kawasan Cakranegara diarahkan untuk menjadi pusat pemerintahan negeri. Oleh karena itu, di Cakranegara dibangun istana raja yang baru, lebih luas dan lebih indah, yaitu istana atau Puri Ukir Kawi, pada tahun 1744, bersamaan

Perkembangan Permukiman Tradisional Bali Cakranegara-Lombok

21 | Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol.2 No.2 Juli 2013

dengan Taman Mayura. Pura Meru dibangun lebih dahulu sekitar tahun 1720. Pem-bangunan Pura Meru bertujuan untuk menjaga persatuan dan kesatuan di antara penguasa di masing-masing kerajaan kecil yang masih mempunyai hubunga

View more