bab i-v perbaikan 8

Post on 30-May-2018

226 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    1/49

    BAB I

    PENDAHULUAN

    I.1 Latar Belakang

    Profesi akuntan Indonesia di abad ke-21 menghadapi tantangan yang semakin

    berat, diantaranya ada tiga tantangan antara lain : pertama, WTO/GATT/GATS yang tidak

    hanya merundingkan masalah perdagangan komoditi riil, namun juga sektor jasa. Adapun

    tujuan dan semangat hasil perundingan tersebut adalah pada akhirnya semua jenis jasa

    dibuka bagi perdagangan dunia dengan tingkat liberalisasi 100%. Kedua, akan

    diberlakukannya perdagangan bebas diantara negara-negara di kawasan Asia-Pasifik

    dalam rangka kerjasama ekonomi APEC (Asia Pasific Economic Coorporation) pada

    tahun 2010 bagi negara maju dan pada tahun 2020 bagi negara berkembang, termasuk

    Indonesia. Ketiga, diberlakukannya perdagangan bebas diantara negara-negara di

    kawasan ASEAN, yaitu AFTA (Asean Free Trade Area). Di dalam negeri sendiri

    paradigma peran profesi akuntan Indonesia berkaitan dengan otonomi daerah dan Good

    Coorporate Governance.

    Kemajuan ekonomi mendorong munculnya pelaku bisnis baru sehingga

    menimbulkan persaingan bisnis yang cukup tajam. Semua usaha bisnis tersebut berusaha

    untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun terkadang untuk mencapai

    tujuan itu, segala upaya dan tindakan dilakukan walaupun pelaku bisnis harus melakukan

    tindakan-tindakan yang mengabaikan berbagai dimensi moral dan etika bisnis itu sendiri,

    termasuk profesi akuntansi. Untuk mengantisipasi hal itu, maka profesionalisme suatu

    profesi harus dimiliki oleh setiap anggota profesi, yaitu berkeahlian, berpengetahuan, dan

    berkarakter. Karakter menunjukkan personalitas seorang profesionalisme yang

    1

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    2/49

    diwujudkan dalam sikap profesional dan tindakan etisnya (Machfoedz dalam Winarna

    dan Retnowati, 2004).

    Di Indonesia, etika akuntan menjadi isu yang sangat menarik. Tanpa etika, profesi

    akuntansi tidak akan ada karena fungsi akuntansi adalah penyedia informasi untuk proses

    pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Disamping itu, profesi akuntansi

    mendapat sorotan yang cukup tajam dari masyarakat. Hal ini seiring dengan terjadinya

    beberapa pelanggaran etika yang dilakukan oleh akuntan, baik akuntan publik, akuntan

    intern perusahaan maupun akuntan pemerintah.

    Dalam menjalankan aktifitasnya seorang akuntan dituntut untuk selalu

    menngkatkan profesionalismenya, begitu juga pada karyawan suatu perusahaan. Untuk

    mendukung profesionalisme akuntan, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengeluarkan

    suatu standar profesi yang memuat seperangkat prinsip-prinsip moral dan mengatur

    tentang perilaku profesional yaitu kode etik ikatan akuntan Indonesia yang mengatur

    tentang norma perilaku hubungan antara akuntan dengan para klien, antara akuntan

    dengan sejawatnya dan antara profesi dengan masyarakat. Alasan yang mendasari

    diperlukannya kode etik sebagai standar perilaku profesional tertinggi pada profesi

    akuntan adalah kebutuhan akan kepercayaan publik terhadap kualitas jasa yang diberikan

    profesi akuntan terlepas dari yang dilakukan perorangan. Kepercayaan masyarakat

    terhadap kualitas jasa profesional akuntan akan meningkat jika profesi menunjukkan

    standar yang tinggi dan memenuhi semua kebutuhan.

    Berkaitan dengan hal tersebut, maka akuntan sebagai suatu profesi harus

    menunjukkan sikap professional dalam melakukan pekerjaan. Aranya dkk (1981)

    berpendapat bahwa profesi akuntan berbeda dengan profesi lainnya. Profesi akuntan

    2

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    3/49

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    4/49

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    5/49

    Berdasar uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah berikut

    ini:

    11. Apakah terdapat perbedaan persepsi antara akuntan, mahasiswa akuntansi, dan

    karyawan bagian akuntansi dipandang dari segi level hierarkis terhadap etika bisnis?

    22. Apakah terdapat perbedaan persepsi antara akuntan, mahasiswa akuntansi, dan

    karyawan bagian akuntansi dipandang dari level hierarkis terhadap etika profesi?

    1.3 Pembatasan Masalah

    Dalam penelitian ini daerah survey dan penyebarannya dilakukan di wilayah

    Sumatera Barat, namun untuk lebih terarahnya permasalahan yang dikemukakan dalam

    tulisan ini, maka peneliti membatasi area survey pada perguruan tinggi, kantor akuntan

    dan perusahaan yang ada di kawasan Kota Padang saja.

    I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

    Tujuan

    Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan

    persepsi antara akuntan, mahasiswa akuntansi, karyawan bagian akuntansi dipandang dari

    segi level hierarkis terhadap etika bisnis dan etika profesi akuntan.

    Manfaat

    Manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah berikut ini.

    11. Memberikan pengetahuan empiris mengenai perbandingan antara persepsi etis etika

    bisnis dan etika profesi pada akuntan senior, mahasiswa akuntansi senior, dan karyawan

    5

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    6/49

    bagian akuntansi senior dengan akuntan junior, mahasiswa junior, dan karyawan bagian

    akuntansi junior.

    22. Bagi penulis, agar dapat lebih memahami dan memperluas pengetahuan yang

    berkaitan etika bisnis dan etika profesi

    3. Bagi peneliti selanjutnya, Sebagai referensi agar mengadakan kajian lebih luas tentang

    bahasan ini.

    3I.5 Sistematika Penulisan

    1Agar memperoleh gambaran yang jelas dan sistematik maka laporan disajikan bab demi

    bab, sebagai berikut :

    Bab pertama, pendahuluan yang akan menyajikan latar belakang masalah,

    perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan.

    Bab kedua, landasan teoritis yang berisi tentang gambaran umum tentang

    persepsi, etika, etika bisnis dan etika profesi, penjelasan mengenai level hierarkis, serta

    penjelasan mengenai etika profesi akuntan. Sub bab pertama membahas tentang persepsi.

    Sub bab kedua berisi tentang pengertian etika dan pembagian etika. Sub bab ketiga

    membahas mengenai etika bisnis. Sub bab keempat berisikan tentang etika profesi dan

    etika profesi akuntan yaitu yang terdapat di dalam kode etik akuntan Indonesia. Sub bab

    ke lima membahas tentang pengertian level hierarakis (senior dan junior) serta hirarki

    Akuntan. Sub bab ke enam menguraikan tentang hierarki akuntan, mahasiswa akuntansi

    serta karyawan bagian akuntansi. Sub bab ketujuh berisikan tentang pengembangan

    hipotesis, dan hipotesis penelitian.

    6

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    7/49

    Bab ketiga, menguraikan tentang metode penelitian dari sampel penelitian dan

    sumber data, teknik pengumpulan sampel, definisi operasional variabel, pengujian data,

    pengujian hipotesis.

    Bab keempat, merupakan hasil penelitian yang meliputi demografi responden,

    statistik deskriptif, uji validitas dan uji reabilitas, uji asumsi klasik analisis data, serta

    analisis pengujian hipotesis.

    Bab kelima, menguraikan tentang kesimpulan, keterbatasan penelitian serta

    saran.

    7

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    8/49

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    2.1 Tinjauan Tentang Persepsi

    Persepsi merupakan proses untuk memahami lingkungannya meliputi objek,

    orang, dan simbol atau tanda yang melibatkan proses kognitif (pengenalan). Proses

    kognitif adalah proses dimana individu memberikan arti melalui penafsirannya terhadap

    rangsangan (stimulus) yang muncul dari objek, orang, dan simbol tertentu. Dengan kata

    lain, persepsi mencakup penerimaan, pengorganisasian, dan penafsiran stimulus yang

    telah diorganisasikan dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan membentuk

    sikap. Hal ini terjadi karena persepsi melibatkan penafsiran individu pada objek tertentu,

    maka masing-masing objek akan memiliki persepsi yang berbeda walaupun melihat objek

    yang sama (Gibson, 1996: 134).

    Sedangkan pengertian persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:

    tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau merupakan proses seseorang

    mengetahui beberapa hal yang dialami oleh setiap orang dalam memahami

    setiap informasi tentang lingkungan melalui panca indera .

    Menurut Walgito (1997: 53) agar individu dapat menyadari dan dapat membuat

    persepsi, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu berikut ini:

    a. Adanya objek yang dipersepsikan (fisik).

    b. Adanya alat indera/reseptor untuk menerima stimulus (fisiologis).

    c. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama dalam mengadakan persepsi

    (psikologis).

    8

  • 8/14/2019 BAB I-V Perbaikan 8

    9/49

    Dari definisi di atas maka pengertian persepsi dalam penelitian ini adalah

    merupakan pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan hubungan yang

    diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Dengan kata lain,

    persepsi adalah memberikan makna pada stimuli indrawi (sensory stimuly) (Rakhmat,

    1993: 51).

    2.2 Pengertian Etika dan Pembagian Etika

    Pengertian etika, dalam bahasa latin "ethica", berarti falsafah moral. Ia

    merupakan pedoman cara bertingkah laku yang baik dari sudut pandang budaya, susila

    serta agama. Sedangkan menurut Keraf (1997: 10),

    etika secara harfiah berasal dari kata Yunani ethos (jamaknya: ta

    etha), yang artinya sama persis dengan moralitas, yaitu adat

    kebiasaan yang baik .

    Istilah etika jika dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998), memiliki

    tiga arti, yang sal