filsafat - dan koreksi terhadap filsafat paripatetik ... dilakukannya ketika merujuk kepada buku...

Download Filsafat - dan Koreksi Terhadap Filsafat Paripatetik ... dilakukannya ketika merujuk kepada buku yang…

Post on 30-Mar-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Revitalisasi dan KoreksiTerhadap Filsafat Paripatetik

Analisis Terhadap Konsep Shihb al-Dn al-Suhraward

Oleh Suparman Syukur*

Kata Kunci: al-Hikamah al-Isyraqiyyah, Kararis fi al-hikmah, Philosopiageneralis, al-Hikmah al-Ammah, al-Hakim al-Mutaallih,Hikmah bahtsiah Hikmah dzawqiyyah, Daqiqah Isyraqiyyah,Dhawabit Isyraqiyyah, al-Hudhuri al-Isyraqi

Pendahuluan

Pada masa, ketika spirit sejarah Islam telah menjadi lebih dari sekedarmanifestasi hilangnya spiritualitas ketimbang proses penyingkapannya,warisan Suhraward memberi suatu metode alternatif penyelidikantentang hakekat sesuatu. Filsafat itu muncul pasca Ibn Rusyd. Formulasiawalnya, diakhir abad ke 12 H., filsafat iluminasi telah dipakai oleh banyakpemikir yang mempertanyakan paripatisme-sinkretik sebagai filsafat Islamasli. Maka, Suhraward datang dengan ide yang ingin mentransenden-tasikan filsafat paripatetik berdasarkan posisi epistimologis yang pentingkepada wahyu, inspirasi personal dan visi mistis. Penamaan aliran inidiberikan berdasarkan karya utama sang penggagas, yaitu kitab al-Hikmahal-Isyrqiyyah. Suhraward sendiri mendapat gelar Syaikh al-Isyrq, yangartinya Guru Agung Filsafat Pencerahan.1

Filsafat paripatetik yang dianggap paling unggul,oleh Suhrawardi dinilai mengandung banyakkekurangan. Secara Epistemologis, ia tidak bisamenggapai seluruh realitas wujud. Sedangkansecara ontologis, Suhrawardi tidak bisa menerimakonsep paripatetik, antara lain dalam soal eksistensi-essensi. Baginya yang fundamental dari realitasadalah essensi, bukan eksistensi. Tujuan dasar filsafatilluminasi Suhrawardi disamping merumuskan jalanyang jelas menuju suatu kehidupan filosofis dansebagai sarana yang secara ilmiah lebih valid untukmeneliti sifat dan hakikat sesuatu serta sarana untukmencapai kebahagiaan, juga untuk meraihkebijaksanaan yang lebih praktis.

Filsafat

24

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Pemikiran Illuninatif (Isyrqiyyah) secara ontologis maupunepistimologis, lahir sebagi alternatif atas kelemahan-kelemahan yang adapada filsafat sebelumnya, khususnya paripatetik Aristotelian.2 MenurutSuhraward,3 filsafat paripatetik yang sampai saat itu dianggap palingunggul, ternyata mengandung bermacam kekurangan. Secaraepistimilogis, ia tidak bisa menggapai seluruh realitas wujud. Ada sesuatuyang tidak bisa dicapai oleh penalaran rasional, bahkan silogisme rasionalsendiri, pada saat tertentu, tidak bisa menjelaskan atau mendifinisikansesuatu yang diketahuinya.

Sementara itu, dari sisi ontologis, Suhraward tidak bisa menerimakonsep paripatetik, antara lain, dalam soal eksistensi-essensi. Baginya,yang fundamental dari realitas adalah essensi, bukan eksisitensi sepertidiklaim kaum paripatetik. Esensilah yang primer, sedangkan eksistensihanya sekunder, murupakan sifat dari essensi dan hanya ada dalampikiran.4 Ini sekaligus mengembalikan konsep Plato, bahwa eksistensihanyalah bayangan dari ide dalam pikiran.5

Tujuan dasar filsafat iluminasi Suhraward adalah merumuskan jalanyang jelas menuju suatu kehidupan filosofis sekaligus merupakan saranayang secara ilmiah lebih valid untuk meneliti sifat dan hakikat sesuatuserta sarana untuk mencapai kebahagiaan, dan juga jalan untuk meraihkebijaksanaan yang lebih praktis, yang dapat dan harus digunakan untukmengabdi kepada kekuasaan yang adil. Berangkat dari ide ini, Suhrawardbanyak mengkritisi beberapa pemikiran Ibn Sina, seperti yangdilakukannya ketika merujuk kepada buku yang berjudul Karrs fi al-Hikmah, yang dinisbahkan oleh Ibn Sina sebagai metode orang Timurdalam berfilsafat. Pertama-tama Suhrawardi menegaskan keraguan atasklaim Ibn Sina, bahwa Karrs didasarkan atas prinsip-prinsip ketimuran.Kemudian ia melanjutkannya dengan menolak dengan penegasan IbnSina bahwa Karrs merupakan filsafat Timur baru atas dasar sepasangargumen berikut.

Pertama, tidak ada filsafat Timur sebelum Suhraward menciptakanfilsafat iluminasi. Filasafat iluminasi tidak boleh dianggap Timur dalampengertian kultur ataupun geografis, tetapi lebih menekankanIluminasionis (isyrq, agar tak terkacaukan dengan masyrq). Kedua,Suhraward bersikeras menunjukan bahwa Karrs sesungguhnya disusunsemata-mata sesuai dengan kaidah-kaidah Paripatetik yang sudah mapan,yang terdiri dari masalah-masalah yang hanya dimasukan dalam apa yangolehnya dikhususkan sebagai philosophia generalis (al-hikmah al ammah).Suhraward menyimpulkan bahwa modifikasi-modifikasi sederhana yangdilakukan Ibn Sina tidak menjadikan ia seorang filosof Timur.6

Secara umum, tujuan Suharaward adalah menjelaskan pendapat-pendapatnya selaras dengan metode Paripatetik konvensional. Paripatetik

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005 25

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

konvensional disebutnya sebagai metode diskursif yang baik namuntidak memadai untuk mencapai tujuan pencarian Tuhan (mutaallih) yangingin tiba pada tingkat pengalaman kebijaksanaan ataupun hikmah,atau bagi yang ingin memadukan metode diskursif dan pengalaman-batinsekaligus. Tugas inilah yang telah dituntaskannya dalam bukunya yangberjudul Hikmah Al-Isyrq (Filsafat Iluminasi).7

Munculnya Suhraward, dengan mengusung Filsafat Iluminasimerupakan sebuah hal yang wajar (thab), karena berangkat dari sebuahfenomena yang sangat dinamis, di era kolaraborasi pemikiran filsafat daribanyak unsur; Filsafat Yunani, Persia, India, Kristen, dan Shbiiyyah.8

Untuk memahami lebih jauh, di bawah ini akan dikaji kandungan filsafatiluminasi tersebut.

Suhraward: Seketsa Biografis

Adalah Syihb al-Dn Yahy Ibn Habasy Ibn Amrak Ab al-Futh al-Suhraward, seorang filosof yang sangat fenomenal dalam catatan sejarahIslam, sebagai Guru Iluminasi (Syaikh al-Isyrqi). Dia lahir di kota kecilSuhraward di Persia Barat Laut9 pada 549 H/1154 M. Ia menemukankematian tragis melalui eksekusi di Aleppo pada 587 H/1191 M, karenaitu, ia sering disebut dengan julukan Guru Yang Terbunuh (Al-SyaikhAl-Maqtl), Julukan ini untuk membedakannya dengan dua tokohSuhraward yang lain.10 Umur Suhrward relatif pendek dibandingdengan filosof yang lain, dia hanya hidup sekitar tiga puluh delapan tahunQomariah (tigapuluh enam tahun Syamsiyah), waktu yang sangat singkatbagi seorang filosof besar.

Suhraward belajar di Maraghah, kota yang nantinya sangat terkenalkarena menjadi lokasi aktivitas astronomi al-Thsi, sekaligus tempatkelahirannya. Ia juga belajar di Isfahn, di mana ia menjadi teman sekelasFakhruddn al-Rz. Suhraward pertama kali belajar filsafat kepada MajdJl, seorang mutakallim yang terpengaruh doktrin Masysyiyah.11.Kemudian pergi ke Isfahn untuk memperdalam kajian filsafat kepadaFakhr al-Dn al-Mardn (w. 594 H/1198 M). Setelah itu, ia belajar kepadaZhhir al-Dn al-Qri al-Fars dan mengkaji kitab al-Bashir al-Nshiriyyahkarya Umar Ibn Sahln al-Sw, yang juga dikenal sebagai komentatorRislah al-Thair karangan Ibn Sina, ahli logika terkenal sekaligus salahsatu pemikir Illuminasionis awal dalam Islam.12

Hal yang sangat sulit untuk mengkaji sejarah perjalanan Suhrawardadalah, mengetahui secara pasti, kapan ia menyelesaikan studi atau kapanmulai mengajar dan menulis karya-karyanya. Hossein Ziai memberi asumsi-asumsi untuk memberi jawaban dengan mengatakan:

26

Revitalisasi dan Koreksi terhadap Filsafat Paripatetik... Suparman Syukur

Teologia, Volume 16, Nomor 1, Januari 2005

Suhraward mungkin menyelesaikan studinya dengan al-Jll pada permulaanumur duapuluhan dan dengan al-Mardn pada pertengahan umur duapuluhan.Mari kita asumsikan bahwa, setelah menyelesaikan studinya, sebuah periode antaratiga sampai lima tahun lewat sebelum masa ketika sekelompok murid atau siswayang sering disebut sebagai saudara atau sahabat, mendekatkan diri kepadanya.Untuk merekalah yang menuntutnya dengan keras ia menulis kebanyakankaryanya. Ini juga berarti bahwa, Suhrward telah menyampaikan ajaran-ajarannya pada saat ia mengajar secara lisan, sebelum diturunkan dalam bentuktulisan. Tidak mungkin karya-karya Suhrward yang penting itu ditulis sebelumakhir umur duapuluhan. Suhrward paling banter mempunyai waktu sepuluhtahun untuk menyusun semua karya-karyanya yang penting, dan mungkinkebanyakan karya-karya lainya termasuk cerita-cerita alegoris.13

Setelah pembelajaranya, ia banyak melawat ke Persia, Anatolia (asiakecil), Damaskus dan Syiria. Dalam pengembaraannya, Surhrawardbanyak bergaul dengan kalangan sufi dan menjalani kehidupan zahid,sambil memperdalam ajaran tasawuf. Menurut Hussein Nasr, Suhrwardmemasuki putaran kehidupannya melalui jalan sufi dan cukup lamaberkhalwat untuk mempelajari dan memikirkanya, perjalanannya semakinlebar hingga mencapai Anatolia dan Syiria.14 Setelah banyak melawatbeberapa kawasan, akhirnya, ia menetapkan untuk pergi ke Aleppo.Segera setelah kedatangannya di Aleppo, Suhraward mulai mengabdipada pangeran al-Mlik al-Zhir Ghzi, Gubernur Aleppo yang jugadikenal sebagai Mlik Zhir Syh, putra Sultan Ayubiyyah Salh al-Dn,yang dikenal di Barat dengan sebutan Saladin, seorang pejuang besardan pemimpin dalam perang salib. Karena kepiawainnya, ia berhasilmembuat pangeran simpati hingga dijadikan pembimbingnya dan hidupdi istana. Dari sinilah Suhraward mulai mengenalkan filsafatnya kepadapangeran, ia berhasil memadukan metode diskursif dan pengalaman batinsekaligus untuk mencari dan memahami Tuhan. Menurutnya, filsafatParipatetik, gagal untuk tujuan tersebut yakni mencari Tuhan (mutaallih).Untuk mengilustrasikan hal ini , Mehdi Amin Razavi dalam bukunyaSuhrward and The School of Illumination mengutip perkataan muridnyaShahrzuri:

Malik liked the Syaikh and he liked him. The ulam of Syiria gathered araoundthe Syaikh and heard his worlds. In discussions, he clarified the thoughts of hukamand their validity and weakened the opinion of the opponents of the hu