hukuman mati

Click here to load reader

Post on 13-Sep-2015

227 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hukuman Mati

TRANSCRIPT

  • 1. Makar membunuh kepala negara (Pasal 104);

    2. Mengajak negara asing guna menyerang Indonesia (Pasal 111 ayat 2);

    3. Memberi pertolongan kepada musuh waktu Indonesia dalam perang (Pasal 124 ayat 3);

    4. Membunuh kepala negara sahabat, (Pasal 140 ayat 1);

    5. Pembunuhan dengan direncanakan lebih dulu (Pasal 140 ayat 3 );

    6. Pencurian dengan kekerasan oleh dua orang atau lebih berkawan, pada waktu malam atau dengan jalan membongkar dan sebagainya, yang menjadikan ada orang berluka berat atau mati (Pasal 365 ayat 4);

    7. Pembajakan di laut, di pesisir, di pantai, dan kali sehingga ada orang mati (Pasal 444);

    8. Dalam waktu perang menganjurkan huru-hara, pemberontakan, dan sebagainya antara pekerja-pekerja dalam perusahaan pertahanan negara (Pasal 124 bis);

    9. Dalam waktu perang menipu waktu menyampaikan keperluan angkatan perang (Pasal 127 dan 129);

    10. Pemerasan dengan pemberatan (Pasal 368 ayat 2).

  • Beberapa Jenis Hukuman Mati

    yang Paling Manusiawi

  • .

  • Tahapan Sebelum Eksekusi Mati

    di Indonesia

  • Tiga kali dua puluh empat jam sebelum pelaksanaan pidana mati, Jaksa Tinggi/Jaksa tersebut memberitahukan kepada terpidana tentang akan dilaksanakannya pidana mati tersebut.

  • Pidana mati yang dijatuhkan atas diri beberapa orang di dalam satu putusan dilaksanakan serempak pada wkatu dan tempat yang sama, kecuali jika terdapat hal-hal yang tidak memungkinkan pelaksanaan demikian itu.

  • Bila ada perempuan hamil yang akan dieksekusi mati maka dia baru bisa dieksekusi 40 hari setelah anaknya dilahirkan

  • Regu penembak tersebut terdiri atas seorang Bintara, dua belas orang Tamtama, dan dipimpin oleh seroang Perwira. Regu penembak ini berada di bawah perintah Jaksa Tingi/Jaksa yang bertanggung jawab atas pelaksanaan ekseksusi sampai selesainya pelaksanaan pidana mati.

  • Setiap terpidana mati diberikan hak untuk mengemukakan sesuatu (permintaan terakhir) kepada jaksa agung atau jaksa sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (2) UU No.2/PNPS/1964. Permintaan itu diterima oleh Jaksa Agung/jaksa.

  • Atas permintaan pembela atau atas permintaan terpidana, pembela dapat hadir dalam pelaksanaan hukuman mati yang dijatuhkan kepada kliennya. Selain itu, terpidana juga dapat meminta untuk didampingi oleh rohaniawan.

  • Dilihat dalam ketentuan yang menyebutkan lokasi eksekusi hukuman mati tidak dilaksanakan di muka umum, dapat ditafsirkan bahwa lokasi dirahasiakan agar jauh dari jangkauan orang-orang yang tidak termasuk dalam daftar yang boleh hadir dalam eksekusi. Pada hari H, untuk mengelabui lokasi eksekusi, biasanya regu akan mengecoh orang dengan iring-iringan mobil.

  • Apabila setelah penembakan tersebut pidana masih memperlihatkan tanda-tanda bahwa dirinya masih hidup, Komandan Regu segera memerintahkan kepada Bintara Regu Penembak untuk melepaskan tembakan pengakhir dengan menekankan ujung laras senjatanya tepat di atas telinganya.

  • Setelah dilakukan eksekusi, pelaksanaan penguburan terpidana mati diserahkan kepada keluarga atau sahabat terpidana. Jika tidak ada kemungkinan pelaksanaan penguburan oleh keluarga atau sahabat, maka penguburan diselenggarakan oleh negara dengan cara yang diatur dalam kepercayaan yang dianut oleh terpidana.

  • Negara yang Paling Sering

    Melakukan Eksekusi Hukuman Mati

  • Insiden yang Terjadi saat Eksekusi

    MatiTerpidana Mati AS Meronta-ronta Akibat Suntikan Gagal

  • KESIMPULAN

  • THANK YOU

View more