asuhan keperawatan xeroftalmia (by_muhammad ulul amrie)

Click here to load reader

Post on 29-Jun-2015

1.182 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Xeropthalmia Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Patofisiologi Dosen Pengampu : Ns. Lantin Setyorini, M.Kep

Oleh : NAMA : Muhammad Ulul Amri NIM : 082310101059

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2011

i

DAFTAR ISIJUDUL . KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI ... BAB 1 PENDAHULUAN . 1.1 1.2 1.3 2.1 2.2 2.3 2.4 2.5 2.6 2.7 2.8 2.9 3.1 4.1 4.2 5.1 5.2 LATAR BELAKANG TUJUAN . MANFAAT . DEFINISI ETIOLOGI .. EPIDEMOLOGI . PATOGENESIS/PATOFISIOLOGI .. MANIFESTASI KLINIS (TANDA DAN GEJALA) . KOMPLIKASI PENCEGAHAN PRIMER, SEKUNDER, DAN TERSIER . PENATALAKSANAAN .. PROGNOSIS PATOFISIOLOGI GAMBARAN PENYAKIT SECARA MENYELURUH .. IMPLIKASI PATOFISIOLOGI PENYAKIT DALAM BIDANG KEPERAWATAN.. PERANAN KEPERAWATAN . KESIMPULAN.. SARAN . BAB 5 PENUTUP ...

BAB 2 KONSEP PENYAKIT

BAB 3 PATHWAY BAB 4` IMPLIKASI DALAM BIDANG KEPERAWATAN .

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ..

ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peningkatan kualitas manusia berkaitan dengan banyak faktor, dan faktor gizi mempunyai peranan yang sangat strategis. Gizi yang baik merupakan hasil dari konsumsi makanan dengan kecukupan yang dianjurkan dan keseimbangan antar zat-zat gizi tersebut. Jika keseimbangan ini tidak tercapai maka akan timbul berbagai jenis kelainan gizi. Kelainan gizi dihasilkan dari ketidakseimbangan antara kebutuhan tubuh untuk sumber zat gizi dan energi dengan penyediaan sunstrat matabolisme. Ketidakseimbangan mungkin terjadi karena kekurangan atau kelebihan yang ditandai dengan intik yang tidak sesuai atau penggunaan yang kurang baik, atau kadang-kadang karena kombinasi keduanya. Terlepas dari kebutuhan manusia untuk mempertahan kesehatan, malnutrisi selanjutnya akan menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian di negara-negara berkembang, khususnya bagi anak-anak. Pada masyarakat yang teknologinya sudah maju, gizi kurang sehubungan dengan keterbatasan tidak lagi merupakan bahaya utama bagi kesehatan, tapi tetap terjadi pada pasien di rumah sakit dan khususnya pada kelompok yang rentan. Keadaan kekurangan tetap terjadi dan meningkat pada pasien dengan masalah alkohol dan penyiksaan jangka panjang dan dalam perilaku konsumsi pangan. Gizi kurang skunder yang dihasilkan dari kesalahan absorpsi, kegagalan transportasi, penyimpanan atau penggunaan seluler, atau kehilangan akibat praktek pengobatan. Penggunaan yang kurang tepat dari suplemen zat gizi menunjukkan berbagai contoh toksisitas vitamin dan mineral, yang sering disebabkan oleh kelalaian pengguna atau kekurangan informasi. Vitamin A merupakan salah satu zat gizi yang mempunyai beragam resiko baik karena defisiensi maupun kelebihan intik.

iii

Anak-anak yang mengalami kurang gizi berat berada pada resiko yang tinggi dari perkembangan kebutaan sehubungan dengan defisiensi vitamin A. Selain anak-anak, kelompok yang juga rentan terhadap defisiensi gizi adalah wanita hamil yang selanjutnya akan membahayakan janin yang dikandungnya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena generasi-generasi baru yang akan lahir sangat ditentukan sejak dalam kandungan. 1.2. Tujuan 1.2.1. Tujuan Umum Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan diagnosa medis xeropthalmia. 1.2.2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien xeropthalmia. b. Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien

xeropthalmia. c. Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien xeropthalmia. d. Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien xeropthalmia. e. Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien xeropthalmia. 1.2.3. Manfaat a. Mahasiswa dapat memahami konsep dasar xeropthalmia b. Mahasiswa dapat mengetahui cara memberikan askep pada pasien xeropthalmia

iv

BAB II KONSEP DASAR TEORI XEROPTHALMIA 2.1. Anatomi dan Fisiologi Mata Bola mata berbentuk bulat dengan panjang maksimal 24 mm. Bola mata dibagian depan (kornea) mempunyai kelengkungan yang lebih tajam sehingga terdapat bentuk dengan 2 kelengkungan yang berbeda Mata mempunyai reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Secara keseluruhan struktur mata terdiri dari bola mata, termasuk otot-otot penggerak bola mata, rongga tempat mata berada, kelopak, dan bulu mata. Bola mata di bungkus oleh tiga lapis jaringan, yaitu (Vaughan, 2000): Sklera merupakan jaringan ikat kenyal memberikan bentuk pada mata,dan bagian luar yang melindungi bola mata. Bagian depan disebut kornea yang memudahkan sinar masuk ke dalam bola mata. aringan uvea merupakan jaringan vaskuler. Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang mudah dimasuki darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa di sebut juga perdarahan suprakoroid. Jaringan uvea terdiri atas iris, badan sillier dan koroid. Lapis ketiga bola mata adalah retina yang mempunyai susunan 10 lapis. Retina dapat terlepas dari koroid yang disebut ablasi retina.

v

2.1.1. Kornea Kornea (latin cornum= seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata sebelah depan terdiri atas lapis (Vaughan, 2000); 1. Epitel a) Tebalnya 50m, terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang tindih, yaitu sel basal, sel poligonal, sel gepeng. b) Sel basal sering terlihat mitosis sel.

vi

c) Sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui dermosom dan makula okluden, ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier. d) Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat. Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren. e) Epitel berasal dari ektoderm permukaan. 2. Membran Bowman a) Terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma. b) Lapis ini tidak mempunyai daya regenerasi 3. Stroma Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen. Pada permukaan terlihat seperti anyaman yang teratur. Keratosit merupakan sel stroma kornae yang merupakan fibroblast. 4. Membrane Descemet a) Merupakan membrane aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea yang dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. b) Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup. 5. Endotel Berasal dari mesotelium, melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan zonula okluden.

vii

Sumber-sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquaeus dan air mata. Kornea superfisial juga mendapatkan oksigen sebagian besar dari atmosfer. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari percabangan pertama (oftalmika) dari nervus kranialis V (trigeminus). Transparansi kornea disebabkan oleh strukturnyayang seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya. 2.1.2. Uvea Uvea terdiri dari iris, korpus silier dan khoroid. Bagian ini adalah lapisan vascular . tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sclera (Vaughan, 2000); 1. Iris Merupakan lanjutan dari badan siliar kedepan dan merupakan diafagma yang membagi bola mata menjadi dua segmen anterior dan segmen posterior. Berbentuk sirkular yang ditengah- tengahnya berlubang yang disebut pupil. Secara histologi iris terdiri dari stroma yang jarang dan diantaranya terdapat lekukan-lekukan yang berjalan radier yang disebut kripta. Di dalam stroma terdapat sel pigmen yang bercabang, banyak pembulluh darah dan serat saraf . dipermukaan anterior ditutup oleh endotel terkecuali kripta, dimana pembuluh darah dalam stroma dapat berhubungan langsung dengan cairan coa,yang memungkinkan cepatnya terjadi pengaliran makanan ke coa dan sebaliknya. Di bagian posterior dilapisi oleh dua epitel yang mrupakan lanjutan dari epitel pigmen retina. Permukaan depan iris warnanya sangat bervariasi tergantung pada sel pigmen yang bercabang yang terdapat didalam stroma.Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos yang melingkar pupil (m. Sfingter pupil) terletak di dalam stroma dekat pupil dan di atur oleh saraf parasimpatis (N. III) dan yang berjalan radial dari akar iris ke pupil (m. dilatator pupillae) terletak di bagian posterior stroma dan diatur oleh saraf simpatis (Vaughan, 2000). viii

menipis didekat perlekatannya di badan siliar dan menebal didekat pupil. Pembuluh darah disekitar pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan siliar disebut sirkulus mayor. Iris dipersarafi oleh nervus nasosiliar cabang dari saraf cranial III yang bersifat simpatis untuk midriasis dan parasimpatis untuk miosis. Pupil bekerja sebagai apertura di dalam kamera. Dalam keadaan radang, didapatkan iris menebal dan pupil mengecil. Dalam keadaan normal pupil sentral bulat, isokor (sama kanan dan kiri), reaksi cahaya langsung dan tidak langsung positif. Reaksi pupil ada tiga, yaitu reaksi cahaya langsung dan tidak langsung, reaksi terhadap titik dekat, dan terhadap obat-obatan. 2. Badan Siliar Berbentuk segitiga terdiri dari dua bagian, yaitu (Vaughan, 2000): a) Pars korona, pada bagian anterior bergerigi panjangnya kira-kira 2mm b) Pars plana, yang posterior tidak bergerigi, panjangnya 4mm Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid terdiri atas otot siliar dan prosesus siliar. Otot siliar berfungsi untuk akomodasi. Jika otot ini berkontraksi ai menarik prosesus siliar dan koroid kedapan dan ke dalam, mengendorkan zonula zinni sehingga lensa menjadi lebih cembung. Radang pada badan siliar akan mengakibatkan melebarnya pembuluh darah di daerah limbus yang akan mengakibatkan mata merah yang merupakan gambaran khas peradangan intraokular. Prosesus siliar menghasilkan cairan mata yaitu, akueous humour yang mengisi bilik mata depan. Yang berfungsi memberi makanan untuk kornea dan lensa. Pada peradangan akibat hiperemi yang aktif, maka pembentukan cairan mata bertambah sehingga dapat menyebabkan tekanan intraokuler meninggi dan timbullah ix