agape natal 2014

Click here to load reader

Post on 07-Apr-2016

227 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • gape

    Chri

    stm

    as

    Edit

    ion

    ALLOUTforchrist

  • 2

  • Tentu kita semua pernah mendengar cerita tentang seorang janda miskin yang member-ikan dua peser untuk persembahan bukan? Ya, cerita ini mungkin sering kita dengar di cerita sekolah minggu, khotbah gereja, dan renungan harian. Isinya mungkin serupa, yaitu tentang memberikan persembahan. Betul, tidak salah, bahkan sangat tepat. Kali ini, penulis pun tidak akan jauh-jauh mem-bahas tentang hal lain dari perikop Markus 12:41-44 tentang Persembahan Seorang Jan-da Miskin. Eits, tunggu dulu, jangan keburu bosan dan membalik halamannya, karena kali ini kita mau lihat mengapa sih sam-pai-sampai Tuhan Yesus memuji-muji sang Janda Miskin ini? Apakah karena dia janda? Atau karena persembahannya berupa koin perak? Atau karena hal lain? Oke, mari kita mulai. Sebelum mulai, disarankan untuk berdoa, meminta pimpinan Roh Kudus, dan membaca juga perikopnya ya.

    Bagian 1: Situasi dan Kondisi

    Coba kita baca baik-baik ayat 41 dan ayat 42. Kita selami dan bayangkan kira-kira seperti apa suasana pada saat itu. Adakah kata sulit? (kok kayak PBL ya?) Ya, ada-ada. Kata sulitnya menurut penulis adalah pes-er dan duit. Nah, menurut sumber-sumber yang cukup terpercaya (bukan jurnal), pes-er atau dalam bahasa Yunani disebut Lep-ton adalah mata uang terkecil pada zaman itu, besarnya 1/128 Dinar. Sementara duit atau Kodrantes adalah mata uang Romawi yang bernilai sen. Coba kita konversikan

    ke dalam kehidupan kita saat ini. 1 Dinar adalah upah harian seorang pekerja. UMR DKI Jakarta 2014 adalah Rp 2.441.000,-. Berarti, 1 hari, seorang buruh di DKI Jakar-ta mendapatkan upah sekitar Rp81.366,67. Nah, jika dihitung-hitung, 1 peser itu nilainya Rp 635,68. Itu artinya, persem-bahan janda miskin ini adalah Rp1.271,35. Jumlah yang sangat kecil bukan? Apalagi dibandingkan dengan keaadaan yang ditu-liskan dalam ayat 41: Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Patut diingat bahwa pada waktu itu, peti persembahan diletakkan di pelataran perempuan di Bait Allah, berupa 13 buah peti dengan corong seperti nafiri (terompet) tempat memasuk-kan persembahan. Berarti, semua orang dapat melihat siapa dan berapa banyak persembahan yang diberikan. Sehingga, bisa saja janda tersebut diejek atau dipan-dang sebelah mata karena persembahannya yang tidak sebanding dengan persembahan orang-orang kaya tersebut.

    Bagian 2: Respon Yesus

    Sekarang kita beralih ke ayat 43 dan 44. Apakah respon Yesus melihat kejadian di dua ayat sebelumnya? Apakah Yesus, yang disebut Rabi itu memuji orang-orang kaya yang memberikan persembahan besar dan melecehkan janda miskin yang memberikan sangat sedikit itu? Ternyata tidak! Bahkan sebaliknya, Ia memanggil murid-murid-Nya dan memuji janda miskin tersebut. Kata Ye-sus:

    Give It All?Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka

    semua memberi dari kelimpahannya, tetpai janda ini memberi dari kekuranganny-annya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya. Jesus Christ, seperti

    tertulis dalam Markus 12:43-44

    Dare to

    3

  • Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetpai janda ini memberi dari kekurangannyann-ya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.

    Wah, sungguh perkataan yang mengejut-kan. Secara matematis, tentu orang kaya ini memberikan lebih banyak dibandingkan janda miskin ini. Tetapi yang patut dicermati adalah tulisan yang penulis cetak tebal. Ada 3 hal yaitu: (1) memberi dari kekuranganny-annya, (2) semua yang ada padanya, yaitu (3) seluruh nafkahnya. Kita akan coba mem-bedah ketiga hal ini satu-persatu.

    1. Memberi dari kekurangan

    Memberi, entah itu barang atau jasa (baca: pertolongan), ketika kita sedang dalam kelimpahan, atau setidaknya, berkecukupan, itu tidak sulit. Tetapi memberi ketika kita sedang kekurangan? Memberikan pertolongan saat sebenarnya kita juga perlu dito-long? Wah, penulis pun masih sulit untuk melakukannya. Akan tetapi, hal inilah yang dilakukan oleh sang Janda Miskin ini. Patut digarisbawahi, walaupun tidak tercatat dalam Alkitab apakah motivasi dari Janda Miskin ini memberikan persembahan, tetapi persembahan merupakan wujud rasa syukur kita kepada Tuhan atas apa yang Ia telah berikan kepada kita. Ini lebih dahsyat lagi, sudah kekurangan, masih ber-syukur pula, Weleh-weleh, penulis jadi malu nih sering berkeluh-ke-sah. Padahal, belum sampai berkekurangan, malah kayaknya kelebihan nih, kelebihan lemak, hehe.

    2. Semua yang ada Pada(ku)

    Apa yang sekarang ada pada kita? Uang, pikiran, tenaga, wak-tu, senyum, suara, apa saja. Sudahkah kita berikan kepada Tuhan? Nah, jika pertanyaan itu ditanyakan kepada janda miskin ini, Tuhan Yesus, sebagai yang layak menerima segala persem-bahan itu berkata: Sudah (ayat 44). Bagaimana cara memberi-kannya untuk Tuhan? Mudah, Ko-lose 3:23 berbunyi: Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Yap, as simple as that. Melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan, baik itu membuat LTM, Laporan Jaga, Presentasi Kasus, KKD, Diskusi Kelompok, Praktikum, bahkan sekadar men-yapa pasien atau sivitas dengan ramah, dilakukan untuk Tuhan.

    3. Seluruh Nafkah

    Nafkah menurut KBBI adalah belanja untuk hidup. Berarti, ke-tika Tuhan Yesus berkata bahwa sang Janda memberikan seluruh nafkahnya, itu artinya adalah seluruh yang ia punya untuk be-

    4

  • lanja untuk hidupnya. Bayang-kan, betapa gila sang janda ini. Sudah janda (tidak ada suami, tidak ada yang memberi penghas-ilan lagi), miskin, masih juga mem-berikan semua yang ia perlukan untuk kehidupannya bagi Tuhan. Apa tidak gila? Mengapa janda ini mau melakukan hal sedemiki-an? Penulis kembali diingatkan kepada 1 ayat yang Tuhan Yesus pernah katakan dalam khotbah di bukit, mengenai Hal Kekuati-ran (Matius 6: 25-34). Ya, bah-kan burung-burung yang tidak menabur, tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lum-bung pun dipelihara, bagaimana mungkin Tuhan tidak memeli-hara kita? Mungkin sang Janda memiliki Iman yang sedemikian kepada Tuhan. Ini bukan berarti kita tidak perlu berusaha apapun karena Tuhan pasti mencukupkan kebutuhan kita ya, tetapi ingat, Matius 6:33 berbunyi: Tetapi carilah dahulu Kerajaan Alah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada-mu. Penulis semakin tertunduk, malu terhadap janda miskin yang sudah memiliki Iman bahwa Tu-han akan memelihara dirinya, dan menempatkan kehendak Tuhan, melakukannya di prioritas nomor 1. Ternyata, apa yang selama ini

    penulis bilang beriman dan men-cari kerajaan Allah terlebih dahu-lu, belum sampai segila ini.

    Bagian 3: Respon kita

    Banyak juga ya yang kita dapatkan ya dari 4 ayat ini. Ternyata, hal persembahan jan-da miskin ini bukan sekedar nominal atau rasio persembahan-dengan-pendapatan saja. Ternyata, kita diharapkan untuk: (1) memberi dalam segala situasi, (2) memberi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tu-han (3) memberi semua yang terbaik pada kita kepada Tuhan, (4) memiliki iman bahwa Tuhan sanggup memelihara, dan (5) menem-patkan Tuhan dalam prioritas nomor 1 hidup kita. Sekarang apakah respon penulis dan saudara-saudara sekalian? Silahkan mas-ing-masing memutuskan. Untuk mengakhiri, penulis kembali diingkatkan kepada 1 ayat dari Roma 12:1

    Karena itu , saudara-saudara, demi kemura-han Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah iba-dahmu yang sejati.- Rasul Paulus

    So, Do We Dare to Give it All for Christ?

    5

  • 6

  • 7

  • Paris, 2014

    Malam Natal kali ini terasa berbeda. Aku berkesempatan untuk mengunjungi Oma dan menghabiskan liburan Natal di Paris, Perancis. Sejak ikut, Roby, suamiku pindah ke Indonesia tujuh tahun yang lalu, aku tidak memiliki ban-yak kesempatan untuk pulang mengunjungi Oma di Paris, terutama ada Michele yang ma-sih kecil dan sulit dibawa bepergian jauh. Oma sudah berusia 85 tahun. Tidak ada yang berbe-da dengan Oma, hanya tubuhnya tidak sekuat dulu lagi seperti ketika aku masih sering ting-gal dan menghabiskan waktu bersamanya.

    Oma duduk di sebelahku di Gereja. Sambil memegang lilin masing-masing, kami men-yanyikan lagu Malam Kudus diiringi paduan suara anak-anak. Ketika lagu berakhir dan lilin dipersilakan untuk dipadamkan, Oma meng-arahkan lilinnya ke depanku sambil berbisik, Apa permintaanmu kali ini, Luna?

    Paris, 1990

    Luna, sekarang sudah mau makan? Mau makan apa? Pertanyaan itu seperti diulang ratusan kali sejak pagi ketika Mama mengan-tarkanku ke rumah Oma. Aku masih berusia 7 tahun saat itu ketika ke dua orangtuaku terlibat dalam pertengkaran hebat. Mereka memutuskan untuk membawaku ke rumah Oma untuk sementara waktu. Aku tidak ban-yak bertemu dengan Oma sejak kecil. Paling hanya untuk menginap selama beberapa wak-tu di musim panas saja. Aku tidak terlalu sen-ang begitu Mama mengatakan aku harus ting-gal di sini selamam beberapa bulan ke depan, ditambah lagi alasanku berada di sini adalah karena kedua orang tuaku sedang bertengkar. Perasaanku sudah aneh dan tidak enak sejak masuk ke dalam mobil dan menuju ke sini.

    Aku hanya melirik sebentar ke Oma dan meng-geleng.

    Kalau Luna tidak makan, nanti Oma juga ti-dak makan. Tidak enak soalnya makan sendi-rian. Oma duduk di sebelahku di teras depan rumahnya. Oma tinggal di pinggiran Perancis yang harus ditempuh 2 jam perjalanan dari kota Paris tempatku dan kedua orangtuaku tinggal. Tepat di depan teras adalah kebun kecil milik Oma yang ia tanami tomat dan sayuran yang menjadi bahan memasaknya se-hari-h