hakikat pendidikan (tinjauan filsafal pendidikan islam)

of 22/22
HAKIKAT PENDIDIKAN (TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM) Oleh Muntaha A. Pendahuluan Secara alamiah manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam semesta ini diciptakan melalui proses setingkat demi setingkat. Pola perkembangan manusia dan alam semesta yang berposes demikian berlangsung di atas hukum alam yang di tetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”. Pendidikan sebagai usaha mebina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohani dan jasmani, juga berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan/pertumbuhan. (Arifin, 2009, hal. 12). Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT telah diberikan bekal potensi yang luar biasa berupa jasmani dan rohani yang sempurna. Kesempurnaan manusia itu semakin lengkap dan paripurna dengan tambahan berupa akal fikiran. Dengan potensi tersebut manusia mengembangkan diri untuk mendayagunakan seluruh potensi tersebut hingga mencapai derajat kesempurnaan kemanusiaannya. Secara tegas dan jelas Allah SWT menyatakan kesempurnaan penciptaan manusia itu sebagaimana firmannya dalam Al-qur'an Surat At-Tin ayat 4 : " Sungguh Kami telah menciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya ". Namun kesempurnaan manusia itu bisa saja turun derajatnya, bahkan turunnya melebihi derajat hewan jika manusia tidak mampu menjaga 1 | Halaman

Post on 08-Jul-2016

18 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Secara alamiah manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam semesta ini diciptakan melalui proses setingkat demi setingkat. Pola perkembangan manusia dan alam semesta yang berposes demikian berlangsung di atas hukum alam yang di tetapkan oleh Allah sebagai “sunnatullah”.Pendidikan sebagai usaha mebina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohani dan jasmani, juga berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan/pertumbuhan. (Arifin, 2009, hal. 12). Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT telah diberikan bekal potensi yang luar biasa berupa jasmani dan rohani yang sempurna. Kesempurnaan manusia itu semakin lengkap dan paripurna dengan tambahan berupa akal fikiran. Dengan potensi tersebut manusia mengembangkan diri untuk mendayagunakan seluruh potensi tersebut hingga mencapai derajat kesempurnaan kemanusiaannya. Secara tegas dan jelas Allah SWT menyatakan kesempurnaan penciptaan manusia itu sebagaimana firmannya dalam Al-qur'an Surat At-Tin ayat 4 : " Sungguh Kami telah menciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya ". Namun kesempurnaan manusia itu bisa saja turun derajatnya, bahkan turunnya melebihi derajat hewan jika manusia tidak mampu menjaga kesempurnaannya tersebut. "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendahnya-rendahnya" (QS.At-Tin : 5). Untuk menjaga agar derajat manusia tidak lebih rendah dari derajat hewan, maka manusia harus memahami, menjaga dan mengembangkan fitrahnya melalui pendidikan.Dengan bekal potensi itu manusia diberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, apakah memilih jalan kebaikan atau memilih jalan keburukan. Kelak dihadapan Allah, atas pilihannya tersebut manusia dimintai pertanggungjawabannya. Namun demikian atas segala kemurahan dan kasih sayang Allah kepada manusia, ia tidak dibiarkan begitu saja memilih jalan hidupnya, akan tetapi Allah menurunkan Al-qur'an sebagai petunjuk dan sumber pengetahuan sebagai bekal menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.Pendidikan Islam dalam pengertian secara umum (luas) dapat dikakatan muncul dan berkembang siring dengan kemunculan islam itu sendiri, yakni berawal dari pendidikan informal berupa dakwah islamiyah untuk menyebarkan islam, terutama yang berkaitan dengan aqidah (Maksum, 1999, hal. vii). Pendidikian Islam adalah salah satu aspek saja dari keseluruhan ajaran Islam. Karenanya tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam ; yaitu menciptakan pribadi hamba Allah yang bertakwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat. Tujuan akhir manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut juga tujuan akhir pendidikan Islam. Lalu kemudian, bagaimana cara menggapai tujuan hidup manusia itu? Maka Allah SWT menurunkan Al-qur'an sebagai petunjuk dan sumber untuk dipelajari melalui pendidikan untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang didasari oleh nilai-nilai Islam sebagaimana termaktub di dalam Al-qur'an dan Hadits Nabi. Karena itulah sangat penting untuk menggali konsepsi-konsepsi teoritis mengenai pendidikan sebagaimana yang terkandung di dalam Al-qur'an dan Hadits. Makalah ini berisi tentang sistem pendidikan Islam sebagaimana yang dipesankan dalam Al-qur'an dan Hadits. Secara ringkas tulisan ini akan menjelaskan tentang pengertian pendidikan, pengertian pendidikan Islam, sumber dan dasar pendidikan islam, tujuan pendidikan islam dan fungsi pendidikan Islam.

TRANSCRIPT

HAKIKAT PENDIDIKAN(TINJAUAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM)Oleh Muntaha

A. Pendahuluan

Secara alamiah manusia tumbuh dan berkembang sejak dalam kandungan sampai meninggal, mengalami proses tahap demi tahap. Demikian pula kejadian alam semesta ini diciptakan melalui proses setingkat demi setingkat. Pola perkembangan manusia dan alam semesta yang berposes demikian berlangsung di atas hukum alam yang di tetapkan oleh Allah sebagai sunnatullah.Pendidikan sebagai usaha mebina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohani dan jasmani, juga berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan/pertumbuhan. (Arifin, 2009, hal. 12). Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT telah diberikan bekal potensi yang luar biasa berupa jasmani dan rohani yang sempurna. Kesempurnaan manusia itu semakin lengkap dan paripurna dengan tambahan berupa akal fikiran. Dengan potensi tersebut manusia mengembangkan diri untuk mendayagunakan seluruh potensi tersebut hingga mencapai derajat kesempurnaan kemanusiaannya. Secara tegas dan jelas Allah SWT menyatakan kesempurnaan penciptaan manusia itu sebagaimana firmannya dalam Al-qur'an Surat At-Tin ayat 4 : " Sungguh Kami telah menciptakan manusia itu dalam bentuk yang sebaik-baiknya ". Namun kesempurnaan manusia itu bisa saja turun derajatnya, bahkan turunnya melebihi derajat hewan jika manusia tidak mampu menjaga kesempurnaannya tersebut. "Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendahnya-rendahnya" (QS.At-Tin : 5). Untuk menjaga agar derajat manusia tidak lebih rendah dari derajat hewan, maka manusia harus memahami, menjaga dan mengembangkan fitrahnya melalui pendidikan.Dengan bekal potensi itu manusia diberikan kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya, apakah memilih jalan kebaikan atau memilih jalan keburukan. Kelak dihadapan Allah, atas pilihannya tersebut manusia dimintai pertanggungjawabannya. Namun demikian atas segala kemurahan dan kasih sayang Allah kepada manusia, ia tidak dibiarkan begitu saja memilih jalan hidupnya, akan tetapi Allah menurunkan Al-qur'an sebagai petunjuk dan sumber pengetahuan sebagai bekal menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.Pendidikan Islam dalam pengertian secara umum (luas) dapat dikakatan muncul dan berkembang siring dengan kemunculan islam itu sendiri, yakni berawal dari pendidikan informal berupa dakwah islamiyah untuk menyebarkan islam, terutama yang berkaitan dengan aqidah (Maksum, 1999, hal. vii). Pendidikian Islam adalah salah satu aspek saja dari keseluruhan ajaran Islam. Karenanya tujuan pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan hidup manusia dalam Islam ; yaitu menciptakan pribadi hamba Allah yang bertakwa kepada-Nya, dan dapat mencapai kebahagian hidup di dunia maupun di akhirat. Tujuan akhir manusia dalam Islam inilah yang dapat disebut juga tujuan akhir pendidikan Islam. Lalu kemudian, bagaimana cara menggapai tujuan hidup manusia itu? Maka Allah SWT menurunkan Al-qur'an sebagai petunjuk dan sumber untuk dipelajari melalui pendidikan untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang didasari oleh nilai-nilai Islam sebagaimana termaktub di dalam Al-qur'an dan Hadits Nabi. Karena itulah sangat penting untuk menggali konsepsi-konsepsi teoritis mengenai pendidikan sebagaimana yang terkandung di dalam Al-qur'an dan Hadits. Makalah ini berisi tentang sistem pendidikan Islam sebagaimana yang dipesankan dalam Al-qur'an dan Hadits. Secara ringkas tulisan ini akan menjelaskan tentang pengertian pendidikan, pengertian pendidikan Islam, sumber dan dasar pendidikan islam, tujuan pendidikan islam dan fungsi pendidikan Islam.

B. Pengertian Pendidikan

Istilah pendidikan berasal dari kata didik dengan memberikan awalan pe dan akhiran an mengandung arti perbuatan (hal dan cara). Istilah pendidikan berasal dari bahasa yunani yaitu paedagogie yang berarti bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa inggri dengan istilah education yang berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa arab istilah ini sering diterjemahkan dengan tarbiyah yang berarti pendidikan. (Ramayulis, 2009, hal. 83)Pendidikan sebagai usaha mebina dan mengembangkan pribadi manusia; aspek rohani dan jasmani, juga berlangsung secara bertahap. Oleh kerna itu, suatu kematangan yang bertitik akhir pada optimalisasi perkembangan/pertumbuhan, baru dapat tercapai bila mana berlangsung melalui proses demi proses ke arah tujuan akhir perkembangan/pertumbuhan. Suatu proses yang diharapkan dari pendidikan adalah proses yang terarah dan bertujuan, yaitu mengarahkan anak didik (manusia) kepada titik optimal kemampuannya. Sedangkan tujuan yang hendak di capai adalah terbentuknya kepribadian yang bulat dan utuh sebagai manusia individual dan sosial serta hamba Tuhan yang mengabdikan diri kepadan-Nya (Arifin, 2009, hal. 12). Banyak ahli filsafat pendidikan yang mengatakan bahwa arti pendidikan adalah pendidikan sebagai suatu proses, berikut beberapa pengertian yang mengatakan pendidikan sebagai suatu proses :1. Herman H Horne mengartikan : Pendidikan harus dipandang sebagai suatu proses penyesuaian diri manusia secara timbal balik dengan alam sekitar, dengan sesama manusia, dengan tabiat tertinggi dari kosmos, bila pengertian diatas dijadikan landasan filosofis maka secara ideal, filsafat pendidikan mengakui bahwa manusia itu harus menemukan dirinya sendiri sebagai suatu bagian yang integral dari alam raya yang rohaniah dan jasmaniah (Arifin, 2009, hal. 14).2. William Mc Gucken, SJ, seorang tokoh pendidikan katholik berpendapat, bahwa pendidikan adalah suatu perkembangan dan kelengkapan dari kemampuan-kemapuan manusia, moral, intelektual, dan jasmaniah ynag diorganisasikan, dengan atau kepentingan individual atau sosial dan diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang bersatu dengan penciptanya sebagai tujuan akhir (Arifin, 2009, hal. 14) 3. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pendidikan versi online, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik (http://kbbi.web.id/didik)4. UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB 1 pasal 1, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktifmengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdsan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU RI No. 20/2003).Jadi arti pokok yang terkandung dalam pengertian diatas adalah bahwa proses kependidikan itu mengandung pengarahan ke arah tujuan tertentu. Selanjutnya bahwa pendidikan tidak hanya menumbuhkan, melainkan mengembangkan ke arah tujuan kahir. Juga tidak hanya suatu proses yang sedang berlangsung melainkan suatu proses yang berlangsung ke arah sasarannya. Dalam pengertian analisis, pendidikan pada hakikatnya adalah membentuk kemanusiaan dalam citra Tuhan. (Arifin, 2009, hal. 14). Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami, pendididkan adalahsuatu proses atau usaha yang dilakukan secara sadar untuk memberikanbimbingan atau pengarahan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan. Atau dengan kata lain menuju terbentuknya manusia yang dewasa, memiliki ketrampikan,eahlian yang sempurna dengan kepribadian atau akhlak yang utama.

C. Pengertian Pendidikan Islam

Dalam khazanah pendidikan islam terdapat sejumlah istilah yang merujuk langsung pada pengertian pendidikan dan pengajaran seperti a-tarbiyah, al-ta'lim, al-ta'dib dan al-tabyin. (Maksum, 1999, hal. 11)

1. Al Tarbiyah.Istilah tarbiyah bisa dilihat dari beberapa akar kata, antara lainpertama raba-yarbu yang berarti berkembang. Kedua rabiya- yarba yang berarti tumbuh. Ketiga rabba-yarubbu yang berarti memperbaiki, mengasuh, memimpin, menjaga dan memelihara atau mendidik. (Maksum, 1999, hal. 13) Firman Allah yang mendukung istilah ini antara lain : Artinya : "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah : Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka mendidikku di waktu kecil." (QS. Al-Isro 24)Menurut Quraish Shihab, kata rabbdisebut dalam al-Quran sebanyak 224 kali. Kata ini biasa diterjemahkan dengan Tuhanmu. Katarabb berasal dari katatarbiyah yang berarti pendidikan. Kata-kata yang bersumber dari akar kata ini memiliki arti yang berbeda-beda, tetapi pada akhirnya arti-arti tersebut mengacu pada arti pengembangan, peningkatan, ketinggian, kelebihan serta perbaikan. Sementara Katarabbapabila berdiri sendiri, maka yang dimaksudkan adalah Tuhan yang tentunya antara lain karena Dialah yang melakukantarbiyah(pendidikan) yang pada hakikatnya adalah pengembangan, peningkatan serta perbaikan makhluk yang dididik-Nya. Artinya, ativitas pendidikan dan menuntut ilmu harus senantiasa disandarkan kepada Allah swt. Sebab Dia adalah sumber dari segala ilmu, dan hanya atas Izin-Nyalah seseorang mungkin memiliki ilmu (Maksum, 1999, hal. 13). Abdurrahman Al-Bani mengatakan bahwa at-tarbiyah mengandung pengertian-pengertian sebagai berikut :a. Pendidik yang sesungguhnya adalah Allah SWTb. Pendidikan berpegang kepada syariat ilahiyah dan berjalan sesuai hukum dengan hukum-hukum dan kebaikanNya;c. Pendidikan merupakan kegiatan yang memilki tujuan;d. Pendidikan meniscayakan adanya pentahapan yang merupakan satu kesatuan;e. Aktivitas pendidikan mengikuti penciptaan dan aturan-aturan Tuhan (sunnatullah) (Maksum, 1999, hal. 14).

2. Al-talim Istilah talim memberi pengertian sebagai proses memberi pengetahuan, pemahaman, pengertian, tanggungjawab penanaman amanah sehingga terjadi pembersihan diri (tazkiyah) dari segala kotoran dan menjadikan dirinya senantiasa dalam kondisi siap untuk menerima hikmah serta mempelajari segala sesuatu yang belum diketahuinya dan berguna bagi dirinya. (Maksum, 1999, hal. 18) Abdul Fatah Jalal mengatakan istilah talim tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah, tetapi juga mencakup pengetahuan teoritis mengulang secara lisan, pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan, perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berperilaku (Ramayulis, 2009, hal. 85)

3. Al-TadibIstilah tadib mengandung arti ilmu pengetahuan, pengajaran, dan pengasuhan. Syed muhammad naquib al-Attas mengatakan, istilah tadib telah mencakup beberapa aspek yang menjadi hakekat pendidikan yang saling terkait, seperti ilm (ilmu), adl (adil), hikmah (kebijakan), amal (tindakan), haqq (kebenaran), nutq (nalar), nafs (jiwa), qalb (hati), aql (pikiran), dan adab (adab). (Maksum, 1999, hal. 19)

4. Al-TabyinIstilah ini di gunakan al-Quran dalam kaitan tugas untuk mencerahkan manusia dengan kebenaran ilahi. Seperti tercantun dalam QS al-Baqarah :99) dan sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas , dan tidak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasiq. Dalam kaitannya dengan kebenaran ilahi tersebut, al-Faruqi menekankan pentingnya islamisasi pengetahuan agar pengetahuan yang ada dan dianggap sekuler dapat berguna untuk membantu manusia mencapai kebenaran ilahi (Maksum, 1999, hal. 22)Dalam penggunaannya, terdapat perbedaan di antara para pakar. Misalnya Abdurrahman Al-Bani lebih condong pada istilah tarbiah, Abdul Fatah Jalal lebih kepada istilah al-Talim, Syed Naquib al-Attas lebih condong pada istilah ta'dib, sementara Ismail Rozi al-Faruqi lebih kepada tabyin. Hasil rumusan Seminar Pendidikan Islam Se-Indonesia Tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan islam sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam (Arifin, 2009, hal. 15)Term pendidikan islam tidak tergantung dan terbatas pada salah satu makna dari term tersebut, dalam al-Muktamar al-Talimiyyah al-Islamiyyah al-alamiyah ke IV di Makkah tahun 1983, salah satu rekomendasi tentang pengertian pendidikan (Tarif al-Talim) adalah :makna yang lengkap bagi talim (pendidikan) dalam pandangan yang islami ialah apa tercakup dalam keseluruhan istilah tarbiyah, talim, tadib dan tabyin. Makna-makna yang terkandung pada seluruh istilah tersebut yang berkaitan dengan manusia, masyarakatnya, lingkungannya, dan hubungannya dengan Allah adalah makna-makna yang saling berhubungan dan saling melengkapi. Semuanya menyusun lapangan pendidikan al-talim dalam islam, baik yang resmi maupun tidak resmi. (Maksum, 1999, hal. 22)

Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami, pendididkan suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai sesuai dengan ideologi islam, melalui pendekatan ini ia akan dapat dengan meudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam (Ramayulis, 2009, hal. 88)

D. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-Qur'an

Dalam Al-Quran di tegaskan bahwa Allah adalah Rabbul'alamin, artinya adalah pendidik semesta alam dan juga pendidikan bagi manusia. Pengertian tersebut diambil. Karena kata Rabb dalam arti Tuhan dan Rabb dalam arti pendidik berasal dari asal kata yang sama. Dengan demikian menurut Al-Qur'an tersebut alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan berkembang dan yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan tersebut tidak lain kecuali Allah juga. Jadi mendidik dan pendidik pada hakikatnya adalah fungsi Tuhan dan mendidik adalah mengatur serta, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam dan manusia sekaligus. Dalam pandangan filsafat Islam, sebagai mana ditegaskan dalam Al-Qur'an, bahwa pada hakikatnya manusia adalah "Khalifah Allah di alam semesta ini" Khalifah berarti kuasa atau wakil. (Hambali, hal. 6)

E. Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al- Hadits

Pengertian pendidikan dalam hadits terdiri dari 3 (tiga) konsep, yaitu :1. Perkembangan manusiaKonsep hadits nabi tentang perkembangan manusia berasal dari Hadits Riwayat Muslim setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak beragama Yahudi, atau nasrani atau bahkan majusi). Ibnu Hajar mengatakan Fitrah adalah islam, dengan demikian fitrah dapat difahami sebagai suatu keadaan (Yaitu agama islam) dalam diri manusia yang telah diciptakan oleh Allah sejak manusia itu dilahirkan. Esensi dari islam tersebut adalah tauhid. Fitrah mengandung komponen psikologis: bakat, Insting, Karakter, hereditas dan intuisi, yang harus mendapat bimbingan yang yang benar yaitu melalui pendidikan (Ali, 2008, hal. 128)

2. Pendidikan JasmaniBertolak dari hadits Nabi Riwayat Al-Baihaqi ajarilah anak-anakmu (olahraga) renang dan lempar panah (memanah) dan (ajarilah) perempuan dengan memintal hadits ini menurut Bukhari tidak sah, namun kandungan maknanya tidak bertentangan dengan ajaran universal islam. Hadits ini memberi inspirasi terhadap bentuk pendidikan islam ke depan yang relevan dan sesuai dengan konteks kehidupan zaman. (Ali, 2008, hal. 132)

3. Pendidikan Sepanjang Hayat (Life Long Education)Bersumber dari hadits masyhur Carilah ilmu sejak ayunan sampai liang lahat. Pada dasarnya ilmu pengetahuan selalu mengalami perkembangan, karenanya manusia dalam mencari ilmu tidak dibatasi oleh usia mulai dari pra-natal sampai akhir hayat. (Ali, 2008, hal. 133)

Jadi menurut perspektif hadits pendidikan adalah Proses tranformasi ilmu pengetahuan dari tingkat dasar menuju tingkat lanjut. Sejalan dengan Hadits Nabi jadilah engkau pendidik yang penyantun, ahli fiqh, dan berilmu pengetahuan. Dan diakatan predikat robbani jika seseorang telah mendidik manusia dengan ilmu pengetahuan dari sekecil-kecilnya sampai menuju yang tinggi HR. Bukhari dari Ibnu Abbas)Al-Attas memberikan makna robbani yaitu predikat yang diberikan bagi orang-orang yang bijaksana yang terpelajar dalam bidang pengetahuan tentang al-rabb. Ia memberi contoh Ibnu Abbas sebagai robbani ummat. (Ali, 2008, hal. 122)

F. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam

Menurut maksum, ada empat hal yang menjadi prinsip dasar pendidikan islam, yaitu :1. Pendidikan Islam adalah bagian dari proses rububiyyah AllahDalam penciptaan alam semesta Allah menggunakan proses yang konsisten dan keteraturan (sunnatullah), dalam proses pemeliharaan Allah juga menggunakan prinsip sunnatullah. Allah mengurus, memelihara dan menumbuhkembangkan alam semesta secara bertahap dan berangsur-angsur. Dalam konteks ini Allah adalah murobbi yang sebenarnya. Peranan manusia dalam pendidikan secara teologis dimungkinkan karena posisinya sebagai makhluk yang paling sempurna dan dijadikan khalifah dimuka bumi. Status ini mengimplikasikan bahwa manusia secara potensial memiliki sejumlah kemampuan yang diperlukan untuk bertindak sesuai dengan ketentuan Allah. Dengan demikian karatkter pendidikan islam pada intinya terletak pada fungsi rubbubiyah Allah yang secara praktis dikuasakan atau diwakilkan kepada manusia. (Maksum, 1999, hal. 29)

2. Pendidikan Islam berusaha membentuk manusia seutuhnya.Manusia dalam pandangan al-Quran dan al-Hadits adalah manusia yang lengkap terdiri dari unsur jasmani dan rohani, unsur jiwa dan akal, unsur nafs dan qolb. Pendidikan islam tidak bersikap dikotomis dalam menangani unsur-unsur tersebut dengan menganggap lemah atau mengunggulkan yang satu atas yang lainnya, melainkan dengan menganggap semuanya merupakan organis dan dinamis yang saling berinteraksi. Semua unsur tersebut adalah potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Pendidikan islam dalam hal ini merupakan usaha untuk mengubah kesempurnaan potensi tersebut menjadi kesempurnaan aktual, melalui setiap tahapan hidupnya. Dengan demikian fungsi pendidikan islam adalah untuk menjaga keutuhan unsur-unsur individual anak didiknya dan mengoptimalkan potensinya dalam garis keridhaan Allah, termasuk yang harus dioptimalkan dalam hal ini adalah aspek perkembangan dan semangat untuk bertahan hidup dan aspek ketrempilan peserta didik. (Maksum, 1999, hal. 30)

3. Pendidikan Islam Selalu Berkaitan Agama.Pendidikan islam sejak awal merupakan salah satu usaha untuk menumbuhkan dan memantabkan kecenderungan tauhid yang telah menjadi fitrah manusia. Agama menjadi petunjuk dan penuntun kearah tersebut. Karena itu, pendidikan aislam selalu menyelenggarakan pendidikan agama yang menitikberatkan pada fungsinya sebagai sumber moral dan nilai. Dalam pengertian ini titikberatnya dalaha dalam rangka mencerdaskan manusia dan menanamkan nilai dan moral yang sesuai dengan nilai ketuhanan dan prinsip -prinsip kemanusiaan yang menjadi esensi ajaran agama. Dengan demikian akan terbentuk manusia yang mengerti akan posisi dirinya. Pendidikan islam bukan hanya mengajarkan ilmu sebagai materi atau kegiatan sebagai kegiatan materi semata, melainkan selalu mengaitkan semua itu dengan kerangka praktik (amaliah) yang bermuatan nilai dan moral. (Maksum, 1999, hal. 31)

4. Pendidikan Islam Merupakan Pendidikan Terbuka.Dalam islam diakui adanya perbedaan manusia, namun perbedaan yang hakiki ditentukan oleh amal perbuatannya (QS al-Mulk :2) atau ketaqwaannya QS al-Hujarat:13), karena itu pendidikan islam pada dasarnya bersifat terbuka, demokratis, dan universal, berwawasan kemanusiaan, melampui batas tempat, waktu dan bahasa sesuai universalitas ajaran islam sendiri. Islam juga ditandai dengan ketentuan untuk mengadopsi unsur-unsur positif dari luar, sesuai perkembangan dan kebutuhn masyarakatnya, dengan tetap menjaga dasar-dasarnya yang original yang bersumber pada al-Quran dan al-Hadits. (Maksum, 1999, hal. 32)

G. Pokok-Pokok Kandungan Pendidkan Islam

Pendidikan islam dicirikan oleh kandungan kandungannya yang merupakan representasi dari dari ajaran islam, yaitu :

1. Aqidah TauhidFitrah bertauhid merupakan unsur orisinal yang melekat pada diri manusia, sejak penciptaanya. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi SAW. artinya setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah (HR. Al-Saikhani). Jadi pengajaran tauhid pada dasarnya adalah memenuhi fitrah manusia. Prinsip ketauhidan dalam pendidikan islam menjadi dasar bagi perumusan tujuan, perancangan metode dan penyusunan bahan-bahan pendidikan. Dengan demikian tujuan, metode, dan bahan-bahan pendidkan harus sejalan dengan jiwa tauhid, dan harus dalam rangka mengekalkan dan memantabkan jiwa tauhid tersebut, baik yang uluhiyyah maupun yang rubbubiyah. (Maksum, 1999, hal. 33)

2. ManusiaManusia dalam pandangan islam adalah makhluk yang paling sempurna (QS. Al-Tin :4), akan tetapi manusia juga memiliki potensi menjadi makhluk yang paling rendah (QS. Al-Tin :5), bahkan lebih rendah dari binatang (QS. Al-Araf :179), jadi manusia adalah makhluk yang memiliki potensi untuk baik dan jahat sekaligus. Kondisi itu adalah karena karena karakter unsur pembentuk manusia itu sendiri yaitu dari tanah dan ruh. (Maksum, 1999, hal. 34).

3. Masyarakat Msayarakat dalam pandangan islam dilihat dalam pamndangan prinsip persamaan (al-Musawah), prinsip tersebut dilahirkan dari ajaran keesaan Allah (tauhid), sehingga sesorang akan selalu merasa merdeka dan terbebas dari penghambaan antara satu dengan yang lainnya. Islam menegaskan bahwa asal dan perjalanan semua manusia adalah sama (inna lillahi wa inna ilaihi rojiun). Dari prinsip ini lahirlah prinsip kesetiakawanan sosial, mulai dari lingkup yang kecil yaitu keluarga sampai pada yang besar yaitu masyarakat yang diarahkan dan dimasukkan dalam lingkup ibadah. Berangkat dari hubungan yang telah diatur itu, masyarakat yang terbentuk adalah ummatan wasatan (QS. al-baqarah : 143) (Maksum, 1999, hal. 37)

4. Alam semestaMenurut islam, Tuhan adalah esa dalam esensi-Nya, dalam siaft-sifat-Nya, dan dalam perbuatan-Nya.konsekuensi dari dari kesadaran tauhid tersebut adalah pengakuan terhadap realitas obyektif kesatuan alam semesta. Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa kesatuan kosmos merupakan bukti yang jelas akan keesaan Tuhan (QS. al-Anbiya : 22). Artinya Sekiranya ada dilangit dan di bumi Tuhan-Tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa Alam semesta diciptakan adalah untuk kepentingan manusia. Dengan kata lain alam semesta diciptakan sejalan dengan tujuan hidup manusia, atau sebagai mitra manusia dalam menjalankan tugas Allah yang dibebankan kepadanya, agar potensi alam itu dapat diadayagunakan secara maksimal manusia harus mengenalinya melalui ilmu pengetahuan. (Maksum, 1999, hal. 39)

5. Ilmu PengetahuanIbadah yang hakiki tidak dibatasi pada ibadah ritual saja, akan tetapi harus difahami sebagai bentuk kesatuan antara tujuan-tujuan yang bersifat ritual dengan tujuan yang bersifat duniawi. Dengan demikian tugas sebagai abd dan sebagai khalifah mempunyai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Untuk menjalankan kedua peran tersebut manusia membutuhkan ilmu. Konsekuensinya antara agama dan ilmu tidak dapat dipisahkan. Sejalan dengan pandangan tauhid, umat islam meyakini bahwa yang mutlak adalah Allah, dengan demikian dipercaya bahwa hanya ilmu Allah yang memilki kebenaran mutlak. Ilmu Allah dikenal dengan ilmu ilahi yaitu ilmu yang memberikan kepada manusia pengetahuan menyeluruh dan lengkap yang dapat menimbulkan keyakinan dengan penngetahuan-pengetahuan yang lebih rinci dan parsial dibawahnya. Pengetahuan ini hanya dapat terpenuhi melalui kitab Allah yang maha luhur dan hanya para Nabi dan rasul Allah yang dapat memperoleh Ilmu ilahi secara sempurna melalui wahyu dan ilham (QS. al Najm : 3-4). Ilmu manusia dengan sendirinya bersifat nisbi, yang kebenaran hakikinya tergantung pada kesesuaian dengan ilmu Allah. Dengan demikian, jika dilakukan rekonstruksi, maka menurut islam ilmu yang selayaknya dikuasai oleh manusia merupakan perpaduan dari ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kawasan alam semesta dan ilmu yang dikirimkan melalui wahyu yang dapat ditangkap oleh para nabi dan Rasul. Ilmu yang demikian itu merupakan ilmu yang dijiwai oleh tauhid karena dibimbing oleh kebenaran mutlak. (Maksum, 1999, hal. 42)

H. Tujuan Pendidikan Islam

Berdasarkan kepada pengertian pendidikan Islam sebagai suatu proses, maka tujuan yang akan dicapai oleh pendidikan islam adalah suatu perwujudan dari nilai-nilai ideal islami yang terbentuk dalam pribadi manusia yang dinginkanTujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran Islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Sesuai dengan doa kita seharai-hari, artinya wahai Tuhan kami berilah kepada kami kebahagiaan di dunia dan juga kebahagiaan di kahirat (Arifin, 2009, hal. 109). al-Ghazali perpendapat pendidikan harus mencapai keutamaan dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, bukan untuk mencari kedudukan tinggi atau kemewahan. Manusia akan tersesat dan hidup penuh madharat jika menempuh pendidikan dengan tujuan selain itu. orang yang berakal sehat adalah orang yang mampu menggunakan dunia untuk tujuan akhirat dengan derajat yang lebih mulia, karena dunia bukanlah tujuan. (Hasan, 2010, hal. 106)Menurut hasan Langgulung tujuan pendidikan islam pada dasarnya sama dengan tujuan hidup manusia itu sendiri (QS. al-Dzariyat : 56) artinya tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecualai untuk beribahdah kepadaku, menurutnya tugas pendidkan adalah memelihara hidup manusia, oleh karena itu diskursus pendidikan islam harus melibatkan perbincangan tentang sifat-sifat asal manusia dalam pandangan islam.Dalam al-Quran disebutkan bahwa manusia adalah khalifah dimuka bumi. Manusia akan mampu mempertahankan kekhalifahannya jika ia dibekali dengan potensi-potensi yang membolehkannya berbuat demikian. Potensi tersebut adalah fitrah, ruh, kemauan dan akal. dengan demikian tujuan pendidikan islam adalah membentuk pribadi khalifah bagi peserta didik yang memilki fitrah ruh, kemauan, dan akal sehingga pendidik/guru bertugas mengembangkan keempat aspek tersebut agar eksis dalam kekhalifahannya itu sebagai wujud pengamdian kepada Allah. (Maksum, 1999, hal. 46)

I. Tugas dan Fungsi Pendidikan Islam

Pada hakikatnya pendidikan islam adalah suatu proses yang berlangsung secara kontiniu dan berkesinambungan, berdasarkan hal ini tugas dan fungsi yang diemban oleh pendidikan islam adalah pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat. yakni tugas dan fungsi pendidikan islam senantiasa tumbuh dan berkembang secara dinamis mulai dari kandungan sampai akhir hayat. Menurut Ramayulis tugas pendidikan islam dapat difahami setidaknya dari 3 (tiga) pendekatan :a. Pendidikan islam sebagai pengembang potensi.Dalam hal ini tugas pendidikan islam adalah menemukan dan mengembangkan kemampuan dasar (fitrah) yang dimiliki peserta didik, sehingga dapat diaktualisasikan dalam kehidupannya.

b. Pendidikan islam sebagai proses pewarisan budayaTugas pendidikan dimaksudkan sebagai alat transmisi unsur-unsur pokok budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga identitas umat islam tetap terpelihara dan terjamin dalam tantangan zaman.

c. Pendidikan islam sebagai interaksi antara potensi dan budaya. Pendekatan ini menjelaskan tugas pendidikan islam sebagai proses transaksi (memberi dan mengadopsi), antara manusia dan lingkungan, sehingga perserta didik akan dapt menciptakan dan mengembangkan ketrampilan-keterampilan yang diperlukan untuk mengubah atau memperbaiki kondisi-kondisi kemanusiaan dan lingkungan. (Ramayulis, 2009, hal. 92)Sedangkan Fungsi pendidikan Islam adalah memelihara dan mengembangkan fitrah dan sumber daya manusia menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) yakni manusia berkualitas sesuai dengan pandangan Islam. (Hadi, 2013, hal. 45) Fungsi pendidikan Islam dijelaskan dalam Alqur'an yang secara eksplisit menyebutkan fungsi risalah Nabi, atau lebih spesifik dapat dikatakan fungsi pedagogik misi profetis Nabi Muhammad SAW. Diantara ayat Al-qur'an yang memuat fungsi pedagogis profetis Muhammad SAW adalah surat Al-baqarah ayat 151 : " Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kamu sekalian seorang Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikanmu, mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, dan mengajarkan kepadamu yang belum kamu ketahui "Dari ayat tersebut ada lima fungsi pedagogik misi profetisyaitu :a. membacakan ayat-ayat Allah, Makna membacakan ayat-ayat Allah adalah bahwa pendidikan Islam memiliki fungsi untuk mengenalkan kepada anak didik tentang segala ciptaan Allah SWT. Ayat-ayat Allah terdiri dari dua hal, yaitu ayat-ayat yang tertulis (Qauliyah) dan ayat-ayat yang bisa kita saksikan atau sering disebut dengan ayat-ayat yang tersirat (kauniyah).

b. menyucikan diri (tazkiyatun nafs), Pendidikan Islam harus pula dapat membawa anak untuk dapat memiliki akhlak Islami, budi perkerti yang luhur, shaleh secara individual maupun secara social. Inilah makna bahwa fungsi pendidikan adalah proses untuk menusucikan diri atau tazkiyatun nafs

c. mengajarkan al-Kitab, bahwa pendidikan islam berfungsi mengenalkan kepada peserta didik tentang berita gembira bagi orang yang taat keapda Allah dan memberi peringatan keapda orang yang mengingkari-Nya. Agar mereka faham apa yang seharusnya mereka lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

d. mengajarkan al-Hikmah, Pendidikan Islam memiliki fungsi mengajarkan al-Hikmah, artinya adalah bahwa pendidikan harus mampu membawa anak didik untuk mehamami makna-makna kehidupan, bersikap wisdom (bijak) dalam menanggapi segala hal yang berhubungan dengan hubungan sosial (hablum minannas).

e. mengajarkan ilmu pengetahuan, pendidikan Islam berfungsi sebagai wahana bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Sebagaimana dalam prinsip Islam yang dalam hal pengetahuan berprinsip integralistik, bahwa tidak ada dikotomi ilmu pengetahuan atau pemisahan antara ilmu-ilmu umum dan ilmu- ilmu agama, maka pendidikan Islam harus mengajarkan seluruhilmu pengetahuan secara utuh (integral) tidak terpisah- pisah. Dengan demikian pengetahuan yang dimiliki anak didikmenjadi utuh, komprehensif dan tidak parsial. (Hadi, 2013, hal. 47) Jadi secara umum tugas pendidikan islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan perserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya smpai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsi pendidikan islam adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar sejalan dengan fungsi profetis.

J. Kesimpulan

Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsi pendidikan berjalan dengan lancar. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional ; perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik ; aspek spiritual, intelektual, imajinasi,fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif ; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. (wallahu alam bissawab)K.

Referensi

Ali, N. (2008). Kependidikan Islam dalam Perspektif Hadits Nabi. Penelitian Agama, Vol. XVII, 117-135.Arifin, M. (2009). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.Hadi, M. (2013). Hakikat Sistem Pendidikan Islam. Tarbawiyah Vol. 10, 32-48.Hambali. (t.thn.). Hakikat Dan Tujuan Pendidikan.Hasan, I. (2010). Relevansi Pemikiran Pendidikan Islam Al Ghazali di Tengah Idiologi Pemikiran Dewasa ini. Islamadina Vol. IX, 104-110.http://kbbi.web.id/Maksum. (1999). Madrasah Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.Ramayulis. (2009). Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 Ayat 1.

13 | Halaman