cinta lombok

Click here to load reader

Post on 18-Jun-2015

831 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1 KUALA LUMPUR: Sikap romantis selain keinginan memenuhi adat keperkasaan lelaki andainya berjaya membawa pulang anak dara dari negara asing ke kampung halaman selepas keluar merantau, menyebabkan kira-kira 600 gadis dari negara ini terperangkap dalam keramat cinta pemuda Lombok.

Mereka kini menjadi sebahagian penghuni Pulau Lombok, di timur Indonesia, namun hampir semua gadis yang berusia 13 hingga 30-an itu mengikut kekasih pemuda Lombok yang dikenali ketika lelaki terbabit bekerja di negara ini, atas kerelaan hati masingmasing.

Dipercayai keadaan itu berlaku berikutan lebih setengah juta lelaki daripada 2.5 juta penduduk Pulau Lombok yang majoritinya daripada suku kaum Sasak, berhijrah ke luar negara terutama Malaysia untuk mencari rezeki.

Situasi itu turut menyebabkan sesetengah kampung di pulau itu ketandusan lelaki sehingga terpaksa melantik ketua kampung di kalangan kaum wanita.

Sebuah organisasi sukarela yang bertanggungjawab terhadap tenaga kerja Indonesia iaitu Perhimpunan Indonesia Untuk Buruh Migran Berdaulat (Migrant Care), turut membuat kajian impak disebabkan migrasi itu.

Migrant Care mempunyai lebih 200 cawangan di seluruh Indonesia termasuk di pulau berkenaan.

2

Wakil organisasi itu di Malaysia, Alex Ong (gambar), berkata pihaknya menerima banyak pertanyaan daripada keluarga di negara ini yang meminta pertolongan mengesan anak gadis atau ahli keluarga mereka yang dipercayai dibawa lari ke Lombok kerana mengikut buah hati masing-masing.

Katanya, pihaknya sedia membantu setakat yang termampu sekiranya ada ibu bapa atau penjaga gadis yang meminta bantuan.

Bagi menangani masalah ini, saya fikir satu kajian mendalam perlu dilakukan cerdik pandai dari kedua-dua negara serumpun ini kerana ia membabitkan pernikahan antara dua budaya.

Migrasi lelaki dari negara jiran terutama pemuda Lombok kini diibarat satu evolusi atau cross cultural evolution yang menyebabkan percampuran budaya apabila penghijrah itu bercampur gaul dengan penduduk negara ini.

Memang benar mereka (pemuda Lombok) berhijrah ke negara ini untuk bekerja, tetapi tidak boleh dinafikan secara biologi mereka juga mempunyai naluri ingin mendampingi wanita.

Mungkin pilihan termudah yang ada bagi mereka ialah gadis naif di bawah umur. Pada masa sama gadis yang dipilih itu sangat bahagia apabila dilayan dengan pujuk rayu,

3 katanya apabila diminta mengulas kes membabitkan gadis negara ini yang lari meninggalkan keluarga demi mengikut kekasih mereka ke pulau itu.

Bagaimanapun, kes berkenaan sebenarnya meruntun hati lebih-lebih di kalangan ibu bapa gadis apabila mengetahui anak tersayang lari begitu jauh ke seberang.

Tahun lalu, antara gadis yang terperangkap dalam keramat cinta pemuda Lombok dan kini bergelar isteri ialah Che Siti Nor Azreen Che Ishak, 14; Nur Liyana Abd Rahim, 19; Noor Fadilah Ahmad, 19; Sanisah Abu Bakar, 34; Nurul Wahida Hamzah, 21, dan Aishah Mokhtar, 28.

Terbaru, seorang pelajar yang juga artis remaja, Salsabila Yunan, 15, atau Bella turut cair dengan pujukan pemuda Lombok dan kini dilaporkan mengandung selepas berkahwin dengan lelaki yang membawanya ke pulau itu, Ogos lalu.

Felo Penyelidikan Utama, Institut Tamadun Alam Melayu (Atma), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Prof Dr Noriah Mohamed, yang sempat mengadakan kajian di Lombok dipetik berkata, adat istiadat perkahwinan dalam budaya masyarakat Lombok agak pelik kerana bakal pengantin perlu dibawa lari.

Melarikan gadis yang disukai adalah perkara biasa bagi masyarakat di pulau itu dan ia menjadi tradisi berkurun-kurun lamanya. Tindakan pemuda Lombok melarikan gadis yang mereka cintai adalah bagi menunjukkan sikap kelelakian dan keperkasaan mereka.

4

Bagaimanapun, gadis yang mereka larikan tidak akan `dirosakkan. Minimum masa bakal pengantin perempuan dilarikan ialah tiga hari. Selepas itu, pemuda berkenaan perlu menghantar rombongan meminang pengantin perempuan, katanya dalam satu laporan.

Bagaimanapun, Pemangku Duta Besar Malaysia di Jakarta, Amran Mohamed Zin, berkata jumlah wanita Malaysia yang dikesan di Lombok tidaklah seramai statistik didakwa Migrant Care itu.

Enggan mendedahkan angka sebenar, beliau berkata, pihak kedutaan memang ada menerima beberapa laporan kes wanita Malaysia berkahwin dan menetap di Lombok.

Komunitas Sasak Diaspora Bangse Sasak yang mendiami Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat merupakan Suku terbesar di Propinsi yang berada di antara Bali dan Nusa Tenggara Timur ini. Menurut catatan sensus yang diadakan tahun 1989, populasi suku sasak mencapai 2,1 juta jiwa. Pada Sensus berikutnya, tepatnya tahun 2000 populasinya bertambah menjadi 2,6 juta jiwa. Tahun ini diperkirakan populasi Suku Sasak yang tinggal di Lombok sekitar 3 juta jiwa, jumlah itu belum termasuk sasak diaspora alias sasak rantau yang menetap di Pulau Sumbawa bagian Barat, di Kalimantan Timur (akibat proyek transmigrasi), di Malaysia (TKI) dan di beberapa Kota besar di Indonesia (yang umumnya karena faktor pekerjaan dan status sebagai Mahasiswa). Di Samping itu dalam jumlah kecil, Suku

5 Sasak tersebar di beberapa Negara di dunia ini. Jumlah Sasak Disapora ini diperkirakan menembus angka 10000 jiwa. Mengambil Pelajaran Kaum diasporan merupakan sebuah komunitas yang sangat berperan dalam memajukan daerah atau negara asalnya. Di dunia ini, secara jumlah Kaum Diasporan Tiongkok merupakan yang terbesar di dunia, dengan jumlah lebih dari 50 juta orang; sementara Kaum Diasporan Israel merupakan Diaspora yang tertua didunia yang telah berproses lebih dari 2000 tahun; Kaum Diasporan India yang tinggal di Amerika sangat diperhitungkan oleh pemerintah, diperkirakan 75 % SDM IT Amerika dipasok oleh Diasporan India; Begitu juga dengan Kaum Diasporan Tamil yang tinggal di India, jumlahnya diperkirakan sepertiga dari Bangsa Tamil yang tinggal di Srilangka, punya peran besar dalam sosialisasi nilai dan asistensi finansial perjuangan saudaranya di Srilangka. Karena besarnya peran diasporanya, diaspora Tamil telah menjadi pusat perhatian kajian-kajian hubungan komunitas. Kalau melihat beberapa fakta pengaruh diasporan Melihat Fakta di atas, nampaknya Kaum Sasak Diaspora harus mengambil pelajaran agar bisa memberikan kontribusi real dan mendukung serta mempercepat proses pembangunan Pulau Lombok. Karena keberadaan Kaum Sasak Diaspora ini bisa bermanfaat dan juga bisa sebaliknya maka perlu upaya terorganisir untuk menyatukan mereka dalam sebuah wadah permanen. Memayakan yang nyata, sebuah langkah awal mengumpulkan yang terserak

6 LATAR BELAKANG MASALAH Masyarakat suku sasak adalah sekelompok masyarakat yang mendiami hampir sebagian besar pulau Lombok. Pada awal perkembangan agama Islam di Nusa Tenggara Barat, tercatat agama ini masuk lebih awal (antara tahun 1450-1540) daripada perkiraan semula. Perkembangan Islam selanjutnya di Nusa Tenggara Barat ditandai dengan fanatiknya umat Islam di Pulau Lombok dari awal abad ke-18 sampai akhir abad ke-19. Sedangkan di Pulau Sumbawa diakibatkan oleh meletusnya gunung Tambora pada tahun 1813. Kemudian pada zaman Mataram Lombok (1839-1894) di bidang seni sastra telah menghasilkan beberapa kidung dan menyalin serta menyadur hampir semua karya sastra sejak dari zaman Medang sampai zaman Majapahit di Jawa Timur. Salah satu diantaranya yang terpenting ialah Negarakertagama, salah satu naskah yang memberikan keterangan secara luas tentang keadaan sejarah pada zaman Majapahit. Begitu pula pada zaman Mataram telah dikeluarkan berbagai Paswara (Peraturan Undang-undang yang mengatur politik dan perdagangan di Pulau Lombok). Lombok juga pernah dikuasai oleh beberapa buah kerajaan di Nuisantara, namun yang paling besar pengaruhnya adalah kerajaan Majapahit dan kerajaan Karang Asem Bali. Dengan adanya kerajaan-kerajaan yang mengauasai pulau Lombok menghadirkan pola tingkatan status masyarakat pada saat itu, dan ada satu hal yang unik tentang hal ini yaitu masalah tata aturan perkawinan bangsawan yang tidak memperbolehkan wanita bangsawan menikah tidak dengan sesama bangsawannya, namun tidak demikian halnya dengan laki-laki. Inilah masalah yang sangat mendasar bagi penulis dan penulis ingin meneliti lebih jauh mengenai permaslahan ini.

7 B. ALASAN PEMILIHAN TOPIK Penulis memilih topik ini dengan alasan untuk lebih mengetahui secara lebih mendalam dan mendetail mengapa terjadi ketidaksetaraan antara kedudukan kaum bangsawan Lombok dalam hal aturan perkawinan (penjelasan mengenai macam-macam sebutan untuk kaum bangsawan Lombok telah diuraikan dalam latar belakang masalah). Kaum bangsawan Lombok yang masih tersisa saat ini masih teguh memegang adat atau hukum adat yang berlaku dalam masyarakatnya. Dalam adat perkawinan pun mereka masih memilih untuk tetap melestarikan tradisinya. Dalam perkawinan bangsawan sasak, kaum bangsawan pria (disebut Datu, Raden dan Lalu) boleh menikahi wanita yang tidak berasal dari golongan bangsawan. Namun tidak demikian halnya dengan kaum bangsawan wanita, mereka tidak diperbolehkan menikah selain dengan golongan bangsawan lakilaki. Disinilah letak ketidakadilan gender yang ingin penulis selidiki mengapa terjadi aturan seperti itu, apa yang menyebabkannya, bagaimana asal usul adanya aturan hukum adat seperti itu. Untuk diketahui wanita bangsawan sasak (Dende, Lale dan Baiq), akan dibuang dari masyarakatnya bahkan keluarganya jika tidak menikah dengan kaum bangsawan lakilaki. Memang tidak dapat dipungkiri ada juga segelintir wanita bangsawan sasak yang tidak perduli dengan aturan-aturan tersebut bahkan berani untuk melanggarnya dengan cara tetap menikah dengan laki-laki yang berasal dari golongan rendah (rakyat biasa), dan tidak jarang konsekwensi yang diperoleh tidak jauh beda dengan yang penulis paparkan diatas. Walaupun pada akhirnya mereka diterima juga, namun pada awal pernikahan mereka memperoleh tantangan yang sangat besar dari masyarak