3 perancangan standard operating procedures (sop ... · standard operating procedures (sop) dengan...

Download 3 PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP ... · Standard Operating Procedures (SOP) dengan metode Plan Do Check Action (PDCA) ... Berisi landasan teori yang merupakan penjelasan

If you can't read please download the document

Post on 01-Feb-2018

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURES

    PENGELOLAAN

    DENGAN METODE

    DI

    JINGGA NUANSA

    JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    STANDARD OPERATING PROCEDURES

    PENGELOLAAN PASCA PANEN DAUN KUMIS KUCING

    METODE PLAN DO CHECK ACTION (PDCA)

    DI KLASTER BIOFARMAKA

    KARANGANYAR

    Skripsi

    JINGGA NUANSA NARWASTUJATI

    I0308050

    JURUSAN TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

    UNIVERSITAS SEBELAS MARET

    SURAKARTA

    2013

    STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)

    DAUN KUMIS KUCING

    (PDCA)

    FAKULTAS TEKNIK

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    vii

    ABSTRAK

    Jingga Nuansa Narwastujati, NIM : I0308050, PERANCANGAN

    STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) PENGELOLAAN PASCA

    PANEN DAUN KUMIS KUCING DENGAN METODE PLAN DO CHECK

    ACTION (PDCA) DI KLASTER BIOFARMAKA KARANGANYAR.

    Skripsi. Surakarta : Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik, Universitas

    Sebelas Maret, Februari 2013.

    Penelitian ini bertujuan untuk merancang Standard Operating Procedures

    (SOP) proses pasca panen Kumis Kucing yang dapat diterapkan di Klaster

    Biofarmaka Karanganyar. Selama ini para petani di klaster melakukan

    pengelolaan pasca panen, khususnya untuk Daun Kumis Kucing belum dengan

    prosedur standar atau hanya berdasarkan pengalaman mereka. Hal ini

    menyebabkan kualitas simplisia yang dihasilkan tidak memenuhi standar kualitas.

    Standar kualitas tersebut antara lain adalah kadar air maksimal 10% dan tidak

    mengandung serangga.

    SOP ini dibuat dengan melihat proses penanganan pasca panen tanaman

    obat Daun Kumis Kucing di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman

    Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO-OT) Tawangmangu. Untuk perancangan dan

    penyusunan SOP tersebut, digunakan metode Plan Do Check Action (PDCA).

    Metode atau siklus PDCA juga disebut dengan Deming cycle, Shewhart cycle,

    Deming wheel, atau PlanDoStudyAct (PDSA). Metode ini merupakan

    penyusunan langkah-langkah perbaikan dengan menggunakan macam-macam

    tools kualitas atau biasa disebut dengan Seven tools. PDCA ini digunakan dalam

    upaya perbaikan dan implementasi SOP agar berjalan secara terus menerus

    (continuous improvement) untuk mempertahankan kualitas proses dan produk

    pasca panen. Hasil dari penelitian ini ialah prosedur standar untuk meningkatkan

    kualitas proses dan produk pasca panen khususnya simplisia tanaman Kumis

    Kucing di Klaster Biofarmaka Karanganyar.

    Kata kunci: Daun Kumis Kucing, Klaster Biofarmaka, Pasca panen, PDCA,

    Simplisia, SOP, Tanaman obat

    xii + 73 , 9 gambar, 8 tabel, 3 lampiran, daftar pustaka: 21 (1979-2012)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    viii

    ABSTRACT

    Jingga Nuansa Narwastujati, NIM : I0308050, DESIGNING STANDARD

    OPERATING PROCEDURES (SOP) OF AFTER-HARVEST KUMIS

    KUCING PLANT USING PLAN. DO. CHECK, ACTION (PDCA) IN

    KARANGANYAR BIOFARMAKA CLUSTER. Skripsi. Surakarta :

    Departement of Industrial Engineering Faculty of Engineering, Sebelas

    Maret University, February 2013.

    This research has aim to design Standard Operating Procedures (SOP) of

    after-harvest Kumis Kucing Plant which can be implemented in Karanganyar

    Biofarmaka Cluster. For all the time, farmers in this cluster manage after-harvest

    activity with their own experiences and neglecting the use of standard procedures.

    However, the quality of dried slice does not conform with standard of quality.

    Those standard qualities for dried slice are the maximum moisture content 10%

    and not bugs containing.

    This SOP is designed by observing after-harvest process of Kumis Kucing

    Plant in Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat

    Tradisional (B2P2TO-OT) Tawangmangu. This SOP used Plan Do Check Action

    (PDCA) method. This method or PDCA cycle also called as Deming cycle,

    Shewhart cycle, Deming wheel, or PlanDoStudyAct (PDSA). This method

    conducts the improvement by using quality tools or usually it called Seven Tools.

    PDCA has effort for improving and applying the SOP to develop continuous

    improvement of after-harvest quality in its process and product. The result of this

    research is standard procedures to improve process and product qualities of

    after-harvest, especially dried slice of Kumis Kucing Plant in Karanganyar

    Biofarmaka Cluster.

    Keywords: Kumis Kucing Plant, Biofarmaka Cluster, After-harvest, PDCA, Dried

    slice, SOP, Plant medicne

    xii + 73 , 9 figures, 8 tables, 3 attachments, bibliography: 21 (1979-2012)

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    I-1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang masalah, perumusan

    masalah, batasan masalah, tujuan dan manfaat dari penelitian yang telah

    dilakukan, serta sistematika penulisan untuk menyelesaikan penelitian.

    1.1 LATAR BELAKANG

    Kabupaten Karanganyar sangat potensial untuk mengembangkan sektor

    pertanian karena sebagian besar wilayahnya masih didominasi oleh lahan-lahan

    pertanian. Salah satunya ialah pertanian tanaman obat. Tanaman obat di

    Kabupaten Karanganyar memiliki nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat, namun

    belum dimanfaatkan secara optimal. Melihat kondisi tersebut, maka dibentuklah

    Klaster Biofarmaka Karanganyar yang terdiri atas 10 Gapoktan dari 6 kecamatan

    di Karanganyar, yaitu Kecamatan Jumantono, Jumapolo, Jatipuro, Ngargoyoso,

    Mojogedang dan Kerjo.

    Komoditas utama klaster ini ialah tanaman obat yang berasal dari rimpang.

    Tanaman obat selain rimpang masih sekadar untuk memenuhi kebutuhan petani

    sendiri. Tanaman obat misalnya yang berasal dari daun sebenarnya memiliki

    potensi yang sama. Salah satunya adalah Daun Kumis Kucing. Daun ini memiliki

    banyak khasiat, seperti di Indonesia daun ini digunakan sebagai obat yang

    memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik), penyembuhan batuk, encok,

    masuk angin, sembelit, pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, dan

    albuminuria (Rukmana, 2000). Walaupun banyak manfaatnya, tanaman ini belum

    banyak dibudidayakan secara intensif. Di klaster juga belum ada kebijakan untuk

    mengembangkan tanaman tersebut, dikarenakan budidaya Kumis Kucing yang

    secara monokultur dianggap menyebabkan produktivitas tanaman dan tingkat

    pendapatan rendah. Padahal, Daun Kumis Kucing ini dapat menambah potensi

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    I-2

    dan peluang klaster untuk lebih mengembangkan keanekaragaman dan pemasaran

    produk biofarmakanya.

    Menurut Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat

    Tradisional atau B2P2TO-OT (2011), daun ini memiliki prospek ekonomi yang

    cukup menjanjikan. Jika dihitung berdasarkan tingkat produktivitas minimalnya

    yaitu 6 ton/Ha/tahun dengan harga simplisia Rp 6.000,-/kg maka akan

    menghasilkan Rp 36.000.000,-/Ha/tahun. Selain melihat prospek ekonominya,

    dari segi potensi pasar menurut Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik atau

    Balittro (2009), daun ini biasa dipasarkan untuk industri farmasi dan jamu,

    sedangkan ekspornya ditujukan ke negeri Belanda, Jerman, Eropa Barat dan

    Amerika Serikat. Permintaan simplisia Kumis Kucing menurut Trubus (2009),

    untuk industri obat tradisional lokal pada tahun 2009 sebanyak 10 ton/tahun dan

    berfluktuasi setiap tahunnya. Namun, suatu produk biofarmaka yang akan

    dipasarkan baik dalam bentuk segar, serbuk, maupun simplisia harus memenuhi

    standar kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Ketiga hal tersebut selain ditentukan

    oleh proses budidayanya, pengelolaan pasca panen juga memegang peranan

    penting dalam segi kualitas.

    Pengelolaan pasca panen ini meliputi kegiatan penyortiran, pencucian,

    pengolahan hasil, pengeringan, pengemasan, sampai pada penyimpanan. Kegiatan

    pengeringan, pengemasan, dan penyimpanan menjadi hal yang penting dalam

    pengelolaan pasca panen karena dapat berpengaruh terhadap kualitas simplisia.

    Standar kualitas simplisia menurut Balittro (2009) ialah kadar air maksimal 10%

    dan tidak terjangkit serangga. Kegiatan pengeringan yang tidak sempurna akan

    menyebabkan tingginya kadar air pada simplisia sehingga simplisia mudah busuk

    dan berjamur. Begitu juga pada kegiatan pengemasan dan penyimpanan, jika

    kemasan tidak kedap udara, serta gudang penyimpanan kotor dan lembab maka

    kadar air simplisia akan meningkat sehingga simplisia mudah berjamur.

  • perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

    commit to user

    I-3

    Selama ini beberapa petani yang tertarik dengan budidaya Daun Kumis

    Kucing melakukan pengelolaan pasca panen Daun Kumis Kucing hanya

    berdasarkan pengalaman. Hal ini menyebabkan kualitas simplisia yang dihasilkan

    tidak memenuhi standar kualitas. Maka dari itu, perlu disusun suatu pedoman

    pengelolaan pasca panen yang berisi prosedur standar atau biasa disebut dengan

    Standard Operating Procedures (SOP). SOP dibuat dengan melihat proses

    penanganan pasca panen tanaman obat Daun Kumis Kucing di B2P2TO-OT

    Tawangmangu. Untuk perancangan dan penyusunan SOP tersebut, digunakan

    metode Plan Do Check Action (PDCA).

    PDCA ini merupakan metode problem solving y

Recommended

View more >