huruf jawi

36
Huruf Jawi ( لاي م اس ه ب) (Bahasa Arab : وي جJăwi) (atau Yawi di daerah Patani ) adalah abjad arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu . Abjad ini digunakan sebagai salah satu dari tulisan resmi di Brunei , dan juga di Malaysia , Indonesia , Filipina selatan, Patani di Thailand selatan dan Singapura untuk keperluan religius. Sejarah Kemunculannya berkait secara langsung dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa hurufuntuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/). Bukti terawal tulisan Jawi ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tarikh ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka). Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M. Abjad Jawi adalah salah satu dari abjad pertama yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu, dan digunakan sejak zaman Kerajaan Pasai , sampai zaman Kesultanan Malaka , Kesultanan Johor , dan juga Kesultanan Aceh serta Kesultanan Patani pada abad ke-17 . Bukti dari penggunaan ini ditemukan di Batu Bersurat Terengganu , bertarikh 1303 Masehi ( atau 702H pada Kalendar Islam ). Penggunaan alfabet Romawi pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-19 . Abjad jawi merupakan tulisan resmi dari Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada zaman kolonialisme Britania .

Upload: yahya-muhaimin-elcidamy

Post on 28-Oct-2015

382 views

Category:

Documents


8 download

DESCRIPTION

huruf jawi di indonesia

TRANSCRIPT

Page 1: Huruf Jawi

Huruf Jawi ( مالي :Bahasa Arab) (بهاس Jăwi) (atau Yawi di daerah Patani) adalah abjad جوي arab yang diubah untuk menuliskan Bahasa Melayu. Abjad ini digunakan sebagai salah satu dari tulisan resmi di Brunei, dan juga di Malaysia, Indonesia, Filipina selatan, Patani di Thailand selatan dan Singapura untuk keperluan religius.

Sejarah

Kemunculannya berkait secara langsung dengan kedatangan agama Islam ke Nusantara. Abjad ini didasarkan pada abjad arab dan digunakan untuk menuliskan ucapan Melayu. Dengan demikian, tidak terhindarkan adanya tambahan atau modifikasi beberapa hurufuntuk mengakomodasi bunyi yang tidak ada dalam bahasa Arab (misalnya ucapan /o/, /p/, atau /ŋ/).

Bukti terawal tulisan Jawi ini berada di Malaysia dengan adanya Prasasti Terengganu yang bertarikh 702 Hijriah atau abad ke-14 Masehi (Tarikh ini agak problematis sebab bilangan tahun ini ditulis, tidak dengan angka). Di sini hanya bisa terbaca tujuh ratus dua: 702H. Tetapi kata dua ini bisa diikuti dengan kata lain: (20 sampai 29) atau -lapan -> dualapan -> "delapan". Kata ini bisa pula diikuti dengan kata "sembilan". Dengan ini kemungkinan tarikh ini menjadi banyak: (702, 720 - 729, atau 780 - 789 H). Tetapi karena prasasti ini juga menyebut bahwa tahun ini adalah "Tahun Kepiting" maka hanya ada dua kemungkinan yang tersisa: yaitu tahun 1326M atau 1386M.

Abjad Jawi adalah salah satu dari abjad pertama yang digunakan untuk menulis bahasa Melayu, dan digunakan sejak zaman Kerajaan Pasai, sampai zaman Kesultanan Malaka, Kesultanan Johor, dan juga Kesultanan Aceh serta Kesultanan Patani pada abad ke-17. Bukti dari penggunaan ini ditemukan di Batu Bersurat Terengganu, bertarikh 1303 Masehi ( atau 702H pada Kalendar Islam). Penggunaan alfabet Romawi pertama kali ditemukan pada akhir abad ke-19. Abjad jawi merupakan tulisan resmi dari Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada zaman kolonialisme Britania.

Zaman dahulu, abjad jawi memainkan peranan penting dalam masyarakat. Abjad ini digunakan sebagai media perantara dalam semua urusan tata usaha, adat istiadat, dan perdagangan. Sebagai contoh, huruf ini digunakan juga dalam perjanjian-perjanjian penting antara pihak raja Melayu dengan pihak Portugis, Belanda, atau Inggeris. Selain itu, pernyataan kemerdekaan 1957 bagi negara Malaysia sebagian juga tertulis dalam aksara jawi.

Sekarang abjad ini digunakan untuk urusan kerohanian dan tata usaha budaya Melayu di Terengganu, Kelantan, Kedah, Perlis, dan Johor. Orang-orang Melayu di Patani masih menggunakan abjad Jawi sampai saat ini.

ARAB MELAYU, Pemunculan Tulisan, Sistem dan Istilah   Jawi

1 04 2009

Oleh: SPN Drs Ahmad Darmawi MAg

Page 2: Huruf Jawi

KESEPAKATAN yang tiada terbantah bahwa aksara Arab Melayu (Jawi) berasal dari huruf/skrip Arab dengan beberapa penyesuaian dan tambahan huruf : c, g, ng, ny dan p (huruf fa titik tiga di atas) kemudian Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia melalui Pedoman Ejaan Jawi Yang Disempurnakan terbitan tahun 1986, menambahkan huruf waw titik satu di atas untuk padanan huruf v. Kesemuanya huruf ini merupakan huruf khas Arab Melayu.

Untuk melengkapi dan menyempurnakan serta mengefektifkan penggunaan huruf dalam transliterasi dari huruf Rumi (Latin) kepada tulisan Arab Melayu, penulis menawarkan padanan huruf x dengan huruf kaf (ditambah dengan titik tiga di bawah), karena selama ini, huruf x ditulis dalam Arab Melayu dengan menggunakan dua huruf, yaitu gabungan huruf kaf dengan huruf sin. Pengefektifan dari gabungan dua huruf menjadi satu huruf saja untuk huruf x, setara dengan asal muasal huruf c yang dalam tulisan/skrip Arab ditulis dengan menggabungkan dua huruf, yaitu huruf ta dan syin. Begitu juga huruf ng yang berasal dari gabungan huruf nun dan jim.

Tentang perkembangan system tulisan Arab Melayu (Jawi) di Nusantara, cukup banyak peneliti Barat yang telah melakukan kajian dan penyelidikan disebabkan oleh kepentingan tugas yang berkaitan dengan keperluan pemerintahan (colonial penjajah), perniagaan dan Kristenisasi maupun karena murni untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Shellabear menulis artikel tentang perkembangan ejaan Arab Melayu (Jawi) pada tahun 1901, ia menyebut dan mengulas beberapa pengkaji Barat yang telah menyelidiki bahasa Melayu termasuk ejaan dan tulisannya, antara lain: van Ronkel, van Elbinck, Robinson, Gerth v. Wijk, Erdnly, van der Waal, Cohen Stuart, de Hollander, van der Tuuk, Pijnappel, Klinkert dan Wilkinson.

Shellabear telah menyuarakan rasa kagumnya terhadap hakikat adanya keseragaman dalam tulisan dan ejaan Arab Melayu yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip sebelum kurun abad ke tujuh belas Masehi yang ditulis di seluruh pelosok Kepulauan Melayu.

Shellabear memberi alas an keseragaman tersebut disebabkan karena kemahiran tulis menulis pada masa itu hanya dikuasai oleh beberapa orang juru tulis yang tentu sekali telah terlatih dalam hal kaidah penulisan sehingga dapat terjaga keseragamannya. Kenyataan ini diperkuat oleh fakta bahwa teks-teks pada masa itu kebanyakanya terdiri dari dokumen-dokumen resmi agama dan kerajaan, yang tentu sekali hanya ditulis oleh kelompok terpelajar saja.

Lebih lanjut Shellabear menyatakan kekagumanya, bahwa orang Melayu menerima system tulisan dan bacaan Arab Melayu ini secara langsung dari orang Arab, dan orang Arablah yang mula-mula menggunakan sistem tulisan Arab untuk menulis bahasa Melayu yang seterusnya dikenal dengan nama Aksara/Tulisan Arab Melayu atau Jawi.

Pada tahun 1812 (sekitar 100 tahun sebelum kajian Shellabear), Marsden telah memperkatakan keberadaan aksara Arab Melayu dalam bukunya A Grammar of the Malayan Language. R.O. Winstedt (1913) juga mengulas tentang system ejaan Arab Melayu dalam bukunya Malay Grammar. Sedangkan di kalangan orang Melayu, Raja Ali Haji diakui sebagai tokoh yang mula-mula sekali memperkatakan system ejaan Arab Melayu seperti yang tercatat dalam bukunya Bustan al-Katibin, diteruskan oleh Muhammad Ibrahim (anak Abdullah Munsyi).

Page 3: Huruf Jawi

Sedangkan tokoh Melayu pertama yang benar-benar menganalisis system ejaan Arab Melayu dari segi prinsip dan segala permasalahannya adalah Zainal Abidin bin Ahmad (Za’ba) dengan karyanya Jawi Spelling dan buku Daftar Ejaan Melayu Jawi-Rumi. Tokoh lainnya adalah Raja Haji Muhammad Tahir bin Al-Marhum Mursyid Riau dalam bukunya Rencana Melayu.

Skrip Arab yang diadaptasi oleh bahasa Melayu untuk pengejaannya seperti yang berkembang selama ini, selain disebut dengan nama Arab Melayu, juga dikenal dengan istilah Jawi (Jawo menurut istilah Atjeh ; Pegon = dalam istilah Jawa).

Tidak diketahui siapa orang yang memperkenalkan istilah Jawi. Kata Jawi dalam bahasa Melayu (Malaysia) merupakan nama sejenis tetumbuhan, yaitu Pokok Jawi-jawi atau Jejawi dan pada penamaan jenis beras yaitu Beras Jawi (beras yang berbeda dengan beras pulut). Kata Jawi juga dikebal dalam bahasa Minang/Kampar untuk menyebut kerbau. Kesemua istilah ini tidak ada hubungan dan kaitannya dengan penamaan Aksara Jawi. Begitu juga jika dikatan bahwa Jawi merupakan perkataan Arab dari kelas kata ajektif terbitan dari kata (nama) Jawa, dengan maksud (tulisan) yang berkait dengan suku/orang/pulau Jawa.Hal ini tidak logis, karena Aksara Jawi sudah wujud dan digunakan di wilayah Sumatra dan Semenanjung Malaya jauh sebelum orang/pulau Jawa memeluk agama Islam (883 H/1468 M).

Omar Awang, menegaskan kemungkinan perkataan Jawi berasal dari perkataan Arab al-Jawwah untuk menamakan pulau Sumatra (seperti nama lainnya menurut versi Arab adalah: Yaqut dalam Mu’jan al-Buldan; Abu al-Fida’ dalam Taqwim al-Buldan dan Rihlat Ibn Batutah) yang pernah digunakan dalam catatan (bertulisan Arab) sebelum pertengahan abad ke 14 M. Fakta ini menunjukkan satu kemungkinan yang kuat bahwa istilah Jawi berasal dari orang Arab untuk merujuk skrip ejaan yang digunakan oleh orang Sumatra (penduduk al-Jawwah) yang beragama Islam dan menggunakan bahasa Melayu.

W. Marsden dan G.H. Erndly mengutip pendapat Marco Polo yang mengatakan bahwa perkataan Jawa/Jawi merupakan nama lain pulau Sumatra pada zaman dulu (ketika penduduk pulau ini telah memeluk agama Islam). Marsden menyebutkan keterangan yang dibuat oleh Raffles, perkataan Jawi bagi orang Melayu bermakna kacukan (mixed or crossed), seperti dalam ungkapan: anak Jawi bermakna anak kacukan (bapak Keling dengan ibu Melayu). Dengan demikian timbul istilah Jawi peranakan (peranakan Melayu).

Merujuk pendapat Wilkinson, istilah Jawi maksudnya adalah Melayu, misalnya dalam ungkapan: “jawikannya” bermakna: “terjemahkan ke dalam bahasa Melayu”. Termasuk pula dalam bahasa tulis maka maknanya: “salin ke dalam bahasa Melayu”. Hal ini diperkuat oleh data seperti yang tercatat dalam kitab Seribu Masalah sebagaimana penggalan kutipan berikut ini: “…yang daripada bahasa Parsi… dipindahkan kepada bahasa Jawi (pen: tulisan Melayu – maksudnya tulisan Arab Melayu) … yang menyurat ini … Muhammad Mizan ibn Haji Khatib Taha… bangsanya al-Jawi (Melayu) Palembaninegerinya…”.

Malek Bennabi membagi zona bangsa/budaya ummat Islam di dunia ini terdiri dari lima zona (Arab, Mesir, Persia, Melayu dan Turki), maka dalam hubungannya dengan peristilahan Jawi; istilah Jawi dengan makna Melayu adalah sebagai lawan (kata) bagi istilah Arab/Parsi. Berarti:

Page 4: Huruf Jawi

Bangsa Jawi bermakna lawan kata dari bangsa Arab/Mesir/Persia/Turki; begitu juga bahasa dan tulisan Jawi merupakan lawan dari bahasa dan tulisan Arab/Mesir/Persia/Turki.Berdasarkan uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud tulisan Arab Melayu atau Jawi adalah bahasa Melayu yang ditulis dengan menggunakan skrip (huruf dan tulisan) Arab.

http://anawinta.wordpress.com/2009/04/01/arab-melayu-pemunculan-tulisan-sistem-dan-istilah-jawi/

Sejarah, Silsilah dan Riwayat Penulis naskah Arab Melayu, Haji Batin Sulaiman

Haji Batin Sulaiman; Penulis naskah Arab Melay

Dari Kitab karya Syaikh Nuruddin ar-Raniri

Haji Batin Sulaiman nama aslinya Batin Rimbun merupakan nama yang asing dalam nama tokoh-tokoh penyalin naskah kemelayuan di Indonesia, mungkin kebayakan orang tidak pernah mendengar dan bahkan sama sekali tidak mengenal cerita tentangnya. Ia adalah seorang keturunan kebangsaan China asli dengan marga Chao, ayahnya bernama Chao Tungit kemudian masuk Islam disebut Muhallaf dan ibunya bernama Jinah (Rimah) ketuirunan dari Akek Peradong. Ayahnya datang ke Bangka kira-kira tahun 1830-an sebagai pekerja orang Belanda (penjajah) yang mengambil timah di Muntok Bangka, sekarang Kabupaten Bangka Barat yang terkenal dengan lada putihnya hingga mancanegara. Setelah sekian lama menjadi pekerja orang Belanda, ia merasa penting untuk dirinya membebaskan diri dari cengkraman orang Belanda sebagai seorang pendatang dari negeri luar. Akhirnya, diperkirakan tahun 1840-an iapun melarikan diri ke suatu daerah Ibul kecamatan Simpang Teritip Kabupaten Bangka Barat (sekarang).

Setelah ayahnya (Chau Tungit) meninggal, ibunya kawin dengan Batin Daik di kampong Ibul, cukup diwasa anak tirinya itu (Rimbun) – disalinkan jadi Batin yang bernama Rimbun dari kampong Ibul pindak kePeradong jadi Batin di Peradong. Kemudian ia beristrikan penduduk setempat dan memberikan keturunan sebanyak 8 orang, 7 orang perempuan dan 1 orang laki-laki. Waktu itu nama residen Jur Sekap yang tukang rintis jalan tuan seri mahajir ditanah Bangka, ini keturunan guru Nabi Muhammad turun kepada Abu Bakar, turun kepada Abdul Qadir Jailani, turun kepada tuan Syeikh Muhammad Saman, turun kepada Ja’far Siddik, turun kepada Sih (Syeikh) Adam bilal Palembang, turun kepada Abdul Somad bilal Palembang, turun kepada Sih (Syeikh) Abdul Sahit bilal Palembang, turun kepada Sih (Syeikh) Hasanudin dari Palembang mengajar ke Muntok. Batin Rimbun (Haji Sulaiman) dari Peradong berguru ke muntok kepada Datok Hasanudin, serta disahkan menjadi guru di kampong-kampong, serta disahkan mendirikan Jum’at (mendirikan Shalat Jum’at) dari kampong Pal Enam (Air Belo) sampai kampong Tanjung Niur sampai Kelapa.

Kemudian disambung oleh Haji Dullah keliling tanah Bangka. Kenudian Haji Dullah meninggal di kampong Sungai Buluh tahun 1932 M. Ia – pun terus memperdalam pengetahuan tentang Islam, hingga datang tiba baginya waktu untuk menurutkan keinginannya. Berangkatlah ia

Page 5: Huruf Jawi

menunaikan ibadah haji kekota Makkah al-Mukarromah dengan melewati transportasi laut, dengan kapal kayu. Pada waktu itu belum ada orang yang berangkat untuk haji dengan menggunakan pesawat terbang. Kurang lebih tiga bulan lamanya perjalanan dari Bangka – Indonesia ke kota Makkah, perjalanan yang sangat lama untuk menunaikan ibdaha haji yang merupakan rukun Islam yang kelima. Sampailah rombongan tersebut di kota Makkah. Tak puas setelah selesai menunaikan ibadah haji di kota Makkah, demi untuk mendalami Islam ia – pun memutuskan untuk menetap di kota Makkah. Diperkirakan tiga tahunan ia tinggal di kota Makkah belajar dan mendalami Islam, akhirnya tiba waktunya untuk pulang kembali ke tempat peraduan, menemui istri dan anak-anaknya di Bangka – desa Peradong. Yang bernama Rimbun setelah pulang dari Mekkah dirubah namanya menjadi Haji Sulaiman. Di desa Peradong, tepatnya di Pekal Bawah[1] ia mulai menyebarkan ilmunya yang diperoleh dari tanah suci Makkah tersebut..

Salah satu muridnya yang penulis dapat dari cerita tokoh agama dusun Menggarau, desa Peradong adalah Kek Pi’i (Peradong), Kek Klares (Peradong), Kek Yasir dan Abdurahim (masyarakat asli di kecamatan Simpang Teritip) dan lainnya.

Sekian tahun lamanya ia berkutat dalam memberikan ilmunya kepada murid dan msyarakat setempat, ia menulis naskah salinan dari kitab karya Syaikh Nuruddin ar-Raniri yang bernama “Asroru al-Insan”. Naskah tersebut tidak diketahui tempat penyelesaannya, hanya diterangkan pada hari Sabtu pukul 12 siang, tanggal 14 Rabiul Awwal 1454 H/1932M. Penulis hanya bisa menemukan satu buah naskah hasil tulisan beliau, yang masih menggunakan lembaran kertas tempo dulu dan memakai tinta asli cina dengan warna tulisan merah untuk tulisan arab asli (arab gundul) dan hitam untuk tulisan arab melayu (terjemahan/penjelasannya).

Begitulah perjalanan hidup Haji Batin Sulaiman yang penulis ketahui dari sumber-sumber yang didapat. Menurut pengetahuan penulis, beliau adalah salah satu penulis naskah yang ada di provinsi Kepulauan Bangka Belitung, selain Syaikh Abdurrahman Sidiik dan lain-lain. Ia wafat diperkirakan tahun 1920-an di Desa Peradong. Mudah-mudahan dengan jalan ini ada para pecinta tokoh-tokoh kesejarahan yang ingin mengetahui dan meneliti lebih lanjut. Wallahu a’lam.

Silsilah keturunan Batin Rimbun (Haji Batin Sulaiman)

Akek Peradong : I beranak bernama Jinah – perempuan (Rimah)

Jinah kawin dengan muholap (muhallaf) bernama Chau Tungit – beranak bernama Rimbun. Mati bapaknya (Chau Tungit), ibunya kawin dengan Batin Daik di kampong Ibul, cukup diwasa anak tirinya itu (Rimbun) – disalinkan jadi Batin yang bernama Rimbun dari kampong Ibul pindak kePeradong jadi Batin di Peradong.

Waktu itu nama residen Jur Sekap yang tukang rintis jalan tuan seri mahajir ditanah Bangka, ini keturunan guru Nabi Muhammad turun kepada Abu Bakar, turun kepada Abdul Qadir Jailani, turun kepada tuan Syeikh Muhammad Saman, turun kepada Ja’far Siddik, turun kepada Sih

Page 6: Huruf Jawi

(Syeikh) Adam bilal Palembang, turun kepada Abdul Somad bilal Palembang, turun kepada Sih (Syeikh) Abdul Sahit bilal Palembang, turun kepada Sih (Syeikh) Hasanudin dari Palembang mengajar ke Muntok.

Batin Rimbun dari Peradong berguru ke muntok kepada Datok Hasanudin, serta disahkan menjadi guru di kampong-kampong, serta disahkan mendirikan Jum’at (mendirikan Shalat Jum’at) dari kampong Pal Enam (Air Belo) sampai kampong Tanjung Niur sampai Kelapa. Disambung oleh Haji Dullah keliling tanah Bangka.

Kemudian Haji Dullah meninggal di kampong Sungai Buluh tahun 1932 M.

Yang bernam Rimbun setelah pulang dari Mekkah dirubah namanya menjadi Haji Sulaiman.

Sambungan yang menjadi guru (setelah Haji Sulaiman):

1. Djidin kampong Ibul2. Teret kampong Ibul

3. Djidan kampong Teritip

4. Aman kampong Peradong

5. Lipung kampong Pangek

6. Rinda Pr kampong Peradong

7. Samah kampong Mayang

8. Wahab kampong Mayang

9. Dirun kampong Berang sampai naik haji

10. Ketak kampong Pelangas

11. Amat kampong Kacung

Anak Haji Sulaiman dengan Mariam :

1. 1 Wahab2. Siti Tegek Perempuan

3. Siti Lewet

4. Siti Rinda

Page 7: Huruf Jawi

5. Siti Limah

6. Siti Aisah

7. Siti Midah

8. Siti Rani’ah

Salinan Akek Arpa’i Peradong 1980

http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=Sejarah,%20Silsilah%20dan%20Riwayat%20Penulis%20naskah%20Arab%20Melayu,%20Haji%20Batin%20Sulaiman&&nomorurut_artikel=331

Tulisan Arab Melayu di Kalbar

Menuju Kegemilangan, Atau Akan Hilang Ditelan Zaman?

Penggunaan tulisan Arab Melayu (Armel) atau Tulisan Jawi (Tulwi)di Indonesia sekarang bisa dikatakan sudah hampir punah. Kalau pun dipelajari pada Pondok Pesantren, lebih mengutamakan tulisan Arab gondol/Kitab Kuning. Demikian kondisinya juga pada sekolah-sekolah umum, tidak pernah lagi diajarkan kepada murid.

Laporan Efprizan Rzeznik

BEBERAPA waktu lalu Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) DPRD Pontianak pernah mengusulkan agar setiap plang nama jalan di kota ini disertai dengan penulisan armel. Begitu juga dengan kantor-kantor instansi pemerintahan, F-KB meminta agar disesuaikan dengan ciri khas Melayu.

Ide itu disampaikan Sekretaris F-KB DPRD Pontianak, M Fauzi SSos. Kata dia, hal tersebut merupakan semangat untuk merevitalisasi kekuatan budaya Melayu masa lalu."Semangat pemikiran dan karya pendiri dan tokoh-tokoh Kota Pontianak memberikan motivasi dan inspirasi bagi kemajuan masyarakat di kota ini. Masa sekarang ini, kita harus tetap menjaga semangat itu," ujarnya.Penggunaan aksen armel di Pontianak, baru tampak di gerbang menuju Istana Kadriah di Jalan Tanjung Raya I. Diharapkan, pembangunan pintu gerbang menuju Kota Pontianak yang kelak akan dibangun di beberapa titik juga menampilkan ciri khas budaya tersebut. Di Kabupaten Sambas, penulisan armel sebagai plang nama jalan wilayah itu telah lama diterapkan. Bahkan beberapa kalangan di sana pernah mengusulkan kepada pemerintah setempat agar cara baca dan

Page 8: Huruf Jawi

tulis armel dijadikan mulok (muatan lokal) sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah dasar.

Berjaya di Dunia

Sementara itu, penulisan armel di negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam telah mengakar kuat di masyarakatnya. Penulisan Armel dan cara membacanya, menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa di bangku sekolah di kedua negara tersebut.Berdasarkan catatan Prof. Dr Kang Kyoung Seok, Peneliti tulisan Armel/Tulwi asal Busan, Korea, universitas-universitas di luar masyarakat Melayu juga mengajarkan tulisan Armel kepada mahasiswanya.Seperti yang diajarkan di Hankook University of Foreign Studies Korea, mereka bahkan mendatangkan tenaga pengajar khusus dari Malaysia untuk memberikan mata kuliah tulisan armel.Amerika Serikat (Cornell Unversity), Jepang (Tokyo University of Foreign Studies), Inggris (University of London), Belanda (University of Leiden), Jerman (University of Hamburg), hingga Rusia (University of Leningrad), merupakan negara-negara lainnya di luar masyarakat Melayu, yang pernah dan masih mengajarkan tulisan armel kepada mahasiswanya.Bahkan, manuskrip-manuskrip Armel/Tulwi banyak disimpan di negara Inggris, antara lain di perpustakaan Bodleian Oxford, British Museum, British Library, dan perpustakaan University of London.

Langka di Indonesia

Bagaimana dengan perkembangan tulisan armel di Indonesia, Kalbar khususnya? Drs H Rusdi Saska, Ketua Yayasan Ikatan Guru Pengajian Al-Qur’an (IGPA) Kalbar, yang juga ahli armel, mengaku kesulitan untuk mencari refrensi armel di Indonesia. “Jangankan di Kalbar, saya mencari bahan-bahan itu hingga di perpustakaan nasional di Jakarta, juga tidak ketemu,” katanya.Kreator Metode ‘PAS/CASH’: Cara cepat dan Prakis Membaca Alquran ini mengatakan, sejak orde baru hingga sekarang belum ada lagi gerakankembali menerapkan tulisan Armel baik di sekolah dan masyarakat.

“Buku pelajaran dan strategi/metode pembelajaran dalam upaya pengenalan tulis-baca armel/tulwi bagi masyarakat, relatif sukar didapatkan, terutama di daerah Kalimantan Barat.Menurut Rusdi, pada sekolah-sekolah umum, tulisan armel/tulwi tidak pernah lagi diajarkan. “Nama tulisan armel tinggal kenangan saja. Kecuali pada sekitar tahun 1962- 1964, pada Kls. Ill - IV Sekolah Dasar Negeri, diberikan pelajaran tulisan armel,” katanya.Menurutnya, tulisan armel mulai menghilang sejak masuknya pengaruh Partai Komunis Indonesia ( tahun 1964/1965 ). Sejak itu pula, pelajaran armel di sekolah-sekolah ditiadakan.Dampaknya dirasakan hingga kini. Penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim dari penduduk

Page 9: Huruf Jawi

200 juta lebih dan kebanyakan dari suku Melayu , cukup banyak yang tidak mengenal dan tak dapat membaca tulisan armel.Demikian halnya yang terjadi di daerah Kalimantan Barat. “Malahan diantaranya yang sudah bisa membaca Alquran dan guru ngaji pun, masih banyak yang tidak bisa dan susah untuk dapat membaca aksara armel,” kata Rusdi.Kasubag Tata Usaha Kepegawaian di Biro Umum Setda Kalbar ini juga pernah mengobservasi dan mengetes langsung terhadap kemampuan membaca tulisan armel bagi sejumlah mahasiswa, karyawan, pegawai negeri, dan dosen/guru yang sudah bisa membaca Alquran.Hasilnya disimpulkan bahwa yang bisa membaca tulisan armel/tulwi hanya dalam bilangan kurang dari 5 % saja. Dan ada 1 kelompok sampel malahan 0 %, alias tidak ada satupun yang bisa membaca aksara tersebut.Menurut Rusdi, cukup banyak ummat Islam/suku Melayu yang tidak mengenal/belum bisa membaca tulisan armel, terutama generasi yang lahir tahun 1960-an ke atas.Padahal, Alquran sebagai kitab suci umat Islam juga dilengkapi dengan tulisan armel di bagian awal dan akhir tulisan. Bagian itu menjelaskan petunjuk, keterangan, dan maklumat.“Keterangan tanda baca Alquran, ilmu tajwid, datar surah-surah, semuanya ada di keterangan depan dan belakang kitab suci. Kesemuanya ditulis memakai Arab Melayu. Jadinya, kita tidak bisa memanfaatkan informasi yang ada di dalam Alquran itu sendiri,” ujarnya.

Dipelajari di UntanUntuk mengatasi masalah tersebut ke depan, katanya, maka perlu digairahkan kembali suatu langkah kongkrit dalam menyosialisasikan tulisan armel.“Aplikasi Armel/ Tulwi harus mendapat dukungan dari pemerintah, lembaga-lembaga yang berkompeten dan pihak/tokoh yang merasa ikut peduli terhadap keprihatinan masalah tersebut,”katanya.Mengenai dukungan tersebut, saat Chairil Effendi masih menjabat sebagai Dekan FKIP Universitas Tanjungpura, pernah diwacanakan agar armel menjadi mata pelajaran bagi mahasiswa jurusan bahasa.“Sekarang Pak Chairil sudah menjadi Rektor. Mudah-mudahan beliau bisa memperjuangkan ini,” kata Rusdi. Ia memastikan, pembelajaran armel bagi mahasiswa jurusan bahasa akan bermanfaat bagi mereka dalam meneliti sejarah, atau prasasti dan manuskrip jawi.Secara umum tulisan jawi/armel berbentuk aksara Arab ditambah dengan huruf Arab yang dimodifikasi disesuaikan dengan transliterasi huruf latin/rumawi (rumi). Dengan kata lain, tulisan armel adalah suatu bacaan melalui lambang huruf Arab tanpa harakat dan tanda baca yang mengandung makna bahasa Melayu.Dengan transliterasi ke huruf latin tersebut, maka penggunaan dan penandaan huruf yang dimodifikasi kadang kala berbeda atau terdapat variasi diantara para penulis, baik pada zaman dahulu maupun sekarang, terutama terjadi dan dialami di Indonesia.Tulisan Jawi telah muncul beraba-abad lalu di Nusantara. Para ahli dan pengkaji armel/tulwi sepakat bahwa kemunculannya terkait langsung dengan kedatangan dan perkembangan Islam di kawasan ini.

Page 10: Huruf Jawi

Di negara-negara serumpun Melayu, tulisan armel/jawi masuk lebih dahulu dibandingkan tulisan rumi. Hal itu diketahui dari beberapa peningalan sejarah seperti yang terdapat di Kedah (290 Hijrah), Phan-Rang Vietnam (431 H), Pekan, Pahang (419 H), Gersk Indonesia (475 H), dan di Brunei (828 H).Bagimana dengan awal mula pengenalan armel di Kalbar? “Tidak ada yang mengetahuinya. Kepingan-kepingan sejarah itu sudah sulit terlacak karena manuskrip-manuskripnya sudah tercerai-berai,” kata Rusdi.

Metode Takuba-5RRusdi Saska juga pernah diundang oleh Fakulti Sastera dan Sains Sosial Jawatankuasa Pengajian Jawi Universiti Brunei Darussalam, pada akhir Januari 2006, untuk menjadi salah satu pembicara dalam Seminar Antarbangsa Tulisan Jawi “Ke Arah Survival dan Kesempurnaa Tulisan Jawi”.Bersama Anggota Pengurus Ikatan Kekerabatan Muslim Kalbar, Nurul Hadi, dalam seminar itu mereka mengangkat strategi pengenalan tulisan Jawi di Pontianak.Rusdi menjadi bintang pada acara itu. Para peserta tertarik dengan metode pengenalan tulisan armel yang diramu olehnya. Kata dia, pengenalan tulisan tersebut sebenarnya terkait dengan Program/Paket Metode "PAS/CASh"; Cara Cepat dan Praktis Membaca Al-Qur'an .“Dalam pelaksanaannya setelah teori dan praktik Metode ‘PAS/CASh’ selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengenalan tulisan armel dengan beberapa strategi,” katanya.Rusdi menyajikan materi tulisan armel/tulwi, dengan sistem metode "Takuba-5 R ", singkatan dari Ta ( Ta'aruf), Kuba ( Kunci Baca), dan 5 (Lima point Kunci membaca tulisan Armel), sedangkan "R" (menunjuk pada kreatornya).

Dibentuk Tim Khusus

Sementara itu, Anggota Pengurus Ikatan Kekerabatan Muslim Kalbar, Nurul Hadi, berharap tulisan armel yang merupakan khazanah budaya Melayu yang Islami dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta disempurnakan pola pengembangannya.“Arab Melayu selain sebagai suatu keterampilan dan meningkatkan daya nalar, kreasi seni sastra, dan lain-lain, juga dapat dijadikan suatu lapangan usaha/pekerjaan,” katanya.Arab Melayu sebagai suatu keterampilan membaca, sambungnya, juga berpotensi untuk menggali atau mengungkapkan nilai-nilai sejarah dari tulisan-tulisan atau naskah lama/kuno sebagai bahan penelitian dan informasi bagi generasi berikutnya.Menurut Nurul, jika pemerintah sebagai pengambil kebijakan tidak merespon cepat, maka cepat atau lambat tulisan armel akan punah. Ia berharap, umat Islam terutama suku Melayu, terus termotivasi untuk berusaha belajar tulisan Arab Melayu.“Mudah-mudahan pemerintah segera membentuk tim khusus yang mengkaji armel sehingga akan dibuat suatu kebijakan agar khasanah budaya ini tidak hilang,” harapnya. Semoga. (**)__

http://efprizan.blogspot.com/2007/05/tulisan-arab-melayu-di-kalbar.html

Page 11: Huruf Jawi

Aksara Jawi (Arab-Melayu)

Sabtu, 12 Maret 2005M01 Safar 1426H

Aksara Jawi atau aksara Arab-Melayu adalah modifikasi aksara Arab yang disesuaikan dengan Bahasa Melayu di seantero Nusantara yang silam. Munculnya aksara ini adalah akibat pengaruh budaya Islam yang lebih dulu masuk dibandingkan dengan pengaruh budaya Eropa di jaman kolonialisme dulu. Aksara ini dikenal sejak jaman Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Malaka.

Aksara Arab yang digunakan adalah:

alif ba — ا ta — ب tsa — ت jim — ث ha — ج kho — ح خ dal dza — د ro — ذ za — ر sin — ز shod — شsyin — س ص dhod tho — ض dlo — ط ain‘ — ظ ghin — ع fa — غ qof — ف ق kaf lam — ك mim — ل nun — م wau — ن Ha — و ya — ه ي hamzah ء — lam alif ال

Aksara tambahan yang digunakan adalah:

cha ha) چ bertitik 3) — nga ain) ڠ bertitik tiga) — pa fa) ڤ bertitik 3)ga ڬ (kaf bertitik) — vaۏ (wau bertitik) — nya ڽ (nun bertitik 3)

Angka Arab yang digunakan adalah:

0 ٠ — 1١ — 2 ٢ — 3 ٣ — 4 ٤ — 5 ٥ — 6 ٦ — 7 ٧ — 8 ٨ — 9 ٩

Catatan: Semua aksara Arab di atas ditulis menggunakan Unicode, akan tampil di browser anda jika koleksi font anda ada yang memiliki character-set Arabic (ISO-8859-6). Aksara tambahan Arab-Melayu mengambil Unicode Old-Malay, Urdu atau Persian. Contoh font yang memiliki character-set Arabic ISO-8859-6 adalah “Andalus”, “Arial”, “Arial Unicode MS”, “Code2000″, “Courier New”, “Microsoft Sans Serif”, “Lucida Bright”, “Lucida Sans” dan “Lucida Sans Typewriter”, “Tahoma” dan “Times New Roman”.

Cara penulisan (dengan asumsi anda pernah belajar menulis/membaca Al-Quran):1. Aksara ditulis secara gundul, sering disebut sebagai Arab Gundul.

2. Huruf alif yang berdiri sendiri berbunyi a atau e.

3. Huruf alif yang diikuti wau berbunyi u atau o.

4. Huruf alif yang diikuti ya berbunyi i atau é.

5. Konsonan diikuti huruf alif akan berbunyi fatah (bunyi a).

Page 12: Huruf Jawi

6. Konsonan diikuti huruf wau akan berbunyi dhomah (bunyi u).

7. Konsonan diikuti huruf ya akan berbunyi kasroh (bunyi i).

8. Konsonan di awal atau di tengah kata tanpa diikuti alif, wau atau ya berbunyi fatah (bunyi a atau e)9. Konsonan di akhir kata adalah konsonan mati, kecuali diikuti alif, wau atau ya.

10. Huruf ain digunakan sebagai penanda huruf k seperti pada kata rakyat رعيت

Contoh penulisan:Saya sedang belajar menulis Arab Melayu, gundul pula.Ternyata susah ditulis, apalagi dibaca karena tidak konsisten.

ڤوال ڬوندول مليو عرب منوليس بلجر سداڠ ,سيا ديتوليس سوسح كونسيستان , ترڽتا تيدك كرنا ديبچا اڤلڬي

Koreksi dan masukan mohon diisi dalam kolom komentar.Selamat berpusing-pusing!

Popularity: 8%

aidah ke-1 : setiap suku kata yang diawali dan diakhiri dengan konsonan, cukup dituliskan

konsonannya (tidak diberi saksi). Contoh :

Tem-pat : تمفت

Ham-pir : همفر

Pin-tar : فنتر

Tang-kas : تعکس

Cer-mat : چرمت

Kaidah ke-2 :

Page 13: Huruf Jawi

a) Suku kedua dari berbagai hidup berbunyi “a”, mendapat saksi alif (ا), tetapi suku pertama dari

belakang hidup berbunyi “a” tidak mendapat saksi.

Contoh :

ba-dan : ن د با

ka-lam : لم کا

ra-ja : راج

den-da : ند د

la-ba : ب ال

b) Suku kedua dari belakang hidup berbunyi “e” dan suku pertama dari belakang berbunyi “a”, maka

suku kesatu dari belakang mendapat alif saksi. Contoh :

ke-ra : کرا

re-da : ردا

pe-ta : فتا

je-da : جدا

le-ga : لکا

Kaidah ke-3 : bila suku pertama dan kedua terdiri dari vokal i, o, dan ai, maka huruf atau

konsonan Arab itu diberi saksi “yak” (ي). Contoh :

ki-ri : کيري

Page 14: Huruf Jawi

mi-ni : ميني

se-ri : سيري

ni-lai : نيلي

li-hai : ليهي

Kaidah ke-4 : bila suku pertama dan atau kedua hidup berbunyi “o”, “u”, dan “au” ditulis dengan

wau (و ) saksi.

Contoh :

ro-da : رود

lu-bang : لوبع

pu-lau : فولو

ki-cau : کيچو

su-rau : سورو

Kaidah ke-5 : bila suku terakhir berbunyi “wa”, ditulis dengan huruf wau (و ) dan alif (ا).

Contoh :

de-wa : يوا د

bah-wa : بهوا

ke-ce-wa : کچيوا

Page 15: Huruf Jawi

ji-wa : جيوا

Si-wa : سيوا

Kaidah ke-6 : bila huruf awal pada suku kata pertama terdiri dari vokal, maka :

a) Kalau vokal itu terus diikuti dengan konsonan, maka dituliskan alif saja.

Contoh :

an-tar : انتر

in-tan : انتن

un-tung : انتع

un-ta : انت

en-teng : انتع

b) Kalau suku kata pertama itu berbunyi “a” saja ditulis dengan alif. Contoh :

a- bang : ابع

a-man : امن

a. Kalau suku kata pertama berbunyi ”i” atau “e” ditulis dengan huruf alif dan yak.

Contoh :

i-par : ايفر

e-dar : ر ايد

Page 16: Huruf Jawi

(ni-lai) : نيلي

b. Kalau suku kata pertama berbunyi “o” dan “u” ditulis dengan alif dan wau.

u-bah : اوبه

o-bat : اوبت

Kaidah ke-7 : bila suku kata satu dengan yang lain berbentuk “a-i” dan tanda hamzah di atas

wau sesudah alif saksi untuk bentuk “a-u”.

Contoh :

ka-il : کايل

sa-ing : سايع

sa-uh : ساؤه

ma-u : ماؤ

Kaidah ke-8 : bila suku kata satu dengan yang lain berbentuk “i-a”, maka penulisannya dengan cara

menghubungkan huruf yak dengan huruf sesudahnya (atau boleh dengan memberikan tanda alif

gantung di atas yak).

Contoh :

di-an : ين د atau ين د

ki-an : کين atau کين

Kaidah ke-9 : bentuk “u-a” harus dinyatakan dengan huruf alif sesudah huruf wau.

Contoh :

Page 17: Huruf Jawi

bu-at : بوات

tu-an : توان

Kaidah ke-10 : bentuk “i-u” dinyatakan dengan memberikan huruf wau sesudah yak,.

Contoh :

li-ur : ليور

be-li-ung : بليوع

nyi-ur : پيور

Kaidah ke-11 : bentuk “u-i” dinyatakan dengan huruf wau dan yak.

Contoh :

ku-il : يل کو

bu-ih : يه بو

pu-ing : يع فو

Bentuk “o-i” juga dapat memakai cara tersebut, misal :

bo-ing : يع بو

Kaidah ke-12 : Awalan me, ber, per, pe, ter, di, se, ke, ku, dan kau tidak menimbulkan

perubahan ejaan, penulisannya dengan merangkaikan saja. Untuk awalan se, ke, dank u, bila

dirangkaikan dengan sesuatu kata yang diawali oleh vokal penulisannya dengan cara menambahkan

atau menggantikan alif dengan hamzah.

Contoh :

Page 18: Huruf Jawi

mengambil : معمبل

berbunyi : پي بو بر

perkasa : س کا فر

pedagang : کع فدا

terlepas : ترلفس

didera : را د د

se-asam : سم ا — س سم سأ

se-iring : ايرع — س سيرع

ke-ujung : اوجع — ک کؤجع

ku-ambil : امبل — ک کأمبل

kau-ambil : امبل — کو کوأمبل

Kaidah ke-13 : partikel lah, kah, tah dan pun penulisannya tidak mengubah ejaan (tinggal

merangkaikan).

Contoh :

baca-lah : چله با

makan-kah : مکنکه

apa-tah : افته

Page 19: Huruf Jawi

bunyi-pun : بوپيفون

Penulisannya “pun” tidak mengikuti kaidah ke-1 yaitu (فن ) melainkan dengan ditambahkan wau saksi

.penulisan partikel ini mengalami perkecualian ,( فون)

Kaidah ke-14 : tentang bentuk (klitik) kan, ku, mu, dan nya.

1) Bila suku kata terakhir diawali dan diakhiri oleh konsonan, maka penulisannya tidak mengalami

perubahan ejaan.

Contoh :

ta-nam : نم تا tanamkan : تانمکن

ram-but : رمبت rambutmu :رمبتمو

2) Suku kata terakhir berbunyi “ai” dan “au” tidak mengalami perubahan ejaan.

Contoh :

tu-pai : توفي tupaiku : توفيکو

ker-bau: کربو kerbaunya :کربوث

3) Suku terakhir terdapat sebuah vokal, perangkaian dengan akhiran itu mengubah ejaan.

Contoh :

bu-ku : بوکو bukumu : بکومو

ha-ti : هاتي hatinya :هتيث

Kata yang sudah berakhiran an, i, dan kan tidak mengalami perubahan ejaan jika dirangkaikan

dengan imbuhan yan lain.

Page 20: Huruf Jawi

Contoh :

pergaulan-nya : فرکاؤلنث

menjalani-nya : نيث منجال

perkataan-mu : نمو فرکتأ

Kaidah ke-15 : perihal akhiran an dan i.

1) Kata yang huruf terakhirnya konsonan berubah ejaan.

Contoh :

ta-nam — ta-na-(mi) : تانمي تانم

sa-yur — sa-yu-(ran) : سيورن ساير

ta-nam — ta-na-(man) : تنامن تانم

2) Kata yang huruf terakhirnya terdiri dari اperubahan ejaan, dan penulisannya disertai dengan huruf

hamzah.

Contoh :

su-ka : سوک kesuka-an : کسکأن

lu-pa : لوف kelupa-an : کلفأن

3) a. Kata yang huruf terakhirnya terdiri dari vokal “u” mengalami perubahan ejaan dan

penulisannya disertai dengan penambahan huruf alif.

Contoh :

Page 21: Huruf Jawi

ra-mu : رامو — ramu-an : رموان

b. Akhiran i merubah ejaan bila disambung dengan vokal “u”, penulisannya dirangkaikan saja.

Contoh :

ra-mu : رامو — ramu-i : رموي

4) Vokal “i” bersambung dengan akhiran an mengubah ejaan, penulisannya dengan cara

merangkaikan saja atau dengan menambah alif gantung.

Contoh :

duri : دوري — durian : رين د

gali : کالي — galian : کلين

5) Akhiran an dan i mengubah ejaan bila disambung dengan diftong ai dan au, tetapi penulisannya ke

dalam huruf Melayu a dan i, a dan u dipisahkan menjadi suku baru.

Contoh :

Pakai : فاکي — pakaian : فکاين

Lampau : لمفو —kelampauan :کلمفاون

(ke-lam-pa-uan) lampaui : لمفاوي (lam-pa-ui)

6) Akhiran an dan i tidak mengubah ejaan bila suku kata satu dengan yang lain vokal : a/u atau a/i

atau yang memakai hamzah.

Contoh :

Laut : الؤت lautan : الؤتن

Page 22: Huruf Jawi

Kail : کايل kaili : کايلي

Catatan :

Huruf p kadang-kadang ditulis (ف ) atau ( ف )

Huruf g kadang-kadang ditulis ( ک ) atau ( ک )

Bunyi ny kadang-kadang ditulis (ث ) atau (پ )

“Perhatikan penjelasan pada waktu perkuliahan.”

RANGKUMAN

1. Setiap suku kata yang diawali dan diakhiri oleh konsonan, cukup dituliskan konsonannya (tidak

diberi saksi).

2. Suku kata kedua dari belakang hidup berbunyi “a”, mendapat saksi alif ,( ا) tetapi suku kata

pertama dari belakang hidup berbunyi “a” tidak mendapat saksi.

3. Suku kedua dari belakang hidup berbunyi “e” dan suku pertama dari belakang berbunyi “a”, maka

suku kesatu dari belakang mendapat alif saksi.

4. Bila suku pertama dan kedua terdiri dari vokal i, e dan ai, maka huruf atau konsonan Arab itu

diberi saksi “yak” (ي ).

5. Bila suku pertama dan atau kedua hidup berbunyi “o”, “u” dan “au” ditulis dengan “wau” (و )

saksi.

6. Bila suku terakhir berbunyi “wa”, ditulis dengan huruf wau (و ) dan alif (ا ).

7. Suku kata pertama terdiri dari vokal “a” ditulis dengan alif.

Page 23: Huruf Jawi

8. Suku kata pertama terdiri dari vokal “i” dan “e” ditulis dengan alif dan yak.

9. Suku kata pertama terdiri dari vokal “u” dan “o” ditulis dengan alif dan wau.

10. Bila suku kata satu dengan yang lain berbentuk “a-i” atau “a-u”, maka untuk “a-i” ditulis dengan

alif dan hamzah di atas yak; bentuk “au” ditulis dengan alif dan hamzah di atas wau.

11. Suku kata satu dengan yang lain berbentuk “i-a” maka penulisannya dengan cara

menggabungkan yak dengan konsonan berikutnya atau diperjelas dengan alif gantung di atas

yak.

12. Bentuk “u-a” dituliskan dengan huruf wau dan alif, dan bentuk “i-u” dituliskan dengan huruf yak

dan wau.

13. Bentuk “u-i” dan “o-i” dituliskan dengan wau dan yak.

14. Awalan me, ber, per, pe, ter, di, se, ke, ku, dan kau tidak menimbulkan perubahan ejaan,

sedangkan untuk awalan se, ke, dan ku bila dirangkaikan dengan sesuatu kata yang diawali oleh

vokal penulisannya dengan cara menambahkan atau menggantikan alif dengan hamzah.

15. Partikel lah, kah, tah, dan pun penulisannya tidak mengubah ejaan.

16. Penulisan akhiran kan, ku, mu, dan nya tidak mengalami perubahan ejaan bila : diawali dan

diakhiri dengan konsonan ; suku kata terakhir berbunyi ai dan au ; suku kedua dari belakang

terdiri dari vokal ; dan kata dasar yang sudah berakhiran an dan i.

http://elroem.com/2008/10/22/kaidah-penulisan-huruf-arab-melayu.html