bab ii tinjauan pustaka 2.1 tanaman fauji bab ii.pdf · pdf filebuah kakao terdiri atas...

Click here to load reader

Post on 02-Mar-2019

215 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kakao

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan spesies penting famili

Sterculiceae yang berasal dari daerah Amazon Amerika Selatan (Chat, 1953;

Dinarti, 1991). Habitat asli tanaman kakao adalah hutan tropis dengan naungan

pohon-pohon yang tinggi, curah hujan tinggi, suhu sepanjang tahun relatif sama,

serta kelembaban tinggi yang relatif tetap.

Pada tahun 1528, coklat mulai diperkenalkan di wilayah Eropa oleh

bangsa Spanyol dan mulai menyebar ke seluruh dunia sekitar abad ke-16

(Toussaint-Samat, 2009). Di Indonesia, kakao juga diperkenalkan oleh Spanyol

pertama kali pada tahun 1560 di daerah Minahasa. Kakao mulai menyebar ke

seluruh wilayah di Indonesia mulai akhir abad 18 dan menjadi komoditas

perkebunan utama di Indonesia. Pada tahun 2012, Indonesia menjadi penghasil

kakao terbesar kedua di dunia di bawah Pantai Gading dengan total produksi lebih

dari 900 ribu ton (FAO, 2014).

2.1.1 Morfologi Kakao

Tanaman kakao merupakan tanaman tahunan (perennial) berbentuk pohon

dengan tinggi dapat mencapai antara 4,5 sampai 7,0 meter pada umur 12 tahun

(Karmawati et al, 2010). Tanaman kakao memiliki batang yang berkayu dan

berbentuk bulat (Tjitrosoepomo, 1992) dengan dua sifat percabangan sehingga

9

Pengaruh Penambahan 6-benzylamin..., Riyan Fauji, FKIP UMP, 2014

disebut dengan dimorfisme. Cabang yang arah pertumbuhannya ke atas disebut

cabang ortotrop, sedangkan cabang yang arah pertumbuhannya ke samping

disebut cabang plagiotrop (Karmawati et al., 2010). Sistem perakaran tanaman

kakao adalah akar tunggang dengan panjang dapat mencapai 8 meter ke arah

samping dan 15 meter ke arah bawah (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1963).

Daun kakao bersifat dimosfirme, yaitu daun pada cabang ortotrop

memiliki tangkai daun yang panjang (sekitar 7,5 - 10 cm), sedangkan daun pada

cabang plagiotrop memiliki tangkai daun yang pendek (sekitar 2,5 cm;

Karmawati et al, 2010). Bentuk helai daun bulat memanjang (oblongus), ujung

daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acatus) (Backer &

Bakhuizen van den Brink, 1963). Tanaman kakao memiliki permukaan daun licin

dan mengkilap, sedangkan susunan tulang daun menyirip dan tulang daun

menonjol kepermukaan bawah helai daun (van Steenis et al., 2008; Prawoto &

Winarsih, 2010).

Bunga kakao berwarna putih, ungu atau kemerahan dan tersusun atas 5

daun kelopak (sepala) dan 5 daun mahkota (petala) serta 10 tangkai sari yang

tersusun dalam 2 lingkaran. Masing-masing lingkaran tersusun atas 5 tangkai sari

yang steril (staminodia) dan 5 tangkai sari yang fertil (stamen). Bunga kakao

memiliki 5 daun buah yang bersatu (Gambar 2.1.B; van Steenis et al., 2008).

Tanaman kakao bersifat cauliflori yang artinya bunga tumbuh dan berkembang

dari bekas ketiak daun pada batang dan cabang (Gambar 2.1.A; Backer &

Bakhuizen van den Brink, 1963). Pohon kakao dewasa dapat membentuk sekitar

10

Pengaruh Penambahan 6-benzylamin..., Riyan Fauji, FKIP UMP, 2014

10.000 bunga, namun, hanya 30 60 bunga yang tumbuh dan berkembang

menjadi buah yang masak (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1963).

Gambar 2.1.A Cauliflori atau Bunga kakao bunga tumbuh dan berkembang dari

bekas ketiak daun pada batang dan cabang. Panah hitam

menunjukan bunga masih kuncup dan panah biru menunjukan

bunga telah mekar (Backer & Bakhuizen van den Brink, 1963).

Gambar 2.1.B Diagram bunga yang telah mekar yang menunjukkan posisi

staminodia, petala, dan bagian bunga yang lain (Susanto, 1994).

Staminodia

Sepala

Stigma

Stylus

Petala

Pedicel

Stamen

11

Pengaruh Penambahan 6-benzylamin..., Riyan Fauji, FKIP UMP, 2014

Buah kakao terdiri atas kulit buah (pod), arilus (pulp), dan biji. Kulit buah

kakao terdiri dari tiga lapisan yaitu lapisan eksokarp, mesokarp, dan endokarp

(Limbongan, 2012). Biji tersusun dalam lima baris mengelilingi poros buah dan

memiliki jumlah yang beragam yaitu sekitar 20 50 butir per buah (Karmawati et

al., 2010). Warna buah kakao beraneka ragam, namun pada dasarnya warna buah

kakao ada dua macam yaitu buah muda berwarna hijau putih dan bila sudah

matang warna berubah menjadi kuning, dan buah muda yang berwarna merah

setelah buah matang warna berubah menjadi oranye (Susanto, 1994).

2.1.2 Kultivar Kakao

Terdapat tiga kultivar utama kakao yang sering dibudidayakan oleh petani

yaitu criollo, forastero, dan trinitario (Susanto, 1994). Kultivar criollo (Gambar

2.2 A - D) memiliki ciri kulit buah tipis dan mudah diiris dengan 10 alur yang

letaknya berselang-seling antara lima alur agak dalam dan lima alur dangkal.

Ujung buah umumnya berbentuk tumpul dan sedikit bengkok. Setiap buah berisi

30 40 biji yang bentuknya agak bulat sampai bulat dengan endosperm yang

berwarna putih. Kakao criollo memiliki pertumbuhan yang kurang kuat dengan

kemampuan produksi yang relatif rendah (Susanto, 1994).

Kultivar forastero (Gambar 2.2 E - H) memiliki ciri kulit buah agak keras

tetapi permukaannya halus dengan alur buah yang agak dalam. Kakao kultivar

forastero memiliki biji berbentuk gepeng dengan endosperm berwarna ungu tua.

Kultivar ini memiliki pertumbuhan tanaman yang kuat dengan produksi tinggi

serta relatif lebih tahan hama penyakit dibandingkan dengan criollo. Namun

12

Pengaruh Penambahan 6-benzylamin..., Riyan Fauji, FKIP UMP, 2014

kultivar forastero memiliki citarasa yang kurang disukai dibandingkan dengan

kultivar criollo (Susanto, 1994).

Kultivar trinitario (Gambar 2.2 I - L) adalah kakao hasil persilangan

antara kakao criollo dengan forestero. Kakao kultivar ini memiliki sifat yang

sangat heterogen dan beragam (Susanto, 1994).

Gambar 2.2.Tiga kultivar kakao di dunia, A - D. criollo E - H. forastero dan I - L

trinitario (Susanto, 1994). Sumber gambar

http://worldstandards.eu/chocolate%20-%20cacao.html

2.1.3 Manfaat Kakao

Bagian utama dari tanaman kakao yang banyak dimanfaatkan oleh petani

adalah bagian buahnya. Kulit buah kakao dapat dimanfaatkan sebagai pakan

ternak hewan ruminansia (Murni & Okrisandi, 2012), berpotensi menjadi sumber

G

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

B

ri

n

k

,

C

B A

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

B

ri

n

k

,

1

9

6

3

)

E

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

B

ri

n

k

,

1

9

6

3

)

D

F

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

B

ri

n

k

,

1

9

6

3

)

H

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

B

ri

n

k

,

I

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

J

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

n

d

e

n

K

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

L

B

a

c

k

e

r

&

B

a

c

k

h

u

i

z

e

n

v

a

13

Pengaruh Penambahan 6-benzylamin..., Riyan Fauji, FKIP UMP, 2014

http://worldstandards.eu/chocolate%20-%20cacao.html

bioetanol, sumber zat pewarna, pupuk organik maupun bahan baku pembuatan

kompos (Dachlan et al., 2009; Wulan, 2011). Biji kakao merupakan bagian

terpenting dari buah kakao. Biji kakao dapat diolah menjadi cocoa liquor, cocoa

butter dan bubuk coklat yang dapat diolah lebih lanjut menjadi beraneka ragam

makanan dan minuman seperti ice cream, biskuit