askep hepatitis

Click here to load reader

Post on 26-Oct-2015

60 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PANDUAN MAHASISWA KEPERAWATAN

    2012

    KUMPULAN ASUHAN

    KEPERAWATAN

    (Askep Hepatitis)

    W W W . S A K T Y A I R L A N G G A . W O R D P R E S S . C O M

  • w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m Page 2

    Anatomi Hati

    (http://www.google.com/gambar/anatomi .co.id, 2011)

    Hati merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan homeostasis tubuh yang meliputi metabolisme, biotransformasi, sintesis, penyimpanan dan imunologi. Dari sudut pandang anatomi dan fisiologi, hati adalah organ terbesar dari sistem intestinal dengan berat antara 1,2-1,8 kg atau kurang lebih 25% berat badan orang dewasa yang menempati sebagian besar kuadran kanan atas abdomen dan merupakan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi yang sangat kompleks. Batas atas hati berada sejajar dengan ruang interkostal V kanan dan batas bawah menyerong ke atas dari iga IX kanan ke iga IX kiri.

    Permukaan posterior hati berbentuk cekung dan terdapat celah transversal sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis. Omentum minor terdapat mulai dari sistem porta yang mengandung arteri hepatica, vena porta dan duktus koledokus. Sistem porta terletak di depan vena kava dan dibalik kandung empedu. Permukaan anterior yang cembung dibagi menjadi 2 lobus oleh adanya perlekatan ligamentum falsiform yaitu lobus kiri dan lobus kanan yang berukuran kira-kira 2 kali lobus kiri. Pada daerah antara ligamentum falsiform dengan kandung empedu di lobus kanan kadang-kadang dapat ditemukan lobus kuadratus dan sebuah

  • w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m Page 3

    daerah yang disebut sebagai lobus kaudatus yang biasanya tertutup oleh vena kava inferior dan ligamentum venosum pada permukaan posterior. Hati terbagi dalam 8 segmen dengan fungsi yang berbeda. Pada dasarnya, garis Cantlie yang terdapat mulai dari vena kava sampai kandung empedu telah membagi hati menjadi 2 lobus fungsional, dan dengan adanya daerah dengan vaskularisasi relatif sedikit, kadang-kadang dijadikan batas reseksi. Pembagian lebih lanjut menjadi 8 segmen didasarkan pada aliran cabang pembuluh darah dan saluran empedu yang dimiliki oleh masing-masing segmen.

    Secara mikroskopis di dalam hati manusia terdapat 50.000-100.000 lobuli, setiap lobules berbentuk heksagonal yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang tersusun radial mengelilingi vena sentralis. Di antara lembaran sel hati terdapat kapiler yang disebut sinusoid yang merupakan cabang vena porta dan arteri hepatika. Sinusoid dibatasi oleh sel fagositik (sel kupffer) yang merupakan sistem retikuloendotelial dan berfungsi menghancurkan bakteri dan benda asing lain di dalam tubuh, jadi hati merupakan salah satu organ utama pertahanan tubuh terhadap serangan bakteri dan organ toksik. Selain cabang-cabang vena porta dan arteri hepatika yang mengelilingi bagian perifer lobulus hati, juga terdapat saluran empedu yang membentuk kapiler empedu yang dinamakan kanakuli empedu yang berjalan diantara lembaran sel hati .(Sudoyo, dkk., 2006)

    Definisi Hepatitis adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat

    ataupun agen penyebab infeksi. (Asuhan keperawatan pada anak, 2002; 131) Hepatitis adalah keadaan radang/cedera pada hati, sebagai reaksi terhadap

    virus, obat atau alkohol (Ptofisiologi untuk keperawatan, 2000;145) Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan

    inflamasi pada sel-sel hati yang merupakan kumpulan perubahan klinis , biokimia, serta seluler yang khas. ( Brunner & Suddarth .2001:1169).

    Dari pendapat beberapa ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penyakit hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada hati yang merupakan infeksi sistemik oleh virus atau oleh toksin termasuk alkohol yang berhubungan manifestasi klinik yang berspektrum luas dari infeksi tanpa gejala, melalui

  • w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m Page 4

    hepatitis ikterik sampai nekrosis hati yang menghasilkan kumpulan perubahan klinis ,biokimia, seta seluler yang khas.

    Hepatitis viral dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu kronik dan akut. Klasifikasi hepatitis viral akut dapat dibagi atas hepatitis akut viral yang khas, hepatitis yang tak khas (asimtomatik), hepatitis viral akut yang simtomatik, hepatitis viral anikterik dan hepatitis viral ikterik. Hepatitis virus kronik dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok yaitu :

    1. Hepatitis Kronin persisten

    Adalah suatu keadaan kekambuhan jinak, sembuh sendiri yang tidak dihubungkan dengan kerusakan hati yang progresif, dan tidak menyebabkan gagal hati atau sirosis. Bentuk penyakit ini dapat dengan ikterus yang nyata atau infeksi tanpa ikterus. Dalam masa penyembuhan yang berkepanjangan, penderita menunjukan gejala-gejala : capek, malaise, tidak nafsu makan, ikterus ringan, rasa t idak enak pada perut bagian atas atau mungkin sama sekali tanpa gejala.

    2. Hepatitis kronik lobular Sering pula disebut hepatitis akut berkepanjangan karena perjalanan penyakit lebih dari 3 bulan. Pada tipe ini ditemukan adanya tanda peradangan dan daerah-daerah nekrosis di dalam lobulus hati

    3. Hepatitis Kronik Aktif Adalah penyakit yang ditandai dengan destruksi hepatosit yang progresif yang memerlukan waktu yang bertahun-tahun dilanjutkan dengan erosi dari cadangan fungsi hati yang pada umumnya berkembang menjadi sirosis.

    Etiologi Penyebab hepatitis bermacam-macam akan tetapi penyebab utama hepatitis dapat dibedakan menjadi dua kategori besar yaitu penyebab virus dan penyebab non virus. Sedangkan insidensi yang muncul tersering adalah hepatitis yang disebabkan oleh virus. Hepatitis virus dapat dibagi ke dalam hepatitis A, B, C, D, E, G. Hepatitis non virus disebabkan oleh agen bakteri, cedera oleh fisik atau kimia.

    1. Penyebab hepatitis non virus :

  • w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m Page 5

    1) Zat kimia dari obat dapat menimbulkan masalah yang sama dengan reaksi akibat infeksi virus hepatitis. Gejala dapat terdeteksi dalam waktu 2 hingga 6 minggu setelah pemberian obat. Pada sebagian besar kasus, gejala hepatitis menghilang setelah pemberian obat tersebut dihentikan. Namun beberapa kasus dapat berkembang menjadi masalah hati serius jika kerusakan hati (hepar) sudah terlanjur parah. Obat-obatan yang cenderung berinteraksi dengan sel-sel hati (hepar) antara lain halotan (biasa digunakan sebagai obat bius), isoniasid (antibiotik untuk TBC), metildopa (obat anti hipertensi), fenitoin dan asam valproat (obat anti epilepsi) dan parasetamol (pereda demam). Jika dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan, parasetamol merupakan obat yang aman. Namun jika dikonsumsi secara berlebihan parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati (hepar) yang cukup parah bahkan kematian.

    2) Alkohol sangat dapat menyebabkan kerusakan sel-sel hati (hepar). Konsumsi alkohol berlebihan membuat kerja hati lebih berat dan bisa merusak hati.Pemakaian alkohol yang lama juga akan menimbulkan perubahan pada mitokondria, yang menyebabkan berkurangnya kapasitas untuk oksidasi lemak. Semua yang tersebut di atas menyebabkan terjadinya perlemakan hati (fatty lever). Perubahan pada MEOS yang disebabkan pemakaian alkohol yang berlangsung lama dapat menginduksi dan meningkatkan metabolisme obat-obatan, meningkatkan lipoprotein dan menyebabkan hiperlipidemia, berkurangnya penimbunan vitamin A dalam hepar, meningkatkan aktivasi senyawa hepatotoksik, termasuk obat-obatan dan zat karsinogen.

    3) Beberapa penyakit ataupun gangguan metabolisme tubuh dapat menyebabkan komplikasi pada hati (hepar). Diabetes mellitus, hiperlipidemia (berlebihannya kadar lemak dalam darah) dan obesitas sering menyebabkan penyakit hati (hepar). Ketiga kelainan tersebut membebani kerja hati (hepar) dalam proses metabolisme lemak. Akibat yang biasa timbul adalah kebocoran sel-sel hati (hepar) yang berlanjut menjadi kerusakan dan peradangan sel hati (hepar) yang biasa disebut steatohepatitis.

  • w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m Page 6

    4) Hepatitis autoimun terjadi karena adanya gangguan pada sistem kekebalan yang biasanya merupakan kelainan genetik. Sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel atau jaringan hati (hepar). Selain merupakan kelainan genetik, gangguan ini dapat pula dicetuskan oleh virus ataupun zat kimia tertentu

    2. Penyebab Hepatitis adalah virus hepatitis yang dibagi menjadi : 1. Replikasi virus hepatitis A termasuk ke dalam jalur lisis. Pertama-tama

    virus akan menempel di reseptor permukaan sitoplasma, RNA virus masuk pada saat kapsid yang tetinggal di luar sel akan hilang, di dalam sel RNA virus akan melakukan translasi , hasil dari translasi terbagi menjadi dua yaitu kapsid baru dan protein prekusor untuk replikasi DNA inang, DNA sel inang yang sudah dilekati oleh protein presukor virus melakukan replikasi membentuk DNA sesuai dengan keinginan virus , DNA virus baru terbentuk , kapsid yang sudah terbentuk dirakit dengan DNA virus menjadi sebuah virion baru, virus baru yang sudah matang keluar dan mengakibatkan lisis oleh sel-sel fagosit.( Brooks, 2005)

    Gambar Hepatitis A (http://www.google.com/gambar/hepatits.co.id, 2011)

    2. Hepatitis B. Varion menular melekat pada sel dan menjadi tidak terselubung . dalam inti sebagian genom virus beruntai ganda dialihkan menjadi DNA untai ganda sirkuler yang tertutup secara kovalen ( cccDNA). cccDNA berfungsi sebagai cetakan untuk semua transkip virus, termasuk RNA pre-genom 3.5 kb. RNA pre-genom menjadi terenkapsidasi dengan HbcAg yang baru disentesis. Dalam inti sintesis polimerasi virus

  • w w w . s a k t y a i r l a n g g a . w o r d p r e s s . c o m Page 7

    melalui transkripsi balik salinan DNA untai negatif. Polimerase mulai mensintesis untai DNA positif