deteksi pantoea stewartii subsp. stewartii (smith,1898 ... bakteri... · alat dan bahan ... corong

Download DETEKSI Pantoea stewartii subsp. stewartii (Smith,1898 ... BAKTERI... · ALAT DAN BAHAN ... Corong

Post on 08-Mar-2019

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BKP Kelas II Cilegon 1

DETEKSI Pantoea stewartii subsp. stewartii (Smith,1898) Mergaert dkk. (1993) PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.)

DARI KOTAMADYA CILEGON & KABUPATEN SERANG

Zuroaidah1, Ferdi2, Istiqomah2, Suswi Nalis2, Tuti3

1POPT Ahli Muda pada Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon

2POPT Ahli Pertama pada Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon

3Calon POPT pada Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya) (James, 2012). Di wilayah pemantauan Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon (Kabupaten Serang dan Kotamadya Cilegon), varietas jagung yang banyak di budidayakan adalah varietas jagung manis, tetapi kuantitas penanamannya tidak terlalu tinggi hanya beberapa kecamatan saja dan hasil panennya bukan buat konsumsi sendiri tetapi di jual oleh petani. Hama dan penyakit jagung yang telah dilaporkan hanya sebatas serangga dan cendawan, untuk bakteri belum pernah di laporkan.

Pantoea stewartii subsp. stewartii (Enterobactriales; Enterobacteriaceae) merupakan bakteri yang menyebabkan hawar atau layu bakteri pada tanaman jagung. P.stewartii subsp. stewartii pertama kali ditemukan atau teridentifikasi di Amerika (Utara, Tengah dan Selatan), lalu menyebar ke Eropa dan Mediterania, dan Asia. Sel bakteri berukuran (0,4-0,8) x (0,9-2,2) m, tidak berflagella, anaerob fakultatif dan tidak dapat bergerak. P.stewartii subsp. stewartii bersifat tular benih dan tular serangga Chaetocnema pulicaria. Bakteri ini biasanya menyerang tanaman jagung varietas jagung manis (Thai Agricultural Standard, 2008).

Bakteri menyerang jaringan xylem sehingga menyebabkan layu dan kerdil (fase vegetatif) dan menyebabkan tanaman hawar daun (fase generatif). Fase pertama terjadi saat perumbuhan 2-5 helai daun, bakteri memperbanyak diri dalam pembuluh xilem daun dan batang. Pada tanaman muda terjadi water soaking (luka kebasahan) yang panjang terdapat di sepanjang daun, daun memperlihatkan garis hijau pucat sampai kuning. Fase kedua dari penyakit layu bakteri pada jagung terjadi setelah munculnya malai. Infeksi hanya bersifat lokal. Umumnya gejala berupa luka pada daun, goresan hijau sampai kuning dengan pinggiran yang tak beraturan dan bergelombang di sepanjang tulang daun dan juga diseluruh permukaan daun. Pada beberapa kasus, permukaan daun akan kering dan mati dengan gejala seperti kekurangan nutrisi. Pada fase kedua ini tidak terjadi layu seperti pada fase pertama (CABI and EPPO, 2003).

P. stewartii dapat bertahan hidup terutama dalam dua inang yaitu tanaman jagung dan kumbang jagung yaitu Chaetocnema pulicaria. Bakteri ini ditularkan secara eksklusif oleh kumbang jagung dan tidak ada laporan serangan bakteri tanpa adanya

http://id.wikipedia.org/wiki/Tanamanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Gandumhttp://id.wikipedia.org/wiki/Padihttp://id.wikipedia.org/wiki/Karbohidrathttp://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Tengahhttp://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Tengahhttp://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Selatanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikathttp://id.wikipedia.org/wiki/Indonesiahttp://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Madurahttp://id.wikipedia.org/wiki/Nusa_Tenggarahttp://id.wikipedia.org/wiki/Pakanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Hijauanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Tongkol_jagunghttp://id.wikipedia.org/wiki/Bulirhttp://id.wikipedia.org/wiki/Tepunghttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tepung_jagung&action=edit&redlink=1

BKP Kelas II Cilegon 2

serangga ini. Terjadinya layu bertepatan dengan terjadinya ledakan kumbang jagung (Pataky, 2003).

Layu bakteri adalah penyakit yang paling serius dari jagung manis, menyebabkan penurunan hasil dan menyebabkan tanaman jagung rentan terhadap penyakit busuk batang. Kerugian serius tidak muncul di Amerika Serikat sampai 1930-1931, meskipun penyakit ini telah dikenal untuk beberapa 30 tahun sebelumnya. Kerugian besar yang kemudian dilaporkan dalam dua musim berikutnya. Pada jagung manis, kerugian sangat signifikan pada varietas hibrida, tetapi varietas tersebut biasanya hanya digunakan secara periodik (CABI, 2007). Varietas yang rentan kehilangan hasil berkisar dari 40-100% ketika infeksi terjadi pada tahap daun jagung belum berjumlah 5 helai. Kerugian sekitar 15-35% dan 3-15% untuk stadium 7-9-daun. Pada tahun 1990 terjadi epidemi penyakit P. stewartii sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi industri benih jagung karena logistik perdagangan dan volume pertukaran yang besar benih jagung di seluruh dunia. Dampak layu bakteri ini menyebabkan pengurangan produksi, produksi tongkol lebih sedikit dan lebih kecil, dan peningkatan kerentanan tanaman yang terinfeksi layu tanaman merupakan penyebab busuk batang (Munkvad, 2001).

Meskipun penyakit ini telah dilaporkan telah menyebar di Amerika, Eropa dan Asia tetapi belum di laporkan telah menyebar di wilayah Indonesia. Di Indonesia pada awal tahun 2012 di laporkan bahwa bakteri P. stewartii subsp. stewartii telah ditemukan di Padang Sumatera Barat dan Sukabumi Jawa Barat. Berdasarkan Permentan No. 93 tahun 2011 bahwa P. stewartii subsp. stewartii merupakan OPTK A1 Golongan I, oleh karena itu Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati mengeluarkan Surat Edaran tentang Target Pemantauan 2012 termasuknya didalamnya adalah P. stewartii subsp. stewartii. Petugas Karantina Tumbuhan seluruh Indonesia diwajibkan melakukan pemantauan tentang keberadaan bakteri tersebut, sehingga dapat di pastikan apakah keberadaan P. stewartii subsp. stewartii memang telah masuk ke wilayah Republik Indonesia. Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon melaksanakan pemantauan di Kabupaten Serang dan Kotamadya Cilegon.

B. Tujuan

Tujuan deteksi ini adalah untuk mengetahui keberadaan P.stewartii subsp. stewartii pada tanaman jagung yang ditanam di wilayah pemantauan BKP Kelas II Cilegon yaitu Kabupaten Serang dan Kotamadya Cilegon

BKP Kelas II Cilegon 3

II. ALAT DAN BAHAN

A. Alat

Peralatan yang di gunakan antara lain : Corong, Gelas Ukur (5 ml, 10 ml, 50 ml, 100 ml), Gelas Beaker (100 ml), Mikropipet (1-10 l, 10-100 l, 100-1000 l),Hot Plate Stirrer, Neraca Analytik, Vortex, Mortar, Centrifuge, Elisa Reader, Kamera Digital.

Centrifuge Shaker Mortar

Corong Gelas Ukur Mikropipete Vortex Hot Plate Stirer Neraca Analitic Gelas Beaker

Elisa Reader

BKP Kelas II Cilegon 4

B. Bahan :

Bahan yang digunakan Uji 1 antara lain : Sampel 1 (Kecamatan Petir), Sampel 2 (Kecamatan Cibeber), Sampel 3 (Kecamatan Citangkil), Sampel 4 (Kecamatan Cikeusal), Sampel 5 (Kecamatan Pamarayan), Pantoea Kit (PBS-Tween 20x, General Ekstract Buffer (GEB), Tween 20, Plate + Anti P.stewartii, PnP Substrate Buffer (1:5), conjugate botol A & B, PnP Substrate Tablet, ECI Buffer (1:5), Kontrol Negatif, Kontrol Positif), Aquabidest, Klorox 1%, Tube 2 ml, Tips (10, 100, 1000 l), sarung tangan, masker.

Bahan yang digunakan Uji 2 antara lain : Sampel 1 (Kecamatan Cibeber), Sampel 2 (Kecamatan Cikeusal Lahan 1), Sampel 3 (Kecamatan Cikeusal Lahan 2), Sampel 4 (Kecamatan Cikeusal Lahan 3), Sampel 5 (Sampel Positif Uji 1), dan Pantoea Kit, Aquabidest, Klorox 1%, Tube 2 ml, Tips (10, 100, 1000 l), sarung tangan, masker.

Tips Tube

BKP Kelas II Cilegon 5

III. PELAKSANAAN

A. WAKTU DAN TEMPAT

Deteksi P. stewartii subsp. stewartii dilakukan dua kali pengujian dan dilaksanakan dalam dua tahap yaitu: 1) di lapangan pada tanggal 15 Mei 2012 dan tanggal 29 Mei 2012, dan 2) di laboratorium pada tanggal 26 Mei sampai 27 Mei 2012 dan 29 Mei 2012 sampai 30 Mei 2012.

Pelaksanaan deteksi dan identifikasi dilaksanakan dalam dua tahap yaitu: 1) di lahan petani Kabupaten Serang Kecamatan Cikeusal Desa Sukarame, dan 2) di laboratorium Balai Karantina Pertanian Kelas II Cilegon.

B. PELAKSANA

Kegiatan deteksi P. stewartii subsp. stewartii di lapangan :

I. Tim Lapangan Tanggal 15 Mei 2012 (TIM Awal)

NO Petugas Karantina Jabatan

1 Budi Setyawan 19810221 200501 1 001

Pengatur Muda TK.1/II.b POPT Pelaksana

2 Budi Suherman, S.Sos 19620811 198503 1 004

Penata/III.c POPT Penyelia

3 Ojak Bintang Mangatur, SP. 19690304 200312 1 002

Penata TK.1/III.b Calon POPT

4 Diding Rochandi 19630103 198903 1 001

Penata Muda/III.a POPT Pelaksana Lanjutan

5 Andi Hendra Saputra 19780321 200604 1 010

Pengatur Muda TK.1/II.b POPT Pelaksana

6 Ridwan Hidayat 19790926 200604 1 019

Pengatur Muda TK.1/II.b POPT Pelaksana

II. Tim Lapangan Tanggal 29 Mei 2012 (TIM verifikasi)

NO Petugas Karantina Jabatan

1 Zuroaidah, SP.MSi. 19790929 200312 2 002

Penata/III.c POPT Ahli Muda

2 Suswi Na