aspek geografis dan demografi

Upload: desii

Post on 06-Jul-2018

248 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    1/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    BAB II

    GAMBARAN UMUMKONDISI DAERAH

    2.1 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    2.1.1Karakteristik Lokasi Dan Wilayah

    Kabupaten Tanggamus merupakan salah satu dari 14 (empat belas)

    Kabupaten/Kota di wilayah Provinsi Lampung yang dibentuk

     berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1997 tentang

    Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Tulang Bawang dan

    Kabupaten Tanggamus, yang diundangkan pada tanggal 3 Januari 1997

    dan diresmikan menjadi Kabupaten pada tanggal 21 Maret 1997.

    Kabupaten Tanggamus ke arah Barat condong mengikuti lereng Bukit

    Barisan. Bagian Selatan meruncing dan mempunyai sebuah teluk yang

     besar yaitu Teluk Semangka. Di Teluk Semangka terdapat sebuah

    pelabuhan yang merupakan pelabuhan antar pulau dan terdapat tempat

    pendaratan ikan.

    2.1.1.1 Luas Wilayah dan Batas Wilayah Administrasi

    Secara umum luas wilayah Kabupaten Tanggamus adalah 4.654,96 Km2

     yang terdiri dari daratan 2.855,46 Km2 dan lautan 1.799,50 Km2.

    Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Tanggamus adalah sebagai

     berikut :

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-1

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    2/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Lampung Barat dan

    Kabupaten Lampung Tengah .

    Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia dan

    Kabupaten Lampung Barat.

    Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Pringsewu dan

    Kabupaten Pesawaran.

    Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Barat.

     Wilayah Tanggamus dimasuki oleh penjajah Belanda pada tanggal 24

     Agustus 1682 melalui ekpedisi perdagangan VOC. Hal ini terjadi akibat

    imbas dari berkuasanya Sultan Haji sebagai pengganti Sultan Ageng

     Tirtayasa. Dari tahun 1682 sampai 1799 perlawanan terhadap Belanda

    masih berlangsung namun sejak tahun 1856 perlawanan terhadap

    pemerintah Belanda mulai surut selanjutnya di wilayah Tanggamus

    dibentukOnder Afdeling yang dipimpin oleh seorang Controlir di Kota

     Agung. Pada saat itu pemerintahaan telah dilaksanakan oleh

    Pemerintahan Adat yang disebut Marga masing-masing dipimpin oleh

    seorang Pasirah yang membawahi beberapa kampung, lima marga

    tersebut adalah :

    1) Marga Gunung Alip.

    2)Marga Benawang.

    3) Marga Belunguh.

    4) Marga Pematang Sawa.

    5)Marga Ngarip.

    Selanjutnya pada tahun 1944 berdiri Pemerintahan Kecamatan dan

    Kewedanaan, serta pada tahun 1953 berdiri pula Pemerintahan Negeri

    sekaligus menghapus Pemerintahan Adat/Marga.

    Pada masa Pemerintahan Kewedanaan Kota Agung mengkoordinir empat

     wilayah kecamatan yang meliputi Kecamatan Kota Agung, Kecamatan

     Wonosobo, Kecamatan Cukuh Balak, dan Kecamatan Talang Padang

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-2

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    3/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

     yang mencakup Kecamatan Pulau Panggung. Pada tahun 1964

    Pemerintah Kewedanaan dihapuskan yang selanjutnya pada tahun 1971

    Pemerintahan Negeri juga dihapuskan.

    Untuk meningkatkan pelayanan birokrasi, maka pada tahun 1979

    melalui Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 114/1979 tanggal 30

     Juni 1979 dalam rangka mengatasi rentang kendali dan sekaligus

    merupakan persiapan pembentukan Pembantu Bupati Lampung Selatan

    untuk wilayah Kota Agung yang berkedudukan di Kota Agung yang

    terdiri dari 10 kecamatan dan 7 perwakilan kecamatan dengan 30 desa

    dan 30 kelurahan serta 4 desa persiapan.

    Sejalan dengan dinamika perkembangan masyarakat adat di Kabupaten

     Tanggamus, pada tanggal 12 Januari 2004 Kepala Adat Saibatin Marga

    Benawang merestui tegak berdirinya Marga Negara Batin, yang

    sebelumnya merupakan satu kesatuan adat dengan Marga Benawang.

    Pada tanggal 10 Maret 2004 di Pekon Negara Batin dinobatkan Kepala

     Adat Marga Negara Batin dengan gelar Sultan Batin Kamarullah Pemuka

    Raja Semaka V. Dengan berdirinya Marga Negara Batin tersebut,

    masyarakat adat yang pada tahun 1889 terdiri dari 5 marga, saat ini

    menjadi 6 marga, yaitu :

    1) Marga Gunung Alip (Talang Padang).

    2)Marga Benawang.

    3) Marga Belunguh.

    4) Marga Pematang Sawa.

    5)Marga Ngarip.

    6) Marga Negara Batin.

    Bupati Tanggamus pertama adalah Drs. Achmad Syah Putra yang

    memimpin Kabupaten Tanggamus sampai tahun 2003, kemudian pada

    tanggal 15 Februari 2003 dilantik Drs. H. Fauzan Sya’ie, M.Sc dan

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-3

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    4/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Bambang Kurniawan, S.T. sebagai Bupati dan Wakil Bupati Tanggamus

    periode 2003-2008, selanjutnya pada tanggal 15 Februari 2008 dilantik

    H. Bambang Kurniawan, S.T. dan H. Sujadi sebagai Bupati dan Wakil

    Bupati terpilih periode 2008-2013 dan untuk periode 2013-2018

    H. Bambang Kurniawan, S.T. dan H. Samsul Hadi, S.Pdi.

    Secara administratif ketika terbentuk Kabupaten Tanggamus terdiri dari

    11 wilayah kecamatan dan 6 wilayah perwakilan kecamatan. Pada

    tanggal 19 Juni 2000 disyahkan Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun

    2000 tentang pembentukan kecamatan dalam wilayah Kabupaten

     Tanggamus. Dengan pengesahan Perda tersebut banyaknya kecamatan

     bertambah 6 kecamatan sehingga menjadi 17 kecamatan. Pada tahun

    2004 terdapat 7 kelurahan serta 317 pekon/desa. Pada pertengahan

    tahun 2005 telah terbentuk kembali 7 kecamatan baru hasil pemekaran

     berdasarkan Perda Nomor 05 Tahun 2005 tanggal 23 Juni 2005 yaitu

    Kecamatan Kota Agung Barat, Kota Agung Timur, Gisting, Gunung Alip,

     Ambarawa, Banyumas, dan Limau sehingga jumlahnya menjadi

    24 kecamatan dengan 7 kelurahan dan 323 pekon/desa. Kemudian

    dengan disyahkannya Perda Nomor 15 Tahun 2006, maka dibentuklah

    4 kecamatan baru yaitu Kecamatan Bandar Negeri Semuong, Air

    Naningan, Bulok, dan Kelumbayan Barat sehingga sampai tahun 2007

    Kabupaten Tanggamus telah memiliki 28 kecamatan, 8 kelurahan dan

    371 pekon/desa.

    Pada tanggal 26 November 2008, melalui Undang-undang Nomor 48

     Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Pringsewu di Provinsi

    Lampung, maka cakupan wilayah Kabupaten Tanggamus dikurangi

    dengan Kabupaten Pringsewu yang terdiri dari atas 8 kecamatan yaitu

    Kecamatan Pringsewu, Gading Rejo, Ambarawa, Pardasuka, Pagelaran,

    Banyumas, Adiluwih, dan Sukoharjo. Jadi sampai dengan pertengahan

    tahun 2011 Kabupaten Tanggamus memiliki 20 kecamatan, 275 pekon,

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-4

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    5/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    3 kelurahan. Selanjutnya melalui Peraturan Daerah Nomor 18 Tahun

    2011 yang disyahkan pada tanggal 31 Oktober 2011 dan Peraturan

    Daerah Nomor 19 Tahun 2011 yang disyahkan pada tanggal

    19 Desember 2011 telah dilakukan pemekaran 24 pekon yang tersebar

    di 16 Kecamatan sehingga sampai dengan tahun 2013, Kabupaten

     Tanggamus memiliki 20 kecamatan, 299 pekon dan 3 kelurahan.

     Tabel 2.1 Kecamatan-Kecamatan di Kabupaten Tanggamus.

    NO NAMA KECAMATAN IBU KOTA

    1 Wonosobo Tanjung Kurung

    2 Semaka Sukaraja

    3 Bandar Negeri Semuong Sanggi

    4 Kota Agung Kota Agung

    5 Pematang Sawa Way Nipah

    6 Kota Agung Timur Kagungan

    7 Kota Agung Barat Negara Batin

    8 Pulau Panggung Tekad

    9 Air Naningan Air Naningan

    10 Ulu Belu Ngarip

    11 Talang Padang Talang Padang

    12 Sumberejo Margoyoso

    13 Gisting Kuta Dalom

    14 Gunung Alip Banjar Negeri

    15 Pugung Rantau Tijang

    16 Bulok Sukamara

    17 Cukuh Balak Putih Doh

    18 Kelumbayan Napal

    19 Limau Kuripan

    20 Kelumbayan Barat Sidoarjo

    Sumber : Tanggamus Dalam Angka, 2012

    2.1.1.2 Letak dan Kondisi Geografis

    Kabupaten Tanggamus secara geografis terletak pada posisi 104018’ BT –

    105012’ BT dan 5005’ LS – 5056’ LS. Dengan bentang alamnya terdiri dari

    daratan 65% yang dimanfaatkan untuk perumahan dan pekarangan

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-5

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    6/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    sebanyak 37,10% perkantoran sebanyak 37,04% dan lebih kurang 35%

    dataran tinggi dimanfaatkan untuk perkebunan/pertanian sebanyak

    40,71% dan fasilitas sebanyak 59,29%.

    2.1.1.3 Kondisi Topografi

    Kabupaten Tanggamus berada di pesisir barat Provinsi Lampung, seluas

    4.654,96 Km2 dengan topografi berviasi antara dataran rendah dan

    dataran tinggi yang sebagian merupakan daerah berbukit sampai

     bergunung, yakni sekitar 40 persen wilayah yang ketinggian dari

    permukaan laut antara 0 sampai 2.115 meter.

    2.1.1.4 Kondisi Geologi

    Secara umum kondisi Geologi Kabupaten Tanggamus memiliki potensi

    kandungan yang cukup beraneka ragam, berdasarkan data Dinas

    Pertambangan Kabupaten Tanggamus potensi tersebut adalah :

    1)Biji Besi

    Biji besi yang ada di Kabupaten Tanggamus banyak di jumpai di

    Pekon Padang Ratu dan Pekon Tegineneng Kecamatan Limau.

    Pekon Suka Agung Kecamatan Bulok serta Pekon Paku Kecamatan

    Kalumbayan. Biji besi di Kabupaten Tanggamus umumnya berupa

    mineral magnetik yang memiliki kadar Fe antara 55-65%.

    2)Mangan

    Mangan di Kabupaten Tanggamus umumnya berupa mineral

    purolusit dengan kadar Mn anatara 25-45% dan banyak dijumpai

    di Pekon Tanjung Kemala, Pekon Tanjung Agung, Pekon Gunung

    Kasih yang terdapat di Kecamatan Pugung. Terdapat beberapa

    perusahaan industri yang mengelola mangan tersebut.

    3)Emas

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-6

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    7/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Bahan galian emas di Kabupaten Tanggamus memiliki sebaran

    cukup luas dengan jumlah cadangan yang cukup besar yang

    terdapat di Pekon Doh Kecamatan Cukuh Balak, Pekon Sidoharjo

    Kecamatan Kelumbayan Barat, Pekon Umbar Kecamatan

    Kalumbayan, Pekon Way Linggo dan Way Semong di Kecamatan

    Bandar Negeri Semong.

    4)Galena

    Galena di Wilayah Kabupaten Tanggamus banyak di jumpai di

    Pekon Sidoharjo Kecamatan Kalumbayan Barat, serta Pekon Umar

    dan Pekon Paku di Kecamatan Kelumbayan.5)Pasir Besi

    Pasir besi di Wilayah Kabupaten Tanggamus dapat dijumpai

    tersebar disepanjang pesisir pantai seperti Pekon Tegineneng dan

    Pekon Badak Kecamatan Limau, pesisir pantai Pekon Doh

    Kecamatan Cukuh Balak, pesisir pantai Pekon Napal dan Pekon

    Negeri Kalumbayan Kecamatan Kelumbayan, pasir besi di

    Kabupaten Tanggamus memiliki ketebalan deposit berkisar antara

    0.5-2.5m.

    6)Batu Bara

    Batu bara di Kabupaten Tanggamus umumnya memiliki kalori

     berkisar antara 5.500-6300 dan dapat dijumpai di pekon Tangkit

    Serdang. dan pekon Gading Pertiwi Kecamatan Pugung, Teluk

    Berak Pekon Way Nipah Kecamatan Pematang Sawa, Pekon Way

    Harong Kecamatan Air Naningan, Pekon Sidoharjo Kecamatan

    Kalumbayan Barat, Pekon Payandingan Kecamatan Kelumbayan.

    7)Zeolit

    Bahan galian Zeolit di Kabupaten Tanggamus banyak dijumpai di

    Pekon Batu Balai Kecamatan Kota Agung Timur (sumber daya :

    720.000 m³). Pekon Pertiwi Kecamatan Cukuh Balak (sumber

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-7

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    8/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    daya : 2000.000 m³) pengelola PT Peragon Perdana Mining. Pekon

     Way Rilau Kecamatan Cukuh Balak (sumber daya : 600.000 m³)

    8)Andesit

    Batu Andesit di Kabupaten Tanggamus tersebar merata dibeberapa

    Kecamatan diantaranya : Pekon Toto Margo Kecamatan Air

    Naningan (Sumber Daya tereka 2.000.000 m3). Pekon Purwodadi

    Kecamatan Talang Padang (Sumber Daya Tereka 600.000 m3).

    Pekon Gisting Atas Kecamatan Gisting (Sumber Daya Tereka

    2.700.000 m3). Pekon Kampung Baru Kecamatan Kota Agung

     Timur (Sumber Daya Tereka 140.000 m3). Pekon Way NipahKecamatan Pematang Sawa (Sumber Daya Tereka 3.000.000 m3).

    Pekon Suka Agung Kecamatan Bulok (Sumber Daya Tereka

    5.250.000 m3). Pekon Balak Kecamatan Wonosobo (Sumber Daya

     Tereka 18.000.000 m3). Pekon Way Panas Kecamatan Wonosobo

    (Sumber Daya Tereka 3.800.000 m3). Pekon Putih Doh Kecamatan

    Cukuh Balak (Sumber Daya Tereka 18.750.000 m3). Pekon

    Pampangan Kecamatan Cukuh Balak (Sumber Daya Tereka

    6.000.000 m3).

    9)Batu Gamping

    Batu Gamping atau Batu Kapur di Kabupaten Tanggamus banyak

    dijumpai pada beberapa wilayah di Kecamatan Pugung seperti di

    Pekon Gunung Kasih (Sumber Daya Tereka 200.000 m3) dan Pekon

     Tanjung Kemala (Sumber Daya Tereka 700.000 m3).

    Selain beberapa bahan tambang tersebut, Kabupaten Tanggamus juga

    menyimpan sejumlah sumber daya tambang lainnya yaitu Bentonit,

    Belerang, Batu Apung, Pasir, Granit, Lempung, Silika, Sirtu, Marmer,

    dan Seng.

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-8

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    9/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    2.1.1.5 Kondisi Hidrologi

    Di Kabupaten Tanggamus terdapat 2 (dua sungai utama yang melintasi

    daerah-daerah di Kabupaten Tanggamus. Kedua sungai tersebut adalah

     Way Sekampung dan Way Semangka. Selain kedua sungai utama tadi,

    terdapat juga beberapa sungai yang mengaliri wilayah Kabupaten

     Tanggamus antara lain Way Pisang, Way Gatal, Way Semah, Way

    Sengharus, Way Bulok dan Way Semong.

     Tabel 2.2 Panjang Sungai Dan Daerah Aliran di Kabupaten Tanggamus

    NO NAMA SUNGAI/ANAK SUNGAIPANJANG

    (Km)

    DAERAH ALIRAN

    (Km2)

    1. Way Sekampung 256 245,565,75

    -  Way Pisang 21

    -  Way Gatal 34

    -  Way Semah 23

    -  Way Sengharus 37

    -  Way Bulok 40

    2. Way Semangka 90 90,818,71

    -  Way Semong 40

    Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tanggamus, 2013

    2.1.1.6 Klimatologi

    Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan laut yaitu Teluk

    Semangka yang merupakan bagian dari Samudera Indonesia

    menyebabkan sebagian besar wilayah Kabupaten Tanggamus

    dipengaruhi oleh udara tropikal pantai dan dataran dengan temperatur

    udara berkisar rata-rata antara 26 oC sampai dengan 30 oC pada

    ketinggian 20-60 m diatas permukaan laut sedangkan pada daerah yang

    lebih rendah temperatur udara di Wilayah ini dapat mencapai 33oC.

     Wilayah dengan udara sejuk (pegunungan) berada di sekitar daerah

    Kecamatan Gisting dan Kota Agung Timur yang berada pada ketinggian

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-9

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    10/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    500 mdpl (Gunung Tanggamus). Kecepatan angin rata-rata adalah

    5,83 km/jam, dengan kelembaban udara yang cukup tinggi yaitu

    80%-88%. Curah hujan di wilayah Kabupaten Tanggamus juga Cukup

    tinggi berkisar antara 1.750 mm per tahun dengan 3000 mm per tahun.

    2.1.1.7 Penggunaan Lahan

    Kondisi penggunaan lahan di Kabupaten Tanggamus terdiri dari hutan

    lahan sekunder, permukiman, perkebunan, pertanian lahan

    kering/semak, semak belukar, tambak dan tubuh air.

    Pertanian lahan kering campur semak merupakan jenis tutupan lahan

     yang mendominasi di Kabupaten Tanggamus, dengan prosentase 62%.

    Sedangkan jenis tutupan lahan sawah memiliki prosentase 5% dari total

    luas daratan. Tutupan lahan yang luasnya terkecil adalah lahan tambak

    sebesar 1%.

     Tabel 2.3 Penggunaan Lahan Kabupaten Tanggamus

    NO JENIS PENGGUNAAN LAHAN PERSENTASE (%)

    1 Hutan Lahan Sekunder 8

    2 Permukiman 4

    3 Perkebunan 3

    4 Pertanian Lahan Kering 7

    5 Pertanian Lahan Kering/Semak 61

    6 Sawah 5

    7 Semak belukar 9,5

    8 Tambak 1

    9 Tubuh air 1,5

    Sumber : RTRW Kabupaten Tanggamus 2011-2031

    Sementara itu, Pola Kawasan Lindung Menurut RTRW Kabupaten

     Tanggamus meliputi beberapa rencana kawasan lindung antara lain

     yaitu kawasan hutan lindung, kawasan yang memberi perlindungan

    setempat, dan kawasan suaka alam.

    1)Kawasan Hutan Lindung

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-10

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    11/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Kawasan hutan lindung di Kabupaten Tanggamus memiliki luas

    kurang lebih 134.404,11 Hektar yang terdiri dari Kawasan Hutan

    Lindung (KHL) Kota Agung Utara Reg. 39, KHL Bukit Rindingan

    Reg. 32, KHL Gunung Tanggamus Reg. 30, KHL Pematang Neba

    Reg. 28, KHL Pematang Tanggamus Reg. 25, KHL Pematang Arahan

    Reg. 31, KHL Serkung Peji Reg. 26 dan KHL Pematang Sulah

    Reg. 27.

    2)Kawasan yang Memberi Perlindungan Terhadap Kawasan

    Dibawahnya

    Kawasan ini yaitu berupa kawasan resapan air. Kawasan resapan air

    di Kabupaten Tanggamus Meliputi DAS Way Semangka dengan luas

    kurang lebih 486.435 Hektar, dan DAS Sekampung dengan luas

    kurang lebih 685.421 Hektar.

    3)Kawasan Perlindungan Setempat

     Terdapat dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terdapat di

    Kabupaten Tanggamus, yaitu Way Sekampung dan Way Semangka.

    Kedua DAS tersebut, yaitu DAS Way Sekampung dan Way Semangka

    merupakan bagian dari DAS penting yang terdapat di Provinsi

    Lampung khususnya di Kabupaten Tanggamus.

    4)Kawasan Suaka Alam, Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan

    Kawasan ini terdiri dari sejumlah kawasan utama diantaranya

    kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dengan luas kurang

    lebih 10.220 Ha terdapat di Kecamatan Pematang Sawa, Semaka,

    dan Ulu Belu. Sementara kawasan cagar alam laut di Kabupaten

     Tanggamus berada di Bukit Barisan Selatan dengan luas mencapai

    3.125 Ha yang berada di perairan Kecamatan Pematang Sawah.

    Sedangkan Kawasan Cagar Budaya berupa wisata budaya yang

    terdapat di Kecamatan Talang padang, Kota Agung, Wonosobo, Ulu

    Belu, Sumberejo dan Pulau Panggung. Kemudian di Kabupaten

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-11

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    12/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

     Tanggamus terdapat juga Kawasan Konservasi Perikanan (KKP)

    untuk lumba-lumba yang terdapat di Perairan Teluk Kiluan

    Kecamatan Kelumbayan.

    2.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

    Kebijakan struktur ruang wilayah nasional yang berlaku untuk

    Kabupaten Tanggamus yaitu :

    1)Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) : adalah Kota Agung

    2)Jalan Nasional : adalah jalan yang membentang di sepanjang pantai

     barat yang merupakan jalan lintas Barat Sumatera (Pringsewu -

    Kota Agung - Bengkunat Belimbing).

    Sedangkan kebijakan RTRW Provinsi Lampung dalam rencana struktur

    ruang Kabupaten Tanggamus adalah sebagai berikut :

    1)Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) : adalah Kota Agung dengan fungsi

    utama sebagai pusat pemerintahan, perdagangan dan jasa.

    2)Pusat Kegiatan Lokal (PKL) : adalah Wonosobo dengan kegiatan

    utama pusat pengembangan perdagangan jasa pendukung kegiatan

    perikanan laut.

    3)Sistem jaringan jalan, yaitu :

    a)Jaringan jalan Kolektor Primer jaringan jalan yang

    menghubungkan secara berdaya guna antara Pusat Kegiatan

    Nasional (PKN) dengan Pusat Kegiatan Lokal (PKL), antara Pusat

    Kegiatan Wilayah (PKW), atau antara Pusat Kegiatan Wilayah

    (PKW) dengan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) terdiri dari Rantau

     Tijang - Kota Agung - Wonosobo – Sanggi

     b)Jaringan jalan strategis provinsi adalah jalan yang

    diprioritaskan untuk melayani kepentingan provinsi berdasarkan

    pertimbangan untuk membangkitkan pertumbuhan ekonomi,

    kesejahteraan dan keamanan provinsi; mengacu pada Undang-

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-12

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    13/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, jaringan jalan

    strategis merupakan jalan yang memiliki status sebagai jalan

    provinsi terdiri dari Talang Padang - Ulu Belu - Ulu Semong –

    Suoh - Sukabumi;

    Secara garis besar rencana sistem pusat kegiatan wilayah Kabupaten

     Tanggamus dirumuskan sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini.

     Tabel 2.4.Rencana Sistem Pusat Kegiatan Kabupaten Tanggamus Tahun

    2011–2031

    N

    OLOKASI

    HIRARKI

    FUNGSI

    FUNGSI

    1 Kota Agung PKW   • Pemerintahan

    • Perdagangan dan Jasa

    • Perikanan dan Minapolitan

    • Industri

    2 Wonosobo PKL   • Pertanian

    • Perdagangan dan Jasa

    • Kehutanan

    • Minapolitan

    3 Talang Padang PKLp   • Perdagangan dan Jasa

    • Pertanian

    • Pendukung Kegiatan

    Pertanian

    4 Gisting PKLp   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    •  Agropolitan/Kawasan

    Pendukung Pertanian

    5 Sri Kuncoro

    Kecamatan

    Semaka

    PPK   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Kawasan Lindung

    6 Putih DohKecamatan Cukuh

    Balak

    PPK   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Pertanian

    7 Pulau Panggung PPK   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Pertanian

    8 Ngarip Kecamatan

    Ulu Belu

    PPL   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Pertanian

    9 Margoyoso

    KecamatanSumberejo

    PPL   • Permukiman

    Perdagangan dan Jasa

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-13

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    14/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    N

    OLOKASI

    HIRARK

    I

    FUNGSI

    FUNGSI

    • Pertanian

    10 Sukamara

    Kecamatan Bulok

    PPL   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Pertanian

    11 Kuripan

    Kecamatan Limau

    PPL   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Perikanan

    12 Napal Kecamatan

    Kelumbayan

    PPL   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Perikanan

    13 Sidoharjo

    KecamatanKelumbayan Barat

    PPL   • Permukiman

    • Perdagangan dan Jasa

    • Pertanian

    Sumber : RTRW Kabupaten Tanggamus 2011-2031

     Wilayah perdesaan sebagai hinterland kawasan perkotaan dilayani oleh

    masing-masing pusat kecamatan yang berfungsi sebagai Pusat

    Pelayanan Lokal (PPL). Untuk kebutuhan yang lebih besar, wilayah

    perdesaan dilayani oleh adanya PPK di Kabupaten Tanggamus.

    2.1.3 Wilayah Rawan Bencana

    Kondisi fisik wilayah Kabupaten Tanggamus yang sangat variatif, dimana

    mempunyai kemiringan yang bervariasi mulai dari 0 hingga > 40 %,

     banyaknya daerah aliran sungai, terdapatnya beberapa gunung serta

    terletak di dekat patahan semangka, menyebabkan wilayah Kabupaten

     Tanggamus cenderung mempunyai potensi daerah rawan bencana yang

    cukup besar. Berdasarkan data yang diperoleh terdapat beberapa daerah

    di Kabupaten Tanggamus yang teridentifikasi sebagai daerah-daerah

     yang mempunyai potensi terkena bencana alam. Dibawah ini adalah

     jenis bencana alam dan perkiraan daerah yang terkena dampak bencana

    tersebut :

    1)Bencana Longsor dan Pergerakan Tanah

    Kecamatan-kecamatan yang memiliki daerah rawan bencana

    longsor/pergerakan tanah antara lain adalah Kecamatan Pematang

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-14

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    15/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Sawa, Semaka, Bandar Negeri Semuong, Kota Agung Timur, Limau,

    Cukuh Balak, Ulu Belu, Kelumbayan, Kelumbayan Barat, Bulok, dan

     Air Naningan.

    2)Bencana Banjir

    Daerah potensial banjir di Kabupaten Tanggamus antara lain adalah

    Kecamatan Pematang Sawa, Semaka, Wonosobo, Bandar Negeri

    Semuong, Kota Agung Barat, Kota Agung, Pugung, Talang Padang,

    Gisting, Cukuh Balak, dan Limau.

    3)Gempa BumiBeberapa kecamatan yang terlewati oleh sesar ini adalah Kecamatan

    Bandar Negeri Semuong, Semaka, Wonosobo, Pematang sawa, dan

    Kota Agung barat. Daerah lain yang jadi potensial terkena gempa

     bumi ialah Ulu Belu, Kota Agung Barat, Kota Agung, Limau, Cukuh

    Balak, Kelumbayan Barat, dan Kelumbayan.

    4)Bencana Tsunami dan Gelombang Tinggi

    Beberapa daerah yang rawan terjadi bencana tsunami dan gelombang

    tinggi adalah Kecamatan Pematang Sawa, Semaka, Wonosobo, Kota

     Agung Barat, Kota Agung, Kota Agung Timur, Limau, Cukuh Balak,

    dan Kelumbayan.

    5)Bencana Kebakaran

    Bencana kebakaran bangunan/rumah, daerah yang paling potensial

    terjadi kebakaran adalah daerah dengan kepadatan penduduk tinggidengan pola tata letak bangunan yang rapat. Hal ini bisa terlihat di

    kecamatan perkotaan seperti Kecamatan Talang Padang, Kota Agung,

    dan Gisting, juga pada kecamatan-kecamatan padat seperti

    Kecamatan Wonosobo dan Kota Agung Barat.

    2.1.4 Demografi

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-15

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    16/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Berdasarkan data kependudukan daerah diketahui bahwa pada tahun

    2012 jumlah penduduk Kabupaten Tanggamus berdasarkan hasil

    Sensus Penduduk 2010 yang sudah dimutakhirkan tercatat sebanyak

    556.156 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata sebanyak 119,47 jiwa per

    kilometer persegi. Secara rinci persebaran penduduk per Kecamatan

    dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

     Tabel 2.5 Persebaran Penduduk Per Kecamatan di Kabupaten

     Tanggamus Tahun 2012

    NO KECAMATAN LUAS

     JENIS KELAMIN

     JUMLAHSEX

    RATIO

    KEPAD

     AT

     AN/

    Km2

    L P

    1 Wonosobo 209,63 18.067 16.689 34,756 109 163,67

    2 Semaka 170,9 18.309 16.764 35,073 110 202,45

    3Bandar Negeri

    Semuong

    98,12 10.025 8.830 18,855 114 189,14

    4 Kota Agung 76,93 20.910 19.851 40,761 106 521,51

    5 Pematang Sawa 185,29 8.838 7.325 16,163 121 85,84

    6 Kota Agung Timur

    73,33 9.460 8.912 18,372 107 246,32

    7Kota Agung

    Barat

    101,3 11.712 10.314

    22,026

    114 212,96

    8 Pulau Panggung 437,21 17.048 16.194 33,242 107 74,74

    9 Air Naningan 323,08 21.838 19.241 41,079 115 86,38

    10 Ulu Belu 186,35 15.113 13.327 28,440 115 215,93

    11 Talang Padang 45,13 22.386 21.684 44,070 104 963,06

    12 Sumberejo 56,77 16.458 15.637 32,095 107 556,91

    13 Gisting 32,53 19.224 18.213 37,437 1071.131,76

    14 Gunung Alip 25,68 9.195 8.539 17,734 109 680,69

    15 Pugung 232,4 27.561 25.513 53,074 108 225,24

    16 Bulok 52,68 10.608 9.659 20,267 111 385,82

    17 Cukuh Balak 133,76 11.868 10.095 21,963 117 161,42

    18 Kelumbayan 121,09 5.881 5.042 10,923 117 89,09

    19 Limau 240,61 9.338 8.116 17,454 115 71,53

    20Kelumbayan

    Barat

    53,67 6.488 5.884 12,372 111 224,30

     JUMLAH 290.327 265.829 556.156 109 119.47

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2012

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-16

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    17/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Dari data tersebut, terlihat kecamatan yang paling padat penduduknya

    adalah kecamatan Gisting dengan kepadatan 1.131,76 jiwa/Km2 dan

     yang terjarang adalah Kecamatan Limau yang kepadatannya hanya

    71,53 jiwa/Km2.

     Jumlah penduduk miskin Kabupaten Tanggamus pada tahun 2009

    sekitar 104.677 jiwa atau sekitar 19,76% dari total penduduk

    Kabupaten Tanggamus, angka tersebut mengalami perbaikan pada

    tahun 2010 yang hanya sebesar 98.200 jiwa atau 18,30% dan terus

    menunjukkan perbaikan pada tahun 2011 yang hanya mencapai 17%

    atau sekitar 93.031 jiwa.

    2.2 ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

    2.2.1Fokus Kesejahteraan Dan Pemerataan Ekonomi

    Pada saat ini, pembangunan daerah sebagai bagian yang integral dari

    pembangunan nasional tidak lepas dari prinsip otonomi, yang

    diwujudkan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan

     bertanggungjawab secara proporsional dengan lebih menekankan pada

    prinsip-prinsip demokrasi, peranserta masyarakat, pemerataan dan

    keadilan, serta dengan memperhatikan potensi dan keanekaragaman

    daerah.

    Keterpaduan dan keserasian pembangunan di segala bidang dengan

     berlandaskan potensi wilayah dan perencanaan merupakan hal pokok

     yang sangat dibutuhkan untuk mencapai peningkatan hasil-hasil

    pembangunan daerah harus terus ditingkatkan melalui mekanisme

    perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan yang

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-17

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    18/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    terpadu dan terarah agar seluruh sumber daya yang terbatas dapat

    dimanfaatkan seoptimal mungkin.

    Kabupaten Tanggamus memiliki potensi yang relatif cukup kaya, baik

    dari segi sumber daya manusianya maupun dengan sumber daya

    alamnya, yang harus dikelola dengan baik sehingga mampu menopang

    pembangunan yang berkelanjutan.

    2.2.1.1 Struktur Perekonomian

    Struktur perekonomian Kabupaten Tanggamus masih berpola trasidional

    dimana masih dinominasi oleh 3 sektor, yaitu sektor pertanian,

    peternakan, kehutanan dan perikanan, kemudian sektor perdagangan,

    hotel dan restoran serta sektor jasa-jasa. Pada tahun 2011 sektor

    pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan mempunyai

    kontribusi sebesar 59,54% atau tidak mengalami perubahan yang

    signifikan apabila dibandingkan dengan tahun 2010 yang mencapai

    57,99%. Namun demikian laju pertumbuhan sektor ini pada tahun

    2011 mengalami perningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

    Hal ini dikarenakan penuingkatan produksi sejumlah produksi tanaman

    pangan dan perkebunan.

    pertanian; 59.54

    Pertambangan; 2.34

    n!ustri Peng"#a$an; 3.58

    %istri&' gas !an (ir )ersi$; 0.39

    K"nstru&si; 4.5*Per!agangan; 15.24

     Transp"rtasi !an Per$ubungan; 2.8+

    &euangan se,a; 4.*4 Jasa-asa; +.*4

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2013

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-18

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    19/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    Gambar 2.1 Struktur Perekonomian Kabupaten Tanggamus

    Peningkatan kontribusi terjadi pada beberapa sektor, seperti sektor

    industri pengolahan; sektor pengangkutan dan komunikasi; dan sektor

    perdagangan, hotel dan restoran. Namun beberapa sektor lainnya

    mengalami penurunan kontribusi terhadap pembentukan PDRB

    Kabupaten Tanggamus seperti sektor pertanian, peternakan, kehutanan

    dan perikanan; sektor pertambangan dan penggalian; sektor listrik, gas,

    dan air bersih; sektor bangunan; sektor keuangan, persewaan dan jasa

    perusahaan; serta sektor jasa-jasa. Perubahan dan penurunankontribusi memang tidak terlalu besar, sehingga secara umum struktur

    perekonomian Kabupaten Tanggamus tidak mengalami pergeseran yang

     berarti jika dibandingkan dengan kondisi tahun sebelumnya.

    2.2.1.2 PDRB Kabupaten Tanggamus

    Semenjak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2008 tentang

    Pembentukan Kabupaten Pringsewu di Provinsi Lampung, maka

    Kabupaten Tanggamus mengalami pemekaran menjadi dua kabupaten

     yaitu Kabupaten Tanggamus sendiri dan Kabupaten Pringsewu.

     Walaupun telah mengalami pemekaran menjadi dua kabupaten tetapi

    perekonomian di Kabupaten Tanggamus sendiri menunjukkan kearah

     yang lebih baik dari tahun ke tahun. Salah satu indikatornya dapat

    ditunjukkan dari perkembangan PDRB Kabupaten Tanggamus

     berdasarkan PDRB harga berlaku dua tahun terakhir. Nilai PDRB atas

    dasar harga berlaku pada tahun 2011 mencapai Rp 5.579,640 lebih

    tinggi dibandingkan dengan tahun 2010 yang nilainya mencapai

    Rp 4.174.587,00 atau mengalami peningkatan sebesar 15%.

    Sedangkan bila ditinjau dari nilai PDRB atas dasar harga konstan, maka

    angka PDRB Kabupaten Tanggamus pada tahun 2011 mengalami

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-19

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    20/70

    RPJMD Kabupaten Tanggamus 2013-2018

    kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2010

    hanya sebesar Rp 2.329.522,00 sedangkan pada tahun 2011 mencapai

    Rp 2,504,609,00 hal ini menunjukkan bahwa PDRB Kabupaten

     Tanggamus pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 6,41%.

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus II-20

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    21/70

     Tabel 2.6 Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Berlaku Kabupaten Tanggamus Tahun 2006-2011

    LAPANGAN USAHA 2006 2007 2008 2009 2010 2011

     1. PERTANIAN 2,094,235 2,535,386 2,074,581 2,431,480 2,754,408 3,107,642

     2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 65,004 69,453 52,900 55,053 82,826 124,667

     3. INDUSTRI PENGOLAHAN 243,610 280,152 146,566 168,730 200,130 238,530

     4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 13,360 12,481 7,914 28,709 31,583 35,549

     5. KONSTRUKSI 280,407 316,170 193,611 208,159 242,219 298,908

     6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN 493,562 640,304 405,189 489,498 609,160 778,656

     7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 136,468 170,746 99,367 115,936 134,763 159,248

     8. KEU. REAL ESTAT, & JASA

    PERUSAHAAN 214,111 245,800 147,195 165,856 186,098 209,537

     9. JASA-JASA 426,383 515,355 494,753 531,846 576,518 626,904

    PDRB 3,967,143 4,785,848 3,622,077 4,195,267 4,817,706 5.579,640

    PDRB TANPA MIGAS 3,967,143 4,785,848 3,622,077 4,195,267 4,817,706 5.579,640

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2011

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    22/70

     Tabel 2.7 Produk Domestik Regional Bruto atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Tanggamus Tahun 2006-2011

    LAPANGAN USAHA 2006 2007 2008 2009 2010 2011

     1. PERTANIAN 1,685,577 1,797,505 1,296,727 1,366,180 1,428,332 1,491,323

     2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN 46,932 48,812 37,164 38,106 46,541 58,702

     3. INDUSTRI PENGOLAHAN 150,535 154,892 74,821 78,986 83,754 89,597

     4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH 4,342 4,414 2,742 8,919 9,258 9,699

     5. KONSTRUKSI 141,620 153,854 89,635 92,515 99,798 114,578

     6. PERDAG., HOTEL & RESTORAN 382,160 443,225 308,740 329,057 353,701 381,647

     7. PENGANGKUTAN & KOMUNIKASI 91,339 99,647 53,121 58,764 64,755 71,589

     8. KEU. REAL ESTAT, & JASA

    PERUSAHAAN 137,528 157,823 90,133 96,917 105,921 118,697

     9. JASA-JASA 248,613 251,524 150,816 155,491 161,594 168,777

    PDRB 2,888,646 3,111,697 2,103,899 2,224,935 2,329,521.96 2,504,609

    PDRB TANPA MIGAS 2,888,646 3,111,697 2,103,899 2,224,935 2,329,521.96 2,504,609

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2011

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    23/70

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    24/70

    2.2.1.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tanggamus

    Pada tahun 2011 perekonomian Kabupaten Tanggamus cukup baik

    dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6.41%. Pertumbuhan ini

    mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan tahun 2010 yang

    mengalami pertumbuhan sebesar 5.79%. Pertumbuhan ekonomi

    Kabupaten Tanggamus tahun 2011 ini lebih tinggi bila dibandingkan

    dengan pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang mencapai 5,75%.

    Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Kabupaten Tanggamus

    masih mengalami pertumbuhan yang cukup positif dan pembangunan

     yang terjadi di Kabupaten Tanggamus sedikit banyak terserap dengan

     baik oleh masyarakat.

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2011

    Gambar 2.2Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Tanggamus Tahun

    2007-2011

    2.2.1.4 Inflasi

    Selama tahun 2011 tingkat inflasi di Kabupaten Tanggamus mencapai

    4,09 %, angka ini jauh lebih rendah dari tahun sebelumnya yaitu tahun

    2010 yang mencapai 10,97 %. Inflasi di Kabupaten Tanggamus

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    25/70

    sepanjang tahun 2011 berfluktuasi, angka inflasi tertinggi terjadi pada

     bulan Januari sebesar 0,87 % dan deflasi pada bulan Maret, April dan

    November. Hal ini terjadi karena terdapat beberapa indeks komoditas

    disektor bahan makanan, dan pertanian mengalami penurunan harga di

    tingkat konsumen akibat musim panen yang telah tiba dan permintaan

    masyarakat yang berkurang.

    0 2 4 + 8 10 12 14-0.5

    0

    0.5

    1

    1.5

    2

    0.83

    0.+1

    -0.3-0.1*

    0.140.19

    0.*3

    0.+50.+10.55

    -0.09

    0.24

    0.5 0.58

    0.8 0.8

    0.2+

    1.441.421.*9

    0.84

    0.*9

    0.99

    0.*4

    2010 2011

    Bulan

    Infasi

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2011

    Gambar 2.3 Kondisi Inflasi di Kabupaten Tanggamus 2010-2011

    Dengan tingkat inflasi sebesar 4,09% di tahun 2011, maka tingkat inflasi

    di Kabupaten Tanggamus relatif lebih rendah dibandingkan inflasi

    Provinsi Lampung yang mencapai 4,24%. Namun jika dibandingkan

    dengan inflasi secara nasional, inflasi Kabupaten Tanggamus sedikit

    lebih tinggi, dimana inflasi nasional hanya sebsar 3,79%. Inflasi yang

    stabil memberi gambaran iklim investasi yang cukup menjanjikan bagi

    investor.

    2.2.1.5 PDRB Per Kapita

    Sementara itu PDRB perkapita Kabupaten Tanggamus atas dasar harga

     berlaku pada tahun 2011 sebesar Rp 10.286.208,00 meningkat 12,36%

    dibandingkan dengan tahun 2010 yang hanya sebesar Rp 8.851.844,00.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    26/70

    Sedangkan berdasarkan harga konstan PDRB perkapita Kabupaten

     Tanggamus pada tahun 2011 juga mengalami peningkatan yaitu sebesar

    3,69%, dimana pada tahun 2010 PDRB perkapita Kabupaten Tanggamus

     berdasarkan harga konstan sebesar Rp 4.341.158,00 meningkat menjadi

    Rp 4.617.310 pada tahun 2011. Meskipun meningkat, jika dilihat dari

    nilai pendapatan perkapitanya, masyarakat Kabupaten Tanggamus

    masih tergolong masyarakat yang berpendapatan rendah, dimana secara

    nominal rata-rata pendapatan perkapita masyarakat Kabupaten

     Tanggamus hanya Rp 10.286.208,00 pertahunnya. Oleh karenanya

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus harus mampu mendorongpeningkatan pendapatan penduduknya dengan cara meningkatkan

    lapangan kerja dan pembangunan infrastruktur dan sarana penunjang

    perekonomian daerah.

    2.2.2Fokus Kesejahteraan Masyarakat

    Peningkatan kualitas sumbr daya manusia di Kabupaten Tanggamus,

    salah satu indikator yang dapat dilihat yaitu dari pencapaian Indeks

    Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Tanggamus yang pada tahun

    2010 berada di peringkat ke-4 dari 14 kabupaten/kota se-Provinsi

    Lampung. Sejalan dengan hal tersebut maka indeks komponen

    pembentuk IPM Kabupaten Tanggamus hampir semuanya mengalami

    kenaikan meskipun bervariasi. Indeks kelangsungan hidup naik 0,68

    poin, indeks pengetahuan mengalami kenaikan 0,54 poin sedangkan

    indeks daya beli naik tidak mengalami kenaikan yang berarti. Hal ini

    dapat diartikan bahwa daya beli masyarakat Kabupaten Tanggamus

     berada pada posisi yang hampir sama dengan tahun lalu.

     Tabel 2.8 Indeks Pembentuk IPM Kabupaten Tanggamus Tahun

    2005-2011

    URAIAN 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    27/70

    Indeks Kelangsungan 70,2 70,7 70,5 70,7 72,5 73,2 73,88

    Indeks Pengetahuan 75,2 76,6 76,0 78,3 78,3 79,25 79,79

    Indeks Daya Beli 56,5 55,7 57,7 57,9 59,7 60,06 60,06

    IPM 67,3 67,7 69,0 69,62 70,19 70,84 71,31

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2011

    Peningkatan IPM tersebut juga diiringi dengan peningkatan komponen

    pembentukannya yang meliputi angka harapan hidup, angka melek

    huruf, rata-rata lama sekolah, dan paritas daya beli. Angka harapan

    hidup penduduk Kabupaten Tanggamus terus mengalami peningkatan

    dari 68,51 tahun pada tahun 2008 menjadi 69,33 tahun pada tahun

    2011.

    Sedangkan untuk komponen Paritas Daya Beli (PPP), besarnya

    pengeluaran riil perkapita yang disesuaikan juga mengalami kenaikan

    dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp 619,53 ribu pada tahun 2009

    menjadi Rp 620,19 ribu pada tahun 2010, dengan melihat besaran

    angka tersebut dapat diketahui ada kenaikan nilai pengeluaran riil

    perkapita pada tahun 2010 yang berarti bahwa ada kenaikankemampuan daya beli penduduk Kabupaten Tanggamus.

     Tabel 2.9 Komponen Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten

     Tanggamus Tahun 2006-2011

    N

    OKOMPONEN 2006 2007 2008 2009 2010 2011

    1

     Angka Harapan Hidup

    (tahun) 67,4 67,3 68,16 68,51 68,92 69,33

    2 Angka Melek Huruf (%) 92,5 92,2 94,27 94,27 94,68 95,32

    3Rata-rata Lama Sekolah

    (tahun)6,90 6,90 6,94 6,96 7,26 7,39

    4Pengeluaran Riil Per

    Kapita (000 Rp)590,6 591,8 613,6 618,5 619,53 620,19

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2011

    2.2.2.1 Bidang Pendidikan Kabupaten Tanggamus

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    28/70

    Sumber daya manusia yang berkualitas adalah merupakan aset yang

    penting bagi pelaksanaan pembangunan di segala bidang. Oleh sebab itu

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus berkomitmen untuk meningkatkan

    pelayanan pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar. Gambaran

    sumber daya manusia yang berkualitas dapat dilihat dari indikator rata-

    rata lamanya sekolah, dimana dalam dua tahun terakhir rata-rata lama

    sekolah cenderung semakin meningkat. Pada tahun 2009 rata-rata lama

    sekolah penduduk Kabupaten Tanggamus sebesar 7,26 tahun meningkat

    menjadi 7,39 pada tahun 2010, hal ini menunjukkan adanya pergeseran

    dengan tahun lalu. Bila angka ini dikonversikan ke jenjang pendidikan,

    maka dapat dikatakan bahwa secara rata-rata penduduk Kabupaten

     Tanggamus sudah menduduki kelas dua sekolah menengah pertama

    atau secara rata-rata sudah dapat lulus sekolah dasar.

     Angka Partisipasi Kasar (APK) adalah proporsi anak yang bersekolah

    pada suatu jenjang pendidikan tertentu penduduk pada kelompok umur

     yang bersesuaian dengan pendidikannya. APK Kabupaten Tanggamus

    tahun 2010 untuk tingkat SD/sederajar sebesar 114,38 kemudian 87,40

    untuk tingkat SLTP/sederajat mencapai 75,79 sedangkan untuk tingkat

    SLTA/sederajat sebesar 48,98.

     Angka Melek Huruf yaitu penduduk yang dapat membaca dan juga

    menulis baik huruf latin atau huruf lainnya. Perkembangan Angka

    Melek Huruf penduduk dewasa di Kabupaten Tanggamus pada tahun

    2011 menunjukkan adanya peningkatan dari 94,68% pada tahun 2010

    menjadi 95,32% hal ini berarti persentase penduduk berumur 15 tahun

    keatas yang dapat membaca dan menulis mencapai 95,32% dari total

    penduduk.

    Sementara itu untuk rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten

     Tanggamus dalam kurun waktu 2005 sampai dengan 2009 belum ada

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    29/70

    pergeseran yang berarti dengan kisaran 6,90 tahun sampai 6,96 tahun,

    tetapi kondisi tersebut mengalami kenaikan menjadi 7,26 pada tahun

    2010 dan meningkat kembali pada tahun 2011 menjadi 7,39. Bila angka

    ini dikonversikan ke jenjang pendidikan, maka dapat diartikan bahwa

    secara rata-rata penduduk Kabupaten Tanggamus sudah menduduki

    kelas dua sekolah menengah pertama atau secara rata-rata sudah dapat

    lulus sekolah dasar.

    2.2.2.2 Bidang Kesehatan Kabupaten Tanggamus

    Pembangunan kesehatan diarahkan untuk lebih meningkatkan derajat

    kesehatan masyarakat serta meningkatkan kualitas, kemudahan dan

    pemerataan pelayanan kesehatan baik program promotif, preventif,

    kuratif dan rehabilitatif yang makin menjangkau seluruh lapisan

    masyarakat. Prioritas pembangunan ini dilaksanakan melalui kegiatan

    peningkatan sarana dan prasarana kesehatan seperti pembangunan,

    rehabilitasi gedung dan pengadaan alkes serta ambulance bagi

    puskesmas dan jaringannya, peningkatan kuantitas, kualitas dan

    kapasitas SDM, kemudian juga pengadaan peralatan medis untuk

    mendukung RSUD Kota Agung menjadi rumah sakit type C yang

    mengarah sebagai Badan Layanan Umum Daerah, pengadaan obat-

    obatan, pengadaan dan mengoptimalkan Puskesmas Keliling (Pusling)

    dan pembangunan Poskesdes, program berobat gratis di setiap

    Puskesmas, Posyandu Plus melalui program Jamkesmas ataupun

     Jaminan Kesehatan Semesta.

    Kematian bayi sangat berkaitan dengan kondisi kehamilan ibu,

    pertolongan persalinan yang aman dan perawatan bayi yang baru lahir.

    Penyebab langsung kematian bayi baru lahir adalah infeksi serta bayi

     baru lahir dengan berat rendah. Sedangkan penyebab tidak langsungnya

    antara lain tingkat pendidikan ibu yang masih rendah, tingkat ekonomi

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    30/70

     yang masih rendah, serta keadaan sosial budaya yang tidak mendukung

    gizi ibu hamil. Perkembangan Angka Kematian Bayi (AKB) pada empat

    tahun terakhir ini menunjukkan adanya fluktuatif, terlihat bahwa pada

    tahun 2007 angka kematian bayi sebanyak 149 kasus dari 18.788

    kelahiran hidup (7,93/1.000 kelahiran hidup), angka tersebut meningkat

    pada tahun 2008 yang mencapai 173 kasus dari 19.012 kelahiran hidup

    (9,1/1.000 kelahiran hidup), tetapi pada tahun 2009 angka kematian

     bayi menurun hanya sebanyak 89 kasus dari 11.454 kelahiran hidup

    (7,8/1.000 kelahiran hidup). Pada tahun 2010 angka tersebut meningkat

    kembali menjadi 96 kasus dari 11.305 kelahiran hidup (8,49/1000kelahiran hidup). Sedangkan pada tahun 2011 angka tersebut menurun

    menjadi 77 kasus dari 12.006 kelahiran hidup (6,4/1000 kelahiran

    hidup), dan pada tahun 2012 meningkat menjadi 104 kasus kematian

     bayi dari 12.002 kelahiran hidup (8,52/1.000 kelahiran hidup) dengan

    rincian penyebab kasus kematian bayi terdiri dari 78 kasus kematian

    perinatal (0-7 hari), 8 kasus kematian neonatal (7-28 hari) dan 18 kasus

    kematian bayi (1 bulan – 1 tahun). Keadaan AKB ini masih lebih rendah

    dibanding target nasional 40/1000 kelahiran hidup, ini menunjukkan

     bahwa program kesehatan Ibu dan Anak sudah cukup baik namun tetap

    kita harapkan terjadinya AKB yang terus menurun dimasa mendatang.

    Upaya pemerintah Kabupaten Tanggamus dalam memperbaiki akses dan

    kualitas pelayanan kesehatan ibu dan bayi lahir senantiasa menjadi

    prioritas dalam pembangunan, dimana hal ini dilakukan dengan

    kegiatan antara lain kemitraan dengan dukun bayi, pengembangan

    Puskesmas, pengembangan klinik kesehatan ibu dan anak,

    pembangunan rumah sakit, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) dan

    posyandu, penempatan bidan di desa, gerakan masyarakat untuk

    menyelamatkan ibu hamil dan bersalin, Audit Maternal Perinatal (AMP)

    dan pengadaan alat kesehatan berupa bidan KIT serta monitoring

    pelaksanaan kegiatan KIA dan pemasangan stiker ibu hamil.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    31/70

     Angka kematian ibu (AKI) mengambarkan tingkat kesadaran perilaku

    hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu hamil, melahirkan dan nifas.

     Jumlah kasus kematian ibu di Kabupaten Tanggamus pada tahun 2007

    sebanyak 14 kasus dan meningkat menjadi 17 kasus pada tahun 2008.

    Sedangkan pada tahun 2009 jumlah kematian ibu menurun menjadi 12

    kasus, kemudian menurun kembali pada tahun 2010 menjadi 11 kasus.

    Sementara itu AKI untuk 2011 terjadi sedikit meningkat menjadi 12

    kasus, sedangkan AKI pada tahun 2012 menurun kembali menjadi 11

    kasus kematian ibu, dan menilik saat ibu meninggal terjadi pada saat

    persalinan sebanyak 7 (63,6%), saat hamil sebanyak 2 (18,2%) dan,

    pada saat nifas sebanyak 2 (18,2%) kasus.

    Meningkatnya pembangunan bidang kesehatan akan berdampak pada

    status kesehatan dan juga akan berdampak pada Indek Pembangunan

    Manusia (IPM) karena bidang kesehatan merupakan salah satu

    komponan penilaiannya. Meningkatnya status kesehatan masyarakat

    ditunjukkan oleh menurunnya angka kesakitan dan kematian dan juga

    ditunjukkan dengan meningkatnya status gizi dan Umur Harapan Hidup

    (UHH). Umur Harapan Hidup penduduk Kabupaten Tanggamus pada

    tahun 2007 sebesar 68,7 tahun sedangkan pada tahun 2008 sebesar

    68,51 tahun dan 2009 meningkat menjadi 68,92 tahun, angka tersebut

    terus mengalami peningkatan yang mencapai 69,33 pada tahun 2010.

    Salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan derajat

    kesehatan adalah dengan melihat angka kesakitan. Pola sepuluh besar

    penyakit di Kabupaten Tanggamus pada tahun 2012 dapat dilihat pada

    tabel di bawah ini :

     Tabel 2.10 Pola Sepuluh Besar Penyakit di Kabupaten Tanggamus

     Tahun 2012

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    32/70

    NO KODE NAMA PENYAKIT JUMLAH %

    1 1302 Infeksi akut pada saluran nafas bag. Atas 38.033 30.54

    2 2002 Penyakit kulit alergi 14.622 11.74

    3 21

    Penyakit pada sistem otot dan jaringan

    pengikat (penyakit tulang belulang, radang

    sendi termasuk rematik) 11.449 9,19

    4 2201 Gastritis 10.727 8.61

    5 2001 Penyakit kulit infeksi 10.100 8.11

    6 2202 Chepalgia 10.084 8.1

    7 12 Penyakit Tekanan Darah Tinggi 8.879 7.12

    8 2003 Penyakit kulit karena jamur 8.438 6.78

    9 1301 Tonsilitis 6.656 5.35

    10 102 Diare (termasuk tersangka kolera) 5.548 4.46

     Jumlah 124.536 100

    Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, 2012

    Meningkatnya umur harapan hidup dan perubahan struktur umur

    penduduk ke arah usia tua menyebabkan terjadinya transisi

    epidemiologis, yang ditandai dengan masih tingginya kasus penyakit

    infeksi dan pada sisi lain terjadi peningkatan kasus penyakit non

    infeksi. Hal ini dapat terlihat pada tabel di atas bahwa gambaran

    sepuluh besar penyakit di Kabupaten Tanggamus Tahun 2012 masih

    didominasi penyakit Infeksi saluran pernapasan bagian atas sebesar

    30,54, penyakit kulit alergi 11,74%, penyakit sistem otot dan jaringan

    9,19%, Gastritis 8,61%, penyakit kulit infeksi 8,11%, Chepalgia 8,1%,

    penyakit tekanan darah tinggi yang merupakan penyakit non infeksi

    sudah masuk pada urutan ke tujuh pada pola sepuluh penyakit terbesar

    dengan persentase sebesar 7,12%, Tonsilitis 5,35% dan diare sebanyak

    4,46 %.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    33/70

    Selain sepuluh besar penyakit, penyakit-penyakit potensial lainnya yang

    terjadi pada tahun 2012 di Kabupaten Tanggamus adalah sebagai

     berikut :

    1)Acute Flaccid Paralysis

    Kasus Acute Flaccid Paralysis (AFP) adalah terjadinya kasus kelumpuhan

     yang sifatnya flaccid (layuh), terjadi secara acut (mendadak) pada anak

     berusia kurang dari 15 tahun, bukan disebabkan oleh ruda paksa.

    Surveilans AFP ditargetkan dapat menemukan semua kasus AFP dalam

    satu wilayah yang diperkirakan minimal 2 kasus AFP diantara 100.000

    penduduk usia kurang dari 15 tahun per tahun (Non Polio AFP Rate

    minimal 2/100.000 per tahun). Selain itu ketepatan dan kelengkapan

    laporan menentukan kinerja petugas Surveilans.

    Pada tahun 2008 di Kabupaten Tanggamus ditemukan kasus AFP

    sebanyak 1,82% per 100.000 penduduk. Pada tahun 2009 sebanyak2,38% per 100.000 penduduk , Pada tahun 2010 sebanyak 2,47% per

    100.000 penduduk , Pada tahun 2011 sebanyak 2,48% per 100.000

    penduduk , Pada tahun 2012 sebanyak 3% per 100.000 penduduk. Pada

    tahun 2009-2012 cakupan penemuan kasus AFP non polio telah

    mencapai target yaitu > 2 kasus per 100.000 penduduk berusia> 15

    tahun, hal ini menunjukan perbaikan pada kinerja surveilens.

     2)TB Paru

    Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular langsung dan masih

    merupakan masalah utama kesehatan di Indonesia. Pada tahun 2008 di

    Kabupaten Tanggamus ditemukan penderita TB Paru klinis sebanyak

    1,15% per 1000 penduduk, tahun 2009 sebanyak 28,7% per 1.000

    penduduk, Tahun 2010 sebanyak 39,5% per 1.000 penduduk. Tahun

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    34/70

    2011 sebanyak 46,4% per 1.000 penduduk serta tahun 2012 sebanyak

    65,27% per 1.000 penduduk.

     TB paru merupakan salah satu penyakit yang menjadi konsentrasi pada

    MDGs 2015 dan diharapkan pada tahun 2015 target untuk

    mengendalikan penyebaran TB paru akan tercapai (on track).

    3)Pneumonia

    Pneumonia masih merupakan penyakit utama penyebab kesakitan dan

    kematian bayi dan balita. Angka kesakitan Pneumonia selama ini

    digunakan estimasi secara orbitrasi, bahwa insidens pneumonia pada

     balita di Indonesia adalah sekitar 10 - 20%.

    Untuk Kabupaten Tanggamus ditetapkan target (angka maksimal yang

    ditoleransi) untuk kasus pneumonia adalah sebesar 10%. Pada tahun

    2008 di Kabupaten Tanggamus ditemukan kasus pneumonia sebanyak

    5%, tahun 2009 sebanyak 5,2%, tahun 2010 sebanyak 4,4%, tahun

    2011 sebanyak 3,5% serta tahun 2012 sebanyak 0,58%.

    4)HIV/AIDS

    Salah satu tujuan program Pemberantasan Penyakit Menular Langsung

    (P2ML) adalah menurunkan angka kesakitan, kematian, kecacatan dan

    mencegah penyebaran serta mengurangi dampak sosial akibat penyakit.

    Penyakit HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit menular seksual

     yang belum ditemukan obatnya dan mempunyai dampak sosial yang

    sangat berat. Kegiatan dalam penanggulangan penyakit ini dilaksanakan

    dengan penemuan dan pengobatan penderita baik secara pasif maupun

    secara aktif dengan melakukan survey dengan sasaran kelompok resiko

    tinggi.

    Pada tahun 2008 di Kabupaten Tanggamus ditemukan 2 kasus

    penderita, tahun 2009 sebanyak 2 penderita, tahun 2010 sebanyak 4

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    35/70

    penderita, tahun 2011 tidak ditemukan kasus penderita HIV/AIDS dan

    tahun 2012 juga tidak ditemukan kasus penderita HIV.

    5)Demam Berdarah Dengue

    Dalam tiga tahun terakhir, diketahui bahwa penyakit Demam Berdarah

    Dengue (DBD) di Kabupaten Tanggamus ada kecendrungan terus

    meningkat. Pada tahun 2008 ditemukan kasus DBD 83,61% per

    100.000 penduduk, tahun 2009 ditemukan 9,25% per 100.000

    penduduk, tahun 2010 sebanyak 13,13% per 100.000 penduduk, tahun

    2011 sebanyak 13% per 100.000 penduduk, serta tahun 2012 sebanyak36,14 % per 100.000 penduduk. Upaya yang telah dilakukan adalah

    fogging fokus di wilayah kasus diikuti abatisasi, penggerakan

    pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3 M (Menguras,

    Menimbun dan Menutup).

    6)Diare

    Hingga saat ini penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan

    masyarakat di Kabupaten Tanggamus, beberapa faktor yang menjadi

    penyebab timbulnya penyakit diare disebabkan oleh kuman melalui

    kontaminasi makanan/minuman yang tercemar tinja dan/atau kontak

    langsung dengan penderita. Secara proporsional, diare lebih banyak

    terjadi pada golongan balita (55%). Adapun kebijakan pemberantasan

    penyakit diare, dilaksanakan untuk menurunkan angka kesakitan,

    angka kematian dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)

    Pada tahun 2008 di Kabupaten Tanggamus dilaporkan sebanyak 22,51%

    per 1.000 penduduk, tahun 2009 sebanyak 24,19% per 1.000

    penduduk, tahun 2010 sebanyak 28,45% per 1.000 penduduk, tahun

    2011 sebanyak 24,46% per 1.000 penduduk, serta tahun 2012 sebanyak

    50,5% per 1.000 penduduk.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    36/70

    Diare merupakan salah satu penyebab utama kematian bayi, di

    Kabupaten Tanggamus pada tahun 2011 tercatat 3 balita meninggal

    akibat diare, hal ini sangat disayangkan mengingat pengobatan diare

    tidak terlalu sulit yang menjadi masalah dalam penanganan diare adalah

    rendahnya pengertian, pemahaman, dan cara penanggulanga pada

    masyarakat.

    7)Malaria

    Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadimasalah kesehatan masyarakat dan mempengaruhi angka kesakitan

     bayi, anak balita dan ibu melahirkan serta dapat menurunkan

    produktivitas tenaga kerja.

    Pada tahun 2008 jumlah kasus malaria sebanya 1,15% per 1.000

    penduduk, tahun 2009 sebanyak 0,92% per 1.000 penduduk, tahun

    2010 sebanyak 0,58% per tahun, tahun 2011 sebanyak 0,2% per 1.000

    penduduk serta tahun 2012 sebanyak 0,08% per 1.000 penduduk. Dari

    data tersebut terlihat penurunan Annual Paracite Incidence per 1.000

    penduduk setiap tahunnya,Kabupaten Tanggamus termasuk daerah

    endemis rendah yaitu API < 1.

    8)Kusta

    Permasalahan Penyakit kusta merupakan merupakan permaslahan yang

    sangat komplek dan merupakan permasalahan kemanusiaan seutuhnya.

    Masalah yang dihadapi penderita bukan hanya masalah medis tetapi

     juga masalah psikososial sebagai akibat penyakitnya, karenamasalh

    masalah tersebut mengakibatkan penderita kusta menjadi tuna sosial,

    tuna wisma, tuna karya dan gangguan lain dilingkungan masyarakat.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    37/70

     Angka prevalensi penyakit kusta tahun 2011 adalah 0,4 per 100.000

    penduduk dan tahun 2012 0,34% per 100.000 penduduk. Pengobatan

    tepat waktu (release from treatment/RFT) adalah upaya yang sangat

    penting untuk mencapai kesembuhan penderita. Tahun 2008-2012

    tercatat RFT sebesar 100% , angka ini telah mencapai target yang

    ditetapkan SPM tambahan lokal dinas kesehatan Kabupaten Tanggamus.

    9)Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan Imunisasi

    Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunsasi (PD3I) adalah TBC,

    Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio dan Hepatitis B. Dimana

    Penyakit-penyakit tersebut merupakan salah satu penyebab kematian

    anak-anak di negara berkembang termasuk Indonesia. Agar target

    nasional dan global untuk mencapai eradikasi, eliminasi dan reduksi

    dapat dicapai, maka cakupan imunisasi harus dipertahankan tinggi dan

    merata sampai mencapai tingkat kekebalan masyarakat yang tinggi.

    Pada tahun 2008, di Kabupaten Tanggamus dilaporkan jumlah kasus

    dan angka kesakitan penyakit menular yang dapat dicegah dengan

    Imunisasi (PD3I) yaitu sebagai berikut : Difteri 1 kasus, Tetanus 2 kasus,

     Tetanus Neonatorum 0 kasus, Campak 68 kasus, tahun 2009 Difteri 0

    kasus, Tetanus 2 kasus, Tetanus Neonatorum 2 kasus, Campak 155

    kasus, Tahun 2010 ditemukan Difteri 0 kasus, Tetanus 0 kasus, Tetanus

    Neonatorum 0 kasus, Campak 42 kasus, tahun 2011 Difteri 0 kasus,

     Tetanus 0 kasus, Tetanus Neonatorum 3 kasus, Campak 85 kasus,

    tahun 2012 Difteri 0 kasus, Tetanus 0 kasus, Tetanus Neonatorum 0

    kasus.

    Kualitas SDM sangat ditentukan dengan peningkatan status kesehatan

    gizinya terutama pada kelompok umur balita. Salah satu upaya

    pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia dan sekaligus

    pengentasan kemiskinan adalah dengan meningkatkan gizi anak

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    38/70

    terutama balita. Batas ambang yang digunakan untuk keempat status

    gizi berdasarkan kesepakatan pakar gizi tahun 2000, adalah gizi buruk,

    gizi kurang, gizi baik dan gizi lebih. Status gizi buruk pada balita

    merupakan kondisi yang selalu ditemui di masyarakat, oleh karena itu

    persentase gizi buruk perlu terus ditekan hingga tidak melebihi 5 %.

    Status gizi buruk pada balita merupakan kondisi yang mungkin dapat

    ditemukan masyarakat. Salah satu komitmen MDGs adalah

    menurunkan prevalensi balita gizi buruk dengan target 3,15% di tahun

    2015. Pada tahun 2008 ditemukan 47 kasus, tahun 2009 sebanyak1

    kasus, tahun 2010 tidak ditemukan kasus gizi buruk, tahun 2011

    sebanyak 3 kasus.

    Meskipun kasus gizi buruk sudah dibawah target nasional namun tetap

    dilakukan upaya peningkatan pelayanan guna meminimalkan terjadinya

    kasus tersebut dikemudian hari, Upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan

    Kabupaten Tanggamus dengan adanya kasus tersebut di atas yaitu

    dengan Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI),

    Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di posyandu, melaksanakan

    perawatan penderita di rumah sakit, pemberian bantuan pada kasus gizi

     buruk dan pemberdayaan keluarga.

     Tujuan Akhir dari pembangunan kesehatan adalah terwujudnya derajat

    kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan di bidang

    kesehatan dilaksanakan secara berkesinambungan, terus menerus dan

    terintegrasi. Kondisi pencapaian kinerja Bidang Kesehatan Tanggamus

    menggunakan 2 Indikator yaitu :

    1)Milenium Development Goals (MDGs)

    Pencapaian MDGs tahun 2015 bidang kesehatan yaitu Goals 1, 4, 5,

    6, 7 yakni :

    a)Goals 1. Mengentaskan kemiskinan ekstrim dan kelaparan

     b)Goals 4. Mengurangi tingkat kematian Anak

    c)Goals 5. Meningkatkan Kesehatan Ibu

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    39/70

    d)Goals 6. Memerangi HIV/AIDS dan penyakit menular lainya

    e)Goals 7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup

     Tabel 2.11 Pencapaian IndikatorMillenium Development Goals (MDGs)

    Bidang Kesehatan Kabupaten Tanggamus Tahun 2011-2012

    N

    OINDIKATOR

    MDGs

    (2015)

     TAHUN

    2011

     TAHUN

    2012

    1 Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) per

    100.000 kelahiran hidup 102 99.95 90.15

    2 Penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) per

    100.000 kelahiran hidup 23 6.41 8.52

    3 Penurunan Angka Kematian Neonatal per

    1000 kelahiran hidup 15 0.58 0.66

    4 Penurunan Prevalensi kekurangan gizi (gizikurang dan gizi buruk) pada anak balita 18.50% 5.13% 8.92%

    5 Penurunan angka kematian balita (AKABA)

    per 1000 kelahiran hidup 32 6.99% 9.34%

    6 Penurunan prevalensi Tuberculosis per

    100.000 penduduk 222 74.08% 65.19

    7 Terkendalinya prevalensi HIV pada populasi

    dewasa 0.50% 0.003% 0.0003%

    8 Menurunya kasus malaria (Annual Paracite

    Index-API) per 1000 penduduk 1 20.00% 0.08

    9 Prevalensi persalinan oleh tenaga kesehatan

    terlatih 90% 86.06% 86.40%

    10 Cakupan pelayanan Antenatal (K4) 95% 88.09% 87.80%

    Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, 2012

    Pencapaian MDGs 2015 bidang kesehatan salah satu tujuanya adalah

    untuk upaya penurunan angka kematian ibu, bayi dan balita. AKB dan

     AKBA tahun 2012 terjadi peningkatan walaupun belum melewati

    ambang batas target MDGs dimana AKB 23 kematian per 1.000

    kelahiran hidup dan AKBA 32 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Hal

    ini perlu diwaspadai dengan perhatian khusus pada kesehatan masa

    kehamilan ibu, bayi, proses persalinan dan masa balita. Diperlukan

    peningkatan pada persalinan oleh tenaga kesehatan yang terlatih, tidak

    terjadi keterlambatan dalam penanganan persalinan kegawatdaruratan,

    peningkatan pelayanan antenatal dan pelayanan kesehatan balita.

    Sedangkan AKI tahun 2012 cenderungmenurun dibandingkan tahun

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    40/70

    2011. Prevalensi kekurangan gizi ( Gizi kurang dan Gizi buruk) pada

    anak balita tahun 2012 sebesar 8,92%, meningkat jika dibandingkan

    tahun 2011 (5,13%).

    2)Standart Pelayanan Minimum (SPM)

     Target SPM (Standar Pelayanan minimum) sesuai Peraturan Menteri

    Kesehatan Nomor : 741/MENKES/PER/VII/2008, terdiri dari 18

    Indikator Kesehatan. Dari 18 Indikator pokok Standar Pelayanan

    Minimum (SPM) wajib bidang kesehatan yang ada, indikator yang sudah

    mencapai target adalah Cakupan Kunjungan Bayi target 90% capaian

    94,37%, Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia

    -24 bulan keluarga miskin target 100% capaian 100%, Cakupan balita

    gizi buruk mendapat perawatan target 100% capaian 100%, Cakupan

    peserta KB aktif target 70% capaian 70,61%, Cakupan pelayanan gawat

    darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di

    Kabupaten/kota target 100% capaian 100%, Cakupan desa / kelurahan

    mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam

    target 100% capaian 100%, Cakupan desa siaga aktif target 80% capaian

    92,05%.

    Belum tercapainya beberapa target indikator SPM bidang kesehatan

    tersebut dimungkinkan karena ketersediaan tenaga kesehatan di

    Puskesmas masih kurang, kurang berperan aktifnya pelaksana program

    Puskesmas dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya (Tupoksi)

    ganda yang dipegang tenaga kesehatan sehingga kinerja menjadi tidak

    maksimal.

    Melalui monitoring, evaluasi, konsolidasi, kordinasi dan pembinaan

    selanjutnya diharapkan dapat terjadi peningkatan yang sangat berarti

    dalam pencapaian SPM bidang kesehatan kedepannya.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    41/70

    2.2.2.3 Bidang Ketenagakerjaan Kabupaten Tanggamus

    Pengurangan pengangguran harus tetap menjadi prioritas utama bagi

    Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Untuk mempercepat penurunan

    angka pengangguran yang sejalan dengan kebijakan nasional,

    pelaksanaan berbagai program pembangunan perlu diarahkan ke

    kecamatan dan desa-desa miskin, serta dilakukan dengan pola padat

    karya. Dengan demikian, pelaksanaan program pembangunan dapat

    meningkatkan ketersediaan dan perbaikan serta pemeliharaan

    prasarana dan sarana fisik dan berbagai sarana pelayanan dasar, serat

    sekaligus menciptakan kesempatan kerja dan pendapatan bagi

    masyarakat di sekitarnya. Dengan program aksi tersebut diharapkan

     TPT yang pada tahun 2011 sebesar 4,7% dapat terus ditekan pada

    tahun 2012 menjadi sekitar 4,65% sehingga dapat mempercepat

    pertumbuhan sektor riil dalam rangka perluasan kesempatan kerja.

    2.2.3 Fokus Seni Budaya dan Olah raga

    Dalam fokus pengembangan seni budaya dan olah raga Kabupaten

     Tanggamus saat ini telah meningkatkan pengembangan sarana dan

    prasarana penunjang kegiatan seni budaya dan olah raga dengan baik.

    Pada Bidang Kebudayaan, jumlah grup kesenian berjumlah 150 grup

    kesenian, serta keberadaan situs dan benda sejarah lainnya yang telah

    diidentifikasi hingga saat ini terdapat 17 benda/situs. Di bidangkepariwisataan, kondisi alam dan keberadaan Kabupaten Tanggamus

     yang berada di Wilayah pesisir menjadi nilai tambah sendiri untuk dapat

    dikembangkan, dan juga menjadi potensi ekonomi bagi penduduk

    Kabupaten Tanggamus. Sementara itu, terkait dengan organisasi

    kepemudaan dan olah raga Kabupaten Tanggamus saat ini dirasa sudah

    mencukupi. Dimasa yang akan datang perlu peningkatan pembinaan

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    42/70

    kepemudaan untuk meningkatkan penyaluran bakat pemuda potensial.

     Adapun datanya dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

     Tabel 2.12 Kondisi Eksisting Bidang Seni Budaya dan Olah raga di

    Kabupaten Tanggamus Tahun 2012

    NO BIDANGKONDISI

     TAHUN 2012

      Bidang Kebudayaan  

    1 Jumlah Grup Kesenian (grup) 150

    2 Jumlah Gedung Kesenian (unit) -

    3 Penyelenggaraan Festival Seni dan Budaya (kali) 1

    4 Sarana Penyelenggaraan Seni Dan Budaya -

    5 Benda, Situs dan Kawasan Cagar Budaya yang Dilestarikan 17

      Bidang Kepariwisataan

    6 Kunjungan Wisatawan

    a. Domestik (orang/tahun) 5.000

     b. Mancanegara (orang/tahun) 3.000

    7 Kontribusi Sektor Pariwisata terhadap PDRB (%) -

      Bidang Kepemudaan dan Olah Raga

    8 Jumlah Organisasi Pemuda (lembaga) 9

    9 Jumlah Organisasi Olah Raga (lembaga) 15

    10 Jumlah Kegiatan Kepemudaan (kali) 10

    11 Jumlah Kegiatan Olah Raga (kali) 10

    12 Gelanggang/ Balai Remaja (selain milik swasta) (unit) -

    13 Lapangan Olah Raga (buah) 10

     

    Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Tanggamus,

    2012

    2.3 ASPEK PELAYANAN UMUM

    2.3.1Fokus Layanan Umum Wajib

    2.3.1.1 Pendidikan

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    43/70

    Proporsi guru yang memenuhi kualifikasi akademik masih perlu terus

    ditingkatkan. Selain itu, pemanfaatan guru belum sepenuhnya optimal

     yang diakibatkan, antara lain, oleh distribusi guru yang masih belum

    merata. Demikian pula, satuan pendidikan di daerah perkotaan

    mengalami kelebihan guru, tetapi satuan pendidikan di daerah terpencil

     banyak mengalami kekurangan guru. Distribusi yang tidak merata

     berakibat pada bervariasinya beban mengajar guru di daerah perkotaan,

    perdesaan, dan daerah terpencil.

    Pembangunan bidang pendidikan harus tetap dikembangkan secara

    terpadu dan serasi baik antar berbagai jalur, jenis dan jenjang

    pendidikan maupun antar bidang lainnya yang disesuaikan dengan

    perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan dan

    kebutuhan pembangunan daerah. Sedangkan peningkatan kuantitas

    dan kualitas guru dilaksanakan melalui sertifikasi dan kompetensi guru

    SD melalui program S.1 PGSD, pemberian Beasiswa guru pada

    Universitas Terbuka (UT) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta

    pengetasan buta aksara.

    Untuk pembangunan di bidang pendidikan, Kabupaten Tanggamus telah

    menargetkan akan mewujudkan sekolah unggulan  yang berstandar

    nasional yang menjadi acuan bagi pengembangan sekolah-sekolah

    lainnya, melaksanakan rehabilitasi dan pembangunan sarana prasarana

    pendidikan, menuntaskan wajib belajar 9 tahun dan merintis wajib

     belajar 12 tahun.

     Tabel 2.13 Jumlah dan Keadaan Gedung Sekolah Negeri dan Swasta di

    Kabupaten Tanggamus Tahun 2011

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    44/70

    NO INDIKATOR MAKRO

    KONDISI

     JUMLA

    H

     TOTAL

    BAIK

    SEDAN

    G RUSAK

    RUSAK

    BERAT

    1. Jumlah Gedung

    Pendidikan Negeri :

    - PAUD, TK 12 - - - 12

    -  SD 944 548 - 396 1.888

    - SMP 234 102 - 58 394

    - SMU 894 12 - 128 1.034

    - SMK 22 11 - - 33

    2. Jumlah Gedung

    Pendidikan Swasta :

    - PAUD, TK 452 20 - - 472-  SD 300 154 - 188 642

    - SMP 70 52 - 26 148

    - SMU 25 8 - 7 40

    - SMK 89 41 - 46 176

    3. Jumlah Gedung

    Perpustakaan Sekolah :

    - PAUD, TK - - - - -

    -  SD 128 - - - 128

    - SMP 257 - - - 257

    - SMU 10 - - - 10

    - SMK 4 - - - 4

    Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus, 2011

    2.3.1.2 Kesehatan

    Fasilitas kesehatan merupakan kebutuhan penting, total jumlah fasilitas

    kesehatan yang ada sebanyak 104 buah yang terdiri dari rumah sakit,

    puskesmas, puskesmas pembantu, Pos Kesehatan Desa (Poskesdes),

     balai pengobatan dan apotik. Jumlah tenaga kesehatan tercatat

    sebanyak 782 orang yang tersebar di lokasi fasilitas kesehatan.

     Tabel 2.14 Distribusi Tenaga Kesehatan Bersadarkan Pendidikan

    (12 Keahlian) Sampai Dengan Bulan Juli 2013

    N

    O

    KUALIFIKASI TENAGAUNIT KERJA

    DINKES PUSKESMA

    S

    RSUD JUMLAH

    1 Dokter Spesialis 4 4

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    45/70

    N

    O

    KUALIFIKASI TENAGAUNIT KERJA

    DINKES PUSKESMA

    S

    RSUD JUMLAH

    2 S2 Kesehatan Masyarakat 9 9

    3 Dokter Umum 25 10 35

    4 Dokter Gigi 5 1 6

    5 Apoteker 1 1

    6 S1 Kesehatan Masyarakat 14 18 5 37

    7 S1 Farmasi 1 1

    8 S1 Keperawatan 2 4 4 10

    9 S1 Gizi 2 2

    10 D3 Farmasi 3 12 4 19

    11 D3 Keperawatan 0 70 33 103

    12 D4, dan D3 Kesling 5 12 3 20

    13 D3 Gizi 6 13 4 23

    14 D4, D3, dan D1 Bidan 5 332 13 350

    15 SPPH 1 5 6

    16 SPAG 1 1

    17 SPK 35 1 36

    18 D3 Fisioterapi 1 1

    19 D3 Teknisi Elektromed 1 1 2

    20 D3 Analis Kesehatan 16 7 23

    21 D3 Rontgen 2 2

    22 D3 Gigi dan SPRG 22 1 23

     Jumlah 49 569 96 714

    Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, 2013

    Sedangkan 68 tenaga lainnya berasal dari Sekolah Menengah Farmasi

    (SMF) sebanyak 4 tenaga, pekarya kesehatan 15 tenaga, paramedis

    lainnya sebanyak 5 tenaga dan 44 orang berasal dari berbagai

    pendidikan Non Kesehatan seperti S1 Non kesehatan sebanyak 15

    tenaga, Akademi lainnya sebanyak 7 tenaga, lulusan SMA sebanyak 19

    tenaga dan, Lulusan SMP sebanyak 3 tenaga.

    Dari persebaran sarana kesehatan, saat ini dirasa sudah cukup

    memadai karena seluruh kecamatan di Kabupaten Tanggamus minimal

    sudah memiliki sarana keseharan Puskesmas dan Puskesmas Pembantu

    namun demikian jumlahnya perlu ditingkatkan sesuai perkembangan

    penduduk. Hal yang perlu menjadi perhatian ialah keberadaan RSUD

     yang masih terbatas. Dalam data BPS diketahui, hanya terdapat 1 RSUD

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    46/70

    di Kabupaten Tanggamus yang berada di Ibukota Kabupaten, dan 1

    rumah sakit swasta yang ada di Kecamatan Gisting.

     Tabel 2.15 Fasilitas Kesehatan di Kabupaten Tanggamus Sampai

    Dengan Bulan Juli 2013

    NO KECAMATAN RSRUMAH

    BERSALIN

    PUSKES

    MASPUSTU

    BALAI

    PENGO

    BATAN

     APOTIK

    1 Wonosobo 2 2 2

    2 Semaka 2 4

    3 Bandar Negeri Semuong 1 1

    4 Kota Agung 1 1 1 3

    5 Pematang Sawa 1 26 Kota Agung Timur 1 1

    7 Kota Agung Barat 1 1

    8 Pulau Panggung 1 3

    9 Air Naningan 1 1 4 1

    10 Ulu Belu 1 6

    11 Talang Padang 1 2 1 3

    12 Sumberejo 1 3 1

    13 Gisting 1 1 1 2 2 2

    14 Gunung Alip 1 1 2 1

    15 Pugung 2 4 1

    16 Bulok 1 4

    17 Cukuh Balak 1 5

    18 Kelumbayan 1 2 1

    19 Limau 1 3

    20 Kelumbayan Barat 1 2

    Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, 2013

    2.3.1.3 Pekerjaan Umum

    Sarana Perhubungan merupakan salah satu hal yang vital dalam

    mendukung mobilitas manusia. Sarana perhubungan darat di

    Kabupaten Tanggamus terdiri dari 1.301,17 Km jalan kabupaten,

    120,93 Km jalan provinsi, dan 75,29 Km jalan nasional yang terdiri dari

    permukaan aspal, hotmix (aspal beton), cor beton, berbatu, kerikil dan

    tanah.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    47/70

     Tabel 2.16 Jenis Permukaan dan Panjang Jalan di Kabupaten

     Tanggamus Tahun 2013

    NO

    KEADAAN JALAN/

     JENIS PERMUKAAN

     JALAN

    NASIONAL (Km)

     JALAN

    PROVINSI (Km)

     JALAN

    KABUPATEN

    (Km)

    1 Aspal 75,29 120,93 753

    2 Hotmix (Aspal Beton) 103,73

    3 Cor Beton 2,50

    4 Berbatu 53,50

    5 Kerikil 169,82

    6 Tanah 218,62

     Jumlah 75,29 120,93 1.301,17

    Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tanggamus, 2013

     Jika dilihat dari jenis permukaannya, dari 1.301,17 Km Jalan

    Kabupaten Tanggamus kurang lebih 753 Km nya sudah di aspal, dan

    103,73 Km yang sudah di hotmix (aspal beton) sedangkan yang masih

    dalam jenis permukaan kerikil sepanjang 169,82 Km dan permukaan

    tanah sepanjang 218,62 Km. Sementara untuk jalan nasional dan jalan

    provinsi semuanya sudah teraspal dengan panjang jalan 75,29 Km dan

    120,93 Km dalam kondisi baik. Setiap tahunnya kondisi jalan kabupaten

    semakin membaik, dan tingkat kerusakan semakin berkurang. Hal ini

    menunjukan keseriusan pemerintah Kabupaten Tanggamus dalam

    meningkatkan kondisi jalan untuk kelancaran distribusi orang barang

    dari setiap daerah-daerah di Kabupaten Tanggamus. Meskipun

    demikian, tidak sedikit juga jalan-jalan penting yang masih mengalami

    kerusakan. Oleh karenanya pemerintah daerah perlu

    menginventarisasikan data-data prioritas pembangunan jalan di

    kabupaten yang mengalami kerusakan agar segera di perbaiki untuk

    kepentingan kelancaran distribusi orang dan jalan di Kabupaten

     Tanggamus.

     Tabel 2.17 Kondisi Jalan Kabupaten Tanggamus Tahun 2013

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    48/70

    NO KEADAAN JALAN

     JALAN

    NASIONAL

    (Km)

     JALAN

    PROVINSI

    (Km)

     JALAN

    KABUPATEN

    (Km)

    I. Kondisi Jalan

    1

    2

    3

    4

    Baik

    Sedang

    Rusak

    Rusak Berat

    75,29 120,93 289,21

    249,09

    255,81

    507,06

     Jumlah 75,29 120,93 1.301,17

    II. Kelas Jalan

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    7

    Kelas I

    Kelas II

    Kelas III

    Kelas III A

    Kelas III B

    Kelas III C

    Kelas Tidak terinci

    75,29 120,93

    455,4095

    845,7605

     Jumlah 75,29 120,93 1.301,17

    Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tanggamus, 2013

    2.3.1.4 Perhubungan

    Untuk sarana angkut, jumlah mobil yang terdaftar sebanyak 1.005

    untuk mobil umum dan 3.002 kendaraan yang tidak umum. Untuk

    kendaraan umum paling banyak berupa truk (757 unit). Adapun lebih

    lengkapnya dapat dilihat pada table berikut ini. Beberapa permasalahan

    perhubungan di Kabupaten Tanggamus ialah, kurang menjangkaunya

    angkutan umum ke daerah-daerah terpencil seperti di Kecamatan Ulu

    Belu, Kelumbayan, Way Semaka dan beberapa kecamatan lainnya. Disisi

    lain integrasi angkutan umum hanya sebatas jalan-jalan utama

    kabupaten dan jalan nasional Oleh karenanya, pemerintah perlu

    mengkaji kembali rencana penataan transportasi lokal nya agar dapat

    mengintegrasikan daerah-daerah terpencil sehingga dapat meningkatkan

    pergerakan masyarakat di Kabupaten Tanggamus.

     Tabel 2.18 Banyaknya Kendaraan Wajib Uji Kabupaten Tanggamus 2011

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    49/70

    N

    O

    URAIAN JUMLAH

    I UMUM

    Mobil barang

    a.Truk

     b.Pick up

    Mobil Bus

    a.Bus

     b.Mikrolet

    Mobil Penumpang

    a.Oplet

     b.Taksi

    1.005

    808

    757

    51

    109

    78

    31

    88

    88

    0

    II TIDAK UMUM 3.002

    Sumber : Tanggamus Dalam Angka, 2011

    2.3.1.5 Lingkungan Hidup

    Untuk sarana dan prasarana lingkungan hidup di Kabupaten

     Tanggamus saat ini baru dapat dapat dilihat dari jumlah sarana dan

    prasarana persampahan dan sarana pembuangan, dimana terdapat 4

     Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan 5 sarana pengangkut sampah

     yang terdiri dari 1 mobil amrol, dan 4 Motor Tosa. Terkait dengan

    lingkungan ini belum adanya gambaran umum tentang ruang terbuka

    hijau masih menjadi kendala tersendiri dalam penentuan kebijakan

    perlindungan kawasan. Diharapkan nantinya tersedia juga data terkait

    luasan ruang terbuka hijau dan pengembangan kawasan hijau di daerah

    Kabupaten Tanggamus sesuai dengan RTRW yang telah di susun.

     Tabel 2.19 Gambaran Umum Kondisi Sarana dan Prasarana

    Lingkungan Hidup Di Kabupaten Tanggamus Tahun 2012

    NOKONDISI SARANA DAN PARASARANA

    LINGKUNGAN HIDUP

    KONDISI

     TAHUN

    2012

    KETERANGAN

    1 Penyediaan Sarana dan Prasarana

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    50/70

    NOKONDISI SARANA DAN PARASARANA

    LINGKUNGAN HIDUP

    KONDISI

     TAHUN

    2012

    KETERANGAN

    Persampahan

      - Tempat Pembuangan Akhir (TPA) 1 Unit Kali Miring

      - Tempat Pembuangan Sementara (TPS) 41 Unit

    - Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) 1 Unit Kali Miring

    2 Tersedianya Jumlah Sarana Pengangkut

    Sampah

      - Mobil Amrol 1 Unit

      - Tosa 4 Unit

      - Container 12 Unit

    - Gerobak Sampah 58 Unit

    Sumber :Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Tanggamus,

    2012

    Kabupaten Tanggamus saat ini memiliki Ruang Terbuka Hijau seluas

    7,15 Ha yang terdiri dari Hutan Kota Way Lalaan, Kota Agung Timur

    seluas 1 H, Taman Kota Ir. Soekarno, Kota Agung seluas 7.500 m2 dan

     Taman Kota Way Lalaan, Kota Agung Timur seluas 5,4 Ha.

    2.3.1.6 Kependudukan dan Catatan Sipil

    Sektor kependudukan dan catatan sipil antara lain melingkupi seluruh

    aspek dokumentasi kependudukan dimulai dari jumlah rasio penduduk

     ber-KTP, kepemilikan KTP, Akte Lahir, ketersediaan database penduduk,

    dan penetapan KTP elektronik sebagai KTP nasional berbasis NIK.

     Adapun datanya dapat dilihat pada table berikut ini. Secara umum

    sebagian besar penduduk Kabupaten Tanggamus sudah ber KTP hal ini

    dapat dilihat dari jumlah kepemilikan KTP yang sudah mencapai angka

    61 %. Hal yang paling utama ialah perlu adanya peningkatan dan

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    51/70

    pendataan kembali program E-KTP agar data kependudukan seluruh

    masyarakat di Kabupaten Tanggamus dapat terdata dengan baik.

     Tabel 2.20 Kinerja Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten

     Tanggamus 2012

    NO INDIKATOR KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL

     TAHUN

    2012

    1 Rasio Penduduk ber KTP per satuan penduduk 61.18%

    2 Rasio Bayi berakte kelahiran 57.30%

    3 Kepemilikan KTP 331.840

    4 Kepemilikan Akta Kelahiran per 1000 Penduduk 573.02

    5 Ketersediaan Database Penduduk Skala Provinsi Ada

    6 Penerapan KTP Nasional berbasis NIK Sudah

    Sumber : Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Tanggamus, 2012

    2.3.1.7 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

    Fokus keluarga berencana merupakan fokus target rencana

    kependudukan untuk menentukan dan mengantisipasi ledakan

    penduduk yang terjadi di suatu daerah. Dalam hal ini Kabupaten

     Tanggamus memiliki tiga indikator utama dalam hal menangani masalah

    tersebut yaitu menganalisis rata-rata jumlah anak per keluarga, rasio

    pengguna KB, dan peserta KB aktif. Secara umum rasio akseptor KB

    sudah cukup baik karena sudah lebih dari 50% penduduk usia

    produktif menggunakannya, adapun datanya dapat dilihat pada tabel

     berikut ini.

     Tabel 2.21 Hasil Pendataan Pasangan Usia Subur dan Peserta Keluarga

    Berencana Di Kabupaten Tanggamus Tahun 2012

    NO KECAMATANPASANGAN

    USIA SUBUR

    PESERTA KB

    PEMERINTAH SWASTA

    1 Pematang Sawa 5.925 1.881 2.296

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    52/70

    NO KECAMATANPASANGAN

    USIA SUBUR

    PESERTA KB

    PEMERINTAH SWASTA

    2 Semaka 7.523 3.969 1.302

    3 Bandar Negeri Semuong 3.719 1.849 800

    4 Wonosobo 6.736 2.006 2,762

    5 Kotaagung Barat 4.565 1.806 1.437

    6 Kotaagung 8.556 2.643 3.427

    7 Kotaagung Timur 3.347 1.458 867

    8 Gisting 6.364 2.621 1.898

    9 Sumberejo 6.206 2.275 2.125

    10 Gunung Alip 3.230 1.458 849

    11 Talang Padang 7.943 2.972 2.796

    12 Pulau Panggung 5.836 3.150 957

    13 Air Naningan 5.237 2.683 1.013

    14 Ulu Belu 9.153 4.357 2.076

    15 Pugung 9.602 4.670 2.105

    16 Bulok 4.310 2.774 246

    17 Limau 3.861 1.533 1.213

    18 Cukuh Balak 4.438 2.570 628

    19 Kelumbayan 2.517 1.765 0

    20 Kelumbayan Barat 2.642 1.623 251

     JUMLAH 111.710 50.063 29.048

    Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten

     Tanggamus, 2012

    Dari hasil pendataan yang telah dilaksanakan maka persentase

    pemakaian kontrasepsi di Kabupaten Tanggamus pada tahun 2012 yaitu

    70,82 %

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    53/70

     Tabel 2.22 Hasil Pentahapan Keluarga Sejahtera Di Kabupaten

     Tanggamus Tahun 2012

    NO KECAMATAN

    HASIL PENTAHAPAN KELUARGA SEJAHTERAKELUARGAPRA

    SEJAHTERA

    KELUARGASEJAHTERA

    I

    KELUARGASEJAHTERA

    II

    KELUARGASEJAHTERA

    III

    KELUARGASEJAHTERA

    III PLUS

     JUMLAH

    1 Pematang Sawa 2.015 1.777 2.341 793 11 6.937

    2 Semaka 5.168 1.881 1.490 1.379 0 9.918

    3Bandar Negeri

    Semuong2.505 2.022 631 106 31 5.295

    4 Wonosobo 4.595 2.108 2.379 681 0 9.763

    5 Kotaagung Barat 1.072 1.863 1.861 877 0 5.673

    6 Kotaagung 2.842 2.220 3.837 1.080 19 9.998

    7 Kotaagung Timur 1.782 969 1.254 451 4 4.460

    8 Gisting 2.956 2.081 2.188 1.415 76 8.716

    9 Sumberejo 2.715 1.140 1.224 2.962 38 8.079

    1

    0

    Gunung Alip 1.878 836 1.253 451 6 4.424

    11 Talang Padang 4.283 2.516 2.662 1.317 122 10.900

    1

    2

    Pulau Panggung 2.845 2.253 2.749 546 6 8.399

    1

    3

     Air Naningan 2.637 1.314 2.191 1.165 0 7.307

    1

    4

    Ulu Belu 1.419 2.273 4.186 2.471 208 10.557

    15

    Pugung 5.650 5.362 3.007 338 58 14.415

    1

    6

    Bulok 580 1.013 3.073 731 117 5.514

    1

    7

    Limau 1.576 567 1.207 1.061 10 4.421

    1

    8

    Cukuh Balak 2.014 1.573 1.825 192 64 5.668

    1 Kelumbayan 1.887 450 323 67 0 2.727

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    54/70

    NO KECAMATAN

    HASIL PENTAHAPAN KELUARGA SEJAHTERAKELUARGA

    PRA

    SEJAHTERA

    KELUARGA

    SEJAHTERA

    I

    KELUARGA

    SEJAHTERA

    II

    KELUARGA

    SEJAHTERA

    III

    KELUARGA

    SEJAHTERA

    III PLUS

     JUMLAH

    9

    2

    0

    Kelumbayan

    Barat1.560 735 533 267 1 3.096

     JUMLAH 51.979 34.953 40.214 18.350 771 146.267

    Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten

     Tanggamus, 2012

    2.3.1.8 Ketenagakerjaan

    Sedangkan dari sektor ketenagakerjaan di Kabupaten Tanggamus pada

    tahun 2012 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 %, jauh

    lebih rendah dibandingkan dengan TPT rata-rata Provinsi Lampung pada

    periode yang sama sebesar 5,18 % dan Nasional 6,14 %. Hal ini

    menunjukkan peningkatan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja dan

    adanya peningkatan penyediaan lapangan kerja yang menyebabkan

    angka Tingkat Pengangguran Terbuka menurun. Dengan terobosan-

    terobosan baru dibidang penyediaan lapangan kerja Tingkat

    Pengangguran Terbuka di Kabupaten Tanggamus berhasil ditekan

    seminimal mungkin.

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    55/70

    Sumber : BPS Kabupaten Tanggamus, 2013

    Gambar 2.4Komparasi TPAK dan TPT Antara Kabupaten Tanggamus,

    Provinsi Lampung dan Nasional

    2.3.1.9 Koperasi Usaha Kecil dan Menengah

    Kegiatan umum koperasi hingga tahun 2012 dilihat dari beberapa

    indikator diantaranya yaitu persentase koperasi aktif, jumlah BPR/LKM,

    usaha mikro dan kecil, cakupan binaan kelompok pedagang, dan

    cangkupan binaan kelompok pengrajin. Adapun datanya dapat dilihat

    pada tabel berikut ini.

     Tabel 2.23 Gambaran Umum Kondisi Koperasi Dan Umkmdi Kabupaten

     Tanggamus 2012

    N

    O INDIKATORKONDISI

     TAHUN 2012

    1 Persentase Koperasi Aktif 60 %

    2 Jumlah BPR/LKM 1

    3 Usaha Mikro dan Kecil 3.750

    4 Cakupan Bina Kelompok Pedagang/Usaha Informal 4.323

    5 Cakupan Bina Kelompok Pengrajin 122

    Sumber :Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian, Perdagangan Dan Pengelolaan Pasar

    Kabupaten Tanggamus, 2012

  • 8/18/2019 ASPEK GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

    56/70

    2.3.1.10 Kesatuan Bangsa d