energi baru terbarukan

Download Energi Baru Terbarukan

Post on 01-Jun-2018

226 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/9/2019 Energi Baru Terbarukan

    1/128

    SEMINAR DAN LOKAKARYA NASIONAL ENERGI DAN LINGKUNGAN ” PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN DAN EFISIENSI ENERGI”

    SEMARANG, 22-23 APRIL 2008

    LUASAN LAHAN TANAMAN JARAK PAGAR

    UNTUK ANTISIPASI KELANGKAAN MINYAK

    TANAH DI JAWA TENGAH

    Rachman Djamal*

    ABSTRAK

    Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian Badan LITBANG Provinsi Jawa Tengah

     yang telah dilakukan pada tahun 2007. Penelitian ini menggunakan data sekunder dan data

     primer berupa hasil pengamatan langsung sereta wawancara dengan petani jarak di lokasi

    sampel pengembangan jarak di Jawa Tengah. Data-data tersebut dianalisis tabulasi,

     perhitungan langsung, uji statistik dan diskripsi. Hasil penelitian menunjukan: konsumsi

    minyak tanah tiap rumah tangga di lokasi penelitian antara 143,5 - 285,5 liter/tahun atau

    rerata 0,6 liter/hari. Apabila dikonversi ke kebutuhan minyak jarak yang diperlukan untuk

    menggantikan minyak tanah tersebut adalah 175 liter/tahun (0,48 liter/ hari). Sehingga

     jumlah biji jarak yang harus disediakan sebagai bahan baku penghasil minyak jarak sebanyak

    876 kg/tahun (2,4 kg/hari). Apabila dihitung jumlah minimal populasi tanaman yang harus

    dimiliki setiap rumah tangga di pedesaan untuk menghasilkan minyak jarak guna

    menggantikan minyak tanah paling sedikit sebanyak 438 pohon. Kemudian bila akan ditanam

    dengan cara berjajar dengan jarak antar pohon 1,5 meter diperlukan lahan sepanjang 657 m

    atau apabila akan ditanam secara monokultur dengan jarak tanam 2 x 2 m diperlukan lahan

    seluas 1752 m². Berdasarkan potensi desa di lokasi penelitian yang memungkinkan untuk mengembangkan jarak pagar sebagai bahan baku minyak jarak guna mengurangi atau

    menggantikan bakan bakar minyak tanah yaitu di lahan-lahan yang belum dimanfaatkan

    seperti batas keliling desa, tepi jalan desa, dan lainnya. Pemanfaatan dan penggunaan lahan

    tersebut perlu didukung dengan pola dan tata cara pemanfaatan yang saling

    menguntungkan.

    Kata Kunci:Luasan lahan, tanaman jarak, minyak jarak, minyak tanah

    PENDAHULUAN

    Dengan harga minyak mentah dunia yang cenderung meningkat, yang pada saat ini mencapai harga diatas US$ 100 tiap barel telah membebani devisa negara yang besar selanjutnya berakibat pada makin rendahnya kemampuan APBN untuk memberikan subsidi harga BBM, sehingga sejak tahun 2005 harga BBM di dalam negri sudah mengalami  beberapa kali kenaikan. Dampak kenaikan harga BBM yang terjadi sejak tanggal 1 Oktober 2005 tersebut dirasakan sangat memberatkan sebagian besar masyarakat terutama yang memiliki tingkat rata-rata pendapatan yang masih rendah.

    _________________________________________ *) Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah 

    E-mail : rachman [email protected]

    1

    mailto:[email protected] mailto:[email protected] mailto:[email protected]

  • 8/9/2019 Energi Baru Terbarukan

    2/128

    SEMINAR DAN LOKAKARYA NASIONAL ENERGI DAN LINGKUNGAN ” PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN DAN EFISIENSI ENERGI”

    SEMARANG, 22-23 APRIL 2008

    Berdasarkan Survey Direktorat Jenderal Listrik dan Penggunaan Energi tahun 2000

     bahwa prosentase penggunaan energi di tingkat rumah tangga untuk memasak sebesar 64 %, penerangan 23%, hiburan 8%, komersial 1 %, dan lainnya 4 % dan jenis BBM yang dikonsumsi masyarakat pada umumnya adalah Minyak Tanah sebanyak 74 %, listrik 23,71% dan LPG 5,29 % dari jumlah konsumsi BBM Nasional. Dari data tersebut minyak tanah merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakat. Pemerintah menyadari hal ini yang mengakibatkan subsidi pada minyak tanah cukup besar pada tahun 2005, mencapai Rp 39,8 triliun. Dengan PERPRES No 5 Tahun 2005 tentang kenaikan BBM bersubsidi, maka sejak 30 September 2005 pemerintah menetapkan kenaikan harga BBM paling tinggi adalah minyak tanah (Prihandana,et.al., 2006). Hal tersebut menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pemerintah maupun masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar

    minyak yang bersumber dari BBM fosil pada saat ini.Kebutuhan minyak tanah di wilayah Jawa Tengah juga dari tahun ke tahun mengalami kenaikan, pada tahun 2006 sebesar 1.2 juta kiloliter. Untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi minyak tanah yang semakin langka dan mengantisipasi kenaikan harga jika subsidi dikurangi, maka perlu di cari sumber energi alternatif. Salah satu energi alternatif yang sekarang dikembangkan di Jawa Tengah khususnya adalah minyak jarak sebagai pengganti minyak tanah. Hasil Penelitian terhadap tanaman jarak pagar, biji jarak tersebut merupakan sumber penghasil energi yang potensial yang dapat dikembangkan khususnya di daerah Jawa Tengah.

    Lahan di Jawa Tengah yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai daerah penanaman jarak yang dapat dilakukan dengan cara budidaya monokultur atau dengan

    cara tumpangsari/polikultur, menurut data BPS Jateng tahun 2006, yaitu di lahan pekarangan yang memiliki bangunan seluas 580.976 Ha, Tegalan dengan kebun 752.842 Ha, Ladang/Huma 10.642 Ha, Padang rumput 2.709 Ha, lahan yang tidak diusahakan mencapai 4.896 Ha, Hutan Rakyat 69.377 Ha, Hutan negara 569.926 Ha, Perkebunan negara 79.230 Ha, dan lahan lain-lain seluas 144.773 Ha. Menurut laporkan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial departemen Kehutanan Tahun 2001 bahwa Jawa Tengah memiliki lahan kritis seluas 360.827 ha (11.102 ha di dalam kawasan hutan dan 349.725 ha di luar kawasan hutan). Sebagian lahan ini dapat digunakan untuk mengembangkan jarak. Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah tahun 2006, memperkirakan luas lahan yang dapat dikembangkan untuk tanaman jarak sebanyak 226 ribuan ha di seluruh daerah di wilayah Jawa Tengah yang telah ditanami sekitar 1 persenya.

    Ketergantungan masyarakat desa terutama yang tinggal di daerah pedesaan memiliki ketergantungan terhadap minyak tanah yang cukup tinggi, sedangkan untuk memperolehnya pada akhir-akhir ini seringkali mengalami kesulitan karena ketersediaannya langka dan harga yang relatif mahal. Masyarakat pedesaan tersebut sebenarnya memiliki peluang untuk mengembangkan energi alternatif seperti dengan mengembangkan tanaman jarak pagar sebagai sumber minyak jarak untuk mengurangi ketrergantungan/menggantikan minyak tanah.

    Guna mewujudkan pengembangan energi altrnatif antara lain pemerintah telah menerapkan konsep ”desa mandiri energi” (DME) seperti di yang telah diupayakan di  beberapa desa di Kabupaten. Gorobogan. Dalam konsep ini diharapkan suatu desa dapat

    mandiri dalam hal pemenuhan energi untuk keperluannya, sumber energi tersebut

    2

  • 8/9/2019 Energi Baru Terbarukan

    3/128

    SEMINAR DAN LOKAKARYA NASIONAL ENERGI DAN LINGKUNGAN ” PENGEMBANGAN ENERGI BARU TERBARUKAN DAN EFISIENSI ENERGI”

    SEMARANG, 22-23 APRIL 2008

    sebagian besar berasal dari upaya mengembangkan sumber energi di daerahnya sendiri seperti penggunaan minyak jarak/bio gas untuk memasak, mikrohidro untuk penerangan dan lainnya.

    Pengembagan jarak pagar yang telah diusahakan masyarakat saat ini masih masih

     belum sesuai yang harapkan antara lain disebabkan karena penerapan teknik budidaya yang belum sesuai anjuran, penangnan hasil sampai pendayagunaan minyak jarak dan pemasarannya belum banyak dipahami. Pengusahaan jarak pagar oleh M\masyarakat sampai dengan saat ini masih dalam tahap awal, belum banyak memperhatikan aspek kualitas bibit, cara budidaya dan lainya sehingga produktifitasnya masih belum memadai (Mahmud 2006 b). Pertanaman jarak yang ada sekarang ini berasal dari bibit yang tidak diketahui asal usulnya, dengan teknologi budidaya seadanya. Menurut Hasnam 2006; Prastowo, 2006, hal ini dapat dimaklumi mengingat penelitian tentang komoditas jarak  baru dilakukan setelah keluarnya INPRES No 1 tahun 2005 tentang pengembangan energi alternatif.

    Dalam upaya mendapatkan informasi guna menunjang upaya pengembangantanaman jarak di wilayah Jawa Tengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2007 telah melakukan penelitian luas lahan optimal dengan budidaya yang efisien dan efektif untuk memenuhi bahan bakar pengganti minyak tanah dalam skala rumah tangga. Dalam tulisan ini hanya menggambarkan informasi Luas lahan optimal untuk menaman jarak pagar sebagai upaya pengganti/pengurang konsumsi minyak tanah dalam skala rumah tangga di Jawa Tengah 

    BAHAN DAN METODA

     Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Data primer, yaitu data yang diambil langsung dari sumbernya dengan menggunakan observasi dan wawancara. Sumber data primer adalah responden atau narasumber; 2) Data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan tidak langsung dari sumbernya. Sumber data sekunder berupa dokumen dan laporan baik yang dipublikasikan maupun tidak.

    Cara pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Observasi atau mengamati secara langsung kegiatan usahatani jarak di lokasi penelitian; 2) Wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (Questionaire) yang telah dipersiapkan sebelumnya; 3) Pencatatan/studi pustaka yang bersumber dari Dinas/lnstansi terkait.

    Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis yang dilaksanakan selama 10  bulan dari bulan Pebruari sampai dengan Nopember 2007 di Kabupaten Cilacap (Ds

    Karangmangu, Ds Karangpakis Kec. Nusawungu dan di desa Karangtawang, Ds Karangturi Kec. Kroya), Tegal (Ds Pakulaut Kec. Margasari), Batang (Ds Sawangan, Kec. Grinsing), Kudus (di Desa Tanjungrejo, Terban dan Klaling Kec. Jekulo), Grobogan (di desa Tanjungharjo, Bandungsari, dan Ds. Pendem Kec Ngaringan: dan di Ds Katekan Kec. Brati), Blora (di desa Dolongan, Boge