web viewbagi lagu-lagu yang dirasa sulit untuk dinyanyikan, maka dapat diganti dengan lagu-lagu

Download Web viewBagi lagu-lagu yang dirasa sulit untuk dinyanyikan, maka dapat diganti dengan lagu-lagu

Post on 03-Jul-2019

231 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAHAN PASKAH GMIT

2017

Tema:

Kebangkitan Kristus

Membebaskan Kita dari Kuasa Kematian(Roma 6:10)

Majelis Sinode Harian GMIT

2017

Kata Pengantar

Pujian syukur ke hadirat Tuhan karena Bahan Paskah GMIT ini dapat dirampungkan. Tema Paskah GMIT 2017 sesuai Tema Paskah PGI, yaituKebangkitan Kristus membebaskan kita dari kuasa kematian(Roma 6:10). Tema ini mengajak kita untuk sadari bahwa anugerah keselamatan Allah dinyatakan dalam kematian Kristus satu kali untuk selama-lamanya. Kristus tidak mati berulangkali! Kematian-Nya satu kali adalah kematian yang merangkum seluruh karya keselamatan Allah untuk seluruh kehidupan umat manusia, sehingga harus direspons dengan pembaruan hidup.

Bahan yang disajikan dalam buku ini adalah kerangka khotbah, tata ibadah dan bahan kategorial. Bahan ini dimulai dengan tujuh Minggu Sengsara, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, Paskah 1 dan Paskah 2, diakhiri dengan bahan kategorial anak, remaja, pemuda, bapak dan ibu.

Perkenankanlah kami mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan sepelayan yang ikut ambil bagian dalam pembuatan bahan ini, yaitu: Pdt. Emille R. Hauteas, S.Si, Pdt. Nicolas St.E. Lumba Kaana, M.Th, Pdt. Ambrosius H. Menda, S.Th, Pdt. Marthen Adu, M.Th, Pdt. Bethseba Fanggoidae-Nunuhitu, M.Th, Vik. Dr. Ira Mengililo, Pdt. Maria A. Litelnoni-Johannes, MA dan Pdt. Johny E. Riwu Tadu, S.Th, M.Sn.

Kiranya Bahan Paskah GMIT 2017 ini dapat digunakan dengan baik dan memberikan inspirasi bagi penyelenggaraan masa Paskah di Jemaat-jemaat, sehingga umat dapat merasakan berkat Paskah.

Kami berharap dengan hadirnya bahan ini, penghayatan iman kita tentang kasih Kristus yang menderita, mati dan bangkit yang membebaskan kita dari kuasa kematian - semakin mendorong kita untuk berkarya bagi keselamatan dunia di sekitar kita. Tuhan memberkati!

Februari 2017

Majelis Sinode Harian GMIT

Daftar Isi

Pengantar. 2

Daftar Isi.. 3

Kerangka Khotbah

Minggu Sengsara 1: 26 Februari 2017 .... 5

Minggu Sengsara 2: 05 Maret 2017 . 8

Minggu Sengsara 3: 12 Maret 2017 .. 10

Minggu Sengsara 4: 19 Maret 2017 .. 15

Minggu Sengsara 5: 26 Maret 2017 .. 19

Minggu Sengsara 6: 02 April 2017 27

Minggu Sengsara 7/Minggu Palma: 09 April 2017 .. 30

Jumat Agung: 14 April 2017 .. 32

Paskah 1: 16 April 2017 .. 39

Paskah 2: 17 April 2017 .. 46

Bahan Tata Ibadah

Penjelasan Liturgi 51

Minggu Sengsara 1: 26 Februari 2017 .... 53

Minggu Sengsara 2: 05 Maret 2017 .

Minggu Sengsara 3: 12 Maret 2017 .. 9

Minggu Sengsara 4: 19 Maret 2017 .. 11

Minggu Sengsara 5: 26 Maret 2017 .. 13

Minggu Sengsara 6: 02 April 2017 15

Minggu Sengsara 7: 09 April 2017 17

Jumat Agung: 14 April 2017 .. 20

Paskah 1: 16 April 2017 .. 21

Paskah 2: 17 April 2017 .. 25

Bahan Kategorial

Pelayanan Anak dan Remaja . 61

Pemuda .... 63

Ibu

Bapak .

Bahan

Kerangka Khotbah

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 1

Minggu, 26 Februari 2017

TINGGAL BERSAMA ALLAH DALAM FIRMAN-NYA

Keluaran 24:12-18

Pengantar

Perjalanan Umat Israel dari Mesir ke tanah perjanjian menyimpan banyak cerita. Kitab Keluaran yang paling sering kita baca dan kita renungkan adalah kisah penderitaan. Pasal pertama langsung bercerita tentang suasana penindasan di Mesir. Kisah Israel yang menderita menjadi model untuk membangun iman umat masa kini. Bahwa perjalanan Israel atau pengembaraannya di padang gurun sebelum sampai ke tanah Kanaan memang menuai banyak penderitaan tetapi pada saat yang sama Tuhan tidak tinggal diam. Penderitaan kerap dialami dalam perjalanan pengembaraan itu tetapi pada saat yang sama tangan Tuhan yang kokok dan kuat itu menolong mereka keluar dari berbagai kesulitan selama perjalanan itu.

Ulasan Teks

Teks Keluaran 24:12-18 menceritakan permintaan Tuhan Allah kepada Musa dan Yosua naik ke atas gunung Sinai untuk menerima Loh Batu yang berisi hukum dan perintah bagi umat Israel. Kalau kita membaca dengan baik teks ini, ternyata teks berakhir tanpa kita mendapatkan informasi apakah Musa dan Yosua kembali membawa Loh Batu yang dijanjikan oleh Tuhan atau tidak. Teks berakhir pada ayat 18 di mana Tuhan Allah menjumpai Musa dalam awan yang tebal. Ia bahkan tinggal empat puluh hari empat puluh malam di atas gunung. Justru Loh Batu baru diberikan oleh Tuhan Allah di pasal 31.

Umat diminta untuk menunggu sedangkan Musa dan Yosua naik ke puncak gunung. Meninggalkan umat dalam kondisi yang kurang kondusif bukan tanpa risiko. Di pasal-pasal berikutnya, ternyata ketika Musa kembali dari gunung justru umat telah menyimpang dari hadapan Tuhan. Seluruh bangsa menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun dan dibuatnya anak lembu tuangan (32:3-4). Rupanya meninggalkan umat empat puluh hari empat puluh malam bukan waktu yang pendek untuk tetap bertahan dalam iman dan pengharapan menghadapi situasi sulit dan penderitaan karena perjalanan yang belum kenal ujungnya. Musa belum turun dari gunung Sinai tetapi Tuhan Allah sudah tahu persis apa yang dilakukan oleh Umat di bawah sana. Pergilah, turunlah sebab bangsamu yang engkau pimpin dari tanah Mesir telah rusak lakunya (32:7). Empat puluh hari Musa bersama Tuhan dan masuk ke dalam kemuliaan Tuhan di atas gunung Sinai dan selama itu umat tidak bertahan untuk menunggu. Durasi empat puluh hari itu terlalu lama bagi umat untuk bertahan dalam iman kepada Tuhan Allah. Ketidaksabaran Umat menunggu kembalinya Musa bukan saja mencederai iman mereka tetapi sekaligus mengingkari akan pengakuan bahwa Tuhan Allahlah yang membawa mereka keluar dari Mesir dan akan terus membawa mereka masuk ke tanah Kanaan , tanah Perjanjian.

Transfigurasi yang dialami Musa di atas gunung Sinai kemudian terulang lagi pada zaman Yesus. Petrus, Yakobus dan Yohanes menyaksikan bagaimana Musa hadir lagi saat Yesus berubah rupa dengan pakaian putih berkilat-kilat (Mark 9:2,3). Sebuah simbolisasi kepemimpinan Musa yang diagungkan oleh Israel turun-temurun terulang kembali. Pada konteks Perjanjian Baru, kehadiran Musa dan Elia yang diakui sebagai tokoh besar yang dijunjung dan dihormati pada saat Yesus dimuliakan dalam kisah Injil Markus dapat juga dibaca sebagai simbolisasi baru kepemimpinan di dalam Israel. Musa dan Elia telah tiada. Mereka meninggalkan kesan kepemimpinan yang kuat atas Israel. Sekarang, model kepemimpinan itu mendapat format baru di dalam Yesus. Di dalam Yesus, Israel dituntun menuju masa depan kehidupan yang menyelamatkan. Yesus bukan saja wakil Allah yang memimpin Israel tetapi Ia adalah Tuhan yang menjadi manusia. Di dalam Yesus kepemimpinan atas Israel mendapat format baru yakni pemimpin yang menderita.

Musa marah kepada Israel yang menyimpang dari imannya ketika ia berada di atas gunung Sinai. Kemarahannya diluapkan dengan melempar dua loh batu sampai hancur di tanah. Yesus menghadapi umat yang ingkar imannya dengan memberi diri dan menderita. Menanggung semua hukuman yang mesti ditanggung oleh umat karena dosa mereka.

Relevansi

Iman kristiani terbuka terhadap penderitaan. Penderitaan tidak disangkal atau dihindari tetapi selalu dihadapi. Bahkan kehidupan iman mengalami pertumbuhan kalau ada pengalaman hidup penderitaan. Melaluinya orang Kristen belajar hidup dekat kepada Allah. Selalu ada hikmat yang kita petik dari jalan hidup bergelimang penderitaan.

Kehidupan ini perlu tuntunan. Orang Kristen hidup dalam tuntunan Allah. Yang perlu kita dalami adalah bahwa Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti kanak-kanak. Pada saat tertentu mungkin ada perasaan manusia dibiarkan berjalan sendiri seolah-olah Tuhan menjauh. Justru pada saat seperti itulah Tuhan sedang memberi kita kesempatan untuk bertumbuh dan beranjak dewasa. Karena itu, tetaplah teguh dalam iman bahwa Tuhan selalu memimpin jalan hidupmu apapun situasinya. Jangan ingkar!

Kerangka Khotbah Minggu Sengsara 2

Minggu, 05 Maret 2017

KEMATIAN MELALUI ADAM, KEHIDUPAN MELALUI KRISTUS

Roma 5:12-21

Pengantar

Bolehkah kita menikmati hasil tanpa usaha dan kerja keras? Boleh. Ini dia ceritanya. Pohon-pohon besar yang ada di halaman rumah dan kebun-kebun kita, bisa jadi bukan kita yang menanamnya. Tanaman-tanaman umur panjang ini sudah ditanam oleh kakek nenek kita. Sekarang, anak cuculah yang menikmati hasilnya. Kita tidak berlelah dan berusaha tetapi kita menikmati hasilnya. Warisan ini kita peroleh dengan cuma-cuma. Karena ini adalah warisan maka anak dan cucu-cuculah yang berhak untuk menikmatinya. Dalam hubungan dengan Dosa, manusia juga mengalami apa yang sekurang-kurangnya, sama dengan ilustrasi di atas. Dosa satu orang menyebabkan semua orang berdosa. Tetapi pada akhirnya semua orang diselamatkan oleh karena pengorbanan satu orang.

Ulasan Teks

Teks Roma 5:12-21 mempersandingkan dua figure, yakni Adam dan Kristus yang berhubungan dengan dosa dan anugerah. Adam adalah penyebab masuknya dosa ke dalam dunia. Dari Adam semua manusia menjadi berdosa. Karena Adam, maka maut menjadi berkuasa atas manusia. Sebaliknya karena satu orang yakni Yesus Kristus, kasih karunia Allah dilimpahkan. Melalui Yesus Kristus, anugerah kebenaran hidup dan berkuasa.

Harus juga dipahami bahwa Kasih Karunia Allah tidak dapat disandingkan dengan dosa. Menurut Paulus dalam surat Roma, Kasih karunia Allah tidak sama dengan pelanggaran karena dosa. Kasih karunia Allah jauh lebih besar dari dosa karena satu orang. Antara Dosa dan Kasih karunia Allah ada Hukum Taurat. Menurut surat Roma, Hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak. Kita pasti kaget dengan pernyataan ini. Bukankah Hukum Taurat menjadi pedoman yang memungkinkan seseorang menjadi mawas diri dan bercermin untuk hidup dalam kebenaran. Larangan dan perintah dalam hukum taurat yang menuntut ke