daftar pustaka

Download DAFTAR PUSTAKA

Post on 19-Jul-2015

162 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................... 1.1 Latar Belakang Masalah.............................................................................

2 3 3

1.2 Forex Exposure and Risk Management......................................................... 5 1.2.1 Risk Management............................................................................ 1.2.2 Forex Exposure............................................................................... 5 BAB II PEMBAHASAN..................................................................................... 8 2.1 Transaction Exposure................................................................................. 8 2.2 Economic/Operating Exposure.................................................................... 11 2.3 Translation/Accounting Exposure................................................................ 16 2.4 Hedging VS Speculation............................................................................. 18 2.5 Forex Risk Management in Islamic Perspective............................................. 20 2.5.1 Pendahuluan.................................................................................. 20 2.5.2 Konsep Uang dalam Pandangan Islam.............................................. 21 5

2.5.3 Forex dalam Pandangan Islam......................................................... 23 2.5.4 Sharia Issue in Hedging.................................................................... BAB III PENUTUP........................................................................................... 30 DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 33 27

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Di era globalisasi dewasa ini dimana bisnis tidak terpaku lagi pada satu negara hubungan bisnis antar negara yang melibatkan mata uang yang berbeda menjadi suatu fenomena yang tidak dapat dihindari. Karena itu risiko akibat transaksi mata uang sudah seyogyanya dipahami keberadaannya oleh setiap individu yang terlibat di dalamnya. AFTA (Asia Free Trade Area) dan sejenis organisasi lainnya bagi negara lainnya merupakan salah satu indikasi timbulnya perdagangan bebas. Guna mendukung aktifitas perusahaan dalam bertransaksi secara internasional maka diperlukan suatu penggunaan sistem mata uang, dimana sistem floating

exchange rate sekarang ini yang menggunakan fiat money berfluktuasi secara bebas. Fiat money adalah uang kertas yang secara legal diakui pemerintah melalui dekrit sebagai uang resmi, namun tidak ditopang dengan logam mulia seperti emas dan perak (Hamidi,2007). Uang kertas itulah yang sekarang mayoritas digunakan oleh negara-negara kapitalis termasuk Indonesia. Kondisi ini digambarkan dimana sejak Indonesia 62 tahun silam, rupiah menjadi mata uang yang digunakan sebagai alat transaksi yang sah. Namun, siapa sangka mata uang yang dibanggakan tersebut ternyata tak cukup kuat ditimpa inflasi dan guncangan mata uang lainnya seperti dolar AS. Bahkan, sebagian masyarakat lebih memilih investasi simpanan dalam mata uang dolar AS, termasuk para pejabat pemerintahan sebagaimana tersinyalir dalam artikel di salah satu koran nasional. Alasannya, dolar AS lebih kuat dibandingkan rupiah. Akibat jatuhnya nilai rupiah terhadap dolar AS tersebut menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi terpuruk. Harga-harga barang impor melonjak tajam yang juga diikuti lonjakan harga barang dalam negeri. Tak lepas dari itu, BBM (bahan bakar minyak) pun ikut merangkak naik. Impasnya banyak perusahaan gulung tikar dan terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal tersebut berdampak pada meningkatnya jumlah pengangguran dan berbagai dampak sosial lain. Oleh sebab itulah, dari pernyataan diatas, pelaku bisnis terutama perusahaan multinasional yang berexpansi dan melakukan transaksi secara internasional tidak lepas dari berhadapan dengan fluktuasi tingkat mata uang antara suatu negara dengan negara lain. Dari fluktuasi mata uang inilah terdapat suatu risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan, yakni risiko valas (valuta asing). Dengan adanya risiko ini menimbulkan dua hal yang akan dihadapi oleh suatu perusahaan MNC, diuntungkan ataukah dirugikan akibat dari fluktuasi mata uang suatu negara. Sejauh ini, sudah saatnya kita harus bersikap hati-hati dalam menghindari kondisi seperti ini karena fluktuasi mata uang tersebut sangatlah tidak jelas. Dengan demikian, perlunya menerapkan risk management yang baik dan terstruktur sehingga perusahaan dapat mengantisipasi perkembangan mutakhir dari fluktuasi harga valas dunia dan dapat segera mengambil langkah-langkah pengamanan yang tepat. Dengan demikian kesulitan financial seperti yang terjadi pada saat krisis ekonomi dapat dihindari. Gelombang globalisasi semakin kuat terutama diakibatkan oleh terjadinya kecenderungan berikut ini (Mudrajat, 2001):

Aliran dana dan modal semakin menembus batas negara mengukuhkan fenomena nationless dan borderless states. Investor asing semakin getol membeli dan menjual asset finansial dan riil. Investasi international dalam bentuk obligasi dan surat berharga pasar uang meningkat secara dramatis sebagai akibat dilonggarkannya hambatan hambatan yang menghalangi transaksi antar negara. Pada gilirannya hal ini mengakibatkan semakin populernya strategi pembiayaan dan portofolio internasional. Institusi-institusi keuangan asing semakin gencar menembus pusat-pusat keuangan dunia dan regional. Pada gilirannya fenomena ini menyebabkan menjamurnya praktik perbankan international. Perusahaan semakin banyak mencatatkan dan menawarkan sahamnya di pasar modal international sehingga memungkinkan transaksi saham berlangsung 24 jam. Pasar modal internasional kian menjadi pilihan pembiayaan usaha bagi perusahaan dan pemerintah di negara manapun. Liberalisasi dan deregulasi sektor finansial melanda hampir sebagian besar negara di seluruh dunia. Oleh karena itu, tantangan utama bagi suatu organisasi maupun perusahaan ketika mereka berpaling ke pasar global adalah mengatasi terbatasnya struktur organisasi, melakukan sentral kontrol dengan adaptasi lokal seperlunya, mentransfer pengetahuan negara, dan mengantisipasi adanya fluktuasi kurs mata uang. 1.2 Forex Exposure and Risk Management

1.2.1 Risk Management Management risiko adalah identifikasi persetujuan atau ganti rugi (offsetting) atas risiko yang mengancam profitabilitas atau keberadaan sebuah organisasi. Sehubungan dengan pertukaran mata uang asing, risk management melibatkan antara lain pertimbangan pasar, kekuasaan, negara, pengalihan, penyerahan, kredit, dan risiko counterparty.

Sedangkan dalam bukunya, Mudrajat Kuncoro menjelaskan risiko valas adalah risiko akibat adanya kemungkinan nilai mata uang yang mendenominasi aktiva/kekayaan perusahaan berfluktuasi. Total risiko valas dapar merugikan harapan aliran kas perusahaan lewat menurunnya tingkat penjualan dan meningkatnya ongkos. Total risiko valas merupakan kombinasi risiko sistematik (systematic/nondiversifiable risk) dan risiko bukan sistematik (unsystematic/diversifiable risk). Risiko sistematik adalah segala pengaruh pasar, misalnya kondisi perekonomian, yang mempengaruhi semua aktiva. Risiko bukan sistematik pada dasarnya adalah risiko-risiko lainn yang khas terjadi pada suatu perusahaan, misalnya pemogokan. Dalam konteks international, risiko-risiko yang dimaksud mencakup risiko inflasi, risiko valas, dan risiko politik. Management risiko valas memegang peranan penting dalam menetapkan strategi manajemen, terutama bagi pelaku bisnis yang terjun dalam bisnis global. Ini disebabkan karena manajemen risiko valas meliputi: (1) keputusan pembiayaan (financing decision), dalam arti bagaimana cara memperoleh dana; (2) keputusan investasi, yaitu bagaimana mengalokasikan dana yang dimiliki.

1.2.2 Forex Exposure Forex Exposure dapat diartikan sebagai suatu risiko yang akan dihadapi oleh perusahaan sebagai akibat perubahan atau fluktuasi kurs valas (Hamdy, 1998). Suatu perusahaan MNC, atau perusahaan yang melakukan transaksi international (expor dan impor) tentu arus cash flownya secara langsung akan terpengaruh oleh fluktuasi kurs valas. Misalnya jika terjadi depresiasi domestic currency atau rupiah terhadap USD dan JPY, tentu beban impor akan semakin meningkat, tetapi sebaliknya penerimaan import akan meningkat pula. Bahkan perusahaan yang tidak melakuan transaksi internasional pun secara tidak langsung akan terpengaruh dengan fluktuasi kurs valas. Adanya perubahan kurs valas tentu akan mempengaruhi supply dan demand di dalam negeri sehingga akan berpengaruh pula pada cash flow perusahaan. Pada dasarnya, pengaruh fluktuasi kurs valas tidak hanya terjadi terhadap

transaksi perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap nilai sekarang (present value) dari transaksi yang dilakukan dan neraca serta laporan laba rugi perusahaan. Lalu pertanyaan yang muncul kemudian adalah : perlukah mengantisipasi exposure valas? Ada pula beberapa peneliti menyatakan; does the exchange rate exposure really matter? Pendapat yang mengatakan eksposure valas tidak relevan didasari atas argumen bahwa (Mudrajat, 2001: h.263-14) : 1. Menurut teori paritas daya beli (PPP), pergerakan kurs valas akan dibarengi dengan pergerakan harga (inflasi). 2. Para investor pada perusahaan TNC, secara individual, dapat mengantisipasi risiko valas dengan tindakan lindung nilai (hedging). Dengan kata lain, risiko valas tidak relevan bagi perusahaan karena pemegang sahamnya dapat mengatasi risiko ini secara individual, dengan asumsi para investor tersebut memiliki informasi komplit mengenai eksposure perusahaan terhadap fluktuasi valas dan mampu secara individual mengantisipasi eksposure individualnya. 3. Bila pasar valas merupakan pasar yang ef