eksistensi tepuk tepung tawar dalam upacara …

of 26 /26
1 EKSISTENSI TEPUK TEPUNG TAWAR DALAM UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT MELAYU DI DESA RESUN PESISIR KABUPATEN LINGGA Naskah Publikasi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata I Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Maritim Raja Ali Haji Oleh: HULUL AMRI NIM : 100569201010 PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI TANJUNGPINANG 2016

Author: others

Post on 21-Oct-2021

4 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

MASYARAKAT MELAYU DI DESA RESUN PESISIR
KABUPATEN LINGGA
Naskah Publikasi
Strata I
Universitas Maritim Raja Ali Haji
Oleh:
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2016
2
LINGGA
Adat tradisi Tepuk tepung tawar merupakan suatu rutinitas dalam upacara
adat perkawinan budaya melayu khususnya Desa resun pesisir Dusun 1 Tanjung
Bungsu oleh peninggalan para nenek moyang terdahulu. Adat Tradisi Tepuk Tepung
Tawar bagi masyarakat Melayu Lingga Utara merupakan simbol budaya dan akan
tetap terpelihara jika semua unsur pendukung budaya itu selalu berupaya dan
menjunjung tinggi keberadaan Tepuk Tepung Tawar tersebut. Perumusan masalah dri
penelitian ini adalah Mengapa Eksistensi Tepuk Tepung Tawar dalam Upacara
pernikahan masyarakat Melayu di Desa Resun Pesisir Kabupaten lingga. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui Eksistensi Tepuk tepung tawar dalam upacara
pernikahan melayu di Desa resun pesisir kabupaten lingga.Adapun hal-hal yang di
operasionalkan adalah:1) Eksistensi yaitu suatu keberadaan, kehadiran Tepuk tepung
tawar.2) Tepuk tepung tawar adalah suatu rutinitas dalam upacara adat Pernikahan
budaya melayu.3) Kehidupan bermasyarakat itu terbentuk melalui proses komunikasi
dan interaksi antarindividu dan antarkelompok dengan menggunakan simbol-
simbol.4) Nilai budaya merupakan sesuatu yang dianggap berharga dan dianggap
penting bagi masyarakat.5). Mitos adalah suatu upacara yang dipercayai masyarakat
memiliki makna tertentu, dimana upacara tersebut menjadi suatu kebiasaan yang
lazim dilaksanakan secara turun temurun. Jenis penelitian ini adalah deskriptip
kualitatif. Lokasi di Desa Resun Pesisir dusun 1 Tanjung bungsu, Kecamatan Lingga
utara, Kabupaten Lingga, Provinsi kepulaun Riau.Penelitian ini menggunakan
proposive sampling sehingga informan dalam penelitian ini berjumlah 7
orang.Penelitian ini menggunakan teori Interaksionisme simbolik Herbert Blumer
mengenai Kehasanya bahwa manusia saling menerjemahkan dan saling
mendefenisikan tindakanya melalui simbol dan memiliki 3(Tiga) premis penting
yaitu mengenai manusia bertindak sesuatu atas dasar makna yang dimiliki benda
tersebut kemudian makna itu diperoleh dari hasil interaksi sosial yang dilakukan
dengan orang lain dan makna-makna tersebut dirubah dan di sempurnakan melalui
proses interaksi.Kesimpulan dalam penelitian ini adalah Makna simbol yang
terkadung pada kegiatan budaya dan praktek adat tradisi upacara tepuk tepung tawar
pada adat melayu. Yakni meliputi adat muhakamah adat yang baik ialah hukum adat
yang menjamin kerukunan, ketentraman, dan keharmonisan di dalam berkehidupan
selama tidak bertentangan dengan hukum syariat (agama Islam).Nilai budayanya
yang masih begitu kental terhadap adat-adat melayu yang telah ada yang tetap
dipertahankan, Masyarakat Desa resun pesisir dusun 1 Tanjung Bungsu yang
didominasi oleh nilai-nilai keagamaan, sehingga keberadaanya masih tetap di jaga
dan di lestarikan hingga saat ini masih membudaya di masyarakat Desa resun pesisir.
Kata Kunci :Tepuk Tepung Tawar, Masyarakat melayu
3
LINGGA
ABSTRACT
Tap the indigenous tradition of Tepuk tepung tawar is a routine in a
traditional wedding ceremony, especially the Malay culture Resun coastal village of
Dusun 1 Tanjung youngest by relics of earlier ancestors. Indigenous Tradition Fresh
Tepuk tepung Tawar for Lingga utara Malay community is a symbol of culture and
will be maintained if all the supporting elements of the culture of always working and
uphold the existence Tepuk tepung tawar. The formulation of the problem is the
research dri Why Existence Tepuk tepung tawar in Malay society wedding ceremony
in the village of Resun Coastal District phallus. The purpose of this study to
determine the existence Tepuk tepung tawar in a Malay wedding ceremony in the
village of the coastal districts Resun lingga.Which is things in operational are: 1) the
existence of which is a presence, the presence of flour Tap tawar.2) Tap the fresh
flour is a routine in Wedding ceremonies culture melayu.3) Life of the society was
formed through a process of communication and interaction between individuals and
groups by using the symbol-simbol.4) Value culture is something that is considered
valuable and important to the masyarakat.5). Myth is a ceremony that is believed
people have a specific meaning, where the ceremony became a common practice
carried out for generations. This type of research is descriptive qualitative. The
location in the village of Resun Coastal hamlet 1 Tanjung Bungsu, District of
northern Lingga, Lingga Regency, Province Riau. Research maritime uses proposive
sampling so that the informants in this study amounted to 7 people.Research using
symbolic interactionism theory Herbert Blumer regarding human typical that
translate each other and each define action through symbols and has 3 (three)
important premise that the human act something on the basis of meaning possessed
the object is then the meaning was obtained from the social interaction that is done
by others and these meanings changed and perfected through a process of interaction
.Conclusion in this study is the meaning of the symbol be contained on cultural
activities and practices of indigenous traditions pat ceremony fresh flour on Malay
customs. Which includes indigenous customary good muhakamah is customary law
that ensure harmony, tranquility, and harmony in the livers do not conflict with
Shari'a law (Islamic religious).Value culture is still so strong against Malay customs
that have nothing retained, Resun Village Community 1 Tanjung Bungsu coastal
hamlet dominated by values religious, so that its existence is still guarded and
preserved to this day still entrenched in society Resun coast.
Keywords:Tepuk tepung tawar, Malay society
4
PENDAHULUAN
serta karya yang dihasilkan
dilarang. Budaya dapat
menggambarkan arah dalam
dari mitos yang berkembang.
satunya adat istiadat perkawinan
dijunjung tinggi khususnya
melakukan adat ini tetapi ditempat
lain juga masih melaksanakan adat
ini, salah satunya di dabo singkep,
daik lingga, senayang, lingga timur
dan sekitarnya selagi daerahnya
dapat dipisahkan dari budaya
makna simbolis untuk
keselamatan, kebahagiaan, dan
dilaksanakan baik terhadap benda
yang bergerak (manusia) maupun
Dalam perkawinan melayu, Tepuk
tepung tawar adalah simbol
kesejahteraan kedua pengantin,
perkawinan budaya melayu
peninggalan para nenek moyang
terdahulu. Adat Tradisi Tepuk
Tepung Tawar bagi masyarakat
Melayu Lingga Utara merupakan
terpelihara jika semua unsur
pendukung budaya itu selalu
berupaya dan menjunjung tinggi
keberadaan Tepuk Tepung Tawar
bertih yang dihamburkan dibagian
ucapan selamat dan gembira.
maksudnya berpikirlah sebelum
jawab, merenjis pada punggung
mencari rezeki hendaklah
berikhtiar (berusaha) dalam
menjalankan bahtera kehidupan.
dan kiri maksudnya menandakan
mempelai sudah berakad nikah.
mendapatkan berkah dari Allah
72)
bermakna menghindarkan diri dan
hingga saat ini. Karena adanya
peranan dari masyarakat untuk
pelaksanaan Tradisi Tepuk Tepung
masyarakat melayu dari zaman
terdahulu hingga zaman sekarang.
tidak dapat ditinggalkan dalam
Upacara Pernikahan melayu yang
yang aneh dalam pandangan
masyarakat setempat. Dari uraian
melakukan penelitian tentang
masalah tersebut dengan
mengambil judul: EKSISTENSI
TEPUK TEPUNG TAWAR
6
adalah Mengapa Eksistensi Tepuk
Tepung Tawar dalam Upacara
pernikahan masyarakat Melayu di
C. Tujuan dan Kegunaan
pernikahan Masyarakat melayu di
2. Kegunaan
sebagai berikut:
penelitian-penelitian berikutnya
bagi pemenuhuan kebutuhan penelitian
D. Konsep Operasional
Dalam sebuah penelitian,
lanjuti kasus tersebut serta
digunakan konsep operasional yaitu
Tawar disini berarti masyarakat
bersyukur kepada Yang Maha
Esa. Juga bermakna memohon
menghadirkan kegembiraan
disini.
manusia dalam situasi tertentu.
Diuraikan dengan kata-kata menurut
dengan pertanyaan penelitian.(Usman
Pernikahan adalah masyarakat yang
Tanjung bungsu, Kecamatan Lingga
utara, Kabupaten Lingga, Provinsi
kepulaun Riau. Penelitian ini
dilakukan dengan pertimbangan bahwa
masih banyaknya masyarakat yang
dilakukan masyarakat Desa Resun
salah satunya Desa Pancur yang masih
menggunakan Tepuk tepung tawar
juga tetapi jika dilihat
perbandingannya dalam upacara tepuk
masyarakatnya mayoritas beragama
masyarakatnya masih bercampur baur
dengan masyarakat Teonghua dan
suku lainya. Kehidupan masyarakatnya
melakukan penelitian ini adalah:
dijadikan sebagai jenis data
dalam penelitian ini. Teknik
digolongkan pada karakteristik
bahkan anak-anak kecilpun
orang tua yang lebih
cara tersebut.
berjumlah 7 orang untuk
menjadi sumber peneliti dalam
pesisir kecamatan Lingga utara
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah
dibuthkan serta berkaitan
dengan penelitian Tepuk
masing memindahkan diri mereka
lain. Dengan berbuat demikian,
yang oleh pihak lain diberikan kepada
aksinya, sehingga komunikasi dan
interaksi dimungkinkan. Jadi interaksi
tidak hanya berlangsung melalui
gerak-gerak saja, melainkan terutama
melalui simbol-simbol yang perlu
dipahami dan dimengerti maknanya.
interaksi simbolik, orang mengartikan
dan menafsirkan gerak-gerak orang
itu. Esensi dari interaksi simbolik
adalah suatu aktivitas yang merupakan
ciri khas manusia, yakni komunikasi
atau pertukaran simbol yang diberi
makna Mulyana, (Suwira putra
ini menyarankan bahwa perilaku
yang memungkinkan manusia
mitra interaksi mereka. Menurut
diarahkan. Sehingga korban dari
pemaknaan realitas sosial dalam
dianggap seharusnya. Manusia pada
obyek-obyek yang diketahuinya
sebagai self-indication. Self-indication
dalam bagian-bagian yang terpisah,
yang kadang-kadang luas dan
kompleks. Artinya terdapat satuan-
satuan kelompok yang mempunyai
dipandang dari segi simbol, aka nada
simbol kelompok.
manusia. Kehasanya adalah bahwa
manusia saling menerjemahkan dan
secara lansung terhadap tindakan
makna” yang diberikan terhadap
secara otomatis dan lansung
menimbulkan tanggapan atau respon.
bisa dikatakan bahwa hampir semua
bentuk interaksi sosial adalah
simbolik. Proses interaksi simbolik
berarti membuat keputusan dan
lansung berkaitan dengan aliran
pernah berhenti. (Rachmad susilo,
tindakan-tindakan bersama yang
ditafsirkan, melalui proses interaksi
hasil interaksi sosial yang
bertindak pada pihak lain
(Nasrullah Nazsir, 2008:33). Secara
lambangnya.
Pertama, masyarakat terdiri dari
manusia yang berinteraksi, dimana
interaksi tersebut saling memiliki
kesesuain melalui tindakan bersama,
membentuk struktur sosial. Kedua,
manusia yang berhubungan dengan
simbolis yang terjadi senantiasa
makna intrinsik. Makna merupakan
produk interaksi simbolis. Keempat,
eksternal, melainkan juga mereka
Kelima, tindakan manusia adalah
tersebut saling dikaitkan dan
disesuaikan oleh anggota kelompok.
Dalam hal ini, Blumer
tangan pengantin.Acara tepuk tepung
senantiasa diiringi dengan pantun-
orang lain ditentukan oleh makna yang
dia pahami tentang objek atau orang
tersebut. Gagasan blumer lain yang
tidak kalah penting adalah tentang 3
hal, yakni: manusia bertindak atas
sesuatu pada dasar makna yang
dimiliki benda tersebut. Dari sini di
nyatakan bahwa kesadaran merupakan
Makna merupakan produk
orang lain bertindak pada pihak lain
dengan memerhatikan sesuatu.
melekat pada sesuatu atau suatu objek
secara alamiah. Makna tidak bisa
muncul “dari sananya”. Makna berasal
dari hasil proses negosiasi melalui
penggunaan bahasa dalam perspektif
memungkinkan manusia
mengembangkan kemampuan
bersifat refleksif. Nah, masalahnya
menurut Mead adalah sebelum
berkomunikasi secara simbolik.
Bahasa pada dasarnya
dalam bidang kajianya sendiri”
pertukaran pesan’ semata, tapi
Akan tetapi walaupun
tangkap dalam proses berpikir.
Simbolisasi dalam proses interaksi
tersebut tidak secara mentah-mentah
kita pada dasarnya mencernanya
masing.
dalam perspektif interaksionisme
16
pemenuhan terhadap harapan atau
kita.
bahasa. Tanpa pembicaraan maka
terbentuk atau dikonstruksikan melalui
konsep pembicaraan itu sendiri,
pengalaman inderawi itu berlansung,
ruang.
bersifat universal: berlaku sama
makna sebuah simbol tergantung
kepada kesepakatan orang-orang atau
dapat ditangkap melalui cara-cara
nonsensoris, yakni melalui proses
ditafsirkan.
seperti dikatakan Paul rock, pemikiran
ini “sengaja dibangun secara samar”
dan merupakan “resistensi terhadap
1962; Snow, 2001) telah mencoba
menghitung jumlah prinsip dasar teori
ini, yang meliputi:
yang saling berkaitan akan
Teori Interaksionosme Simbolik ini
adalah sebagai berikut. Kehidupan
individual dan antar kelompok
semata-mata merupakan suatu
itu merupakan hasil daripada proses
intepretasi terhadap stimulus. Jadi
merupakan hasil proses belajar,
dalam arti memahami simbol-simbol,
simbol-simbol itu. Meskipun norma-
dari simbol-simbol itu memberikan
pendorong bagi manusia untuk
bertingkah laku dan mencapai
kepuasan tertentu dalam kehidupan
Huky (dalam Abdulsyani, 2007:50).
Nilai merupakan kontruksi masyarakat
atau bawaan sejak lahir.
dalam menganalisa tindakan sosial.
komponennya belaka selanjutnya
diakui sebagai patokan bertindak oleh
orang perorangan atau setidaknya
sebagian besar anggota masyarakat.
Nilai adalah segala sesuatu
Nilai adalah segala sesuatu yang
menarik bagi manusia sebagai subyek.
Nilai adalah perasaan tentang apa yang
diinginkan, atau tentang apa yang
boleh dan tidak boleh. konsep- konsep
tentang nilai yang hidup dalam alam
pikiran sebagian besar warga
masyarakat, membentuk sistem nilai
budaya berfungsi sebagai pedoman
tertinggi bagi kelakuan manusia,
dalam tingkatan paling abstrak.
Sistem-sistem tata kelakuan yang
tingkatanya lebih konkrit, seperti
aturan-aturan khusus, hukum, norma-
norma, semuanya berpedoman pada
warga masyarakatnya, sehingga sukar
dkk, 2013: 32-33).
Dalam pandangan sosiologi,
sebagai langkah persiapan bagi
kajian sosiologi, nilai-nilai sosial
seseorang atau kelompok secara
rendahnya setatus dan peranan
kebiasaan, kepercayaan (believe),
simbol-simbol, dengan karakteristik
lainnya sebagai acuan prilaku dan
tanggapan atas apa yang akan terjadi
atau sedang terjadi.Sistem nilai budaya
adalah tingkat tertinggi dan paling
abstrak dari adat istiadat. Sebabnya
ialah karena nilai budaya terdiri dari
konsep-konsep mengenai segala
pedoman orientasi pada kehidupan
konsef sifatnya sangat umum,
secara rasional dan nyata.
sebagai “kata-kata”. Kalau mitos
atau “kata-kata suci”. Oleh karena itu,
mitos dapat diserupakan dengan ilham
atau wahyu.(Adeng muchtar ghazali,
cerita yang benar dan cerita ini
menjadi milik mereka yang paling
berharga, karena merupakan sesuatu
kehidupan ini. Mitos menceritakan
bagaimana suatu realitas mulai
bereksistensi melalui tindakan mahluk
supranatural. Mitos selalu menyangkut
suatu penciptaan. Dalam mitos,
manusia berusaha dengan sungguh-
sungguh dan dengan imajinasinya
pengetahuan sehingga orang
bijaksana. Mitos menyadarkan
kehidupan semuanya.(Susilo,
Ha. Desa Resun Pesisir terdiri dari 3
(tiga) Dusun yaitu (Dusun I, Dusun II,
Dusun III), Empat RW, Delapn RT.
Desa ini terletak di kecamatan Lingga
Utara yang terdiri dari tingkat
perkembangan Desa yaitu
Swasembada / Swadaya / Swakarya
Barat dan Timur. Desa ini jarak dari
pusat pemerintahan Kecamatan sekitar
rawa, yang mana penduduk
dan daratan.Mayoritas penduduk di
mayoritas penduduk didaratan adalah
tahun silam sebelum dimekarkan
tetapi dengan adanya pemekaran
Desa tersendiri Desa Resun dan Desa
Resun Pesisir yang terletak di
Kecamatan Lingga Utara Kabupaten
menjadi informan yaitu masyarakat
Bungsu. Masyarakat Desa Resun
pada karakteristik usia, Karena
Masyarakat yang mengikuti Upacara
tepung tawari tersebut, tetapi yang ikut
sertaan menyaksikan adat tersebut
kehidupan masyarakat pasti ada
didalamnya struktur, nilai-nilai dan
kebiasaan.
menggunakan kerangka berfikir yang
menjelaskan kedalam Nilai budaya,
unsur-unsur yang mewakili setiap
Pendidikan, politik, agama yang
merupakan unsur yang sangat
berkaitan lansung dalam usaha
melestarikan suatu keberadaan adat
Informan dalam penelitian kualitatip
dianggap mampu memberikan
diteliti. Dalam penelitian ini,
karakteristik informan yang dipilih
disana yang lebih perpengalaman
disegani Masyarakat setempat dan
Tokoh masyarakat beserta sesepuh
kampung yang berdasarka umur
dan pengalamanya sudah banyak yang
dipercayai untuk melakukan suatu adat
Tradisi Tepuk Tepung Tawar.
Sehingga, informan mengetahui secara
jelas bagaimana Eksistensi Tepuk
tepung tawar beserta makna-makna
kedua mempelai sang pengantin.
tokoh masyarakat, tokoh adat,
21
informan yang berjumlah 7 orang.
B. Eksistensi Tepuk Tepung
adat dan tradisi, salah satunya Tepuk
tepung tawar. Tepuk tepung tawar
adalah suatu upacara adat budaya
melayu riau khususnya Desa resun
pesisir Dusun 1 Tanjung Bungsu oleh
peninggalan para nenek moyang
terdahulu. Tepuk tepung tawar
bentuk persembahan syukur atas
tekabulnya suatu keinginan atau
ketentuan,baik pada manusia maupun
misal pernikahan, menempati rumah
baru, mengendarai kendaran baru,
khitanan,serta bentuk bentuk dari
orang yang mempunyai hajatan,atau
lainnya.
simbol pemberian dan do'a restu bagi
kesejahteraan kedua pengantin,
gangguan maupun marabahaya.
satu dan ada pula kedua mempelai
duduk berdua sekaligus. Dilakukan
melaksanakan tebus kipas. Sedangkan
sekaligus dapat dilakukan dengan
pertimbangan kedua mempelai sudah
kegiatan tebus kipas.
mengambil sejemput beras kunyit,
dan kiri pengantin maksudnya ucapan
selamat dan gembira. Beras kunyit
(beras kuning) warna kuning
1 kali.(boleh menabur satu-satu bahan
atau digabung).
diatas dahi (kening) maksudnya
berfikirlah sebelum bertindak, bahu
beban dan rasa tanggung jawab, lalu
belakang telapak tangan kanan dan kiri
(dengan posisi telapak tangan
berkehendak)
disekitar muka(wajah) pengantin dan
kemudian telur tersebut diletakkan
sejemput inaiyang berada pada
telapak tangan kanan dan kiri yang
telah di alas dengan bantal susur ari.
posisi tangan pengantin telentang
penutup agar mendapatkan berkah dari
Allah SWT.
orang (dalam hitungan ganjil).makna
menyukai hal-hal yang bersifat
bilangan ganjil contoh Asmaul
Tanjung Bungsu
terjalin dengan keharmonisan
keserasian, keselarasan, serta
keseimbangan. Nilai tersebut
bahwa setiap individu dalam
sangat banyak mempengaruhi tindakan
individual, kelompok atau masyarakat
benar salah, patut atau tidak patut,
Suatu nilai apabila sudah membudaya
didalam diri seseorang, maka nilai itu
23
petunjuk di dalam bertingkahlaku.
sejak lahir. Nilai dan norma senantiasa
berkaitan satu sama lainya, walaupun
keduanya dapat dibedakan D.A Wila
Huky (dalam Abdulsyani, 2007:50).
1 Tanjung Bungsu ini sangatlah tidak
bisa dilupakan atau menghilang dari
masyarakat melayu, Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan yang
dapat disimpulan bahwa Eksistensi
simbol, nilai budaya dan mitos. Di
dasarkan pada jawaban dan
pengamatan dari tujuh informan
masyarakat dan tokoh adat satu KUA
informan ini merupakan orang yang
disegani oleh masyarakat setempat dan
memiliki pengetahuan mengenai
Interaksionisme simbolik oleh Herbert
Blumer maka Manusia bertindak
benda tersebut seperti halnya Tentang
Makna Simbolis yang meliputi bahan-
bahan yang untuk dipergunakan
tawar dalam upacara pernikahan
pada kedua mempelai. Perenjis
bermakna bersatu padu atau
kesejukan didalam menempuh hidup
antara daun-daun itu sudah ada yang
sulit ditemukan sehingga daun itu
diganti dengan daun yang lain namun
maknanya tetap dan tidak berubah.
Dan makna itu diperoleh dari hasil
interaksi sosial yang dilakukan dengan
orang lain sehingga timbullah hasil
interaksi sosial dari sang penepuk pada
yang di tepuk tepung tawari itu melalui
simbol dan gerakan orang tersebut.adat
tradisi ini lebih mengarah pada
perilaku dan nilai yang Positif bagi
kedua mempelai maupun masyarakat.
pertama: Masyarakat disana mayoritas
Daik lingga yang kaya akan prasejarah
di kabupaten Lingga memberikan
istiadat, terlebih lagi bagi insan yang
dilahirkan dari “Bunda Tanah
24
makna tersendiri dari bahan itu baik itu
beras dan juga daun yang dijadikan
simbol sebagai perenjis. Dengan
gangguan dan untuk kesejahteraan
membuat adat tradisi itu tetap terjaga
dan terus dilakukan oleh masyarakat
sehingga memperkuat dan keharusan
tawar itu.
B. Saran
Dari pernyataan
hanya beberapa orang saja
hingga zaman modernisasi ini tidak
lepas dari aturan, aturan yang
mengatur agar masyarakat tetap
yang tidak boleh dilakukan
Apapun bentuk keragaman upacara
perkawinan adat, tetapi pada
relegius, karena perkawinan tidak
terlepas dari suatu kebutuhan
biologis manusia dan juga
merupakan suatu perintah tuhan.
Ar-Rum:21 disitu sudah tertera
Adeng Muchtar Ghazali, 2011. Antropologi Agama, Upaya Memahami Keragaman
Kepercayaan, Keyakinan dan Agama. Badung: ALFABETA
Herimanto, Winarno, 2008, Ilmu Social & Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara
Irawan, Prasetya. 2006. Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Untuk Ilmu-Ilmu Sosial.
Jakarta : DIA FISIP UI.
J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto.2007, Sosiologi Teks Pengantar dan terapan.
Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT.Rineka cipta
K. Dwi Susilo, 2008. 20 Tokoh Sosioloogi modern. jogjakarta
Maran, Rafael Raga, 2000, Manusia dan Kebudayaan Dalam Perspektif Ilmu
Dasar Budaya, Jakarta: Rineka Cipta
Moleong, Lexy J.2007. metode penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja rosda
karya.w
Nazsir, Nasrullah 2008, Kajian Lengkap Konsep dan Teori Sosiologi Sebagai
Ilmu Sosial. Bandung : Widya Padjadjaran.
Ritzer, Goerge, 2011. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta:
Rajawali Press.
Soerjono soekanto, 1982, Sosiologi suaatu pengantar .Jakarta.PT RajaGrafindo
Persada.
Sudibyo, Lies, dkk. 2013. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Yogyakarta : Andi Offset
Sugiyono. 2009, Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif Dan R&D. Alfabeta: Bandung
Susilo, Rachmad K, 2008. 20 Tokoh sosiologi modern. Yogjakarta: Ar-ruzz Media.
Soelaiman, Munandar, 2009. Ilmu sosial dasar Teori dan konsep Ilmu sosial.
Bandung: PT Refika Aditama
26
Thaib, Ishak dkk 2009. Tata cara adat perkawinan melayu di Daik Lingga.
Pekanbaru: Unri Press
Suseno ,Tusiaran, dkk 2006. “Butang Emas” Warisan Budaya Melayu Kepulauan
Riau.Pemerintah Kota Tanjung Pinang: cv Data makmur setia
Sumber lain :
Putra, Suwira, 2014. Makna upacara Tepuk Tepung Tawar Pada Pernikahan Adat
Melayu Riau Di Desa Pematang Sikek Kecamatan Rimba Melintang
Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau, Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 1,
No. 2, (http://www.jom.unri.ac.id, diakses 15 September 2013, 17.08 Wib).
http://yasir.staff.unri.ac.id/2012/03/06/teori-interaksi-simbolik/14. 10. 15. 23:40