filsafat sains

Click here to load reader

Post on 10-Dec-2015

47 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

filsafat

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan dan kemajuan zaman manusia dewasa ini tidak terlepas dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Kita menyebut tahap-tahap tersebut sebagai priodesasi sejarah perkembangan ilmu, sejak zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern dan zaman kontemporer.

Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa ibarat mata rantai yang tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan suatu masa menjadi unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Satu hal yang tak sulit untuk disepakati, bahwa hampir semua sisi kehidupan manusia modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan ilmu dan teknologi, sektor ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, sosial dan budaya, komunikasi dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan lain-lain, semuanya membututuhkan dan mendapat sentuhan teknologi.

Satu hal lain yang menjadi karakter spesifik ilmu kontemporer, dan dalam konteks ini dapat kita temukan secara relatif lebih mudah pada bidang-bidang sosial, yaitu bahwa ilmu kontemporer tidak segan-segan melakukan dekontruksi dan peruntuhan terhadap teori-teori ilmu yang pernah ada untuk kemudian menyodorkan pandangan-pandangan baru dalam rekontruksi ilmu yang mereka bangun. Dalam hal inilah penyebutan potmodernisme dalam bidang ilmu dan filsafat menjadi diskursus yang akan cukup banyak ditemukan (Sulaiman ,2009).

Semua kemajuan tersebut adalah buah dari perkembangan ilmu pengetahuan yang tak pernah surut dari pengkajian manusia. Pengetahuan berawal dari rasa ingin tahu kemudian seterusnya berkembang menjadi tahu. Manusia mampu mengembangkan pengetahuan disebabkan oleh dua hal utama, yakni, pertama manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuannya dengan cepat adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berfikir tertentu.Pengetahuan (knowlodge atau ilmu) adalah bagian yang esensial-aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari berfikir. Berfikir adalah sebagai ciri utama yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan barangkali keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia? Bagaimana manusia berpengetahuan? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan? Kemudian apakah yang diketahui itu benar? Dan apa yang menjadi tolak ukur kebenaran? Bagaimana kebenaran itu diaplikasikan?Sederetan pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu, maka akan ada aturan yang harus diperhatiakan dalam mengkajinya melalui landasan-landasan atau dasar-dasar ilmu, yaitu landasan ontologi, landasan epistemologi, dan landasan aksiologi. Dengan demikian dapat memberikan pemahaman tentang suatu kerangka pendekatan pencarian kebenaran, proses yang ditempuh dalam pencarian kebenaran tersebut dan sejauh mana kebenaran itu dapat dikatakan bermanfaat bagi kehidupan manusia.Oleh karena itu, permasalahan tersebut perlu diuraikan lebih lanjut melalui makalah yang penulis susun yang berjudul Landasan Penelaahan Ilmu Pengetahuan.1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat dibahas untuk lebih lanjut adalah sebagai berikut:

1.2.1Bagaimana hubungan ilmu dengan nilai?

1.2.2Apa yang dimaksud dengan landasan ontologi?

1.2.3Apa yang dimaksud dengan landasan epistemologi?

1.2.4Apa yang dimaksud dengan landasan aksiologi?

1.2.5Bagaiamana hubungan antara landasan ontologi, epistemologi, dan

aksiologi dalam filsafat ilmu?

1.3 Tujuan Penilaian

Adapun tujuan penulis dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.3.1 Untuk mengetahui hubungan ilmu dengan nilai.

1.3.2 Untuk mengetahui pengertian landasan ontologi.

1.3.3 Untuk mengetahui pengertian landasan epistemologi.

1.3.4 Untuk mengetahui pengertian landasan aksiologi.

1.3.5 Untuk mengetahui hubungan antara landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam filsafat ilmu.1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan yang dapt diperoleh dari makalh ini baik oleh penulis maupun pembaca adalah sebagi berikut:

1.4.1 Bagi Penulis

1. Meningkatkan keterampilan menyusun suatu karya ilmiah dalam bentuk makalah yang sesuai dengan sistematika penyusunan karya tulis.

2. Mengembangkan pemahaman terhadap cabang ilmu filsafat yang berperan sebagai landasan penelahaan ilmu pengetahuan. Pemahaman tersebut dapat dijadikn bekal teori untuk mengkaji suatu ilmu pengetahuan yang bebas nilai ataupun taut nilai.

1.4.2 Bagi Pembaca

1. Memberi pengetahuan terkait peran landasan penelahaan ilmu pengetahuan dalam mengkaji suatu ilmu pengetahuan.

2. Pengetahuan yang diperoleh dapat diberdayakan ketika hendak meneliti sutau pengetahuan baru agar dapat menghasilkan ilmu penetahuan yang benar-benar berfaedah bagi kehidupan manusia.1.5 Metode Penulisan

Metode yang penulis gunakan dalam menyusun makalah ini adalah metode kajian pustaka, yaitu dengan mengkaji beberapa referensi yang relevan dengan topik yang penulis angkat. Data-data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hubungan Ilmu dengan Nilai

Kegiatan keilmuan dan pengembangan ilmu memerlukan dua pertimbangan, yaitu objektivitas dan nilai-nilai hidup kemanusiaan (Siswomihardjo, 1997). Objektivitas yang menuju kepada kebenaran merupakan landasan tetap yang menjadi pola dasarnya. Sedangkan nilai-nilai hidup kemanusiaan merupakan pertimbangan pada tahap pra-ilmu dan pasca-ilmu.

Pertimbangan nilai-nilai sangat berpengaruh pada penentuan tujuan ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah pada umumnya. Berdasarkan pertimbangan nilai, pandangan para ilmuwan dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu (The Liang Gie, 1984):

1) Para ilmuwan yang hanya menggunakan satu pertimbangan nilai, yaitu nilai kebenaran dan dengan mengesampingkan pertimbangan-pertimbangan nilai metafisik lainnya seperti nilai etik, kesusilaan dan kegunaannya. Pihak ini memiliki prinsip bahwa ilmu pengetahuan harus bebas nilai. Prinsip tersebut akan menjadikan kebenaran sebagai satu-satunya ukuran dan segala-galanya bagi seluruh kegiatan ilmiah, termasuk penentuan tujuan bagi ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan ilmuwan yang berprinsip bahwa ilmu harus bebas nilai adalah sebagai berikut: a. Jacob Bronowski, yang berpendanpat bahwa,

The end of science is to discover what is true about the world. The activity of the science is directed to seek the truth, and it is judged by the criterion of being true to the facts. (Tujuan pokok ilmu adalah mencari sesuatu yang benar tentang dunia. Aktivitas ilmu diarahkan untuk melihat kebenaran, dan hal ini dinilai dengan ukuran pembenaran fakta).b. Victor Reisskop, yang berpendapat bahwa,

The primary aim of science is not in application. It is in gaining insights into the cause and laws governing natural processes. (Tujuan pokok ilmu bukan pada penerapan, tujuan ilmu ilah mencapai pemahamn-pemahaman terhadap sebab dan kaidah-kaidah tentang proses-proses ilmu)

c. Carl G. Hempel dan Paul Oppenheim, yang berpendapat bahwa,

To explain the phenomena in the world of experience, to answer the question why rather than only the question what, is one of the foremost objectives of all rational inquir; and especially, sciencetific research in its various branches shrives to go beyond a more description of the phenomena it investigates. (Menjelaskan fenomena dalam dunia pengalaman, menjawab pertanyaan mengapa daripada semata-mata pertanyaan apa merupakan salah satu dari tujuan-tujuan utama semua penyelidikan rasional; dan khususnya penelitian ilmiah dalam aneka cabangnya berusaha melampaui sekedar hanya suatu pelukisan mengenai pokok soalnya dengan menyajikan suatu penjelasan mengenai fenomena yang diselidiki).d. Maurice Richter, yang berpendapat bahwa,

The goal of science, as commonly recognized today, involves the acquisition of systematic, generalized knowledge concerning the natural world; knowledge which help man to understand nature, to predict natural events and to control natural forces. ( Tujuan ilmu sebagaimana biasanya diakui dewasa ini meliputi perolehan pengetahuan yang digeneralisasi, disistematisasi mengenai dunia alamiah; pengetahuan yang membantu manusia untuk memahami alam, meramal kejadian-kejadian alamiah dan mengendalikan kekuatan-kekuatan alamiah).

2) Para ilmuwan yang berpandangan bahwa sangat perlu dimasukkannya pertimbangan nilai-nilai etik, kesusilaan, dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran. Pihak ini berprinsip bahwa ilmu harus taut (gayut) nilai. Salah satu pandangan yang berpirinsip bahwa ilmu harus taut nilai adalah CA van Peursen yang mengemukakan bahwa:

Dalam meninjau perkembangan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari tiga hal yaitu teori pengetahuan, teknik, dan etik. Teori pengetahuan melahirkan teknik, dan teknik secara langsung bersentuhan dengan nilai etik. Selain CA van Peursen, Daoed Yoesoef berpendapat bahwa ilmu pengetahuan memang merupakan suatu kebenaran tersendiri, tetapi otonomi ini tidak dapat diartikan bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai (Daoed Yoesoef, 1986).

Pertimbangan nilai etik tidak dimaksudkan untuk mengubah ciri-ciri dalam metode ilmiah, tetapi dimaksdukan untuk m